-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
To: HONDA TIGERS; Yamaha Scorpio Group; Bajaj Pulsar; Thunder125 Club
Subject: [honda-tiger] (news) Perang Melawan Rakyat!! Sepeda Motor
Dilarang di Jalan Protokol!!!

Artikel yg menarik untuk dibaca....

jabat erat,
~gary~

=======================================================
Perang Melawan Rakyat

Franz Magnis-Suseno SJ

Rupa-rupanya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mau menjadikan tahun 2007
menjadi tahun penertiban sepeda motor. Dan memang tak dapat disangkal:
Kami para pengemudi kendaraan beroda dua (penulis termasuk di antara
mereka) merupakan kelompok peserta lalu lintas yang kelihatan paling tak
tertib.

Lampu merah, kaki lima, jalan satu arah, jarak yang aman, sopan santun
perhatian biasa terhadap sesama pemakai jalan, belum lagi
manuver-manuver berani ala Valentino Rossi (kadang-kadang satu keluarga
lengkap): Tak ada yang tidak dicuekkan.

Maka peraturan baru wajib menyalakan lampu, memakai jalur kiri,
penyediaan jalur khusus perlu disambut dengan baik. Meskipun akan lebih
efektif apabila misalnya lampu lalu lintas dan marka jalan diawasi oleh
polisi secara efektif (misalnya dibentuk dua atau tiga regu polisi yang
secara acak dan bergilir setiap hari mengontrol dua tiga persimpangan
jalan, misalnya Matraman-Pramuka). Penertiban seperti itu akan diterima
dan akan efektif. Akan tetapi, lain halnya apabila jalan-jalan penting
mau ditutup dengan alasan sepeda motor bikin macet dan "hendaknya mereka
memakai angkutan umum saja".

Jelas sekali bahwa bukan sepeda motor yang menyebabkan kemacetan.
Bukankah Jalan Sudirman-yang sudah bebas sepeda motor-dan bagian jalan
tol hampir setiap hari macet? Sebaliknya, seandainya semua pemakai sedan
diharuskan memakai sepeda motor, kemacetan pasti langsung akan berkurang
drastis.

Namun melarang tiga juta lebih pemakai sepeda motor menggunakan
poros-poros utama lalu lintas di DKI tak kurang merupakan pernyataan
perang pimpinan DKI kepada masyarakatnya yang sederhana. Larangan itu
mengena pada kepentingan vital jutaan warga.

Kalau lebih dari tiga juta orang-itu lebih dari setengah pemakai
jalan-menggunakan motor, itu bukan karena mereka iseng-iseng, melainkan
karena mereka membutuhkannya.

Arti sepeda motor

Apakah Anda pernah mencoba memahami apa arti sepeda motor bagi
pemiliknya? Sepeda motor merupakan salah satu barang paling berharga dan
bermanfaat bagi pemilik dan keluarganya. Para pemilik sepeda motor
rata-rata adalah bagian paling produktif di DKI, para pekerja keras
dalam segala macam usaha dan kantoran. Sepeda motor bagi mereka membuka
jendela sebuah kebebasan baru: Bebas dari keharusan berada selama 4 jam
per hari dalam bus-bus dan angkot yang jorok dan tidak aman. Bebas dari
biaya mencekik pemakaian angkutan umum. Bebas untuk cepat ke tempat yang
perlu.

Lagi pula, sepeda motor bagi mereka hasil sebuah perjuangan. Mereka
tidak mengiri kepada pemakai sedan yang ber-AC dan dikemudikan oleh
sopir. Namun, mereka mengharapkan agar hasil perjuangan mereka yang
begitu berarti, ya kebebasan baru pemilikan sepeda motor, mau diakui
juga.

Sebuah pertanyaan: Dengan angkutan umum yang mana tiga juta pemakai
sepeda motor mau diangkut ke tempat kerja pagi hari dan pulang ke rumah
sore hari? Monorel yang menjanjikan kemajuan sampai sekarang baru sebuah
impian mahal!

Dan busway-sebenarnya sebuah konsep bagus-sudah gagal karena
dilaksanakan dengan sedemikian inkompeten sehingga mengangkut 200.000
orang per hari saja belum mampu. Benahi dong angkutan umum dulu, baru
kendaraan pribadi-termasuk mobil-dikurangi!

DKI rupa-rupanya lupa bahwa orang yang tidak bisa memiliki mobil
merupakan manusia juga, yang sama haknya untuk diperingan dan tidak
dipersulit perjuangan survival setiap hari, yang sama warga DKI seperti
mereka yang punya mobil.

Kapan pimpinan DKI akan keluar dari mental feodal yang menganggap
masyarakat biasa bisa dikurbankan demi mereka yang berduit?

Akhirnya, saya meragukan bahwa tiga juta pemakai sepeda motor akan
bersedia disingkirkan dari jalan utama di DKI. Kalau tiga juta warga itu
unjuk rasa, akan jelas lain dari unjuk rasa rutin beberapa puluh ribu
mahasiswa.

Apakah mereka akan menerima kalau kehidupan mereka yang sudah berat mau
dibuat lebih berat lagi hanya supaya sedan-sedan tidak merasa terganggu?
Kalau mereka marah, gampang mereka membuat Jakarta betul-betul macet.
Kita semua kiranya ingin agar Jakarta tidak rusuh lagi.

(Penulis adalah rohaniwan dan guru besar di Sekolah Tinggi Filsafat
Driyarkara)



Best regards,
//Satria//
TJT-002
 
DUKUNG GERAKAN "SUDIRMAN-THAMRIN FOR TWO WHEELS-SAFETY RIDING FOR BETTER
JAKARTA ROAD RULES"

"Keep Safety Riding If You Love Your Self and The People Who Love You"

visit to:
(Honda) Tiger Jakarta Timur at [EMAIL PROTECTED]
Honda Vario at [EMAIL PROTECTED]



Kirim email ke