Confusianisme juga membahas mengenai Tao ini. Hanya saja masing-
masing ahli filsafat memiliki pengertian yang berlainan. 

Di Tiongkok, Taoisme merupakan salah dari apa yang
dinamakan "Tiga Ajaran" (bersama-sama dengan Buddhisme dan
Konfusianisme). Taoisme mengalami perubahan secara bertahap secara
perlahan dan merupakan penyatuan yang terus menerus antara berbagai
macam aliran pemikiran kuno. 

Periode awal Asal usul tradisi shamanistik (3000 ?800 SM)

Kita tidak mengetahui tanggal yang pasti mengenai kelahiran
Taoisme, dan tanda-tanda keberadaan unsur-unsur luar yang diserap
tidak pernah lenyap darinya. Apabila kita memandang unsur-unsur luar
yang memperkaya Taoisme (yang diperoleh melalui inspirasi-inspirasi
baru), maka kita akan melihat betapa terbukanya agama ini. 

Taoisme
adalah agama yang selalu mengalami perkembangan dan evolusi, sehingga
selain sulit untuk menentukan waktu kelahirannya, juga sulit untuk
menentukan batas-batasnya. Sehingga Livia Kohn mengatakan:
"Taoisme tidak pernah merupakan suatu agama yang terpadu, dan
terbentuk dari kombinasi [berbagai] ajaran yang didasarkan atas
beraneka macam sumber asli" (lihat buku karyanya yang 
berjudul "Taoist Mystical Philosophy: The Scripture of Western
Ascension," Albany: State University of New York Press, 1991)

Meskipun tidak dapat menentukan tanggal yang pasti dari kelahiran 
Taoisme, namun untuk mengetahui asal muasalnya kita dapat
kembali pada 5000 tahun yang lalu, tatkala sekelompok suku berdiam di
tepi Sungai Kuning (Huang He) di Tiongkok Utara. Suku bangsa ini
masih belum memiliki identitas kebangsaan. Mata pencaharian sehari-
hari mereka adalah berburu, memancing, memelihara ternak, serta
bercocok tanam gandum dan padi-padian. Pada masa itu mereka masih
harus menaklukkan kekuatan-kekuatan alam, seperti amukan Sungai
Kuning atau hewan-hewan buas yang memangsa ternak mereka.
Legenda menyebutkan mengenai pemimpin-pemimpin mereka (kepala
suku) yang memiliki kekuatan gaib luar biasa, di mana pemimpin-
pemimpin tersebut mampu menaklukkan kekuatan gaib serta banjir Sungai
Kuning. 

Salah satu pemimpin tersebut adalah Yu.
Legenda mengatakan bahwa Yu tidak memiliki ibu dan ia muncul
secara langsung dari tubuh ayahnya yang bernama Kun. Saat itu Kun
ditugaskan oleh pemimpin suku bernama Shun, untuk menanggulangi
banjir Sungai Kuning. Ketika gagal Kun dihukum mati dan mayatnya
dibiarkan tergeletak pada sisi gunung. Sementara itu selama tiga
tahun, Yu berada dalam tubuh ayahnya yang sudah meninggal. Ajaibnya,
ternyata Kun dapat hidup kembali dan menjelma menjadi seekor beruang
coklat, ia membelah perutnya sendiri dan mengelurkan putranya, Yu.

Dengan segera, Yu berubah menjadi beruang pula dan legenda mengatakan
bahwa selama hidupnya Yu berubah-ubah wujudnya antara manusia dan
beruang. Pada masa Dinasti Zhou, kira-kira seribu tahun setelah masa
Yu yang legendaris, para pendeta masih berpakaian kulit beruang dan
menari-nari seperti beruang untuk menghormati Yu yang Agung.

Kalau bicara beruang ,masih ada hubungan dengan marga Huang Di yaitu
Xiong dan kerajaannya disebut Xiong juga alias beruang.

Kisah selanjutnya menyebutkan keberhasilan Yu di dalam
menyelesaikan tugas yang gagal diselesaikan oleh ayahnya, yakni
menanggulangi banjir. Keberhasilan ini dikarenakan ia diberi sebuah
buku berjudul Shuijing (Kitab Kekuatan atas Air) oleh para makhluk-
makhluk suci. Dikisahkan pula bahwa Yu mengadakan perjalanan secara
teratur ke langit untuk mempelajari sesuatu dari para makhluk-makhluk
kedewaan yang berdiam di angkasa (celestial spirit). Yu tidak hanya
dapat berubah menjadi binatang, namun ia mengerti pula bahasa mereka.
Shun, sebagai pemimpin pada masa itu pada akhirnya menyerahkan
kekuasaannya pada Yu.
Ketika banjir telah berhasil ditanggulangi, Yu melihat seekor
kura-kura merangkak keluar dari sungai. Pada punggungnya terdapat
gambar yang disebut dengan Loshu Bagua, yang menggambarkan perubahan
serta transformasi yang terjadi di alam semesta ini. Pola ini menjadi
dasar bagi teknik peramalan di Tiongkok pada masa-masa selanjutnya
hingga kini.

Legenda-legenda yang dihubungkan dengan Yu memperlihatkan
bahwa ia merupakan seorang shaman. Mircea Eliade dalam studinya
mengenai shamanisme menyebutkan hal-hal berikut, yang merupakan
pengalaman spiritual umum seorang shaman: terbang ke langit,
melakukan tarian untuk mendatangkan kekuatan (seperti yang dilakukan
dukun Indian Amerika serta suku-suku di Afrika), penerimaan pesan-
pesan dari para makhluk suci, kemampuan untuk berbicara dengan hewan,
kekuatan atas unsur-unsur alam, penyembuhan, serta pengetahuan
mengenai tanaman obat-obatan.

Pada kenyataannya, masyarakat Tiongkok kuno pada jaman ini
memiliki sekelompok orang yang disebut "wu." Tugas mereka menyerupai
tugas-tugas seorang shaman. Dari fakta-fakta di atas, yakni legenda
tentang Yu serta keberadaan para "wu", kita dapat menyimpulkan bahwa
agama asli Bangsa Tionghoa adalah sejenis shamanisme. Ajaran yang
tergolong shamanisme ini merupakan akar bagi perkembangan pemikiran-
pemikiran berikutnya. Hal lain yang bisa kita gali adalah para
pemimpin suku (yang berikutnya menjadi para kaisar ?lihat bab 1
mengenai sejarah Tiongkok) juga merupakan seorang shaman.
Tugas seorang shaman ini kemudian makin berkembang, pada masa
Dinasti Zhou tugas mereka adalah: memanggil roh-roh halus,
menafsirkan mimpi, membaca tanda-tanda untuk peramalan, memanggil
hujan, menyembukan, serta menafsirkan makna peristiwa-peristiwa yang
terjadi di angkasa (misalnya nampaknya komet atau bintang jatuh).


