Waspadai Adanya Makanan Berformalin di Pasaran!
http://www.kompas.co.id/kesehatan/news/0506/26/085637.htm

Jakarta, Kompas

BEBERAPA waktu lalu Badan Pengawasan Obat dan Makanan menemukan 
empek-empek dan mi basah yang dijual di beberapa tempat di Sumatera 
Selatan ternyata mengandung formalin. 

Belum lama ini, Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Pemerintah Kota 
Jakarta Pusat juga mendapati puluhan ayam berformalin dijual di 
sejumlah pasar tradisional.

Formalin sebenarnya adalah nama dagang dari larutan formadehid dalam 
air dengan kadar 30-40 persen. Di pasaran, formalin dapat diperoleh 
dalam bentuk sudah diencerkan dengan kadar formaldehid 40, 30, 20, 
dan 10 persen, serta dalam bentuk tablet yang beratnya masing-masing 
lima gram. Formalin biasanya digunakan dokter forensik untuk 
mengawetkan mayat.

Mengapa sampai para pedagang membubuhi formalin pada dagangannya? 

Mungkin mereka akan bungkam jika ditanya demikian. Namun, jika 
menilik formalin biasa digunakan untuk mengawetkan mayat, bisa 
diduga para pedagang ingin agar dagangannya tahan lama. Setidaknya, 
jika barang tidak laku hari ini, ayam atau tahu yang telah 
diformalin bisa dijual kembali keesokan harinya dan tetap terlihat 
segar.

Ini baru formalin pada bahan pangan. Masih ada sederet bahan 
tambahan atau kimia yang kerap dibubuhkan dalam makanan, seperti 
rhodamin B (pewarna merah), methanyl yellow (pewarna kuning), 
boraks, kloramfenikol, dietilpilokarbonat, dulsin, dan nitrofurazon. 
Padahal, penggunaan bahan-bahan kimia makanan tersebut sudah 
dilarang menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 
1168/Menkes/PER/X/1999.

Perhatikan cirinya

Monitoring sebenarnya sudah dilakukan petugas terkait dengan 
mengambil sampel bahan secara acak ke sejumlah pedagang pasar 
tradisional atau pedagang jajanan sekolah. Pasar swalayan juga 
menjadi sasaran inspeksi mendadak para petugas.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan DKI Jakarta Edy Setiarto dan 
Kepala Suku Dinas Peternakan dan Perikanan Jakarta Pusat (Jakpus) 
Sigit Budiarto secara terpisah mengatakan, pemerintah mempunyai 
program memonitoring para penjual makanan ternak di pasar-pasar 
tradisional. Bagi yang tertangkap basah menjual bahan makanan 
berformalin, misalnya ayam, akan disita dan dibakar di tempat 
pembakaran. Di Jakpus misalnya, insenerator terletak di halaman 
kantor Kecamatan Senen.

Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya Badan 
Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Dedi Fardiaz mengatakan, BPOM 
bertugas menyurvei makanan olahan atau jajanan. "Hasil survei 
menjadi dasar untuk membina para pedagang," katanya.

BPOM antara lain menyurvei segala jenis makanan yang dikonsumsi anak 
sekolah. Di sini dilihat apakah makanan olahan atau jajanan tersebut 
mengandung pewarna berbahaya atau tidak. Ini, menurut Dedi, penting 
dilakukan mengingat dampaknya terhadap kesehatan.

Agar tidak tertipu produk berbahaya itu, masyarakat sebaiknya 
berhati-hati dan memerhatikan ciri-ciri serta perbedaan antara bahan 
pangan segar dan yang mengandung bahan pengawet.

Konsumen harus teliti memilih bahan makanan agar terhindar dari 
bahan pengawet seperti formalin. Memilih tahu misalnya, bila berbau 
obat dan ditekan sangat kenyal, mungkin saja mengandung formalin.

"Kalau ayam berformalin, ciri yang paling mencolok adalah tidak ada 
lalat yang mau hinggap. Jika kadar formalinnya banyak, ayam agak 
sedikit tegang (kaku). Yang paling jelas adalah jika daging ayam 
dimasukkan ke dalam reagen atau diuji laboratorium, nanti akan 
muncul gelembung gas," papar anggota staf Seksi Kesehatan Hewan dan 
Kesehatan Masyarakat Feteriner Sudin Peternakan dan Perikanan Jakpus 
Elita Gunarwati.

Para pedagang biasanya membubuhi formalin dengan kadar minimal, 
sehingga konsumen pada umumnya bingung ketika harus membedakannya 
dengan bahan pangan segar. Pada daging ayam misalnya, karena hanya 
dibubuhi sedikit formalin, bau obat tidak tercium.

Untuk itu, masyarakat harus lebih waspada dan bisa memilih dengan 
baik. "Seperti yang dilakukan ibu-ibu di Pasar Benhil, Jakarta 
Pusat. Mereka biasanya memilih membeli ayam hidup dan langsung 
dipotong di tempat," kata Sigit.

Konsumen juga harus berhati-hati jika menemui ayam atau daging yang 
dijual dengan harga relatif jauh lebih murah daripada harga pasaran. 
Kemungkinan bahan pangan ini mengandung bahan pengawet berbahaya. 
Kalau membeli dalam jumlah banyak, misalnya untuk hajatan, pastikan 
pedagangnya layak dipercaya. Seberapa pun sempitnya waktu, sebaiknya 
Anda tetap meneliti ayam atau daging yang dibeli satu per satu.

Tahu berformalin

Untuk mendeteksi tahu berformalin relatif lebih mudah. 
Dosen Departemen Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga Fakultas 
Pertanian IPB Eddy Setyo Mudjajanto dalam artikelnya menyebutkan, 
tahu berformalin akan membal atau kenyal jika ditekan. Sedangkan 
tahu tanpa formalin biasanya mudah hancur.

Tahu berformalin akan tahan lama, sedangkan tahu tanpa pengawet 
paling-paling hanya tahan dua hari. Tahu tanpa pengawet bisa lebih 
lama bertahan jika disimpan dalam kulkas, atau dibubuhi pengawet 
yang dianjurkan. Bahan pengawet tersebut seperti vitamin C 0,05 
persen (tahu diberi pengawet selama empat jam), natrium benzoat 
1.000 ppm (selama 24 jam), atau asam sitrat 0,05 persen (selama 
delapan jam).

Memang orang yang mengonsumsi tahu, mi, bakso, atau ayam berformalin 
beberapa kali saja belum merasakan akibatnya. Efek dari bahan 
makanan berformalin baru terasa beberapa tahun kemudian. 

Kandungan formalin yang tinggi akan meracuni tubuh, menyebabkan 
iritasi lambung, alergi, bersifat karsiogenik (menyebabkan kanker), 
dan bersifat mutagen (menyebabkan perubahan fungsi sel). Dalam kadar 
yang sangat tinggi, hal ini bisa menyebabkan kegagalan peredaran 
darah yang bermuara pada kematian.

Mengonsumsi makanan apa pun sebaiknya Anda memilih dengan cermat. 
Namun sebaliknya, jangan pula karena begitu khawatir, Anda menjadi 
takut secara berlebihan. Masih banyak pedagang yang jujur dan bisa 
mempertanggungjawabkan barang dagangannya. (IVV)







------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/vbOolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

___________________________________________________
Kirim e-mail:   [email protected]
Setting: http://groups.yahoo.com/group/bumi-serpong 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bumi-serpong/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke