Mang Ucup nyang bae..... Tulisan mang Ucup mengingatkan saya pada kejadian sekian puluh tahun lalu.....kami, 4 keluarga, tinggal di sebuah rumah besar....peningalan kakek....nah, adik sepupu yang lahir menjelang tahun 60-an tidak memahami hal ras etnis begini....suatu hari, beberapa anak polisi, maklum tetangga rumah adalah asrama polisi, bilang sama adik 'Cina!'....reaksi adik sungguh diluar dugaan.....dia teriak dengan lantang 'Cina lu! Cina loleng maling bonteng sekaleng!'....hasilnya? Itu anak-anak polisi pada bengong... begitu sadar mereka kabur kabeh!.......Wawasan luas itu perlu, api fokus pun penting lho! Karena itu jangan terpancang pada satu 'pandangan'....:-)
salam, tda On Tue, 13 Feb 2007, MANGUCUP wrote: > Dasar Cina Lho ! Bagi banyak orang Tionghoa ucapan tersebut dinilai sebagai > suatu penghinaan, walaupun tidak bisa dipungkiri, bahwa RRC itu adalah > singkatannya dari Repubulik Rakyat China, tetapi cobalah tanyakan bagaimana > perasaannya saudara kita yang berkulit hitam apabila mereka disebut Niger, > walaupun di Afrika juga sebenarnya ada negara yang bernama Niger. Mereka > lebih senang dipanggil dengan sebutan black men atau orang hitam, walaupun > sebenarnya arti harafiahnya dari kata Niger itu adalah hitam dalam bahasa > Latin, atau Negro dalam bahasa Spanyol. Jadi hitam atau Black dalam bahasa > Inggris; bagi yang berkulit hitam tidak bisa dinilai sama dengan hitam dalam > bahasa Latin = Niger, yang satu merupakan ungkapan hormat sedangkan yang > lain penghinaan. > > Begitu juga dengan tulisan China dan Cina. Mungkin hal yang serupa dirasakan > oleh kebanyakan orang Tionghoa, walaupun bedanya hanya dari huruf H nya, > bahkan kalau di ucapkan kedengarannya juga sami mawon alias sama azah C I > N A! > > Apalagi ketika istilah kata Cina ini dipakai untuk memaki dan diembel-embeli > perkataan seperti Cina Loleng, Cina Mindring dan sebutan-sebutan > degeneratif lainnya, oleh sebab itulah istilah kata Tionghoa lebih disukai > ketimbang kata Cina. Dan anehnya pula ada sebutan Cina Medan, tetapi tidak > pernah ada sebutan Arab Medan. > > Dan yang lebih lucunya lagi; banyak sekali orang merasa jengah untuk > menggunakan kata Cina secara resmi terhadap etnis Tionghoa di Indonesia. > Cobalah perhatikan dengan seksama yang dimaksud dengan Warga Keturunan itu > selalu orang Tionghoa, walaupun demikian tidak pernah ditulis entah di media > cetak maupun media elektronik Warga Keturunan Cina, begitu juga yang > dimaksud dengan perkataan non pribumi selalu mengacu kepada orang > Tionghoa, tidak pernah mengacu kepada keturunan etnis lainnya entah Arab, > India ataupun orang-orang Eropa. > > Apakah Anda tahu bahwa Gus Dur (Abdurrahman Wahid) itu keturunan Tionghoa, > secara terbuka ia pernah menyatakan bahwa ia masih keturunan dari Tan Kim > Han (Sumber Wikipedia). Disamping itu apakah Anda tahu nama asli Tionghoanya > dari Rudy Hartono ? > > Mengapa apabila ada seorang olahragawan yang berhasil membawa nama bangsa > menjadi harum tidak pernah tuh dicantumkan bahwa ia itu non pribumi > apalagi nama Tionghoa nya, tetapi kebalikannya begitu ada Cina Maling, > langsung dicantumkan komplit bahwa ia itu non pri lengkap dengan > embel-embel nama Tionghoanya. > > Begitu juga satu hal yang mustahil, apabila segelintir orang-orang Tionghoa > dimana pun juga mereka berada ingin merubah perkataan China jadi Tiongkok, > renungkanlah apakah mungkin kita bisa memaksakan seluruh bangsa di dunia > ini; mulai besok merubah nama RRC menjadi Republik Rakyat Tiongkok. > > Mungkin hanya segelintir orang Jepang saja yang membenci orang China akan > merasa senang apabila istilah Tiongkok dipakai, sebab konon kata ini pertama > kali digunakan oleh bangsa Jepang, terutama oleh kaum militerismenya yang > berambisi ingin mencaplok Tiongkok; sebab lafal ini sama dengan lafal kata > Jepang yang berkonotasi "modyar sehingga lafal kata Tiongkok sebenarnya > merupakan suatu hinaan yang berarti Mampuslah lho!" untuk mengumpat dan > menghina rakyat Tiongkok. > > Istilah kata Cina sebagai hinaan ditekankan ketika Seminar Angkatan Darat di > Bandung pada 1968 memutuskan dan menganjurkan kepada pemerintah agar kata > Cina dipakai sebagai istilah baku untuk mengacu kepada negeri Cina dan orang > Tionghoa. Alasannya, menurut usul yang ditelurkan oleh seminar tersebut, > adalah untuk menjamin bahwa pribumi tidak merasa rendah