Dear Colleagues,
 
Ada blog bagus yang bermanfaat untuk baca2 setelah jam kantor. Self
improvement tanpa harus repot2 beli buku ke gramedia :). Ini salah satu
topik URLnya.


http://sepia.blogsome.com/2007/01/01/hidup-mengalir-dengan-multi-skenario/

==================

³Ya.. kalau mengalir tanpa terkendali itu namanya HANYUTŠ,² tukas saya
menimpali teman tersebut.

Kebanyakan orang hidup mengalir mengikuti irama jaman. Kebanyakan orang pula
bertanya-tanya kenapa hidupnya tak juga maju?

Suatu ketika, dalam sebuah pelatihan tentang analisis kompetitor di PT
Telkom, kami membahas tentang pentingnya Scenario Planning bagi sebuah
perusahaan. Diskusi tersebut sangat seru dan intens, mengingat selama ini
seringkali hanya ada satu perencanaan tunggal yang menjadi target perusahaan
di awal tahun.

³Scenario Planning bukan ditujukan untuk meramalkan masa depan. Tujuan
sesungguhnya adalah untuk mengantisipasi berbagai keadaan yang mungkin
terjadiŠ,² demikian kami jelaskan kepada peserta, mengutip pendapat Michael
Porter dalam bukunya Competitive Advantage, mengenai kegunaan scenario
planning.

Mengantisipasi, itu adalah sikap yang lebih tepat daripada sekedar
Œmeramalkan¹ masa depan. Bila meramalkan, maka kita membuat perkiraan hal
apa yang paling mungkin terjadi. Sedangkan mengantisipasi berarti membuat
berbagai gambaran kemungkinan yang bisa terjadi, kemudian mengambil strategi
untuk bersiap terhadap semua yang mungkin terjadi tersebut. Dan itulah
tujuan utama scenario planning.

Scenario Planning sendiri mulai populer di tahu 70-an ketika terjadi krisis
harga minyak dunia yang tiba-tiba melambung tinggi. Saat itu bukan tidak ada
minyak, tapi harga minyak melambung karena krisis politik di Timur Tengah.
Shell, adalah perusahaan minyak yang telah menerapkan scenario planning. Di
awal tahun 70-an, Shell membuat berbagai skenario yang mungkin terjadi,
salah satunya adalah melambungnya harga minyak dunia, suatu kondisi yang
jauh dari ramalan kebanyakan para ahli ekonomi saat itu. Dan ternyata
kejadiannya adalah sesuatu yang berbeda dari kebanyakan ramalan, harga
minyak melambung menyebabkan kelesuan ekonomi dunia. Shell, yang sudah
menyiapkan diri dengan berbagai skenario tersebut mampu memanfaatkan
keadaan, sehingga melejit menjadi 3 besar dunia. Perusahaan lain yang
beruntung dalam kondisi krisis minyak saat itu adalah perusahaan-perusahaan
mobil Jepang yang sukses memasarkan mobil ukuran kecil bagi pasar Amerika
(salah satunya adalah Honda Civic berukuran kecil, yang tadinya dipandang
skeptis akan dibeli orang Amerika).

Hidup mengalir? Itulah yang terjadi pada sebagian besar orang (dan sering
berakhir menyedihkan). Sebenarnya mereka bukan tanpa rencana, namun rencana
mereka tak sesuai dengan kenyataan. Jadilah mereka terhanyut oleh kehidupan.
Misalnya seorang mahasiswa, biasanya dia sudah membayangkan (punya
cita-cita/mimpi) bahwa nanti setelah lulus dia akan bekerja di suatu tempat
dengan gaji besar, menikah dengan idamannya dan punya anak, dan begini, dan
begitu seterusnya. Apa yang terjadi? Kebanyakan mimpinya tak juga terwujud.
Setiap hari masih naik angkutan yang sama, pergi dan pulang pada jadwal yang
sama, dan merasakan hidupnya yang sama, tak juga maju-maju. Lebih celaka
lagi sering kondisi berubah mendadak menyebabkan semua rencana kacau balau
dan akhirnya hanya bisa pasrah menjalani hidup. Itulah contoh kebanyakan
hidup yang mengalir.

³Ya kalau mengalirnya ke laut, kalau mengalirnya ke comberanŠ ?² gurau saya
kepada teman. Maksudnya adalah, ya kalau dalam hidup ini ­yang kita mengalir
di dalamnya- ternyata betul membawa kita ke kondisi yang sesuai harapan dan
mimpi kita (kerja keras, naik jabatan dan naik gaji, anak-anak tumbuh
cerdas, keluarga bahagia, bisa haji dan keliling eropa, dll) tentu kita
senang. Bagaimana kalau sebaliknya? Sikut-sikutan di kantor, krisis ekonomi
lagi, sekolah makin mahal, PHK, dll. Tentu hidup yang mengalir itu akan
berakhir di comberan. Ini namanya tragedi.

Yang betul adalah hidup mengalir dengan terkendali. Ibaratnya kita sedang
main arung jeram menyusuri sungai, maka kalau kita menggunakan perahu karet
yang baik, dengan dayung untuk kendali, bahkan dengan helm dan jaket
pelampung, tentunya jauh lebih terkendali dibandingkan kita terjun ke sungai
tanpa perahu karet, tanpa dayung, tanpa jaket pelampung. Menyiapkan diri
dengan rakit, dayung, dan jaket pelampung itulah sikap seorang yang hidup
dengan kendali. Kita tidak mampu mengendalikan arus sungai, namun kita
selalu mampu mampu untuk mengambil sikap mengendalikan perahu kita.

Nah, kembali ke pelatihan analisa kompetitor di Telkom tadi, kesimpulan kami
adalah sangat penting bagi perusahaan untuk menyiapkan multi skenario, bukan
sekedar skenario tunggal. Dengan adanya multi skenario itu dapat dirancang
strategi yang adaptif dan mampu mengatasi apapun skenario yang akhirnya
terjadi. Berpegang hanya pada skenario tunggal menjadi sangat riskan
mengingat perubahan politik, ekonomi, maupun teknologi di masa global ini
bisa terjadi dengan sangat cepat.

Tiba-tiba terpikir dalam benak saya, bagaimana dengan skenario untuk diri
kita sendiri? Apakah kita sudah punya multi skenario untuk masa depan?
Bagaimana kalau karir kita tak berjalan mulus seperti yang kita bayangkan?
Bagaimana kalau kondisi berkembang ke arah yang berlawanan dengan apa yang
kita harapkan? Apakah kita sudah siap?

Bagaimana dengan tahun 2007 ini? Apakah ramalan mereka yang optimis itu
benar terjadi (bahwa ekonomi Indonesia akan membaik, karena kondisi makro
2006 katanya sih baik)? Atau justru ramalan mereka yang pesimis lah yang
terjadi (banyak bencana, krisis ekonomi global, ekonomi riil yang stagnan,
banyak PHK)? Ah, mudah saja. Kita ambil saja semua ramalan itu menjadi multi
skenario. Ada skenario positif optimis, dan ada yang negatif pesimis.
Kemudian ambil beberapa strategi yang bisa mengantisipasi semua kemungkinan
itu.

Jadi apa multi skenario Anda? Apa yang Anda rencanakan andai ekonomi membaik
dan bisnis Anda juga ikut melejit? Bagaimana pula kalau ekonomi membaik,
sayangnya bisnis Anda tidak termasuk yang beruntung menikmatinya, apa
strategi Anda? Bagaimana pula kalau kondisi memburuk, peluang apa yang akan
muncul dan bisa Anda manfaatkan? Bagaimana kalau kondisi memburuk dan bisnis
Anda pun memburuk, apa persiapan (jaga-jaga/tabungan) yang sudah Anda
lakukan? Bagaimana pula skenario hidup masa depan Anda, apakah sudah punya
beberapa pandangan (atau hanya skenario tunggal yang ­maunya- bagus-bagus
dan sukses saja)? Bagaimana kalau karir melejit, dan bagaimana pula kalau
karir ternyata anjlok? Bagaimana kalau kesehatan selalu bagus, bagaimana
pula bila terjadi musibah? (Bahkan bagaimana kalau semua mimpi indah itu
kandas karena ternyata kita mati muda, misalnya, sudahkah kita siap?)

Skenario planning tampaknya layak kita terapkan buat kita sendiri, bukan
hanya untuk perusahaan kita. Tentunya biar kita menjadi lebih bijak dan
penuh kendali saat ikut mengalir dalam kehidupan ini

===============

Rgrds,
Satria


Kirim email ke