------ Forwarded Message
From: luky
Subject: Setelah BBC, Giliran CNN "Tertangkap Basah"

Setelah BBC, Giliran CNN "Tertangkap Basah"
Kamis, 25/06/2009 16:43 WIB

Pemberitaan media Barat yang menghembuskan isu kecurangan dalam pemilu Iran
dan situasi kisruh pasca pemilu Iran yang cenderung tendensius, memaksa
pemerintah Iran bersikap tegas terhadap media-media asing tersebut.
Ketegasan pemerintah Iran itu bukan tanpa alasan karena terbukti beberapa
media asing telah menyiarkan informasi yang tidak sesuai dengan fakta yang
sesungguhnya terjadi di lapangan, terutama dalam aksi-aksi massa yang
terjadi di Iran. 
Setelah BBC, kini giliran CNN yang "tertangkap basah" menyiarkan informasi
yang menyesatkan. Dalam siaran hari Rabu kemarin, CNN menayangkan wawancara
lewat telepon dengan seorang perempuan yang disebut berada di tengah-tengah
aksi protes yang berlangsung di depan gedung parlemen Iran di kota Teheran.

Dalam wawancara, perempuan yang menjadi nara sumber CNN itu menceritakan
seolah-olah situasi di lokasi unjuk rasa dalam keadaan gawat karena tindakan
represif aparat keamanan Iran terhadap para pengunjuk rasa. "Situasinya
sudah seperti pembantaian" kata si nara sumber CNN yang tidak disebutkan
namanya. Menurut si nara sumber, aparat kepolisian Iran sudah bersikap
kasar, memukuli para pengunjuk rasa dan menembaki mereka seperti binatang.
CNN tidak tahu bahwa televisi Iran, Press TV merekam wawancara itu dan Press
TV juga punya hasil liputan aksi unjuk rasa di depan gedung parlemen yang
oleh nara sumber CNN disebut ricuh dan suasanya seperti "pembantaian" .

Press TV membandingkan antara laporan nara sumber CNN dan hasil liputan
Press TV sendiri dan menayangkannya satu hari kemarin. Hasil perbandingan
itu menunjukkan bahwa laporan nara sumber CNN ternyata tidak sesuai dengan
fakta di lapangan yang terekam Press TV. Dalam aksi unjuk rasa tersebut,
tidak terjadi keributan seperti yang digambarkan nara sumber CNN.

Pembawa acara Press TV di akhir liputan itu menantang CNN dan jaringan media
Barat lain untuk membuktikan kalau semua berita yang disiarkannya berasal
dari sumber-sumber yang bisa dipercaya dan mendesak press Barat untuk tidak
membuat laporan yang provokatif dan menghasut.
Fakta ini menjadi tamparan bagi CNN, media massa kebanggaan AS itu. CNN
sendiri belum memberikan penjelasan apakah ia sudah dibohongi oleh orang
yang disebut sebagai nara sumbernya itu atau CNN sudah dengan sengaja
membuat wawancara telepon palsu dengan tujuan untuk menampilkan bahwa wajah
Iran dengan kekerasan.

Sebelum ini, media Inggris BBC juga memuat foto hasil rekayasa pelaksanaan
kampanye pemilu presiden di Iran. Seorang blogger berhasil membongkar
kebohongan BBC yang menggunakan foto kampanye Ahmadinejad dengan massa yang
jumlahnya banyak (http://whatreallyh appened.com/ IMAGES/iran_
protest_rally_ lie1.jpg) .

Foto itu dipotong sedemikian rupa (foto hasil rekayasa: http://whatreallyha
<http://whatreallyha/>  ppened.com/ IMAGES/iran_ protest_rally_ lie2.jpg)
dan diberi keterangan foto seolah-olah massa yang banyak itu adalah massa
Mir Mousavi. Blogger tersebut memuat pemalsuan foto yang dilakukan BBC di
situs http://whatreallyha <http://whatreallyha/>  ppened.com/ WRHARTICLES/
iranprop. php 

Setelah kebohongannya terbongkar, BBC memuat ralat foto tersebut yang
dipasang di bagian paling bawah berita utama. (lihat di http://news.
<http://news./>  bbc.co.uk/ 2/hi/middle_ east/8104362. stm)

Sebelum pelaksanaan pemilu, BBC berbahasa Farsi dalam siarannya berusaha
menggembosi pelaksanaan pemilu di Iran dengan memprovokasi rakyat Iran agar
tidak datang ke tempat-tempat pemungutan suara. Dalam sebuah siaran yang
provokatif, seorang presenter BBC bahkan mengatakan, "Dari pada pergi ke
TPS, lebih baik anda berkumpul di rumah menikmati Qormeh Sabzi, atau pergi
berlibur". BBC juga berulangkali melakukan agitasi dengan menyebutkan bahwa
telah terjadi kecurangan dalam pemilu dan menyebut aksi massa di Iran
sebagai cikal bakal revolusi beludru seperti yang terjadi di Cekoslavakia.
Akibatnya, Iran mengusir wartawan BBC. Tindakan serupa dilakukan Iran
terhadap stasiun televisi Al-Arabiya yang dianggap menyiarkan laporan yang
tidak sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan.

Matthew Cassel, asistan editor di situs Electronic Intifada-situs independen
yang berkomitmen dengan informasi-informasi tentang Palestina-dalam
editorialnya, mengkritik cara media Barat meliput situasi terkini di Iran.
Ia mengecam media Barat yang tidak independen dan bisa diperalat oleh
pemerintahnya untuk membuat sebuah pemberitaan pada publik. Media di
negara-negara Barat, yang mengklaim menghormati kebebasan press, kerap
membuat pemberitan sesuai pesanan dan selera pemerintahan negara asal media
bersangkutan. (ln/prtv/irib/ bbc/EI)
 
Another One ...
 
Setelah BBC yang ketangkap basah berbohong dalam pemberitaannya mengenai
Iran, kali ini CNN dan Reuters menyusul.

Rabu kemarin, CNN menurunkan berita "demonstrasi yang berakhir ricuh" di
depan gedung parlemen Iran di Tehran. Formatnya wawancara via telpon antara
seorang anchor di studio dan seorang perempuan peserta demonstrasi di
Tehran. Perempuan sumber CNN menyebutkan waktu dan lokasi demonstrasi. Dia
cerita kegawatan yang sedang terjadi. Keadaan sangat tidak aman, katanya.
Dia bilang polisi dan Basij main kasar, memukuli demonstran, menembakkan gas
air mata dan bahkan peluru tajam. Demonstran kocar-kacir, katanya, lari ke
segala pejuru. 

Dia bilang dia sekarang juga ikut lari, kabur naik taksi, menghindar kejaran
Basij. Dia juga bilang kalau dia cemas beberapa temannya mungkin sudah mati
kena tembak. 

Wawancara live itu diakhiri dengan "doa" anchor CNN: be safeÂ… be safe.

Dua hal yang tak disadari CNN dari berita itu:

1. Press TV merekam wawancara live itu dari awal sampai akhirnya.

2. Press TV punya rekaman menyangkut suasana di depan gedung parlemen dan
jalan-jalan Tehran yg disebutkan oleh sumber CNN itu selama 24 jam hari yang
sama. 

Press TV mengolah dua hal itu dan menayangkannya hampir seharian kemarin.
Hasilnya: bom atom untuk CNN dan seluruh media mainstream Barat.

Format tayangannya sederhana: rekaman wawancara CNN diroll berbarengan Press
TV meroll rekaman yang mereka dapatkan di lapangan. Nah, begitu sumber CNN
bilang demonstrasi ricuh di depan gedung parlemen, Press TV memperlihatkan
rekaman suasana pada waktu dan tempat yang sama. Ada demo. Tapi tak ada
kericuhan. 

Begitu sumber CNN cerita kalau orang-orang kabur ke segala arah untuk
menghindari kejaran Basij, Press TV meroll rekamanan suasana di jalan2 yang
disebutkan pada waktu yang sama. Tak ada apa2. Tidak ada orang berlarian.
Tidak ada Basij yang membawa pentungan mengejar2 orang, apalagi kalap
menembak ke segala penjuru—seperti kelakuan tentara AS di Irak jika sedang
panik. 

Format ini berlanjut sampai siaran CNN terlihat seperti komedi hitam. Anchor
Press TV mengakhiri liputan itu dengan sebaris pernyataan: Kini saya
menantang CNN dan jaringan media Barat lain untuk tidak hanyut dalam
reportase menghasut dan membuktikan kalau semua berita yang disiarkannya
berasal dari sumber-sumber yang bisa dipercaya.

Masa monopoli media dan akses informasi telah berlalu. CNN punya sumber,
Press TV punya sumber. CNN punya teknologi, Press TV punya teknologi. CNN
punya logistik, Press punya logistik. Selamat datang di dunia bebas menopoli
informasi. 

Selain itu, Rabu kemarin, Aljazeera Arabic juga menghantam Reuters yang
menyiarkan footage seputar "kerusuhan di depan gedung parlemen di Tehran".
Footage itu, dipajang di screen Al-Jazeera, memperlihatkan suasana chaos,
ada asap tebal, orang panik berlarian di jalan.

Lalu anchor Al-Jazeera bilang: "Tapi koresponden kami di lapangan menyatakan
tidak terjadi kerusuhan apapun di Tehran, khususnya di depan parlemen."

(Ditulis oleh jurnalis Indonesia, Alfian Hamzah. FYI, Press TV bisa ditonton
di Indonesia loh..pake parabola)

Dan setelah semua kejadian kayak gini.. ketika wartawan2 CNN, BBC, Reuters
itu diusir, mereka berteriak2, "Kebebasan pers diberangus di Iran!"

Untuk lihat Link berita2 terkait:
klik: http://dinasulaeman.wordpress.com <http://dinasulaeman.wordpress.com/>
 


------ End of Forwarded Message

Kirim email ke