na mbok dicariin jodoh tuh si didit........biar dia merasakan jalan menuju
cinta........kekekekekekek
nur riana <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Semoga bermanfaat...
Sebuah Jalan Yang Ditempuh Cinta
*Oleh : Helvy Tiana Rosa*
Apa jadinya ketika sepasang suami istri berbudi menjodohkan masing-masing
sahabat mereka yang belum pernah saling mengenal, memiliki karakter berlawanan
serta kultur yang begitu berbeda?
"Mereka akan menjadi pasangan yang hebat!" kata sang istri. Sambil
mempromosikan gadis berjilbab sahabatnya.
"Sangat menarik dan akan saling melengkapi!" tutur si suami sambil dengan
semangat menceritakan tentang Jaka yang saleh, sahabatnya.
"Jika Allah mengizinkan, mereka akan menjadi pasangan yang cocok".
Gadis dan Jaka sama-sama kuliah di UI, namun berbeda fakultas. Mereka sama-sama
aktif dalam kegiatan kerohanian Islam. Dua kali pasangan suami istri sahabat
mereka itu mencoba mempertemukan Jaka dan Gadis dalam satu forum. Namun saat
Jaka datang, si Gadis tiba-tiba berhalangan. Ketika Gadis hadir, si jaka yang
tak bisa. Akhirnya sepasang suami istri tersebut mencoba mengatur pertemuan
ketiga sambil memberikan data "orang yang ingin mereka perkenalkan
masing-masing pada jaka dan si gadis" secara sendiri-sendiri.
Di kamar kos-nya gadis melihat data-data si Jaka dan fotonya. Ini yang mau
diperkenalkan itu dan diharap oleh sahabatnya bisa menjadi pasangan hidup abadi
si Gadis? Priyayi Solo? Bagaimana cara berbicara yang dianggap santun oleh
orang Solo? Si Gadis geleng-geleng kepala. Jangankan menjadi istri, bisa-bisa
dia kabur melihat gaya bicaraku.
Dalam kamar kos yang lain, di seberang gang kober, Jaka tertegun. Sudah lumayan
sering aku mendengar kiprah gadis itu di kampus dan majalah. Tapi apa tak
salah? Si kelahiran Medan ini punya penyakit begitu banyak? Jantung, pernah
gegar otak, paru-paru, kelenjar getah bening?
Waduh, bagaimana bila si penyakitan ini kelak menjadi istrinya? Tapi
prestasinya lumayan, rekomendasi dari sahabatku bukan sembarangan.
Tak dinyana, sebelum sempat diadakan ta'aruf, dalam salah satu forum di
universitas, Jaka dan Gadis bertemu. Apa yang terjadi dalam diskusi pagi itu?
Sebuah perdebatan yang panjang. Cara pandang yang begitu berbeda. Dan tiba-tiba
pagi di UI menjadi tak cerah.
Pria yang membosankan dan keras kepala, pikir si gadis.
Dasar keras hati! Belum ada perempuan yang berbicara menentangku seperti gadis
ini! Pikir si Jaka.
Lelaki seperti ini yang ingin diperkenalkan padaku? Si Gadis nyengir. Dia akan
kapok denganku dan segera melupakan langkah lanjut perkenalan kami.
Si Jaka tak kalah gerah. Perempuan seperti ini? Aku selalu berpikir perempuan
adalah kelembutan, kematangan, kepatuhan, pikir si Jaka. Tapi ini?
Sepanjang forum kata-kata berseliweran dalam ruangan itu, terutama dari mulut
Gadis dan Jaka tersebut. Forum tersebut bukan tak penting, sebab mereka dan
semua teman yang hadir pada saat itu tengah membicarakan suksesi kepemimpinan
mahasiswa di universitas mereka.
"Menurut saya tidak bisa seperti itu!"
"Mengapa tidak? Menurut saya yang demikian yang paling mungkin"
"Tidak bisa! Karena"
"Bisa! Karena"
Setelah perundingan yang melelahkan, akhirnya dicapai kesepakatan. Sebuah
kesepakatan yang didapat dengan catatan.
Ini mungkin pertama dan terakhir kali kami bertemu dan berbicang, pikir si
gadis. Dia pasti kapok dan tak ingin mengenalku lebih dalam. Tapi tak apa,
setidaknya aku tak berpura-pura membuat ia terkesan.
Jaka resah. Gadis seperti ini? Entahlah. Keras kepala, penyakitan pula! Apa
harus diteruskan?
Tak pernah ada perkenalan yang direncanakan lagi setelah itu. Kelihatannya
mereka memang tak cocok dan mungkin akan saling melupakan.
Namun tak lama kemudian, pada suatu pagi, seseorang datang ke tempat gadis dan
berkata: "Saya sudah istikharah dan kamu selalu muncul. Bersediakah? (lupakan
ia penyakitan, ia baik untuk menjadi istriku. Allah menunjukkannya! )
Gadis tak mengerti. Dia diam. Apa yang dilihat lelaki muda itu dari dirinya?
Tak cantik. Tak kaya. Tak terlalu cerdas. Sangat biasa. Pernah bertengkar pada
pertemuan pertama pula. Apa? Apa yang dilihat lelaki itu? Pilihan yang tak
lazim.
Gadis pun memilih istikharah sebelum menjawab.
Sesuatu yang menakjubkan dan tak terduga muncul! Seperti ada yang membimbing
ketika si gadis berkata "Ya".
Sebulan kemudian, Jaka melamar gadis. Dan hanya diperlukan waktu sebulan lagi
sebelum kemudian Jaka dan gadis menikah! Sungguh akhir yang tak terduga!
Sebuah pernikahan berlangsung sederhana namun meriah, di Jakarta.
Banyak sekali saudara dan sahabat yang hadir. Mereka bertanya-tanya, bagaimana
dua pasangan ini bisa bertemu?
Pada malam pertama gadis dan Jaka berbicara hingga dinihari, shalat malam dan
tilawah bersama. Jadi bagaimana sampai bisa kamu punya penyakit sebanyak itu?
tanya jaka pada istrinya tiba-tiba.
"Apa, Mas? Penyakit? Maaf, penyakit apa ya?" gadis balik bertanya.
"Jantung, gegar otak, paru-paru, kelenjar getah bening,"
"Apa?" gadis bingung.
"Mas baca di datamu. Data yang diberikan oleh sahabat kita itu! Tapi Mas sudah
ikhlas kok menerima dengan segala kelebihan dan kekurangan. Semoga kamu juga
begitu ya."
Gadis ternganga. Penyakit? "Mas, aku nggak punya penyakit seperti itu.
Paling-paling cuma mag" Gadis nyengir lagi. Jaka terkejut sekali. Tak lama
wajahnya berseri-seri.
Alhamdulillah (ia ingat, ia sudah mengambil resiko untuk memilih gadis yang
keras kepala itu, meski ia penyakitan, meski orangtuanya sangat keberatan
dengan ragam penyakit calon menantu mereka). Mata Jaka berkaca.
Allah Maha Besar! Allah Maha Besar!
Malam itu si gadis menyempatkan diri mengirim pesan via pager pada sahabat
perempuan yang sangat disayanginya: Mbak sayang, datanya ketuker ya? Or salah
tulis soal penyakit? Hebat dia masih maju terus!
---------------------------------
We won't tell. Get more on shows you hate to love
(and love to hate): Yahoo! TV's Guilty Pleasures list.
---------------------------------
Now that's room service! Choose from over 150,000 hotels
in 45,000 destinations on Yahoo! Travel to find your fit.