Perhatian: pesan yang diteruskan sudah dilampirkan.
________________________________________________________
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/--- Begin Message ---
*RUMAH TANGGA NABI; TELADAN SUCI*
KH. Jalaluddin Rakhmat
Ketika kita menempuh bahtera rumah tangga, ketika kita sedang menjalankan
perintah Allah dan Rasul-Nya, kita dianjurkan untuk menengok kembali
kecintaan kita kepada keluarga Nabi. Dalam memperkuat kecintaan kita kepada
keluarga Nabi di dalam mengayuh bahtera keluarga, kita diwajibkan mencontoh
prilaku kehidupan keluarga Rasulullah, baik prilaku terhadap istri maupun
anak.
Dalam memperlakukan istrinya, Rasulullah senantiasa menghormati dan menjaga
perasaan istrinya melebihi suami-suami yang lainnya. Satu saat ketika
Rasulullah hendak melaksanakan salat malam, beliau dekati istrinya Aisyah
sampai Aisyah berkata: Di tengah malam beliau mendekatiku dan ketika
kulitnya bersentuhan dengan kulitku beliau berbisik, "Wahai Aisyah izinkan
aku untuk beribadah kepada Tuhanku." Kita bayangkan betapa besar
penghormatan Rasul kepada istrinya sampai ketika beliau hendak melakukan
salat malam, beliau terlebih dahulu meminta izin kepada istrinya pada tengah
malam, di saat istrinya membutuhkannya. Pada izin Rasulullah itulah
tergambar kecintaan dan penghormatan terhadap istrinya.
Nabi adalah sosok yang sangat sabar dalam memperlakukan istrinya. Hal ini
terlihat ketika suatu hari ada salah seorang istrinya datang dengan membawa
makanan untuk dikirim kepada Rasulullah yang sedang tinggal di rumah Aisyah.
Aisyah dengan sengaja menjatuhkan kiriman makanan itu hingga piringnya pecah
dan makanannya jatuh berderai. Rasulullah hanya mengatakan, "Wahai Aisyah,
kifaratnya adalah mengganti makanan itu dengan makanan yang sama,"
Rasulullah mengecam suami-suami yang suka memukuli istri-istrinya sampai
Rasulullah berkata, "Aku heran melihat suami-suami yang menyiksa istrinya
padahal dia lebih patut disiksa oleh Allah."
Nabi pun mengecam suami-suami yang menghinakan istri-istrinya, tidak
menghargai-nya, tidak mengajaknya bicara, dan tidak mempertimbangkan
istrinya dalam mengambil keputusan. Nabi bersabda, "Tidak akan pernah
memuliakan istri kecuali lelaki yang mulia dan tidak akan pernah menghinakan
istri kecuali lelaki yang hina." Karena itu marilah kita berusaha menjadi
suami yang mulia yang menempatkan istri pada tempat yang mulia.
Salah satu ibadah yang paling besar di dalam Islam adalah berkhidmat kepada
istri. Rasulullah bersabda, "Duduknya seorang lelaki dengan istrinya
kemudian membahagiakan istrinya, pahalanya sama dengan orang yang itikaf di
masjidku." Kita dapat saksikan para jemaah haji ketika tinggal selama
seminggu di sana mereka berusaha melakukan itikaf dengan sebaik-baiknya di
masjid Nabawi. Kita akan memperoleh pahala yang sama seperti itikafnya para
jamaah haji kalau kita duduk bersama istri dan berusaha membahagiakan,
memberikan ketentraman dan kenyamanan kepadanya.
Begitupula bagi para istri. Mereka haruslah menjadi seorang istri seperti
Khadijah Al-Kubra. Khadijah adalah sosok istri yang sangat dicintai oleh
suaminya. Selama Rasulullah menikah dengannya, Rasulullah tidak pernah
memikirkan *the other women beside her, *wanita lain di samping Khadijah.
Rasulullah hidup dalam suasana yang penuh dengan kecintaan dan kasih sayang.
Cinta kasih Nabi terhadap Khadijah tergambar dalam riwayat berikut ini:
Setelah Khadijah meninggal dunia, Rasulullah menikah dengan Aisyah. Suatu
hari Rasulullah sedang berada di depan rumah. Tiba-tiba Rasulullah
meninggalkan Aisyah menuju kepada seorang perempuan. Rasulullah memanggilnya
dan menyuruh perempuan itu duduk di hadapan-nya kemudian mengajaknya
berbicara. Aisyah bertanya, "Siapakah perempuan tua ini?" Rasul menjawab,
"Inilah sahabat Khadijah dulu." Lalu Aisyah berkata, "Engkau sebut-sebut
juga Khadijah padahal Allah telah menggantikannya dengan istri yang lebih
baik." Ketika itu marah-lah Rasul sampai berguncang rambut di atas
kepalanya. Lalu beliau berkata, "Demi Allah, tidak ada yang dapat
menggantikan Khadijah. Dialah yang memberikan kepadaku kebahagia-an ketika
orang mencelakakanku. Dialah yang menghiburku dalam penderitaan ketika semua
orang membenciku. Dialah yang memberikan seluruh hartanya kepadaku ketika
semua orang menahan pemberiannya. Dan dialah yang menganugerahkan kepadaku
anak ketika istri-istri yang lain tidak memberikannya." Mendengar itu Aisyah
tidak dapat memberikan jawaban. Hadits ini diriwayatkan dalam Shahih Bukhari
dan Muslim.
Dalam ucapan Rasulullah itu, selain terkandung kecintaan Rasul terhadap
Khadijah, juga terkandung kebaktian Khadijah terhadap suaminya. Khadijahlah
yang menghibur suaminya ketika dalam perjuangan dilanda berbagai
penderitaan. Khadijahlah yang mengorbankan seluruh hartanya ketika suaminya
memerlukan. Khadijahlah yang mendampingi suaminya dalam suka dan duka.
Sehingga Rasul berkata, "Tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan
Khadijah."
Kepada para istri jadilah seperti Khadijah yang setiap saat rela
mengorbankan apa pun demi kebahagiaan suami. Yang di saat-saat suami ditimpa
duka dan kesusahan siap berdiri di sampingnya, memberikan hiburan dan
kebahagiaan kepadanya dengan seluruh jiwa dan raga.
Kebaktian kepada suami di dalam Islam dianggap ibadah yang utama. Sampai
Rasulullah bersabda,
"Kalau seorang perempuan memberikan setetes minum kepada suaminya atau
memindahkan barang dari rumahnya ke tempat yang lain untuk mem-bahagiakan
suaminya, maka pahalanya sama dengan melakukan ibadah satu tahun." Oleh
sebab itu, hormatilah suami. Berikan kepadanya penghormatan yang sepenuhnya
dan berikanlah kecintaan yang sepenuhnya. Insya Allah, Tuhan akan berkati
keluarga yang seperti demikian.
--- End Message ---