diri. > > Memang ada kesan bahwa penggunaan istlilah Cina seperti yang diusulkan dalam > seminar tersebut dan kemudian dianut oleh pemerintah Orde Baru sebenarnya > dimaksudkan sebagai alat untuk menghukum golongan etnis Tionghoa. Keputusan > ini merupakan kelanjutan dari larangan terhadap orang-orang Tionghoa untuk > mempertunjukkan perayaan agama dan tradisinya di depan umum (Inpres No. 14 > tahun 1967). Tetapi ketika reformasi bergulir, sejak th 2000 larangan ini > dicabut oleh Gus Dur. > > Pada saat tersebut perkataan Tionghoa itu benar-benar haram, sehingga antara > lain harian Indonesia Raya maupun harian Merdeka dibredel, karena berani > menggunakan istilah Tionghoa, bukannya Cina seperti yang telah dibakukan di > Bandung. Rupanya mereka lupa bahwa karangan lagu "Indonesia Raya" dari WR > Supratman pertama kali di publikasikan di Harian Sin Po dan rekamannya > dilakukan di toko musik Tio Pe Kong di Pasar Baru, Jakarta. > > Kata Cina itu sendiri berasal dari nama Ahala Qin (baca Ch'in), dinasti > pertama yang mempersatukan seluruh daratan Tiongkok, di bawah pemerintahan > kaisarnya Qin Shihuang ( 225 s.M sampai 210 s.M), disamping itu kaiser Qin > tersebut yang memerintahkan penyeragaman Huruf Kanji sehingga komunikasi > tertulis dapat berjalan lancar. Tetapi dilain pihak ia adalah seorang Kaiser > yang kejam dan biadab yang telah memerintahkan pembakaran semua buku-buku > ajaran Kong Hu Cu dan memerintahkan hukuman dikubur hidup-hidup terhadap 500 > sarjana Konfusianis. Akibat dari tindakan brutal Kaisar Qin itu, sebagian > dari karya-karya Kong Hu Cu yang disakralkan sebagai kitab suci untuk aliran > itu, sampai sekarang belum diketemukan lagi. > > Hal inilah yang menyebakan banyak orang Tionghoa lebih senang menamakan > dirinya dengan kata Tangren, yang kurang lebih berarti keturunan Ahala > Tang (618 907), salah satu dinasti yang meninggalkan zaman keemasan, > terutama dalam kesenian dan kesusastraan, dalam sejarah Cina. Di kalangan > etnis China di Indonesia, terutama yang berasal dari Propinsi Fujian > (Hokkian), sebutan itu menjadi Tenglang. > > Lafal "Tiongkok" dan "Tionghoa" ini berasal dari dialek Hokkian yang berasal > dari kata Zhonghua yang digunakan sebagai sinonim dari Zhongguo (Tiongkok > atau Kerajaan Tengah) dan Presiden pertama Cina, Dr. Sun Yat-sen kemudian > menggunakan itu untuk nama negara baru di Tiongkok ; Zhonghua Minguo > (Republik Cina). Mao Zedong meneruskan penggunaannya ketika membentuk > Republik Rakyat China (RRC) : Zhonghua Renmin Gongheguo. > > Kata Mandarin diserap dari bahasa Portugis = mandarim yang berasal dari > bahasa Sansekerta mantrin yang berarti pejabat tinggi bahkan kata menteri > dalam bahasa Indonesia pun sebenarnya diserap dari kata yang sama. > > Kata Mandarin ini kemudian dipopulerkan oleh bangsa Barat yang sebenarnya > berarti: "pejabat tinggi dalam pemerintahan Manzu di bawah kekuasaan dinasti > Qing" (1644 - 1911) dan yang dimaksud dengan bahasa Mandarin adalah bahasa > yang dipakai oleh para pejabat tinggi atau golongan intelek pada saat > tersebut. Maklum di Tiongkok banyak sekali bahasa daerah. > > Sehingga dengan mana sebenarnya tidak pernah ada di dunia ini bangsa > Mandarin ataupun negara Mandarin, jadi ungkapan kata bahasa Mandarin itu > sebenarnya tidak tepat ! > > Di Tiongkok mereka menyebut bahasa Mandarin itu adalah bahasa Putonghoa = > bahasa umum. Di Taiwan disebut bahasa Guoyu, sedangkan orang-orang > Tionghoa diluar Tiongkok sering menyebut dengan nama Huayu atau Hanyu atau > bahasa yang dipergunakan secara luas oleh suku bangsa Han yang mencapai 94% > lebih dari jumlah penduduk Tiongkok. > > Wang U Chup > By Race I am Chinese and By Grace I am Christian > Email: [EMAIL PROTECTED] > Homepage: www.mangucup.net > > -- > Internal Virus Database is out-of-date. > Checked by AVG Free Edition. > Version: 7.5.432 / Virus Database: 268.15.24/592 - Release Date: 18-12-2006 > 13:45 > > > -- > Internal Virus Database is out-of-date. > Checked by AVG Free Edition. > Version: 7.5.432 / Virus Database: 268.15.24/592 - Release Date: 18-12-2006 > 13:45 > > > > > > .: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :. > > .: Website global http://www.budaya-tionghoa.org :. > > .: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :. > > .: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :. > > > Yahoo! Groups Links > > > >