Masa Klasik (700 ?220 SM)

(i) Latar belakang awal, Lao Zi dan Tao Te Cing

Kini kita meninggalkan jaman legenda dan memasuki masa
sejarah. Kita tiba pada masa seribu tahun setelah Yu, di mana pada
masa itu Tiongkok dikuasai oleh Dinasti Zhou. Saat itu, kaisar tidak
lagi merangkap sebagai seorang shaman, melainkan ia mendelegasikan
tugasnya pada sekelompok orang yang digaji oleh kerajaan. Kaisar
hanya hadir pada dua upacara keagamaan terpenting saja, yakni Upacara
Mulai Bercocok Tanam Musim Semi dan Upacara Berterima kasih Musim
Gugur.

Dinasti Zhou menganut sistim feodal, yakni orang-orang yang pernah 
berjasa pada raja diberi gelar kebangsawanan secara turun temurun 
serta tanah-tanah kekuasaan. Jadi timbullah para bangsawan yang 
memerintah wilayah-wilayan mereka sendiri, namun tetap bertanggung 
jawab pada kaisar. Para bangsawan tersebut bertugas sebagai 
kepanjangan tangan kaisar di wilayah mereka dan bertugas untuk 
menahan serangan suku barbar di perbatasan. Selama kaisar merupakan 
pemimpin yang cakap dan
kuat, sistim feodal ini dapat berjalan lancar. Pada tahun 770 SM,
Dinasti Zhou terpecah menjadi banyak negara-negara feodal yang saling
berperang, di mana masing-masing negeri feodal tersebut sebelumnya
telah dikuasai para bangsawan secara turun temurun. 

Periode Peperangan ini disebut Periode Musim Semi dan Rontok (770 - 
476 SM)
dan selanjutnya disebut dengan Masa Perang Antar Negeri (475-221
SM), tatkala negara-negara terkuat tinggal tersisa tujuh negara.
Para Periode Musim Semi dan Rontok ini lahirlah para filosof
besar, seperti Lao Zi yang terlah disinggung pada bab 1. Lao Zi
secara umum diakui sebagai pendiri dari Taoisme. Riwayat singkat
Beliau telah dibahas pada bab 1, sehingga pada kesempatan kali ini
tidak akan dibahas kembali. Sebagaimana yang kita ketahui, Beliau
mewariskan sebuah kitab yang disebut dengan Tao Te Cing. Kini kita
akan membahas secara garis besar isi Tao Te Cing tersebut.



Garis besar isi Tao Te Cing

MENGENAI TAO

a.Pengertian Tao

Tao adalah sumber segala sesuatu. Ia tak bernama, tak
dapat dilihat, dan tidak dapat dipahami. Ia tak terbatas dan tidak
dapat habis atau musnah. Apa yang disebut dengan Tao ini, telah
mengatasi segenap perubahan dan permanen. Pengertian mengenai Tao
tersebut terdapat pada kutipan berikut ini:
"Tao yang dapat dibicarakan, bukanlah Tao yang sebenarnya atau yang
abadi; dan nama yang dapat diberikan, bukanlah nama yang sejati."
(Tao Te Cing 1:1)

Lao Zi mengakui bahwa nama "Tao" merupakan sesuatu yang terpaksa
Beliau berikan. Kata-kata dan bahasa memiliki keterbatasan dalam
mengungkapkan suatu Kebenaran sedangkan, sehingga Kebenaran Sejati
atau Terunggul tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata ataupun
bahasa. Mencoba memahami Kebenaran Terunggul dengan menggunakan kata-
kata yang terbatas tersebut hanya akan menimbulkan penyalah-tafsiran.
Dengan kebijaksanaan yang tinggi Beliau mengetahui, bahwa Tao
sebagaimana nama yang diberikan tersebut, adalah sumber dari segala
benda dan makhluk, sebagaimana dinyatakan berikut :
" Tiada nama, itulah kondisi permulaan terjadinya Langit dan Bumi.
Setelah ada nama itulah sumber dari segala benda." (Tao Tee Cing I,2).

Meskipun Tao adalah sumber dari segala sesuatu yang hidup, ia
bukanlah suatu dewa atau roh. 
Pandangan ini cukup berbeda dengan pandangan shamanistik mengenai
alam semesta. Menurut Tao Te Cing, langit, bumi, sungai, dan gunung-
gunung merupakan bagian dari suatu kekuatan yang lebih besar dan
mencakup semuanya. Kekuatan ini yang dikenal dengan istilah Tao,
dimana ia merupakan sesuatu kekuatan tak bernama serta berada di
balik bekerjanya alam semesta.
Meskipun demikian Tao Te Cing mencatat bahwa Tao ini tidak
sepenuhnya netral, pada bab 25 dan 81 disebutkan bahwa Tao ini
bertujuan untuk memberikan kebaikan pada yang lainnya dan tidak
menimbulkan bahaya.
"Jalan Langit adalah bertujuan memberikan keuntungan pada yang
lainnya dan tidak menyebabkan bahaya." (Tao Te Cing bab 81)
"Jalan Langit mengikuti Jalan Tao." (Tao Te Cing bab 25)

Dari hal tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa Tao merupakan sesuatu
kekuatan yang bajik.

b.Perbandingan paham mengenai Tao dengan Ajaran Buddhisme
Ajaran Buddha juga menyebutkan bahwa ada suatu tingkatan
kebenaran yang melampaui segenap kata-kata atau bahasa.
SAMDHINIRMOCANA SUTRA bab 2 mengatakan:
"Lebih jauh [lagi], Dharmodgata, Aku membabarkan bahwa Makna
Terunggul tidak dapat diucapkan/ tak terkatakan, tetapi berfungsinya
pikiran [hanya] bergerak di dalam [ruang lingkup] duniawi dari
bahasa/ kata-kata (language)."

Analogi untuk Kebenaran Terunggul adalah misalnya rasa mangga. Kita
tidak dapat menggambarkan rasa mangga dengan kata-kata. Untuk
mengetahui rasa mangga kita harus mencicipinya sendiri, dan tidak
dapat diketahui dari penuturan orang lain. Kebenaran Terunggul
tersebut adalah juga kedemikianan dari segala sesuatu. Sesungguhnya
segala sesuatu di alam semesta ini tidak memiliki nama dan tidak
dapat digambarkan dengan cara apapun, namun agar jelas kitalah
yang "terpaksa" memberinya nama. Sesuatu benda dinamakan "gelas"
adalah karena memang kita ingin menamakannya demikian. Kata "gelas"
tersebut sesungguhnya tidaklah mewakili hakekat dari sesuatu yang
disebut gelas, inilah yang di dalam Samdhinirmocana Sutra disebut
sebagai kata sementara (provisional word).
Ada pendapat yang menghubungkan Tao dengan Sabda Sang Buddha
yang terdapat pada Kitab UDANA:
"Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan
Yang Mutlak." (Udana VIII)

Apa yang dimaksud dalam kitab Udana tersebut adalah Nibanna
(Nirvana), yang merupakan tujuan akhir Umat Buddha. Namun karena
disebutkan bahwa Tao adalah suatu kekuatan yang menjadi sumber dan
pengatur segala sesuatu di alam semesta ini, maka tentu saja Tao
tidak sama dengan Nibanna. Nibanna bukanlah suatu kekuatan ataupun
sumber pengatur segala sesuatu di alam semesta ini, melainkan ia
adalah suatu kondisi padamnya segenap hawa nafsu keinginan.
Agama Buddha mengenal apa yang dinamakan "niyama" atau hukum
alam. Ada beberapa jenis niyama atau hukum alam. Hukum alam inilah
yang menyebabkan segala sesuatu menjadi ada ataupun tidak ada.
Terjadi dan musnahnya alam semesta adalah selaras dengan hukum
tersebut. Sehingga Tao tersebut lebih mirip dengan gagasan mengenai
niyama. Salah satu jenis niyama tersebut adalah kamma niyama, atau
yang lebih kita kenal dengan hukum karma. Hukum karma ini akan
memberikan akibat baik bagi orang yang melaksanakan kebajikan dan
memberikan hasil yang tidak baik bagi mereka yang melakukan
kejahatan. Sedikit perbedaan dengan pengertian Tao yang terdapat
dalam Tao Te Cing, adalah sifat netral dari niyama ini, tidak dapat
dikatakan baik atau buruk (contoh lain niyama adalah hukum gravitasi,
segala benda pasti jatuh ke bawah apabila dilemparkan). Tetapi tentu
saja apa yang dinamakan niyama ini juga tidak menimbulkan bahaya bagi
segala sesuatu di alam semesta ini.
Persamaan lainnya adalah niyama juga bukan merupakan dewa
atau roh dan bukan pula ciptaan suatu makhluk adikodrati. Niyama ini
juga meliputi segala sesuatu di alam semesta. 


MENGENAI PEMBINAAN DIRI

Tao Te Cing membahas mengenai pembinaan diri bagi mereka yang
bersedia mempraktekkannya. Ada dua metode pembinaan diri, yakni
teknik-teknik latihan jasmaniah serta melalui tingkah laku sehari-
hari.
Teknik-teknik pelatihan jasmaniah meliputi pengaturan nafas,
melakukan sikap-sikap tubuh tertentu, serta melatih energi seksual
sehingga dapat mengembalikan kebugaran dan kemudaan.
Sehubungan dengan perilaku sehari-hari, Tao Te Cing
mengajarkan bahwa segenap hawa nafsu keinginan, kemelekatan pada hal-
hal duniawi, serta kegiatan-kegiatan yang menimbulkan rasa
ketertarikan, membangkitkan emosi, melelahkan tubuh, adalah merugikan
kesehatan. Pesan yang terdapat dalam Tao Te Cing adalah: Kembangkan
kualitas-kualitas fisik dan mental seorang suciwan; terlibatlah dan
tolonglah yang lainnya dengan cara yang tidak merugikan siapapun;
beristirahatlah setelah pekerjaan terselesaikan. Seseorang masih
dapat terlibat di dalam urusan-urusan duniawi (seperti politik),
asalkan jangan tergiur oleh kekayaan dan kemashyuran.


(ii) Perkembangan berikutnya di bawah Zhuangzi dan Liezi

Ahli filsafat terkenal lainnya yang berkontribusi terhadap
perkembangan Taoisme adalah Zhuangzi (369 SM ?286 SM) serta Liezi
(abad 4 SM). Dengan adanya kedua ahli filsafat tersebut, Taoisme
memasuki tahapan baru. Ada perbedaan ajaran-ajaran mereka dengan
Taoisme yang lebih awal ataupun filsafat yang terdapat dalam Tao Te
Cing.
Sebelumnya keterlibatan seseorang di dalam politik masih
dimungkinkan, namun Zhuangzi dan Liezi mengajarkan bahwa seorang
suciwan mustahil untuk terlibat dalam politik. Pengertian wuwei
(secara harafiah berarti "tidak berbuat") berubah menjadi "tidak
terlibat" ataupun "membiarkan sesuatu sebagaimana adanya." Para
suciwan tidak lagi memperdulikan hal-hal duniawi. Apabila orang awam
terperangkap dalam kemashyuran serta kemewahan, sebaliknya para
suciwan menghindarinya, sehingga mereka benar-benar bebas.
Perbedaan berikutnya, sebagaimana yang telah diungkapkan di
atas, Tao menurut Tao Te Cing adalah kekuatan yang baik. Namun
Zhuangzi dan Liezi, memandang Tao sebagai kekuatan yang bersifat
netral. Ia masih merupakan dasar bagi keberadaan segala sesuatu,
tetapi tidak lagi merupakan suatu kekuatan yang bajik. Lebih jauh
lagi menurut keduanya, Tao tidak lagi memegang kendali atas segala
sesuatu di muka bumi ini, apa yang akan terjadi, pasti terjadi; dan
tidak ada sesuatupun yang dapat dilakukan untuk mencegahnya.
Terlepas dari semua perbedaan tersebut, Ajaran Zhuangzi dan
Liezi, masih memiliki banyak kesamaan dengan Ajaran Taoisme dari
periode sebelum mereka. Tao masih dipandang sebagai sesuatu yang tak
bernama, tanpa bentuk, serta tak dapat dipahami dengan rasio manusia
biasa. Mereka yang dapat memahami hakekat Tao beserta cara
bekerjanya, adalah orang yang tercerahi.
Di dalam Tao Te Cing, Tao dipandang sebagai asal muasal
segala sesuatu. Pandangan ini lebih dikembangkan lagi pada masa ini,
dimana dikembangkan pemikiran bahwa segala sesuatu memiliki asal
muasal yang sama. Tidak ada sesuatupun yang lebih berharga
dibandingkan yang lainnya. Begitu pula manusia tidak lebih berharga
dibandingkan hewan. Prinsip "kesetaraan status segala sesuatu"
diperkenalkan oleh Zhuangzi. Zhuangzi juga mengajarkan bahwa hidup
ini mengalami transformasi yang terus menerus dari Tao.
Zhuangzi meninggalkan sebuah kitab yang juga berjudul
Zhuangzi, judul lain dari kitab tersebut adalah Nanhua zhenjing
(Kitab Klasik Kemurnian dari Nanhua). Di dalamnya juga terdapat
pandangan shamanistik mengenai para suciwan, misalnya dikatakan bahwa
mereka dapat terbang ke langit, berbicara dengan hewan, serta
memiliki kekuatan-kekuatan atas unsur-unsur alam. Sedangkan Liezi
meninggalkan sebuah kitab yang juga diberi judul sesuai dengan
namanya.
Sebagai tambahan, kitab yang ditulis Zhuangzi tersebut
terdiri dari 33 bagian, yang masih dibagi lagi menjadi bagian "luar"
dan "dalam." Bagian "dalam" meliputi tujuh bagian pertama. Sebagian
besar dari tujuh bagian pertama ini menurut para ahli dikatakan
sebagai asli, sedangkan bagian selanjutnya diduga sebagian besar
palsu. Relativitas dari segala sesuatu juga merupakan ajaran dari
Zhuangzi, berikut ini akan dikutipkan salah satu ujaran paling
menariknya yang dikutip dari Kitab Zhuangzi (lihat Merriam Webster's,
Encyclopedia of World Religions hal 238):
"Suatu kali, aku, Zhuang Zhou (nama pribadi Zhuangzi ?penulis),
bermimpi bahwa aku menjadi kupu-kupu dan merasa bahagia sebagai kupu-
kupu. Saya merasa sadar bahwa saya merasa cukup puas dengan diri saya
sendiri, namun saya tidak mengetahui bahwa saya adalah Zhou. Tiba-
tiba aku terjaga, dan jelas sekali aku adalah Zhou. Saya tidak tahu
apakah apakah Zhou yang bermimpi menjadi kupu-kupu ataukah sang kupu-
kupu yang bermimpi menjadi Zhou. Antara Zhou dan kupu-kupu pastilah
terdapat perbedaan. Inilah yang disebut transformasi segala sesuatu."


Proses perubahan Taoisme filsafat menuju pada suatu agama yang
terorganisasi (20 SM ?600 M)

Taoisme baru menjelma menjadi suatu agama yang terorganisasi
pada masa Zhang Daoling yang hidup pada masa Dinasti Han Timur.
Meskipun demikian proses transformasi ini tidak akan terjadi apabila
tidak ada faktor-faktor pendukungnya. Berikut ini kita akan
mempelajari hal-hal apa saja yang menjadi pendorong bagi proses
tersebut.
Pada masa akhir Dinasti Zhou yang terpecah menjadi beberapa
negara, banyak orang yang terpelajar yang berkeliling untuk
menjajakan kemampuan mereka sebagai ahli ketata-negaraan maupun
penasehat politik. Mereka berkeliling untuk mencari raja atau
penguasa yang bersedia memanfaatkan jasa mereka. Profesi mereka pada
masa sekarang dapat disamakan dengan para konsultan dari berbagai
bidang. Dengan penyatuan Tiongkok di bawah Dinasti Qin, maka praktis
jasa mereka tidak diperlukan lagi. Dinasti Han yang merupakan
kelanjutan dari Dinasti Qin juga memerintah seluruh Tiongkok. Sama
dengan Dinasti Qin, mereka menerapkan sistim pemerintahan yang
terpusat serta membatasi kekuasaan para bangsawan. Dengan demikian
persatuan negara menjadi kuat. Sistim pemerintahan terpusat tersebut
tetap menjadikan kaum terpelajar yang sebelumnya berkeliling
menjajakan jasa tidak diperlukan lagi keberadaannya.
Sebelumnya banyak dari mereka yang juga menguasai kemampuan
mistis, seperti misalnya meramal, penyembuhan, dan menambah umur
panjang. Karena jasa mereka dalam bidang ketata-negaraan serta
politik tidak diperlukan lagi, maka dilakukanlah alih profesi dengan
memanfaatkan kemampuan lain mereka tersebut. Pada masa Dinasti Qin
dan Han awal, mereka membentuk suatu kelompok masyarakat tersendiri
yang disebut dengan "fangshi." Kata "fangshi" berarti "ahli ilmu
gaib" (masters of formulae). Secara umum mereka terbagi menjadi dua,
yakni yang mengkhususkan diri pada ilmu gaib, peramalan serta
penyembuhan dan mereka yang mengkhususkan diri pada ilmu pemanjang
umur serta hidup abadi. Adanya dua golongan ini untuk memenuhi
keinginan dua kelompok masyarakat yang berbeda. Kaum kaya lebih
menginginkan umur panjang serta hidup abadi, sedangkan kaum miskin
tidak memerlukannya. Hidup bagi mereka adalah penderitaan, sehingga
memperpanjang hidup bagi mereka sama saja dengan memperpanjang
penderitaan. Sebaliknya kaum miskin yang antara lain terdiri dari
petani, lebih menghendaki jaminan panen yang baik, serta kesehatan
diri dan anggota keluarganya, sehingga mereka dapat bekerja di ladang
dengan lancar. Para fangshi yang menjawab keinginan mereka
menggunakan jimat yang ditulisi simbol-simbol tertentu serta kata-
kata yang dipercaya mengandung kekuatan gaib. Tujuannya adalah untuk
mengundang roh-roh agar menyembuhkan serta memberikan perlindungan.
Jadi kaum fangshi ini kemudian menjadi semacam kelas pendeta
di tengah-tengah masyarakat pada masa itu, dimana sebelumnya kelas
kependetaan semacam ini sebelumnya belum dikenal dalam Taoisme.

Sebagai tambahan :
jimat atau fu itu berasal dari kebiasaan jaman purba , dimana setiap
menjelang pergantian musim semi itu selalu dibuat ujar2 yang
bersifat baik dan mengundang hal2 yang baik ke dalam rumah.
Dalam perkembangannya , fu itu menjadi semacam jimat yg memiliki
kekuatan2 tertentu , misalnya dengan menaruh gambar2 rasi2 bintang.
Atau juga gambar2 dari elemen kekuatan alam.

Faktor pendorong lain, adalah ajaran seorang ahli filsafat
bernama Mozi (lahir sekitar tahun 470 SM dan wafat sekitar tahun 391
SM). Beliaulah yang mengawali tradisi suatu agama terorganisasi
dengan mendirikan altar-altar guna memuja roh-roh setempat. Para
pengikut Mozi yang disebut kaum Mohis, mengajak rakyat untuk memuja
altar-altar tersebut. Meskipun Ajaran Mozi (Mohisme) kehilangan
pengaruhnya pada masa Dinasti Han, tetapi tetap saja rakyat masih
menyembah altar-altar tersebut. Taoisme kemudian meneruskan sistim
pemujaan dengan menggunakan altar-altar tersebut.
Faktor ketiga yang mendorong perubahan Taoisme menjadi suatu
agama, adalah melemahnya upacara ritual kerajaan yang dilakukan oleh
para shaman. Sebagaimana yang telah kita bahas di atas, para raja
Dinasti Zhou memanfaatkan jasa para shaman untuk melakukan upacara
keagamaan bagi mereka. Lambat laun makna dari upacara keagamaan
tersebut menjadi tidak dikenal lagi, sehingga upacara tersebut
merosot menjadi semacam rutinitas belaka, sehingga akhirnya upacara-
upacara semacam itu tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan spiritual
masyakarakat pada jaman itu. Akhir dari upacara-upacara yang
diorganisasi perusahaan, terjadi pada masa Dinasti Han, di mana
kaisar memutuskan untuk menganut Taoisme, dengan mendirikan altar
pada tahun 150 M guna menghormati Laozi. Posisi para shaman
penyelenggaran upacara ritual kerajaan digantikan oleh para fangshi.
Demikianlah tiga prasyarat untuk menjadikan Tao suatu agama
tersedia sudah: kelas kaum pendeta, sistim pemujaan, dan dukungan
kerajaan.
Pada masa inilah Zhang Daoling tampil ke panggung sejarah. Pada 
mulanya Zhang Daoling mempelajari kitab-kitab klasik Konfusius, namun 
kemudian ia beralih pada Ajaran-ajaran Laozi
serta ilmu memperpanjang umur. 
Zhang Daoling kemudian berpindah ke
Propinsi Shu (Yunnan sekarang), yang pada masa itu merupakan daerah
terpencil serta bergunung-gunung. Daerah tersebut didiami oleh suku-
suku yang mempraktekkan kepercayaan shamanistik kuno. Bagi orang yang
tinggal di desa-desa terpencil, roh-roh adalah merupakan sesuatu yang
nyata dan ilmu gaib adalah pusat dari kehidupan mereka.
Zhang Daoling menyatakan bahwa ia menerima ajaran dari Laozi
sendiri, yang juga memberikannya kekuatan untuk menyembuhkan penyakit
serta menaklukkan roh-roh jahat. Dengan menggunakan air yang telah
dibubuhi abu hasil pembakaran jimat, Zhang berhasil mendapatkan
banyak pengikut. Jimat tersebut adalah sehelai kertas kuning yang
ditulisi simbol-simbol tertentu dengan warna merah. Kebanyakan simbol-
simbol tersebut merupakan sarana untuk memanggil roh-roh atau makhluk
suci.
Zhang Daoling menciptakan suatu agama yang berpusat di
sekeliling dirinya sendiri, ia memberikan gelar Laozi sebagai
Taishang Laojun (Penguasa Agung nan Tinggi). 

Tambahan:
Zhang DaoLing juga memasukkan HuangDi sebagai pendiri Taoism.
Dan konon TaiShang LaoJun menjelma menjadi Guang ChengZi dan
mengajarkan Taoism kepada HuangDi.
Yang mana ketika konsep San Qing lahir , maka YuanSe TianZun itu
menjelma menjadi Pan Gu.

Zhang Daoling dan
keturunannya kemudian menjadi pemimpin gerakan keagamaan tersebut.
Gerakan keagamaan ini disebut dengan "Jalan Lima Gantang Beras,"
karena orang yang ingin bergabung diharuskan membayar sumbangan
sejumlah lima gantang beras.
Oleh karena Zhang Daolinglah Taoisme menjadi suatu agama.
Pujaan utamanya adalah Laozi yang dipandang sebagai pendiri Taoisme 
dan disebut TaiShang LaoJun.
Zhang Daoling dan keturunannya menyebut diri mereka sebagai "Guru-
guru kedewaan" (dianshi) dan menjadi perantara antara para dewa dan
umat awam. Namun, hal terpenting di atas semua itu adalah agama baru
ini dapat memenuhi kebutuhan spiritual masyarakat. Zhang Daoling dan
pengikutnya menciptakan suatu sistim keagamaan lengkap dengan kaum
pendeta, kitab suci, upacara ritual, dan ilmu gaibnya. Mereka
memerintah bagaikan paus atas sistim keagamaan baru tersebut.
Kitab yang muncul pada masa itu adalah Taipingjing (Kitab
Perdamaian dan Keseimbangan), yang membahas berbagai hal, seperti
penciptaan dunia, pentingnya upacara ritual, aturan moralitas, pahala-
pahala, hukuman, serta ilmu menambah kesehatan dan umur panjang.
Dinasti Han runtuh pada tahun 220 dan terpecah menjadi tiga
negara, yakni Wei, Wu, dan Shu. Organisasi keagamaan yang kini
dipimpin Zhang Lu, cucu dari Zhang Daoling menerima pengakuan dari
Kerajaan Wei sebagai Zhengyi Mengwei (Aliran Ortodoks Utama) dari
Taoisme. Pada masa selanjutnya aliran tersebut juga disebut dengan
Tianshi Dao (Aliran Para Guru Kedewaan).
Pada masa Kerajaan Wei inilah timbul kitab yang berjudul
Taishanglingbaowufujing (Kitab Pewahyuan Tertinggi Lima Jimat dari
Roh Suci). Ini merupakan kitab pertama dari kumpulan kitab-
kitab "Lingbao" (Roh Suci). Di dalam kitab ini dapat dijumpai
mengenai jimat untuk melindungi serta memanggil roh-roh suci,
penggambaran kosmologi alam kedewaan, teknik meditasi, serta resep-
resep untuk meramu obat menuju keabadian.

Berikut ini kita akan membahas tokoh-tokoh yang terkenal dari
Aliran Dianshi Dao.
Sima Yan mempersatukan Tiongkok kembali dan mendirikan Dinasti Jin. 
Namun pada tahun 317 M, mereka terpaksa melarikan diri ke selatan 
oleh karena serangan suku bangsa barbar dari utara. Dengan didukung 
oleh orang-orang yang masih setia pada Dinasti Jin, mereka mendirikan 
Dinasti Jin Timur. Di antara para pengikut setia Dinasti Jin, 
terdapatlah Sun Yin dan Lu Dun. Mereka berdua adalah pengikut Aliran 
Dianshi Dao yang didirikan oleh Zhang Daoling dan dipandang sangat 
berjasa di dalam menegakkan kembali Dinasti Jin. Kerajaan kemudian 
memberikan perlindungan bagi aliran tersebut, sehingga menjadikannya 
makin berkembang.
Tokoh lainnya adalah Kou Qianzhi, yang merupakan seorang
sarjana serta pendeta Taois yang hidup pada masa Kerajaan Wei Utara.
Ia merupakan penasehat spiritual bagi para raja Kerajaan Wei Utara.
Kou Qianzhi lalu mendirikan cabang utara dari Aliran Tianshi Dao.
Aliran yang didirikannya ini lebih mementingkan pada upacara dan
liturgi keagamaan dan berbeda dengan Aliran Dianshi Dao asli yang
mementingkan ilmu pembuatan jimat. Dengan diilhami oleh sila-sila dan
vinaya Buddhisme, Kou Qianzhi menciptakan aturan mengenai apa yang
dilarang dan harus dilakukan oleh seorang praktisi Tao. Para penguasa
Kerajaan Wei Utara sangat terkesan dengan Kou Qianzhi dan menjadikan
bentuk Aliran Dianshi Dao yang diperkenalkannya sebagai agama negara.
Lu Xiujing, merupakan tokoh Aliran Tianshi Dao di Tiongkok
Selatan. Jasa pentingnya adalah pengumpulan menjadi satu kitab-kitab
Taois, yang menjadi inti bagi kanon kitab suci Taoisme pada masa
sekarang. Pada masanya jumlah kitab suci Taois telah semakin banyak
jumlahnya. Disamping Tao Te Cing, Zhuangzi, dan Liezi yang telah
dibahas di atas, timbul pula kitab-kitab mengenai ramuan-ramuan serta
teknik untuk mencapai keabadian yang diwariskan oleh para fangshi.
Selain itu masih terdapat pula kitab-kitab Lingbao, yang pada jaman
Lu telah berjumlah 50 jilid. Sebagai tambahan timbul pula jenis kitab-
kitab baru yang disebut Kitab-kitab Shangqing. Kitab-kitab ini
merupakan dasar bagi timbulnya Taoisme mistis.
Dengan diilhami oleh kanon Tripitaka Buddhis, maka Lu
menyusun kanon Kitab Suci Taois (Daozang) yang dipublikasikan pada
tahun 471. Susunannya terbagi menjadi dua bagian besar, yakni "bagian
besar" dan "bagian kecil." Bagian besar terbagi menjadi tiga bagian
yang disebut "Gua Realisasi" (Dongzhen), "Gua Rahasia-rahasia"
(Dongxuan), dan "Gua Roh-roh suci" (Dongshen). Empat bagian kecil
terbagi lagi menjadi empat, yakni "Misteri Agung"
(Taixuan), "Keseimbangan Agung" (Taibing), "Kemurnian Agung"
(Taiqing), dan "Kitab-kitab Klasik Ortodoks" (Zhengyi). Kanon ini
telah mencakup semua naskah dari tiga bentuk utama Taoisme masa itu,
yakni aliran yang mengembangkan ilmu memperpanjang usia, ilmu gaib
dan upacara-upacara dari Aliran Dianshi Dao, dan Taoisme Mistik yang
kemudian dikenal sebagai Aliran Shangqing.
Pada saat kematian Lu Xiujing pada tahun 477, Taoisme telah
memiliki pengaruh penting di Tiongkok Selatan, atas jasanya tersebut
Taoisme menjadi agama yang dapat diterima oleh semua kelompok
masyarakat.



