Bung John yb,

    Sangat baik! Baik sekali, inilah yang saya kehendaki, masing-masing kita 
mencoba memikirkan dan mengajukan pendapat apa itu budaya Tionghoa dan tentu, 
yang dimaksudkan adalah budaya Tionghoa di Indonesia. Mengingat budaya itu 
sendiri sangat luas, sedang yang kita bicarakan budaya Tionghoa yang sudah 
berpadu, terpengaruh dengan budaya setempat Indonesia, tetap saja tidak bisa 
lepas dari budaya leluhur Tionghoa.

    Perlu saya tegaskan pengertian dan maksud "Mempertahankan Budaya Tionghoa", 
adalah sebagai lawan dari usaha sementara orang yang bermaksud meniadakan 
segala yang berbau Tionghoa untuk bisa ber-asimilasi atau berbaur menjadi 
Indonesia, sekaligus juga sebagai pendapat yang menentang usaha pemerintah Orba 
selama 32 tahun yang sengaja berusaha menghilangkan budaya Tionghoa di 
Indonesia dengan menganjurkan ganti-nama, dan dikeluarkannya pelarangan 
menggunakan bahasa Tionghoa, pelarangan merayakan Imlek dan beribadah cara 
Tionghoa.

    Dan tentunya juga, tidak ada pengertian saya, menyatakan orang yang tidak 
lagi mengenal Budaya-Tionghoa bukan lagi Tionghoa. Lha, saya sendiri 
tergolongan baba yang praktis sudah tidak lagi mengenal apa itu budaya Tionghoa 
sesungguhnya. Betul-betul kagum saya melihat bung yang masih begitu fasih 
mengenal tradisi budaya Tionghoa, sekalipun sudah menanggalkan nama Tionghoa 
dan menggunakan nama John Towell. Bagaimanapun juga, tidak dapat disangkal, 
diakui atau tidak, bung tetap Tionghoa. Indonesia yang Tionghoa! Dan, ... 
sungguh sayang kalau tradisi budaya Tionghoa yang dianggap baik-baik itu 
hilang, apalagi kalau secara sengaja dihilangkan. Kenapa harus dihilangkan? 
Padahal itu seharusnya telah menjadi bagian dan merupakan kekayaan budaya 
Nasional Indonesia. Itulah maksud saya menyerukan "Mempertahankan budaya 
Tionghoa".

    Tentu, dalam "mempertahankan budaya Tionghoa" bagi setiap orang tidak bisa 
dituntut sama, harus begini atau begitu. Harus mentaati tradisi budaya yang 
begini secara ketat, ... dsb.nya. Tidak perlu harus begitu. Yang perlu, jangan 
dibunuh atau sengaja dilupakan yang namanya budaya Tionghoa itu. Dan saya 
yakin, masih akan tetap banyak Tionghoa-Tionghoa Indonesia yang mengenal dan 
bertekad meneruskan tradisi budaya Tionghoa. Sayapun sangat setuju dengan 
pengertian yang diajukan bung Min Hui, bahwa budaya tetap adalah budaya terus 
berkembang. Biarkan budaya itu berkembang sesuai dengan perkembangan jaman, 
berinteraksi dengan budaya disekeliling dimana kita berada dan hidup. 

    Setiap orang boleh saja mengikuti tradisi budaya Tionghoa secara ketat, 
katakanlah semisalnya dalam masalah perkawinan yang bung ajukan dan telah ada 
tambahan dari bung Min Hui itu, tapi juga perkenankanlah orang lain yang 
menjalankan hanya sebagian saja, yang merubahnya lebih praktis dan mengambil 
gampangnya saja. Dan, ... begitulah perkawinan yang saya lakukan hampir 30 
tahun yl., tidak mungkin mengikuti sepenuhnya tradisi budaya Tionghoa. Bisa 
nggak jadi kawin! Darimana saya harus dapatkan uang segitu banyak, untuk 
mengikuti keharusan ngantar segala macam emas-kawin, untuk mengeluarkan anak 
perempuannya dari rumah orang-tuanya. Jadi, ketika itu dihadapkan pada 2 
pilihan, kawin dengan cara yang paling sederhana dan murah, atau tidak kawin 
karena harus mengikuti tradisi. Eehhh, kok ya beruntung juga, akhirnya dia 
pilih kawin dengan cara yang paling sederhana dan semurah-murahnya, gitu. 
Padahal sudah usia 34, jejaka tua ketika itu. Nyaris tetap membujang sampai 
sekarang ini. Heheheee, ...

