--- Begin Message ---
Tentang poligami lg nii..
Best Regards,
Ekasari S.
_____
From: Leily Savitri [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, December 12, 2006 2:33 PM
To: [EMAIL PROTECTED]; 'nisa'; [EMAIL PROTECTED]; 'Rima Mayasari'; Rifa -
PTI; 'lilis'; 'diah'; 'dina'; 'Ekasari Sunarti'; 'Fagi Lesitra'
Subject: FW: Tulisan Helvy Tiana Rosa
Bagus deh...
Regards,
Leily Savitri
PT. Nippon Steel Construction Indonesia
(NISCONI)
Graha Iskandarsyah 3rd Floor
Jl. Iskandarsyah Raya No. 66
Jakarta 12160 - Indonesia
Phone : +62 21 720 75 64
Fax : +62 21 720 75 68
_____
From: Mohammad Darwis [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, December 12, 2006 2:09 PM
To: [EMAIL PROTECTED]; Lita Hairuniza; 'Leily Savitri'; 'Gita Kencana
Poetri'; 'Fitri Damayanti'; 'Budi Mahpudin'; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; 'Nugroho, Sekti (sektinu)'; 'Fitri
Damayanti'; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; 'Edwin Sembada'; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; 'Ikeu Sri
Rejeki'; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; Agustini;
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; 'Setyawati yani'; 'Doni Sanjaya';
'Satrio Wibowo'; 'Aryoso Nirmolo'; 'Aryoso Nirmolo'; Brenda Desire Haerun;
[EMAIL PROTECTED]; 'Arliansyah Abdul, Gani (CLI)'; 'Marzuk Mudjahid';
[EMAIL PROTECTED]; 'Tutang Sujarman'; 'Siti Nur Zahra Niken Teja Wati';
Astrid Mahandhini; Agustini; Andhika Kusuma Jayakarta; 'Leily Savitri'; 'Eki
Primudi'; [EMAIL PROTECTED]; 'Ridha Satria'; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; 'Santoso'
Subject: FW: Tulisan Helvy Tiana Rosa
FYI.
----- Forwarded by Abdul Azis/PIP/Tripatra on 12/12/2006 01:12 PM -----
From: Devi Mutia <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, December 06, 2006 3:41 PM
Subject: [perisai] Tulisan Helvy Tiana Rosa
Sekedar sharing, email dari teman.....
-devi-
Hmm Poligami...
Entah mengapa kemarin pagi saya teringat pada tiga sahabat perempuan
saya...
Yang pertama, seorang perempuan berjilbab, cerdas, baik hati, berusia
di atas 40 tahun, ibu lima anak. Suaminya seorang ustadz wafat saat
dikirim lembaganya menjalankan tugas berdakwah di daerah pedalaman di
bagian Barat negeri ini.
Yang kedua, seorang muslimah sholihat, cerdas, berusia sekitar 45
tahun, yang harus membesarkan enam anaknya, saat suaminya meninggal
tiba-tiba karena sakit. Almarhum suaminya seorang ustadz dan kerap
menjadi teladan di kalangan masyarakat. Jasanya bagi perkembangan
dakwah Islam di tanah air sungguh tak terkira.
Lalu yang ketiga, janda yang juga sholihat, cerdas, lewat 40 tahun
pula, dengan 3 anak yang beranjak dewasa. Lima belas tahun lalu, saat
saya belum menikah dengan Mas Tomi, suaminya sudah menjadi tulang
punggung perkembangan dakwah di kampus kami.
Sudah bertahun lalu suami mereka-yang menjadi salah satu akses
dakwah---dipanggil Allah untuk selamanya. Dan meski terseok mereka
tetap tegar menapak, mencari nafkah dengan berbagai cara halal demi
menghidupi anak-anak mereka tanpa pernah mengharap belas kasih orang
lain. Mereka-perempuan-perempuan tawakal yang menjadikan Allah
sebagai penolong utama. Mereka memang sederhana, mungkin tidak cantik
dan tampak sangat biasa menurut kalangan umum. Tapi mereka sungguh
bukan perempuan biasa, sebab mereka adalah pilihan dari orang-orang
terpilih sebelumnya..
Lalu pikiran saya pun terbang ke tempat lain. Seorang ustadz muda
menikah lagi dengan seorang bule cantik, gadis yang masih muda dengan
alasan menyelamatkan aqidahnya. Cendekiawan muslim lainnya menikahi
seorang akademisi aktivis feminis, gadis, lagi-lagi dengan alasan
menyelamatkannya dari pemikiran yang keliru. Seorang yang lain,
tempat orang banyak berkaca, menikah untuk kedua kalinya dengan
seorang janda mantan model. Alasannya? Menyelamatkannya dari fitnah
pula...
"Menyelamatkan"? Apakah menyelamatkan atau "menyelamatkan" berarti
mutlak harus menikahi? Lalu mengapa yang kedua selalu harus yang
lebih muda dan lebih cantik?
Absurd..
Lepas senja, saya sms kegundahan saya pada "adik" saya: Habiburahman
El Shirazy, penulis novel Ayat-Ayat Cinta, ustadz muda yang mendalami
Islam di Mesir.
Ini balasannya: Mbak, poligami itu rukhsah saja. Seperti sholat boleh
duduk bagi orang sakit. Seperti sholat jama dan qashar bagi orang
yang bepergian jauh. Asal syariatnya ya monogami. Artinya kalau dalam
kondisi normal yang utama tetap monogami. Jika poligami mendatangkan
mudharat, bukan manfaat, hukumnya bisa makruh, bahkan haram. Jadi
tidak sembarangan. Namanya juga rukshah..
Berbuat adillah ia lebih dekat dengan taqwa, kata Allah dalam Al
Quran. Dan monogamy itu lebih adil, jadi lebih dekat pada taqwa, sms
Habib lagi.
Saya setuju dengan Habib. Poligami tidak salah. Boleh, tapi dilakukan
dengan syarat tertentu, karena suatu hal yang terjadi, di luar yang
biasa (normal). Poligami adalah rukshah, keringanan dari Allah.
Tadi pagi saat pergi untuk mengajar, pikiran saya kembali pada tiga
teman saya, para janda dari orang-orang luar biasa itu. Mengapa bukan
mereka? Mengapa bukan orang-orang seperti mereka yang dilamar dan
dinikahi? Yang diselamatkan? Tentu kita akan lebih bersimpati jika
hal demikian yang dilakukan, bukan? Apalagi mereka sebenarnya adalah
salah satu amanah di jalan ilahi ini, seperti apa yang disampaikan
dan diajarkan Rasulullah SAW.
Di samping saya, sambil mengemudi dengan tangan kanannya, tangan kiri
Mas Tomi mengusap perut yang telah delapan bulan ini. "Kasihan,
Bunda, jadi kepikiran ya. Tapi pikiran kita sama kok.."
Saya menatapnya lama. Ia balas menatap saya sesaat. Terngiang
perkataan yang sering ia ucapkan.,"Subhanallah.satu saja sudah berat
amanahnya, apalagi dua. Nggak deh!"
"Mungkin kalau dengan salah satu dari tiga perempuan itu, atau yang
seperti mereka kondisinya, saya setuju, Mas.., mungkin.suatu saat.,"
bisik saya pelan. Saya ingat, semasa Khadijah hidup, istri Rasulullah
Muhammad memang hanya Khadijah. Setelah Khadijah wafat, Rasulullah
menikahi Saudah, janda syuhada, yang sudah berumur dan memiliki
banyak anak.
"Apa?" tanya Mas yang rupanya tak mendengar.
Saya cuma tertawa, tanpa suara. Getir.
--- End Message ---