Berkembangnya Taoisme Mistik (Aliran Shangqing) (300 ?600)

Mistisisme berupaya menciptakan suatu pengalaman religius
yang lebih mendalam, dengan berusaha untuk mencapai pengalaman
mistis. Ada banyak definisi mengenai pengalaman mistis tersebut,
namun secara umum adalah dengan berusaha mencapai ekstase, atau
pengalaman keagamaan yang melampaui segenap kesadaran indrawi dan
logika. Perasaan bahagia luar biasa yang tidak dapat diterangkan
dengan akal juga merupakan sesuatu yang sering menyertai pengalaman-
pengalaman mistis. Ajaran penting lainnya adalah konsep mengenai apa
yang disebut dengan "Yang Tunggal." Ia tidak dapat dipahami oleh
orang biasa dan merupakan dasar bagi segala sesuatu. Meskipun tidak
dapat dipahami, namun ia hadir dalam diri kita, dan dengan
menyadarinya secara internal kita dapat mencapai kemanunggalan dengan
segala sesuatu di sekeliling kita. Tujuan tertinggi umat manusia
adalah menyatu dengan "Yang Tunggal" tersebut.
Aliran Shangqing mengatakan bahwa tujuan tertinggi dalam
hidup adalah menyatu dengan Tao dalam rasa bahagia yang luar biasa
serta ekstase. Jadi Tao diidentikkan dengan "Yang Tunggal" tersebut.
Mereka juga mengajarkan bahwa di dalam tubuh manusia (pada tiap-tiap
organnya) terdapat roh-roh penjaga, menyerap energi bulan dan
matahari untuk mencapai keabadian. Sebelum melanjutkan pembahasan
kita, perlu diingat bahwa sesuatu yang disebut "Yang Tunggal"
tersebut menurut Aliran Taoisme Shangqing sekalipun, juga merupakan
kekuatan yang tidak berpribadi (impersonal), sehingga tidak dapat
disamakan dengan Tuhan Personal. Ajaran Aliran Shangqing ini lebih
mirip dengan Brahmanisme, dimana tujuan akhirnya adalah penyatuan
dengan suatu esensi tertinggi impersonal bernama Brahman. Aliran
Shangqing meyakini bahwa "Yang Tunggal" tersebut adalah Tao yang
berada dalam diri setiap orang. Ini juga mirip dengan ajaran
Brahmanisme yang mengatakan bahwa tiap makhluk merupakan pancaran
dari Brahman, jadi dari dalam tiap makhluk terdapat Brahman.
Aliran Shangqing ini didirikan oleh seorang wanita bernama
Wei Huacun YuanJun pada masa Dinasti Jin. Nyonya Wei dikatakan telah 
menerima
pewahyuan dari para dewa dan mencatat ajaran mereka pada sebuah kitab
yang berjudul Shangqing Huangding Neiqing Yujing (Kitab Klasik Batu
Giok Istana Kuning Mengenai Gambaran-gambaran Internal atas Alam
Murni nan Tinggi) pada tahun 288 M. Meskipun demikian gagasan
mengenai adanya roh-roh penjaga pada tiap-tiap organ tubuh manusia
serta penyatuan dengan "Yang Tunggal" telah dikenal sebelumnya. Kitab
Taipingjing yang telah ada sebelumnya menyebutkan:
"Jika tubuh berada dalam ketenangan dan roh dijaga di dalamnya, maka
penyakit tidak akan bertambah banyak. Anda akan berumur panjang, oleh
karena roh-roh yang baik melindungi Anda."

Pada kitab komentar atas Tao Te Cing yang ditulis oleh He Shanggong,
disebutkan apabila seseorang dapat membina roh-roh penjaga yang
terdapat dalam tubuhnya, maka ia dapat mencapai keabadian. Kelima roh-
roh penjaga yang berdiam dalam organ manusia itu adalah sebagai
berikut:
1. Hati tempat berdiam roh manusia
2. Paru-paru tempat berdiam jiwa manusia
3. Jantung tempat benih roh abadi
4. Limpa tempat berdiam keinginan-keinginan manusia
5. Empedu tempat berdiam energi pembangun

Tambahan:
dalam perkembangannya , sistem ini berubah menjadi pemikiran bhw ke
5 organ itu adalah 5 setan(wu gui) dimana melatih diri sehingga 5
setan itu berubah menjadi 5 dewa( wu shen).

Apabila kelima organ tersebut mengalami gangguan, maka kelima roh
tersebut akan meninggalkannya.
Orang yang berjasa menyebarkan Aliran Shangqing ini adalah
Yang Xi. Dikatakan bahwa ia telah menerima penampakan dari Nyonya Wei
yang saat itu telah menjadi dewi atau yang sering disebut Wei HuaCun 
Yuan Jun. 
Ia kemudian mencatat ajaran-ajaran dari Nyonya Wei tersebut dan 
selanjutnya diwariskan kembali pada Xu Hui dan Xu Mi (ayah dan anak). 
Kitab-kitab Aliran Shangqing lainnya
adalah Taishang Baowen (Tulisan Suci dari Yang Tertinggi), Dadong
Zhenjing (Kitab Sejati dari Gua Agung), dan Basu Yinshu (Kitab
Tersembunyi mengenai Delapan Kesederhanaan).
Para penganut Aliran Shangqing ini berhubungan satu sama lain
melalui ikatan keluarga atau perkawinan. Xu Hui dan Xu Mi ini
berkerabat dengan Ge Hong, yang menulis kitab Baopuzi. Anggota lain 
keluarga Ge yang ikut berjasa dalam
Aliran Shangqing adalah Ge Xuan. Ia mengumpulkan menjadi satu Kitab-
Kitab Lingbao dari Taoisme.
Bentuk awal dari Aliran Shangqing menggabungkan banyak aspek
dari Aliran Tianshi Dao. Mereka menggunakan jimat-jimat dan
menjadikan Yuanshi Tianzun ,sebagai dewa tertinggi mereka. Mereka 
juga memakai kitab-kitab Taipingjing,Zhengyi Fawen (Aturan-aturan dan 
Kitab-kitab dari aliran Dianshi Dao), Taishang Lingbao Wufujing, dan 
kitab-kitab Lingbao lainnya
sebagai kitab utama mereka.