    Tapi, ya itulah budaya hendaknya bisa dipertahankan yang kita anggap baik 
dan biarlah dipertahankan oleh siapa saja yang ingin mempertahankannya. Tidak 
perlu mutlak ditaati, terima dan laksanakan sebagaiman yang kita anggap paling 
baik. Begitulah bagi orang yang sudah menjadi Islam atau menganut Katholik 
misalnya, ikutilah budaya Tionghoa yang dianggapnya masih baik dan bisa 
diikuti. Dan tidak seharusnya orang lain marah dengan menuduh murtad, hanya 
karena meninggalkan budaya Tionghoa. Berilah kebebasan seseorang memilih jalan 
hidup yang dirasa paling baik untuk dirinya. Yang pasti dia tetap Tionghoa 
sekalipun sudah tidak mengenal atau bahkan tidak mempertahankan budaya Tionghoa 
lagi.

    Itulah pernyataan ber-Bhineka Tunggal Ika, bisa menerima dan menghormati 
segala perbedaan yang ada, termasuk beda budaya didalam kehidupan 
bermasyarakat. 

    Salam,
    ChanCT

  ----- Original Message ----- 
  From: jt2x00 
  To: [email protected] 
  Sent: Friday, June 09, 2006 4:01 PM
  Subject: [t-net] Re: Han Hwie-Song: Budaya Tionghoa untuk bapak CT Chan


  Sdr. Chan CT, Dr.Han, dan Eva-moy yang baik.

  Waktu pertama kali saya membaca tulisan Sdr.Chan yang berisi anjuran 
  untuk mempertahankan budaya Tionghoa, saya langsung mengerutkan 
  kening untuk berpikir. Bukan untuk menentang pendapat tsb, tetapi 
  untuk bertanya, bagaimana dengan budaya Tionghoa Peranakan yang unik, 
  yang notabene keturunan campuran antara imigran dari Tiongkok dari 
  garis ayah dengan wanita pribumi dari garis ibu. 

  Mereka sudah tinggal di Indonesia sejak ratusan tahun yang lalu, jauh 
  sebelum Indonesia merdeka. Dapat dikatakan mereka mempunyai budaya 
  gado2 antara budaya setempat dengan sisa2 budaya Tionghoa. Dengan 
  anjuran Sdr.Chan, apa yang harus mereka lakukan? Mempertahankan 
  buidaya Tionghoa yang mana yang harus mereka lakukan? Apakah budaya 
  suku Hok-kian, Hok-chia, Khe, Kong-hu, Tio-ciu, atau yang lain lagi? 
  Sebagian besar dari mereka juga tidak tahu, mereka itu keturunan dari 
  suku apa? Dan siapa yang berhak menentukan bahwa mereka harus 
  mengikuti suatu budaya tertentu.

  Lebih lanjut, pertanyaan tsb juga berkembang lebih luas, apa saja 
  batasan budaya yang dimaksud sdr.Chan? Apakah pola pikir dan sikap 
  hidup (way of life) juga termasuk budaya? Kalau ya, bagaimana 
  mengkalsifikasikan bahwa si A pola pikirnya sesuai budaya Tionghoa, 
  dan si B tidak? Atau yang dimaksud sdr.Chan hanya ritual2 tradisi 
  dan keagamaan saja? Kalau ya, bagaimana dengan orang yang dari kecil 
  tidak pernah mengenal tradisi tsb, atau yang memeluk agama yang 
  berbeda dengan orang yang menganjurkannya? 

  Apakah pola pikir berdasarkan Confusianism dianggap sebagai bagian 
  dari budaya Tionghoa? Kalau ya, bagian dari ajaran Confusianism yang 
  mana yang dapat dijadikan acuan? Bagaimana dengan orang2 Cina di RRT 
  yang sejak lahir sudah beragama Islam seperti suku Hui misalnya, yang 
  lebih mengenal ajaran Islam daripada ajaran Confusianism? Apakah 
  orang2 yang bisa berbahasa mandarin sudah dianggap cukup 
  mempertahankan budaya Tionghoa? Kalau ya, dialek Mandarin mana yang 
  akan dipakai patokan? Bagaimana dengan orang Taiwan, Hongkong, dan 
  Macao? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang membuat saya bingung.

  Pertanyaan2 tsb batal saya lontarkan, karena sudah didahului oleh Eva-
  moy yang walaupun lebih singkat, tapi intinya tidak terlalu jauh 
  berbeda dengan yang ingin saya tanyakan. Terus terang saya jadi 
  tertawa atas jawaban anda kepada Eva-moy, di mana anda sendiripun 
  kebingungan ketika ditanya kebudayaan Tionghoa seperti apa yang anda 
  maksud. Saya jadi teringat dengan seorang kenalan yang pernah 
  memarahi saya habis2an, karena saya tidak bisa berbahasa Mandarin. 
  Ketika saya nyeroscos dengan bahasa Mandarin yang sudah saya hafalkan 
  sebelumnya, dia justru kebingungan dan tidak mengerti karena yang dia 
  tahu hanya bahasa Khee saja, dan itupun hanya lisan. 

  Gambaran ini menjadi sedikit lebih jelas dengan uraian dari Dr.Han, 
  yang walaupun bukan seorang akhli budaya, dapat memberikan gambaran 
  dan batasan yang lebih kongkrit tentang budaya. Meskipun demikian, 
  saya yakin Dr.Han pun akan kebingungan kalau ditanya budaya Tionghoa 
  yang mana yang dimaksud, karena budaya adalah sesuatu yang dinamis 
  dan tidak mudah menentukan batasannya. Apalagi daratan Tiongkok yang 
  demikian luas, sehingga untuk salah satu objek budaya yang sama, di 
  ujung Barat dan ujung Timur daratan Tiongkok akan menjadi sangat jauh 
  berbeda. Apalagi dibandingkan dengan budaya yang dianut kalangan 
  Tionghoa Peranakan di Indonesia.

  Sepanjang yang saya tahu, budaya Tionghoa Peranakan hampir sama 
  dengan budaya masyarakat pribumi sekitarnya, ditambah sisa-sisa 
  budaya Tiongkok yang diwariskan kakek moyangnya dahulu melalui ajaran 
  falsafah hidup dan ritual agama Konghucu yang dianutnya. Meskipun 
  demikian, sisa2 budaya Tiongkok yang diwarisi mereka, jika 
  dibandingkan dengan budaya Tionghoa Totok, jelas sekali ada perbedaan 
  yang mencolok.
  Karena Tionghoa Peranakan juga marupakan bagian dari orang Tionghoa 
  secara umum, maka otomatis budaya Tionghoa Peranakan pun harus diakui 
  pula sebagai bagian dari budaya Tionghoa, kecuali Tionghoa Peranakan 
  tidak diakui lagi sebagai orang Tionghoa.

  Sebagai bahan perbandingan, terbentuknya Tionghoa Peranakan di 
  Indonesia relatif sama dengan terbentuknya suku2 tertentu yang hidup 
  di daratan Tiongkok, di sekitar perbatasan dengan negara tetangganya. 
  Mereka diyakini sebagai keturunan dari hasil perkawinan campuran 
  dengan suku bangsa lain di sekitar perbatasan. Apakah budaya suku 
  Uighur, Xian, Hui, dll, bukan bagian dari budaya Tionghoa, dalam arti 
  Chinese Culture? Kalau ya, kenapa Tionghoa Peranakan dianggap lain? 
  Apakah karena mayoritas tidak bisa berbahasa Mandarin? Walaupun 
  Dr.Han sudah memberikan batasan2 yang dimaksud dalam pengertian 
  budaya, tetapi dalam kenyataannya sangat susah sekali meng-claim atau 
  menolak suatu budaya yang berkembang di masyarakat. 

  Pada masa Orde Lama, sisa2 budaya Tiongkok yang masih melekat pada 
  Tionghoa Peranakan antara lain hitungan dalam bahasa Ho-kian, 
  panggilan kepada sanak famili, ritual dalam acara perkawinan atau 
  kematian, dan upacara sembahyang agama Konghucu. Hitungan ce-pe, no-
  pe, ce-ceng, dst lebih praktis dan singkat daripada ucapan dalam 
  bahasa Indonesia. Panggilan kepada sanak famili, mungkin karena 
  simpel dan langsung tahu hubungan kekeluargaan antara orang yang 
  memanggil dan yang dipanggil, sangat kuat melekat pada masyarakat 
  Tionghoa Peranakan waktu itu. 

  Dengan menyebut : twa-pe, twa-em, ji-pe, ji-em, en-cek, en-cim, eng-
  ku, eng-kim, twa-thio, cin-ke, ce-em, dsb, kita langsung tahu 
  bagaimana hubungan orang yang memanggil dengan yang dipanggilnya, 
  singkat, tidak perlu penjelasan panjang lebar lagi. Coba anda hitung, 
  berapa kata yang diperlukan untuk menjelaskan "cin-ke" dalam bahasa 
  Inggris.
  Panggilan2 tsb berasal dari bahasa Ho-kian yang sudah dipengaruhi 
  dialek lokal, sehingga panggilan "cin-ke" di Jabar misalnya, di Jatim 
  sudah berubah menjadi "jin-ge" dengan logat Jawa yang medhok, 
  sehingga bagi kalangan Tionghoa Totok atau orang2 di RRT menjadi 
  asing dan aneh. 

  Ritual dalam perkawinan yang masih melekat adalah sembahyang "sam-
  kay" yang harus dilakukan pada subuh sebelum matahari terbit pada 
  hari perkawinan, sebelum bertemu pasangannya, dan dilanjutkan siang 
  hari bersama pasangannya. Kalau diperhatikan, peralatan dan makanan 
  yang digunakan dalam sembahyang sam-kay tsb sebagian adalah alat2 dan 
  makanan tradisonal setempat, yang mustahil berasal dari tradisi 
  Tiongkok. 
  Pantun yang dilantunkan pun khas pantun ala Indonesia. Lamaran 
  menjelang perkawinan dengan berbagai macam barang hantaran kepada 
  pihak wanita, tidak jelas lagi apakah mengikuti tradisi setempat atau 
  tradisi Tionghoa, tapi uniknya yang dilakukan Tionghoa Peranakan 
  berbeda dengan kebiasaan masyarakat setempat maupun Tionghoa Totok..

  Dalam ritual kematian, jenazah setelah "jit-bok" (acara tutup peti / 
  siu-pan = tembela) disemayamkan didepan 3 macam meja sembahyang yang 
  dilengkapi "to-ui" (kain penutup meja bagian muka) dalam warna putih, 
  biru, dan merah. Anggota keluarga yang she nya sama harus memakai 
  kain belacu, sedangkan menantu laki2 dan cucu luar cukup dengan kain 
  putih biasa saja. Perempuan harus memakai kerudung sedang laki2 harus 
  memakai ikat kepala. Malam sebelum hari penguburan diadakan acara 
  sembahyang secara besar2an. Setelah penguburan, keluarganya tiap hari 
  melakukan upacara sembahyang pagi dan sore untuk memberi makan arwah 
  yang meninggal sampai hari "co-pe-jit", sebagai sembahyang penutupan 
  upacara kematian tsb. 

  Setelah itu keluarganya wajib sembahyang "ce-it-cap-gouw" untuk 
  memberi makan arwah sampai 1 tahun dan 3 tahun yang ditutup dengan 
  sembahyang besar mengundang tamu2, dan selanjutnya hanya wajib 
  sembahyang "co-ki" setiap ulang tahun hari kematiannya. Pada saat "ji-
  kau-me" mereka wajib sembahyang ke semua leluhurnya menyambut Sin-
  chia, setiap hari sampai "cap-go-me" pada saat chia-gwe-cap-gouw. 
  Kemudian, 5 April pada saat Ceng Beng mereka wajib ke kuburan. 
  Sekitar 1-2 bulan kemudian, saat "go-gwe-ce-gouw" mereka wajib 
  sembahyang kwe-cang yang harus dilarung di sungai atau laut, yang 
  konon untuk memberi makan arwah seorang jendral yang bunuh diri di 
  sungai untuk membela kebenaran.. 

  Dua bulan kemudian, saat "cit-gwe-cap gouw", mereka sembahyang arwah 
  di meja hio-low masing-masing dan di kelenteng, yang biasa disebut 
  juga sembahyang "rebutan", untuk memberi makan semua arwah tentara 
  tak dikenal yang gugur dalam pertempuran. Disebut sembahyang rebutan 
  karena makanan dan barang2 bekas sembahyang dibagikan kepada 
  pengunjung dan pengunjung berebutan menerimanya. Sebulan kemudian 
  sembahyang "pe-gwe-cap-gouw" atau sembahyang tong-cu-phia, yang 
  malamnya dilanjutkan dengan duduk2 di taman menikmati bulan purnama 
  sidi sambil menikmati kue tong-ciu-phia dan minum teh panas. Tepat 
  pada Hari Ibu 22 Desember mereka juga harus melakukan sembahyang 
  onde, yang entah untuk apa.

  Apakah ritual2 perkawinan dan kematian semacam ini yang disebut 
  budaya Tionghoa, dan harus dipertahankan oleh semua orang Tionghoa? 
  Pertanyaannya, bagaimana dengan yang menganut agama Krsiten atau 
  Islam akibat kebijakan politik pemerintah masa lalu? Apakah mereka 
  tidak layak lagi disebut Tionghoa? Bagaimana dengan orang2 di RRC 
  yang kebanyakan Atheis, yang sudah tidak mengakui lagi ritual2 
  semacam itu, apakah mereka juga tidak layak lagi disebut orang Cina? 
  Atau cukup asal bisa berbahasa Mandarin saja?

  Jelas anjuran untuk mempertahankan budaya Tionghoa hanyalah jargon2 
  politik yang cenderung euphemistis yang amat sangat sulit untuk 
  diikuti, karena batasannya pun tidak jelas lagi tentang apa yang 
  harus diikuti dan apa yang tidak boleh diikuti. Tidak jelas pula 
  siapa yang berwenang menetapkan kwalifikasi yang telah dicapai. 
  Bahkan batasan tentang pengertian budaya sendiripun seringkali rancu, 
  karena banyak orang menganggap bahwa budaya = tradisi. Jelas ini 
  suatu pengertian yang sangat sempit yang terlalu menyederhanakan 
  persoalan. Sejak jaman pra kemerdekaan, Tionghoa Peranakan seringkali 
  dibuat bingung oleh sekelompok orang yang berusaha untuk "men-Cinakan 
  kembali", seolah-olah mereka tidak berhak menetukan hak-hak 
  politiknya sendiri sepanjang tidak bisa berbahasa Mandarin. Ada 
  kecenderungan mereka digiring untuk menuruti kemauan sekelompok orang 
  yang fasih berbahasa Mandarin yang mempunyai orientasi politik 
  tertentu. 

  Mungkin pendapat saya ini salah, silakan anggota t-net yang lain 
  mengemukakan pendapat anda, mari kita diskusikan secara baik-baik, 
  sesuai dengan tujuan dibuatnya milis ini. Melalui diskusi kita bisa 
  mengerti jalan pikiran orang lain yang berbeda pendapat dengan kita, 
  dan sekaligus menambah wawasan kita. Sayangnya, dalam alam demokrasi 
  sekarang ini masih ada orang yang menganggap orang lain yang berbeda 
  pendapat sebagai musuh, dengan melemparkan omongan2 yang tidak 
  bertanggung jawab : tersinggung, bohong, memecah belah Tionghoa, 
  semua orang Tionghoa baik dan mau nyumbang bencana alam, dan 
  perkataan2 lain yang tidak ada relevansinya dengan topik yang 
  dibicarakan (tidak nyambung) yang terkesan asal mendebat.

  Salam
  John Towell

  -----------------------

  --- In [email protected], Han Hwie Song <[EMAIL PROTECTED]> 
  wrote:
  >
  > Sdr. Chan yang baik,
  > Maaf atas kelancangan saya, sebelumnya perlu saya katakan bahwa 
  saya bukan seorang ahli kebudayaan, hanya hobby saya adalah membaca 
  filosofi Tiongkok, maka bolehkah saya membantu anda mengenai arti 
  kebudayaan Tionghoa.
  > Untuk dapat menjawab pertanyaan: "kebudayaan Tionghoa itu apa", 
  maka perlu diketahui dulu apa yang diartikan budaya itu. Dalam bahasa 
  Tionghoa diserbut Wen-hua. Dalam bahasa Tionghoa Wenhua itu juga 
  termasuk peradapan (civilisasi). Maka budaya setiap bangsa lain-lain.
  > Tetapi budaya saya rasa dapat dikatakan sebagai berikut:
  > Budaya mencakup satu kompleks pengertian tentang, moral, kebiasaan, 
  norma dan nilai penghidupan (the way of life), know-how, agama, seni, 
  rutuil, etc. yang mengisi penghidupan suatu bangsa sebagai anggota 
  masyarakat dan hubungan hidup dalam masyarakat itu; ini chusus untuk 
  suatu golongan (ras).
  > Saya disini katakan know-how karena dalam kebudayaan jaman modern 
  juga termasuk ilmu-ilmu yang didapat dari pelajaran melalui institusi 
  apa yang boleh dan apa yang dilarang, juga termasuk ilmu-ilmu yang 
  baru baik itu dari filosof-filosof atau universitas; orang umpama 
  mengatakan tentang cultur perusahan (management).
  > Nah sekarang baru kita bisa menjawab apa kebudayaan Tionghoa itu. 
  Kultur Tionghoa adalah salah satu yang tertua dengan sejarahnya 5000 
  tahun dan pula salah satu civilisasi yang terkompleks ini diakui oleh 
  negara-negara Barat. kalau disebut satu persatu ya terlalu banyak 
  saya ambil saja contoh contoh; Pelajaran confucius, Lao Zi, Zhan 
  Budhisme, Peking opera, buku-buku klasik seperti Impian di gedung 
  merah, Samkok, architektur, minum teh (Yam Cha), kuisin (masakan), 
  kumpul bersama dengan golongannya sendiri, nama Tionghoa, kebiasaan 
  pergi ke kuburan orang tua pada hari Cing Bing, dan lagi yang sudah 
  banyak disebut oleh Saudari Eva. Sdr. Eva banyak mengerti dalam hal 
  budaya Tionghoa, salut atas pengertian beliau yang luas. Maaf kalau 
  masih ada kekurangan.
  > Salam bahagia
  > Han Hwie-Song
  > 
  > 
  > [Non-text portions of this message have been removed]
  >



   

[Non-text portions of this message have been removed]





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Protect your PC from spy ware with award winning anti spy technology. It's free.
http://us.click.yahoo.com/97bhrC/LGxNAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.

.: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :.

.: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Jaringan pertemanan Friendster : [EMAIL PROTECTED] :. 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke