kalo dede yusuf ?
Nur Riana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
---------- Forwarded message ----------
From: emral setya <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 2008/4/13
Subject: [Agricultural Engineering 37] Fw: Siapakah Ahmad Heryawan ??!
To: [EMAIL PROTECTED]
Just sharing (Mohon maaf bagi yang tidak berkenan)
Semoga bisa menjadi pemimpin yang amanah. Amin.......
---------------------------------
Sang Pemimpin Belanja Sayur
Pagi-pagi ba'da shubuh dan bebenah, seperti biasa acara rutin sebagian ibu-ibu
adalah belanja. Demikian pula aku. Udara masih dingin kala itu. Kuturuni tangga
kontrakanku. Kujumpai sebagian ibu-ibu berjalan menuju titik yang sama, tempat
belanja! Tanah kapling di bawah kontrakanku masih banyak yang belum dibangun.
Aku berjalan tepat di samping rumah ustadz Hidayat Nurwahid, Presiden Partai
Keadilan. Di Belakang rumah beliau, rumput masih banyak tumbuh dan tanah
sedikit berair menyisakan tanda-tanda rawa yang masih belum sepenuhnya teruruk.
Aku terus berjalan. Naik beberapa tangga, melalui pintu gerbang SDIT Iqro'
Pondok Gede yang sudah terkuak. Rumah ustadz Rahmad Abdullah yang asri dan
sederhana kulewati. Rumah yang tiap dua hari sepekan kusambangi sebab disitulah
aku belajar tahsin pada istri beliau. Aku terus berjalan melalui beberapa rumah
para aktivis da'wah hingga akhirnya sampailah ke tempat belanjaan.
Belum selesai aku memilih-milih, tiba-tiba muncul laki-laki yang di lingkungan
kami sangat dikenal dan tidak asing. Beliau bersama putranya. Kemunculannya
tentu sangat tidak diduga. Kami para ibupun mempersilakan beliau untuk mendapat
pelayanan terlebih dahulu. Beliaulah satu-satunya laki-laki saat itu. Aku
memperhatikannya. Subhanallah, tak ada kecanggungan.
Sesampai di rumah kuceritakan apa yang kulihat pada suamiku, dengan penuh
kekaguman.
"Ya, begitulah yang terjadi dalam keluarga beliau. Saling taawun antara suami
istri tanpa harus dibatasi oleh pemisahan pekerjaan yang kaku, "komentar
suamiku yang berinteraksi cukup intensif.
Esoknya aku menjalani rutinitas yang sama, belanja. Di jalan aku berpapasan
dengan laki-laki itu kembali, bersama putranya.
"Belanja ustadz?" Aku sengaja menyapa.
"Iya, istri lagi sakit perut dan khodimah (Pembantu) pulang, Jawab beliau
sambil tersenyum.
Aku mengangguk-angguk. Subhanallah, aku jadi teringat Ammar bin Yasir ketika
menjabat sebagai gubernur. Beliau kadang belanja di pasar dan mengikat serta
memanggul sayuran sendirian. Inilah profil yang perlu di jadikan teladan.
Laki-laki yang saya jumpai itu yang belanja di tukang sayur itu adalah ustadz
Ahmad Heriawan, Lc. Beliau adalah ketua Partai Keadilan DKI Jakarta dan anggota
DPRD DKI Jakarta. Saya tidak akan terheran-heran jika beliau belanja bersama
istri dan anak-anaknya di Supermarket, yang bagi keluarga muda atau keluarga
jaman sekarang hal yang biasa dan sangat tidak tabu. Tetapi ini harus
berbelanja dan ikut antri dengan para ibu rumah tangga, walau pada akhirnya
beliau dipersilahkan untuk dilayani lebih dahulu.
Lagi-lagi dengan takjub saya menceritakan apa yang saya lihat kepada suami
saya. Sebagai orang yang intensif bertemu dengan beliau bahkan banyak menimba
ilmu kepada beliau, suami saya berkata,
"Ustadz Heriawan memang subhanalloh Dik. Sebagai muridnya, saya merasakan
kedekatan. Ketika sholat jama'ah di masjid misalnya, beliau kadang-kadang
secara tiba-tiba merangkul saya dari belakang. Saya juga beruntung mempunyai
jadwal ronda dengan beliau."
Ya, suami saya memang beruntung, beliau mendapat jadwal ronda bersama ustadz
Ahmad Heriawan dan Ustadz Satori Ismail, sehingga pembicaraan kala ronda adalah
pembicaraan-pembicaraan yang bermutu.
AhÂ… saya jadi menghayal, seandainya negeri ini dipimpin oleh orang-orang yang
berakhlaq mulia, yang mempunyai keharmonisan keluarga, yang dekat dengan anak
istrinya, yang mempunyai hubungan baik dengan para tetangga, yang memuliakan
wanita dan kaum papa, betapa indahnya dunia. Saya jadi teringat cerita
sederhana dari istri beliau.
"Ayahnya Khobab (ustadz Ahmad Heriawan) sangat suka sayur lodeh nangka. Suatu
saat beliau meminta saya untuk memasaknya. Begitu tahu bahwa ternyata membuat
sayur lodeh nangka itu membutuhkan proses yang begitu lama, beliau pun berkata,
"Sudah Bu, Sekali ini saja. Kalau tahu bahwa prosesnya begini lama, ayah tak
akan meminta dibikinkan. Dari pada waktu demikian panjang hanya habis untuk
bikin sayur, mending buat baca atau untuk mengerjakan yang lain."
Nampaknya sangat sederhana, namun saya melihat ada satu hal yang luar biasa,
tersirat dalam ungkapan itu, pemberian peluang yang luas bagi berkembangnya
istri.
Saya memang harus banyak belajar dari keluarga pimpinan saya yang sempat
menjadi tetangga saya itu. Yang jika orang-orang terkenal memberikan tariff
dalam ceramah-ceramahnya, beliau malah pernah menolak ceramah dengan bayaran
cukup lumayan karena harus terikat dengan pola yang diterapkan penyelenggara.
Maka jangan heran, jika kita mengundang beliau dan memberikan "amplop" dengan
mengatakan uang transport, maka seluruh uang yang ada di dalam amplop itu akan
beliau gunakan untuk membayar jasa transportasi, dan tak menyisakan untuk
kantong beliau sendiri.
Ah, itukah sibghoh Allah? Sebuah generasi yang dijanjikan oleh Allah dalam
surat Al-Maidah : 54 itu semoga kian dekat di sekitar kita, dan semoga memang
sidah ada di sekitar kita.
M. Muttaqwiati
Dari buku "Bukan di Negeri Dongeng"
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com