Gelisah Parau di Bentang Kemarau
perjalanan kemarauku sisakan muram di wajah lapar burung-burung
reranting misteri meracau, dedaun sakit meranggas
jatuh di gusar akar-akar yang kehilangan mata air
tanah mengerang desah ubun-ubun
kemelut rumput yang jadi kuning, derita bunga yang kehilangan mangsa
lebah lelah menjamah keperawanan cuaca
rindu risau perdu, mengasap di perapian musim
benderang matahari yang langit
pertarungan sengit di Kurusetra. Mahluk jalang berjuang
menebar jala mengayun gada
terlontarlah berjuta-juta anak panah
kucing liar terkapar jadi santapan burung pemakan bangkai
sungai-sungai mengecil
sirip ikan habis dikutili maling
sisa telaga membuncah terkotori jemari licik
terdengar ringkik jahanam kuda di rampak sekarmu
aku awan yang mengabur di lanskap biru semu
hujan tak jadi datang karena bumi dihuni mahluk bermata kabut
berlidah pisau dan bernapas api
liang luka terbuka di mana-mana
gelisah parau di bentang kemarau
tikus-tikus menari di wajah itu
di sisik ular derik. Jiwamu savana abadi untuk jagat sunyi
angin jadi laskar penjemput mati
menderu gemuruh badai menerpa jasad-jasad lunglai
ahÂ…
prajurit renjana merayap cecak di hutan kemarau ini
kutu-kutu terkutuk tebar amuk di sekujur hancur
lava yang mengaliri punggung gunung adalah rekah sakit senyum pahit
meleleh sendu syahdu dendang lagu layu
bocah lugu berlari diburu pilu. Peretas bahagia
dengan jemawa mereka berkata,
"pemilik musim ini adalah kami"
tangis pun merayap
tubuh-tubuh renta menutup diri untuk kedatangan deram meriam
sedan mengarat
derap laknat membungkus keping mimpi di tiap tong sampah
jejalan menertawai, gemerlap detik menggilitik lewat larik-larik
tasdik
tentang umpat penat di sepanjang kemarau parau
dan aku menunggui janji dalam jeruji bunga semu yang
kau ciptakan bersama goresan cakar di wajah ini
29/11/06