gw dapet email ini pertama kali sekitar 2/3 bulanan yg lalu deh... gw ngangap 
seperti biasa aja...orang komplain...

tp menurut gw seh , kalo memang itu kejadian sebenar-benarnya terjadi ... dan 
memang ada kesalahan dari pihak rs

tapi si ibu malah di penjara....

...pasto ado uedang di baliak batu ho... 

orang kecil VS perusahaan besar ... biasanya siapa yg menang ?... 

tanya tukang ojek deket rumah lo deh , pasti dia tau...




  ----- Original Message ----- 
  From: Satria Yuliafianto 
  To: 97'ers sma 12 
  Sent: Thursday, June 04, 2009 2:22 PM
  Subject: [bonsi97] FW: curhat pasien RS OMNI





  Baru baca detailnya kali ini. Kok bisa2nya jadi delik aduan pencemaran nama 
baik. Kayaknya gak beda sama tulisan yang ada di surat pembacanya kompas.
  Buat santi, jangan bersalin ke RS Omni ya, ....bukan karena tulisan 
dibawah....tapi karena jauh di serpong....hehehe...


  ------ Forwarded Message
  From: Diana Siswahyuni <[email protected]>
  Date: Thu, 4 Jun 2009 11:11:26 +0700
  Conversation: curhat pasien RS OMNI
  Subject: FW: curhat pasien RS OMNI


  Subject: FW: curhat pasien RS OMNI

   
   
   
   
  Inilah Curhat yang Membawa Prita ke Penjara
  Rabu, 3 Juni 2009 | 11:12 WIB
  JAKARTA, KOMPAS.com - Prita Mulyasari, ibu dua anak, mendekam di Lembaga 
Pemasyarakatan Wanita Tangerang, Banten, gara-gara curhatnya melalui surat 
elektronik yang menyebar di internet mengenai layanan RS Omni Internasional 
Alam Sutera. 

  Kisah Prita bermula saat ia dirawat di unit gawat darurat RS Omni 
Internasional pada 7 Agustus 2008. Selama perawatan, Prita tidak puas dengan 
layanan yang diberikan. Ketidakpuasan itu dituliskannya dalam sebuah surat 
elektronik dan menyebar secara berantai dari milis ke milis. 

  Surat elektronik itu membuat Omni berang. Pihak rumah sakit beranggapan Prita 
telah mencemarkan nama baik rumah sakit tersebut beserta sejumlah dokter 
mereka. Seperti apakah surat Prita yang membawanya ke  penjara? 

  Berikut ini adalah surat prita.

  RS OMNI DAPATKAN PASIEN DARI HASIL LAB FIKTIF

  Prita Mulyasari - suaraPembaca 

  Jangan sampai kejadian saya ini menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama 
anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan 
rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin 
pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan 
suntikan. 

  Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami 
kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 
20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI 
Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandar International, yang 
tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus. 

  Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 
derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah trombosit 
saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan 
ditangani oleh dr I (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan 
pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya 
dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.

  dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya 
meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu 
referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan 
saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

  Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin 
pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H 
visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 
27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H 
terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam 
suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.

  Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan 
jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di 
rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir 
positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya 
saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

  Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik 
tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta 
keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster 
hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks 
lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul. 

  Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan 
dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya 
dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 
derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. 
Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.

  Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk 
memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya 
sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan 
berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam 
berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan 
kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

  Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak 
napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya 
berkata menunggu dr H saja. 

  Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun 
mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk 
diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan. 

  Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, 
janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya 
menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 
27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup 
saya belum pernah terjadi. Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher 
kiri dan mata kiri.

  dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah 
mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan 
menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan 
meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang 
seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak 
bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

  Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai 
membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau 
dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data 
medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis 
yang fiktif.

  Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya 
lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada 
follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil 
thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.

  Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat 
dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak 
adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan 
marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut 
ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen 
yang memegang hasil lab tersebut.

  Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh 
Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda 
terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar 
dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya 
sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda 
terima pengajuan komplain tertulis. 

  Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan manajemen. Atas nama Og 
(Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta 
memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya. 

  Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari 
lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya 
saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya 
masih bisa rawat jalan. 

  Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini 
tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia 
mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan 
ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, tidak 
bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji 
akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.

  Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya 
dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut analisa 
ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena 
sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan 
perempuan ke pankreas dan kista. 

  Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah 
membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan 
suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas. Saya 
tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak 
kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas. 

  Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut 
namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan 
waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu 
kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni 
memberikan surat tersebut. 

  Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan 
bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya 
tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya 
telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas 
nama Rukiah.

  Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya tidak 
ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya 
sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya dalam tanda terima 
tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut 
Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang 
mempermainkan nyawa orang.

  Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan 
customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum. 

  Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan 
ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas 
dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami. 

  Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan 
tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan 
dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi 
kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.

  Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin 
tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS 
Omni mendapatkan pasien rawat inap. 

  Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah 
hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat 
inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak 
makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik. 

  Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan 
asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal 
mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini. 

  Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). 
Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan 
mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain. 

  Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang 
selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas 
dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup 
untuk menyembuhkan. 

  Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. 
Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya 
untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan. 

  Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya 
diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang 
tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan tidak 
terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini. 

  Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan 
atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan 
Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan 
Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan 
RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini. 


  Salam, 
  Prita Mulyasari 
  Alam Sutera


   
  Perhatian: E-mail ini (termasuk seluruh lampirannya, bila ada) hanya 
ditujukan kepada penerima yang tercantum di atas. Jika Anda bukan penerima yang 
dituju, maka Anda tidak diperkenankan untuk memanfaatkan, menyebarkan, 
mendistribusikan, atau menggandakan e-mail ini beserta seluruh lampirannya. 
Mohon kerjasamanya untuk segera memberitahukan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk di 
alamat email yang tercantum di atas serta menghapus e-mail ini beserta seluruh 
lampirannya. Semua pendapat yang ada dalam e-mail ini merupakan pendapat 
pribadi dari pengirim yang bersangkutan dan tidak serta merta mencerminkan 
pandangan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., kecuali telah terdapat kesepakatan 
antara pengirim dan penerima bahwa e-mail ini termasuk salah satu bentuk 
komunikasi kedinasan yang dapat diterima oleh kedua pihak. 

  Caution: The information enclosed in this email (and any attachments) may be 
legally privileged and/or confidential and is intended only for the use of the 
addressee(s). No addressee should forward, print, copy, or otherwise reproduce 
this message in any manner that would allow it to be viewed by any individual 
not originally listed as a recipient. If the reader of this message is not the 
intended recipient, you are hereby notified that any unauthorized disclosure, 
dissemination, distribution, copying or the taking of any action in reliance on 
the information herein is strictly prohibited. If you have received this 
communication in error, please immediately notify the sender and delete this 
message.Unless it is made by the authorized person, any views expressed in this 
message are those of the individual sender and may not necessarily reflect the 
views of PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.



  ------ End of Forwarded Message


  

Kirim email ke