Dalam sejarah Jepang sama seperti Tiongkok, perebutan
kekuasaan tak pernah berhenti, bedanya mereka
menganggap kaisarnya adalah Dewa untuk seluruh dunia,
jadi kaisar tidak pernah digulingkan, yang saling
menggulingkan adalah para samurai. Meskipun demikian
akibatnya sama, kemajuan masyarakat macet pada tingkat
feodalisme. Perbedaan utama terjadi pada pertengahan
abad 19. Saat itu Jepang sadar ketinggalannya dari
negara barat, mereka mengadakan restorasi
besar-besaran, gerakan ini dikenal dengan restorasi
Meiji. Westernisasi terjadi di segala bidang,
pemerintahan, militer, ekonomi dll, kecuali budaya.
Mereka tidak membuang budaya Jepang sedikitpun, nama,
tata cara pergaulan, kepercayaan/agama, seni dll.
Hasilnya sebuah negara Jepang yang kuat dengan budaya
asli muncul di dunia. Memang sangat disayangkan,
setelah kuat mereka merasa sudah waktunya kaisar
Jepang menjadi kaisar dunia seperti yang mereka
percayai, militerisme tumbuh dan menghasilkan
malapetakan perang dunia II terutama bagi KOrea dan
Tiongkok. 30 juta korban perang melawan Jepang di
Tiongkok, toh mereka sekarang menganggap Jepanglah
korban perang, agresor adalah Tiongkok dan sekutu.
Meskipun demikian, memelihara budaya sendiri dalam
perkembangan teknologi dan ekonomi, adalah ciri khas
Jepang yang patut ditiru. Beda dengan orang Tiongkok
dan Tionghoa umumnya, begitu merasa maju, nama
diganti, adat istiadat, tatakrama diganti, bahkan
bahasa diganti. Untuk Tionghoa Indonesia memang
sebagian dipaksa jaman orde baru. Apakah sekarang
bukan saatnya kita balik kembali ke jalan yang benar?
Budaya kita hidupkan kembali, nama kita kembalikan,
minimal untuk anak yang baru lahir secara formal, dan
beri alias bagi anak yang sudah lahir dengan nama non
Tionghoa. 
Usulan kumpul-kumpul minum teh patut disokong, tapi
harus diikuti penceramah yang menjelaskan sejarah dan
tatacaranya. Ada kesalahan, ada perbedaan pendapat tak
penting dan harus dimaklumi, kita semua baru belajar
kembali. Yang jelas merupakan hambatan adalah masalah
dana.
Kumpul-kumpul perlu biaya. ????

--- Rinto Jiang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Christian menulis:
> 
> Bung Rinto,
> kami sangat awam dengan upacara minum teh ini,
> bagaimana juga dengan 
> upacara minum teh jepang ? apakah upacara minum teh
> dari tiongkok ini 
> yang mengilhami kebudayaan minum teh di jepang ?
> bagaimana kalau sekali kali anggota miling lis ini
> berjumpa untuk 
> mengadakan upacara minum teh. kami lihat di koran
> beberapa hari lalu 
> perkumpulan minum teh jepang di indonesia merayakan
> ulang tahunnya yang 
> ke 17 atau 18.
>  
> salam
>  
> christian
> 
> 
> Rinto Jiang:
> 
> Upacara minum teh Jepang sudah pasti berasal dari
> Tiongkok. Daun teh 
> baru dibawa oleh pendeta Buddhis ke Jepang di zaman
> Tang, sekitar 1400 
> tahun lalu. Waktu itupun belum mendapat perhatian
> dari masyarakat 
> Jepang. Setelah zaman Song, sekitar 1000 tahun lalu,
> seorang pendeta 
> Buddhis dari Jepang menuntut ilmu ke Tiongkok dan
> tertarik mempelajari 
> budaya minum teh di Tiongkok. Sepulangnya ia ke
> Jepang, barulah teh 
> dikenal secara luas di Jepang dan menjadi satu
> dengan kebudayaan Jepang. 
> Teh juga menjadi budaya orang Korea.
> 
> Bedanya adalah orang Jepang menganggap upacara minum
> teh sebagai suatu 
> yang sangat serius, sedangkan budaya minum teh di
> Tiongkok tidak begitu 
> terikat dengan nilai2 tata krama. Banyak sekali hal
> yang harus 
> diperhatikan di dalam upacara teh Jepang yang resmi,
> misalnya bagaimana 
> cara mengambil cawan, meletakkannya di tangan kiri,
> memutar cawan 180 
> derajat sebelum diminum. Adapula seluruh yang hadir
> meminum teh dari 1 
> cawan, ataupun masing2 memiliki cawan sendiri
> sebagai simbol ikatan 
> persaudaraan.
> 
> Di Tiongkok, tata krama lebih dititik-beratkan pada
> gaya bicara tuan 
> rumah dan tamu dan bukan pada bagaimana cara meminum
> teh tadi. Ini 
> sedikit perbedaan upacara minum Tiongkok dengan
> Jepang. Sesuai dengan 
> kebudayaan berbicara orang Tionghoa yang suka
> berbasa-basi dan 
> menekankan pada keindahan berbahasa dan kebudayaan
> orang Jepang yang 
> lebih menekankan gerak-gerik dan perbuatan.
> 
> Di Jepang, upacara minum teh juga disebut Chato,
> dituliskan memakai 
> huruf kanji, sama dengan upacara minum teh di
> Tiongkok yang disebut Chadao.
> 
> 
> Rinto Jiang
> 



                
__________________________________ 
Start your day with Yahoo! - Make it your home page! 
http://www.yahoo.com/r/hs


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/cRr2eB/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.

.: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :.

.: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Jaringan pertemanan Friendster : [EMAIL PROTECTED] :. 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke