--- Begin Message ---
E t n a L e s l y R a m a d h a n i
Mortgage Legal Operation
PermataBank Tower 3, 2nd Fl.
ext. 02433
----- Forwarded by Etna Lesly Ramadhani/JKT/BankPermata/ID on 29/01/2008
10:45 -----
Hendro Haryono
To:
25/01/2008 14:31 cc: (bcc: Etna Lesly
Ramadhani/JKT/BankPermata/ID)
Subject: Arti sebuah
Teriakan...[Renungan nih]
Ini bisa di forward ke orang yg kira2 memang memerlukan renungan2 seperti
ini?
Teman dekat, keluarga, ATASAN (yang terutama memang senang berprilaku
seperti ini) atau pun orang2 lainnya yg kita sayangi.
-peace-
===================================================================================================
ARTI SEBUAH TERIAKAN
Cerita tentang salah satu kebiasaan yang ditemui pada penduduk yang tinggal
di sekitar kepulauan Solomon, yang letaknya di Pasifik Selatan.
Nah, penduduk primitif yang tinggal di sana punya sebuah kebiasaan yang
menarik yakni meneriaki pohon.
Untuk apa? Kebiasaan ini ternyata mereka lakukan apabila terdapat pohon
dengan akar-akar yang sangat kuat dan sulit untuk dipotong dengan kapak.
Inilah yang mereka lalukan, dengan tujuan supaya pohon itu mati. Caranya
adalah, beberapa penduduk yang lebih kuat dan berani akan memanjat hingga
ke
atas pohon itu.Lalu, ketika sampai di atas pohon itu bersama dengan
penduduk yang ada di bawah pohon, mereka akan berteriak sekuat-kuatnya
kepada pohon itu.
Mereka lakukan teriakan berjam-jam, selama kurang lebih empat puluh hari.
Dan apa yang terjadi sungguh menakjubkan.
Pohon yang diteriaki itu perlahan-lahan daunnya akan mulai mengering.
Setelah itu dahan-dahannya juga mulai akan rontok dan perlahan-lahan pohon
itu akan mati dan dengan demikian, mudahlah ditumbangkan.
Kalau kita perhatikan apa yang dilakukan oleh penduduk primitif ini
sungguhlah aneh.
Namun kita bisa belajar satu hal dari mereka. Mereka telah membuktikan
bahwa teriakan-teriakan yang dilakukan terhadap mahkluk hidup tertentu
seperti pohon akan menyebabkan benda tersebut kehilangan rohnya.
Akibatnya, dalam waktu panjang, makhluk hidup itu akan mati. Nah, sekarang
apakah yang bisa kita pelajari dari kebiasaan penduduk
primitif di kepulauan Solomon ini? O, sangat berharga sekali! Yang jelas,
ingatlah baik-baik bahwa setiap kali Anda berteriak kepada mahkluk hidup
tertentu maka berarti Anda sedang mematikan rohnya.
Pernahkah kita berteriak pada anak kita?
*
Ayo cepat! Dasar leletan!
*
Bego banget sih.. Hitungan mudah begitu aja nggak bisa dikerjakan.
*
Ayo, jangan main-main disini. Berisik! Bising!
Atau, pernahkah kita berteriak kepada orang tua kita karena merasa mereka
membuat kita jengkel?
*
Kenapa sih makan aja berceceran?
*
Kenapa sih sakit sedikit aja mengeluh begitu?
*
Kenapa sih jarak dekat aja minta diantar?
*
Mama, tolong nggak usah cerewet, boleh nggak?
Atau, mungkin kitapun berteriak balik kepada pasangan hidup kita karena
kita
merasa sakit hati?
* Cuih! Saya nyesal kawin dengan orang seperti kamu, tahu nggak?!
* Bodoh banget jadi laki nggak bisa apa-apa!
* Aduh. Perempuan kampungan banget sih?!
Atau, bisa seorang guru berteriak pada anak didiknya.
* Eh tolol, soal mudah begitu aja nggak bisa
* Kapan kamu mulai akan jadi pinter?
Ingatlah, setiap kali kita berteriak pada seseorang karena merasa jengkel,
marah, terhina, terluka ingatlah dengan apa yang diajarkan oleh penduduk
kepulauan Solomon ini.
Mereka mengajari kita bahwa setiap kali kita mulai berteriak, kita mulai
mematikan roh pada orang yang kita cintai.
Kita juga mematikan roh yang mempertautkan hubungan kita.
Teriakan-teriakan, yang kita keluarkan karena emosi-emosi kita
perlahan-lahan, pada akhirnya akan membunuh roh yang telah melekatkan
hubungan kita.
Jadi, ketika masih ada kesempatan untuk berbicara baik-baik, cobalah untuk
mendiskusikan mengenai apa yang Anda harapkan.
Coba kita perhatikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Teriakan, hanya kita
berikan tatkala kita bicara dengan orang yang jauh jaraknya, bukan?!
Nah, tahukah Anda mengapa orang yang marah dan emosional, mengunakan
teriakan-teriakan padahal jarak mereka hanya beberapa belas centimeter.
Mudah menjelaskannya. Pada realitanya, meskipun secara fisik mereka dekat
tapi sebenarnya hati mereka begituuuu jauhnya.
Itulah sebabnya mereka harus saling berteriak.
Selain itu, dengan berteriak, tanpa sadar mereka pun mulai berusaha melukai
serta mematikan roh pada orang yang dimarahi kerena perasaan-perasaan
dendam, benci atau kemarahan yang dimiliki. Kita berteriak karena kita
ingin melukai, kita ingin membalas. Jadi mulai sekarang ingatlah selalu.
Jika kita tetap ingin roh pada orang yang kita sayangi tetap tumbuh,
berkembang dan tidak mati, janganlah menggunakan teriakan-teriakan.
Tapi, sebaliknya apabila Anda ingin segera membunuh roh pada orang lain
ataupun roh pada hubungan Anda, selalulah berteriak.
Hanya ada 2 kemungkinan balasan yang Anda akan terima.
Anda akan semakin dijauhi. Ataupun Anda akan mendapatkan teriakan balik
sebagai balasannya.
Saatnya sekarang, kita coba ciptakan kehidupan yang damai tanpa harus
berteriak-teriak untuk mencapai tujuan kita.
The contents of this e-mail and attachments are confidential and subject to
legal privilege. If you are not the intended recipient, you are strictly
prohibited and may be unlawful to use, copy, store, distribute, disclose or
communicate any part of it to others and you are obliged to return it
immediately to sender or notify us and delete the e-mail and any attachments
from your system. PT BANK PERMATA TBK and subsidiaries do not accept liability
for loss or damage resulting from computer viruses. The integrity of e-mail
across the internet cannot be guaranteed and PT BANK PERMATA TBK will not
accept liability for any claims arising as a result of the use of this medium
for transmissions by or to PT BANK PERMATA TBK.
--- End Message ---