Hal-hal yang membedakan Aliran Shangqing dengan Tianshi Dao
adalah:
1. Aliran Shangqing mengajarkan penyatuan dengan "Yang Tunggal" dan
memelihara roh-roh penjaga dalam tubuh, demi tercapainya kesehatan
tubuh umur panjang. Aliran Dianshi Dao tidak mengenal paham penyatuan
dengan "Yang Tunggal," mereka berpendapat bahwa penggunaan jimat dan
ramuanlah yang bertujuan menyembuhkan penyakit.
2. Aliran Tianshi Dao menggunakan jimat untuk menyembuhkan penyakit,
mengusir setan, dan melindungi diri terhadap roh jahat, sedangkan
Aliran Shangqing menggunakan jimat untuk memanggil dan
memvisualisasikan roh-roh penjaga di dalam tubuh serta mengadakan
perjalanan menuju alam realita yang lainnya.

Meskipun terdapat perbedaan, hal ini tidaklah mengundang permusuhan
dari Aliran Tianshi Dao yang lebih tua. Memang, toleransi beragama
telah dijunjung tinggi di Tiongkok semenjak jaman dahulu.
Tokoh selanjutnya yang ikut mengembangkan Aliran Shangqing
adalah Tao Hungqing. Beliau dilahirkan pada tahun 456 dan wafat pada
tahun 536 saat berkuasanya Dinasti Liang. Tatkala berdiam di Maoshan,
sebuah gunung di Propinsi Jiangsu, ia menulis kembali silsilah Aliran
Shangqing, mencatat otoritas pewariskan ajarannya, mencatat susunan
penghuni alam kedewaan beserta jabatan-jabatan dan wewenang di
dalamnya. Oleh karena itu Tao Hungqinglah yang berjasa menetapkan
kosmologi kedewaan Taois. Tingkatan para dewa tersebut dibagi-bagi
seturut tingkat pencapain kesucian mereka. Tao Hungqing juga tertarik
dengan ilmu alkimia (nenek moyang ilmu kimia) dan ia mempunyai sebuah
laboratorium di Maoshan yang dibiayai oleh kerajaan. Dengan
laboratorium itu ia berusaha menciptakan pil panjang umur dan
memperkenalkan penggunaan mineral serta rempah-rempah untuk menjaga
kesehatan dan memperpanjang usia ke dalam Aliran Shangqing. Aliran
Shangqing yang didirikan oleh Tao ini dikenal sebagai Cabang Maoshan
atau lengkapnya Aliran Maoshan Shangqing (Aliran Maoshan Shangqing
ini berbeda dengan Aliran Maoshan yang menekankan ilmu gaib pada masa
Dinasti Ming).

Kini kita akan sedikit membahas ajaran Aliran Shangqing.
Ajaran aliran ini dibagi menjadi tiga hal: "alam semesta bagian
dalam", "alam semesta bagian luar", dan perpaduan keduanya.
Alam semesta bagian dalam meliputi tubuh manusia sendiri,
yang dipenuhi oleh makhluk suci, roh, dan monster. Sehingga dengan
demikian Aliran Shangqing meyakini bahwa terdapat makhluk suci dan
roh-roh yang menjaga tubuh dari penyakit. Hal ini menarik sekali,
mengingat ilmu kedokteran modern, juga menemukan keberadaan darah
putih, yang juga menjaga tubuh manusia dari penyakit (fungsi
kekebalan tubuh). Apabila para roh-roh penjaga ini telah meninggalkan
tubuh, maka hal tersebut dapat menyebabkan tubuh melemah dan mati.
Oleh sebab itu, Aliran Shangqing sebagian besar menitik beratkan pada
usaha untuk menjaga agar roh-roh penjaga tersebut tidak lemah atau
pergi. Selain adanya makhluk-makhluk suci tersebut, mereka juga
meyakini keberadaan tiga monster yang menjaga tiga titik pada tulang
punggung. Monster-monster tersebut memiliki kemampuan untuk
menghambat jalan energi kita, namun mereka menjadi kuat dikarenakan
oleh makanan yang kita makan. Oleh karena itu untuk menjaga agar
monster tersebut tidak terlalu kuat, para praktisi melakukan puasa
atau diet tertentu.

Tambahan:
dalam perkembangannya , pemahaman ini masih ada tapi 3 iblis itu
menjelma menjadi fenomena2 pengganggu para praktisi meditasi.
Karena itu ada yang menggunakan sistem vegetarian agar po2 binatang
tidak mempengaruhi tubuh.

Alam semesta bagian luar meliputi segala sesuatu di luar kita
yang juga dihuni banyak roh dan dewa. Yang terpenting dari mereka
hidup di matahari, bulan, dan bintang-bintang.

Berkembangnya Taoisme Alkimia (200 ?200)

Alkimia merupakan nenek moyang dari ilmu kimia, dan telah
diterapkan pada sebagian besar belahan dunia ini jauh sebelum ilmu
kimia yang berdasarkan metode ilmiah berkembang. Aliran Taoisme yang
menitik-beratkan pada alkimia ini juga disebut sebagai Taijing.
Aliran Taijing membagi alkimia menjadi dua, yakni alkimia
eksternal dan internal. Alkimia eksternal berarti penggunaan rempah-
rempah dan mineral-mineral tertentu untuk menjaga kesehatan,
memperpanjang usia, atau bahkan menjadikan orang yang meminumnya
tidak dapat mati. Rempah-rempah dan mineral tersebut kemudian diolah
menjadi pil. Alkimia internal menunjukkan bahwa segala macam unsur
untuk menjadikan seseorang sehat, panjang umur, atau bahkan hidup
abadi telah terdapat dalam tubuh manusia itu sendiri. Sehingga
alkimia internal lebih bertujuan untuk mengembangkan energi hidup di
dalam tubuh tanpa bantuan obat-obatan dari luar.
Sesungguhnya, perhatian Taoisme pada kesehatan dan umur
panjang dapat ditelusuri pada karya-karya Laozi dan Zhuangzi.
Sebagaimana yang telah kita bahas sebelumnya, terdapat dua golongan
kaum fangshi. Yang pertama mengkhususkan diri pada penggunaan jimat-
jimat untuk kesembuhan dan mereka merupakan pendahulu dari Aliran
Dianshi Dao. Sementara kelompok lainnya menekankan pada teknik-teknik
utuk memperpanjang usia, menjaga kesehatan, dan mencapai kehidupan
abadi dengan bantuan ramuan-ramuan dan merupakan pendahulu bagi
Aliran Taoisme Alkimia (Taijing).
Tokoh terkenal aliran ini adalah Wei Boyang yang hidup pada
masa Dinasti Han Timur. Ia bereksperimen menciptakan pil hidup abadi.
Ketika yakin telah berhasil, ia memberikan pil tersebut pada
anjingnya. Anjing tersebut terjatuh dan nampaknya telah mati. Wei
Boyang sendiri kemudian menelan pil tersebut dan juga terjatuh tak
sadarkan diri. Wei Boyang mempunyai dua orang murid, yang seorang
setelah melihat kejadian tersebut menjadi kehilangan kepercayaan dan
meninggalkan tempat tersebut. Sementara itu murid lainnya yang
memiliki keyakinan kuat, menelan pil terakhir dan juga jatuh bagaikan
mati. Tak lama kemudian mereka bertiga hidup kembali, merasakan
tubuhnya ringan dan selanjutnya terbang ke langit menjadi dewa. Wei
meninggalkan sebuah kitab yang berjudul Cantongqi (Kesatuan Rangkap
Tiga).
Sama dengan ajaran yang terdapat pada Aliran Taoisme
sebelumnya, Candongqi menyebutkan bahwa Tao adalah sumber segala
sesuatu, termasuk kehidupan. Ketika alam terus menerus memperbaharui
dirinya sesuai dengan Tao, begitu pula manusia dapat memperbaharui
dirinya terus menerus dan mencapai keabadian dengan cara
menyelaraskan diri dengan prinsip-prinsip ini.
Tokoh lainnya adalah Ge Hong, yang juga merupakan tokoh
Aliran Shangqing. Sebagaimana yang telah diungkapkan di atas, ialah
yang memperkenalkan penggunaan mineral dan rempah-rempah ke dalam
Aliran Shangqing.
Pada perkembangan selanjutnya para kaisar dari Dinasti Tang
(618-906) benar-benar tergila-gila pada pil yang dapat membuat hidup
abadi. Jumlah kaisar Dinasti Tang yang mati keracunan obat-obatan
pembuat hidup abadi melebihi dinasti-dinasti lainnya. Obat pembuat
hidup abadi menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial
kemasyarakatan dan kerajaan menunjang eksperimen untuk menciptakan
obat semacam itu.
Pada masa akhir Dinasti Tang, orang mulai bertanya-tanya
apakan pembuatan pil semacam itu merupakan hal yang masuk akal. Hal
ini menyebabkan orang untuk memikirkan kembali mengenai makna
keabadiaan. Salah satu makna keabadian ini disumbangkan oleh Agama
Buddha: keabadian merupakan hasil dari lingkaran kelahiran dan
kematian yang tanpa akhir. Definisi lainnya adalah umur panjang dan
kesehatan yang baik. Pandangan-pandangan baru tersebut di atas yang
menyebabkan para penganut Aliran Taijing berpaling pada yoga dan
meditasi. Setelah runtuhnya Dinasti Tang, usaha manusia untuk mencari
keabadian dengan jalan mengkonsumsi dan mengolah berbagai rempah-
rempah dan mineral berakhir sudah, dan dengan demikian alkimia
eksternal turut pula berakhir.
Keruntuhan Dinasti Tang diikuti masa kacau selama 50 tahun,
dan sesudahnya Dinasti Sung (960 ?1279) berhasil mempersatukan
Tiongkok kembali. Masa pemerintahan Dinasti Sung ini merupakan jaman
keemasan ilmu alkimia internal. Tokoh terkenal alkimia internal pada
masa ini adalah Lu Dongbin yang merupakan murid Zhongli Quan. Lu
Dongbin mewariskan ajarannya pada berbagai muridnya. Salah satu dari
mereka adalah Chen Xiyi yang terkenal dengan pelatihan Qigongnya, di
mana teknik ini merupakan penggabungan Yijing serta usaha untuk
melanjarkan aliran energi. Murid lainnya adalah Wang Chongyang yang
mendirikan Aliran Realitas Sempurna. Wanglah yang menggabungkan
Ajaran Tao, Buddha, dan Konfusianisme (sebagaimana yang akan dibahas
pada bagian 7.7). Tokoh-tokoh alkimia internal berikutnya adalah
Zhang Boduan, Qiu Changchun, Wang Zhe atau yang dikenal sebagai Wang 
ChongYang, Qiu Chuji, dan Zhang Sanfeng.
Zhang Sanfeng inilah yang menggabungkan antara alkimia internal dan
ilmu bela diri, di mana ia merupakan pencipta Taiqichuan.
Wang Zhe (1123 ?1170) merupakan pendiri Aliran Quanzhen,
meskipun aliran tersebut baru dinamakan dinamakan demikian setelah
kematiannya. Salah seroang penerusnya adalah Qiu Chuji (1148 ?237)
yang diundang oleh Genghis Khan, karena tertarik oleh obat keabadian.
Ia mengatakan pada sang Khan, bahwa obat semacam tersebut sebenarnya
tidak ada dan kebenaran terunggul adalah penyatuan Tao dengan dunia
ini.

Penggabungan antara Tao, Buddhisme, dan Konfusianisme (1000 - 
sekarang)

Pada masa akhir Dinasti Tang, impian untuk menciptakan pil
keabadian berakhir sudah. Masa kacau yang mengakhiri Dinasti Tang
(907 ?960) menyebabkan banyak sarjana melarikan diri untuk menjadi
pertapa. Mereka meresapi filsafat Tao serta mengagumi Ajaran
Buddhisme Zen, namun tidak mau meninggalkan ajaran Konfusianis
mereka. Untuk itulah mereka menciptakan sintesa antara ketiga ajaran
tersebut.


Kosmologi Tao

Setelah membahas sejarah perkembangan Taoisme, kini tibalah
saatnya kita membahas mengenai kosmologi Tao. Taoisme membagi alam
kedewaan menjadi 36 tingkatan sebagai berikut:



Surga tingkat 1 s/d 6 sering disebut surga Yu , yang mana surga
tersebut masih memiliki keinginan , bentuk, jenis kelamin.
Surga tingkat 7 s/d 24 disebut surga Shi , masih memiliki bentuk tapi
keinginan sudah mulai padam. Surga tingkat 25 s/d 28 , disebut juga
surga Wu Shi,tidak berbentuk dan tidak berkeinginan.
Surga tingkat 29 s/d 32 disebut surga Fan Tian.
Surga tingkat 33 s/d 35 disebut surga San Qing.
surga 36 disebut surga Da Luo.
Surga Da Luo dan san Qing disebut 4 surga suci.






.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.

.: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :.

.: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Jaringan pertemanan Friendster : [EMAIL PROTECTED] :. 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke