ulasan yang bagus mas..
----- Original Message ----
From: Achmad Sholeh <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, December 18, 2007 5:32:14 PM
Subject: [cahdemak] Kekuatan sebuah media
Opini lain ttg Malaysia
============ ========= ========= =
Assalamu'alaykum
Sebuah forward an dari Akh Teddy di Malaysia. Penting juga ya punya kemampuan
membuat tulisan.Yuk, menulis
Wassalamu'alaykum
PROVOKASI ADU DOMBA UMMAT ISLAM NUSANTARA
Oleh: Dr. Khairul Fuad & Askar Triwiyanto
Akhir-akhir ini semua media massa tanah air,
baik media cetak maupun elektronik, diriuhkan dengan topik seputar perlakuan
zalim rakyat Malaysia
terhadap rakyat Indonesia
yang berada di Malaysia sana . Dimulai dari
kekalahan klaim Indonesia atas pulau Sipadan dan Ligitan, peristiwa Ambalat,
lalu bergeser ke persoalan tak berkesudahan tentang TKI dan TKW yang dizalimi,
disiksa, dan tak dibayar gaji. Masih ditambah lagi dengan pemukulan wasit
karate Indonesia .
Hampir seluruh media mempropagandakan semangat membela bangsa. Rakyat
Indonesiapun terbakar.
Belum lagi usai keriuhan ini, muncul pula berita isteri seorang diplomat
Indonesia yang
diperlakukan tidak semestinya oleh RELA (sukarelawan yang membantu tugas
polisi). Tindak-tanduk RELA yang dinilai sangat merugikan TKI inipun dikupas
tuntas dengan penuh kebencian. Di tengah-tengah suasana panas ini, terbetik
lagi kabar sembilan anggota RELA keturunan India memperkosa isteri seorang
TKI. Disusul lagi dengan berita penggeledahan rumah seorang ketua PPI-UKM yang
dilakukan RELA begitu kasar. Lalu, kasus lagu “Rasa Sayang-sayange” semakin
menambah gejolak. Rakyat Indonesia
semakin terbakar, semangat membela bangsa pun meledak dimana-mana.
Semua informasi ini, sebagian besar bersumber dari media massa . Beberapa warga
Senayan dan para
pemerhati memberi komentar pedas dengan semangat bela bangsa yang bak menyiram
bensin ke pembakaran. Dari komentar-komentar yang berserakan di berbagai media,
dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa umumnya para komentator tersebut
beranggapan bahwa yang namanya rakyat Malaysia itu adalah warga Melayu
dan beragama Islam. Nah, disinilah kekeliruan yang dimanfaatkan oleh para
provokator. Padahal, rakyat Malaysia
itu multi etnis yang terdiri dari “Melayu”, Cina , India ,
dan pribumi Sabah-Sarawak.
Sama seperti Indonesia
beberapa waktu lalu, rakyat Malaysia
memperkenalkan istilah pribumi dan non-pribumi. Pribumi Malaysia
terbagi dua; Melayu dan non-Melayu. Siapa saja beragama Islam, termasuk dalam
katagori Melayu. Jadi, Melayu itu identik dengan muslim. Melayu (muslim) di
Malaysia adalah yang terbesar, kira-kira berjumlah 50%. Berikutnya adalah
keturunan Cina (30%), dan selebihnya adalah India dan pribumi non-Melayu.
Ada yang aneh dan janggal dalam pemberitaan di
media massa
kita. Provokasi sengit dan tajam tertuju ke satu arah seolah-olah Malaysia itu
hanya dihuni oleh orang Melayu sehingga menggiring opini masyarakat dan
membangkitkan kebencian terhadap Melayu. Semua kesalahan ditimpakan kepada si
Melayu. Padahal jumlah Melayu berkisar setengah penduduk Malaysia saja.
Coba cermati kembali berita-berita penzaliman TKI dan TKW. Siapakah majikan
mereka? Umumnya majikan non-Melayu yang menyiksa PRT kita, termasuk yang tak
membayar gaji TKI dan PRT. Demikian juga kezaliman lainnya. Non-Melayu yang
makan nangka, si Melayu yang kena getahnya.
Pertengahan puasa lalu, ketika penulis menumpang bus ke bandara Kuala Lumpur
dalam perjalanan pulang ke Indonesia, bersebelahan duduk dengan seorang TKW
kita yang bekerja sebagai PRT di keluarga non-Melayu selama 4 tahun. Ia ingin
pulang kampung dan tak ingin kembali, tetapi ada yang masih mengganjal di
benaknya. Gajinya, sekitar 8 juta rupiah, ditahan oleh sang majikan dengan
tujuan agar si pembantu ini kembali lagi bekerja padanya. Sementara sang PRT
sudah tak tahan lagi karena selama bekerja tak diperkenankan berhubungan dengan
orang luar selain keluarga majikan. Benar-benar hidup terpenjara.
Kisah-kisah seperti ini cukup banyak ditemui dan umumnya bermajikan non-Melayu.
Di sebalik itu, tak sedikit kisah sang majikan Melayu yang ditipu oleh PRT dari
Indonesia .
Beritanya tak masuk surat
kabar karena majikan Melayu cuma mengurut dada saja, pasrah ditipu oleh saudara
sendiri. Kebanyakan PRT kita bernasib lebih beruntung bila bermajikan Melayu
karena diperlakukan manusiawi, bahkan dianggap sebagai bagian dari keluarga.
Informasi ini nampaknya tak dimiliki oleh para komentator di media kita.
Cukup menarik mengenal sejarah Melayu Malaysia . Penduduk Nusantara ini,
termasuk Indonesia dan Malaysia ,
terdiri dari berbilang suku dan masing-masing memiliki kampung halaman asalnya.
Dalam sejarah panjangnya sejak dahulu kala, suku-suku ini bertebaran ke seluruh
pelosok Nusantara dan menetap di perantauan, membentuk komunitasnya dan masih
mempertahankan ciri budayanya walau kini agak kabur bila dibanding dengan budaya
asalnya karena pengaruh dan kondisi lingkungan barunya.
Suku Jawa, Bugis, Banjar, Bawean, Minangkabau, Melayu Sumatera, termasuk
Mandailing dan Aceh, boleh jadi penggabungan semuanya merupakan mayoritas
Melayu di Malaysia. Bahkan, sejarah telah mencatat bahwa hampir semua raja-raja
kesultanan Melayu berasal dari Bukit Siguntang Mahameru yang berada di daerah
Palembang . Sultan Johor
sendiri adalah keturunan Bugis. Daerah kesultanan Johor didominasi oleh dua
suku besar, Bugis dan Jawa. Begitu ramainya suku Jawa di Johor hingga mewarnai
budaya masyarakatnya. Tidak hanya bahasa Jawa dan gendingnya yang masih sering
terdengar, jaran kepang juga dipakai sebagai icon negeri Johor.
Negeri sembilan dikenal sebagai basisnya masyarakat keturunan Minangkabau.
Bahasa
dan adat istiadatnya, termasuk rumah dan pakaian adat, musik dan tari, masih
cukup kental warna Minangkabaunya. Masyarakat negeri ini memiliki ikatan batin
yang kuat dengan kampung asalnya di Sumatera Barat sana . Itu sebab keduanya
menjalin negeri
kembar. Setiap pelantikan Gubernur Sumatera Barat mestilah dihadiri oleh
Menteri Besar dan utusan Sultan Negeri Sembilan. Begitu juga sebaliknya.
Mantan Perdana Menteri Tun Abdul Razak (Alm), dan kini anaknya Najib menjabat
sebagai Timbalan PM Malaysia adalah keturunan bangsawan Bugis. Sewaktu menerima
anugerah Doctor Honoris-causa di Universitas Hasanuddin, Najib menyebutkan
kesamaannya dengan Jusuf Kalla; sama-sama wakil, yang satu wakil presiden RI
dan satu lagi Timbalan PM Malaysia, sama-sama keturunan Bugis, dan sama-sama
beristerikan keturunan Minangkabau.
Tak ada yang salah kalau Melayu (muslim) Malaysia
menganggap bangsa Indonesia
adalah saudaranya, bukan hanya serumpun, tetapi juga memang satu keturunan yang
dekat dan memiliki ikatan batin yang kuat. Kalau Indonesia
berperang melawan Malaysia ,
tahukah anda siapa yang akan berperang? Tentara Malaysia didominasi oleh Melayu
yang terdiri dari suku-suku yang saya sebutkan di atas. Artinya, itu merupakan
pertempuran saling bunuh antara Jawa lawan Jawa, Bugis lawan Bugis, Minang
lawan Minang, Aceh lawan Aceh, Mandailing lawan Mandailing, Melayu lawan
Melayu. Tak salah kalau disebut sebagai perang saudara sesama muslim Melayu.
Adalah tindakan bijak kalau seluruh potensi yang ada digunakan untuk mendesak
kedua pemerintah agar memperbaharui hubungan bilateralnya terutama yang memberi
perlindungan tegas guna mereduksi, sampai ke titik nol, kezaliman dan kriminal
yang dilakukan antara kedua belah pihak warganya. Bagaimanapun juga, keberadaan
TKI dan TKW kita di Malaysia
bertujuan untuk saling menguntungkan dan mensejahterakan.
Layaklah timbul kecurigaan bahwa ada grand design terselubung dibalik provokasi
habis-habisan di media massa , baik di Malaysia maupun Indonesia . Sulit
disangkal bahwa
ada pihak-pihak yang berkepentingan untuk melemahkan ummat Islam di kedua
negara ini demi tujuan-tujuan tertentu.
Malaysia
melindungi rakyat pribumi dan agama Islam melalui konstitusinya. Agama Islam
adalah agama negara yang dilindungi undang-undang. Sementara, walaupun tak
dilindungi
undang-undang, Islam adalah anutan mayoritas penduduk Indonesia .
Wajar dan demokratis sekali kalau ummat Islam Indonesia lebih berperan dan
berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Rasanya sulit dan musykil mengubah keadaan di kedua negara ini secara wajar.
Jalan satu-satunya adalah memprovokasi adu domba meminjam cara penjajah
Belanda. Peluang yang mungkin adalah mencari kasus-kasus yang dapat dijadikan
alasan untuk membangkitkan sentimen kebangsaan. Itulah yang terjadi sekarang
ini,
baik di Indonesia maupun di Malaysia . Bukan
tak berdasar kalau mencurigai media massa
telah dijadikan alat provokasi yang efektif.
Masih segar dalam ingatan kita mengapa seluruh komponen organisasi Islam di
Indonesia yang dipelopori oleh MUI, NU, dan Muhammadiyah mengadakan aksi
demonstrasi sejuta ummat mendukung RUU Pornograpi. Apa alasannya? Karena suara
mereka yang mewakili mayoritas rakyat terlalu minim dimuat dalam media massa
sementara suara
segelintir penentang RUU Pornograpi mendapat tempat dan ruang akomodasi yang
intens dan berkesinambungan. Jelas dan ketara sekali indikasinya ke arah mana
keberpihakan kebanyakan media massa
kita.
Di Malaysia sendiri, media massanya yang dikuasai oleh non-Melayu dan muslim
sekuler dikontrol dengan ketat oleh pemerintah. Sejauh berita yang ditampilkan
tidak membahayakan posisi partai berkuasa, semua sah-sah saja. Berita-berita
tentang kriminal yang dilakukan oleh orang-orang Indonesia , walaupun
dibesar-besarkan, dianggap sebagai berita biasa. Peluang ini dimanfaatkan untuk
membangkitkan sentimen kebencian dengan mendramatisir kejahatan dan keburukan
TKI dan TKW kita, juga untuk menekan pemerintah Malaysia dan menggiringnya ke
arah
tujuan yang diinginkan.
Taklah terlalu berlebihan menebak senario hasil akhir dari provokasi ini. Bila
Malaysia dan Indonesia
berperang, pastilah negara-negara kuat akan turut campur; sebagian membantu
Indonesia dan sebagian lain membantu Malaysia .
Senjata-senjata dan alat perang canggih akan dicurahkan ke Malaysia dan
Indonesia . Semuanya hutang, tak ada
yang gratis. Setelah keduanya lumpuh dan hancur-lebur akibat perang, lalu
didamaikan. Malaysia dan Indonesia akan
berhutang budi dan uang yang sangat luar biasa besarnya. Imbalannya?
Sumber-sumber alam dan politik pemerintahan di kedua negara pecundang ini akan
dikuasai dan dikendalikan oleh negara-negara yang telah berjasa membantu
perang.
Kitapun menjadi bangsa kerbau dicucuk hidung. Dengan alasan demokrasi dan
keadilan, Malaysia dan Indonesia
dipaksa mengamandemen konstitusinya. Sejarah barupun dimulai. Sang provokator
dan sindikatnya, di kedua negara, tampil ke depan memegang kendali kekuasaan.
Lalu, ummat Islam di kedua negara pecundang ini akan menjadi budak hina
dinegerinya sendiri. Tangis penyesalanpun bermula. Apa daya, nasi telah menjadi
bubur. Alangkah naifnya.
.
Confidential information may be contained in this e-mail and/or any files
transmitted with it ('Message'). If you are not the intended recipient of this
Message or any part thereof (or responsible for delivery of this Message to
such person), you are hereby notified that any dissemination, distribution,
printing or copying of this Message or any part thereof is strictly prohibited.
In such a case, you should delete this Message immediately and advise the
sender by return e-mail. Opinions, conclusions and other information in this
Message that do not relate to the official business of PT Natrindo Telepon
Seluler ('NTS') shall be understood as neither given nor endorsed by NTS.
<!--
#ygrp-mkp{
border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:14px 0px;padding:0px 14px;}
#ygrp-mkp hr{
border:1px solid #d8d8d8;}
#ygrp-mkp #hd{
color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:bold;line-height:122%;margin:10px 0px;}
#ygrp-mkp #ads{
margin-bottom:10px;}
#ygrp-mkp .ad{
padding:0 0;}
#ygrp-mkp .ad a{
color:#0000ff;text-decoration:none;}
-->
<!--
#ygrp-sponsor #ygrp-lc{
font-family:Arial;}
#ygrp-sponsor #ygrp-lc #hd{
margin:10px 0px;font-weight:bold;font-size:78%;line-height:122%;}
#ygrp-sponsor #ygrp-lc .ad{
margin-bottom:10px;padding:0 0;}
-->
<!--
#ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, sans-serif;}
#ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}
#ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica, clean,
sans-serif;}
#ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;}
#ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}
#ygrp-text{
font-family:Georgia;
}
#ygrp-text p{
margin:0 0 1em 0;}
#ygrp-tpmsgs{
font-family:Arial;
clear:both;}
#ygrp-vitnav{
padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;}
#ygrp-vitnav a{
padding:0 1px;}
#ygrp-actbar{
clear:both;margin:25px 0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;}
#ygrp-actbar .left{
float:left;white-space:nowrap;}
.bld{font-weight:bold;}
#ygrp-grft{
font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;}
#ygrp-ft{
font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666;
padding:5px 0;
}
#ygrp-mlmsg #logo{
padding-bottom:10px;}
#ygrp-vital{
background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;}
#ygrp-vital #vithd{
font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;}
#ygrp-vital ul{
padding:0;margin:2px 0;}
#ygrp-vital ul li{
list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee;
}
#ygrp-vital ul li .ct{
font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;}
#ygrp-vital ul li .cat{
font-weight:bold;}
#ygrp-vital a{
text-decoration:none;}
#ygrp-vital a:hover{
text-decoration:underline;}
#ygrp-sponsor #hd{
color:#999;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov{
padding:6px 13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;}
#ygrp-sponsor #ov ul{
padding:0 0 0 8px;margin:0;}
#ygrp-sponsor #ov li{
list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov li a{
text-decoration:none;font-size:130%;}
#ygrp-sponsor #nc{
background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;}
#ygrp-sponsor .ad{
padding:8px 0;}
#ygrp-sponsor .ad #hd1{
font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;}
#ygrp-sponsor .ad a{
text-decoration:none;}
#ygrp-sponsor .ad a:hover{
text-decoration:underline;}
#ygrp-sponsor .ad p{
margin:0;}
o{font-size:0;}
.MsoNormal{
margin:0 0 0 0;}
#ygrp-text tt{
font-size:120%;}
blockquote{margin:0 0 0 4px;}
.replbq{margin:4;}
-->
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com