from [EMAIL PROTECTED] by evi s.r.

PRESS RELEASE




Berteater merupakan salah satu media belajar dan
berkarya bagi banyak kalangan, termasuk bagi mereka yang 
memperjuangkan
penegakan kembali kedaulatan rakyat. Tidak hanya tatkala suatu hasil 
karya
dipentaskan, tetapi meliputi juga seluruh proses kerja dan kegiatan 
yang
mengiringinya adalah bagian dari pemaknaan kedaulatan itu sendiri.


 


Nyai Ontosoroh adalah figur yang mempunyai
pendirian kuat, ulet dan pantang menyerah dalam berjuang, rasional 
dan
mempunyai visi kebangsaan. Nyai Ontosoroh adalah simbol perlawanan 
terhadap
kesewenang-wenangan kekuasaan, terhadap harga diri sebuah bangsa. 


 


Yang cukup menonjol pada naskah Nyai Ontosoroh
adalah proses pembangunan karakter berdaulat yang mampu 
menghadapi/melawan
kekuasaan tanpa mencabik-cabik intergritas perorangan maupun kelas. 
Apalagi
proses pembangunan karakter tersebut dikenakan pada konteks sejarah 
penjajahan,
yang masih relevan dalam kajian sosial-budaya masa kini sekalipun.


 


Berdasarkan kepentingan itu, Teater Bersama bermaksud mengajukan 
proposal penyelenggaraan
kegiatan pementasan teater "Nyai
Ontosoroh" – Faiza Mardzoeki, adapatasi "Bumi Manusia" – Pramoedya
Ananta Toer dan rangkaian kegiatan Pameran Poster Cover Buku dan 
Buku-buku
karya Pramoedya Ananta Toer serta Diskusi Publik, yang akan diadakan 
di Gedung
Kesenian Sunan Ambu – STSI Bandung pada bulan Desember 2006.


 


Pementasan
Nyai Ontosoroh ini bertujuan untuk menggiatkan ekspresi budaya yang
berorientasi kerakyatan yang berperspektif perempuan diantara 
pekerja dan
penikmat seni dan masyarakat pada umumnya. 


Untuk
memperingati perayaan Hari Ibu atau Hari Perempuan Indonesia yang 
jatuh pada bulan
Desember.


 


Ketiga kegiatan tersebut akan dilangsungkan di
Gedung Kesenian Sunan Ambu – STSI Bandung, Jl. Buah Batu 212 
Bandung. Dengan
rincian:


 


·       
Pementasan
Teater "Nyai Ontosoroh"


21-22
Desember 2006, pukul 20.00-21.30 WIB


GK. Sunan
Ambu, STSI


Sutradara : Yunis Kartika, Pemain: Retno Dwimarwati, Dian Ihung, 
Kerensa Dewantoro, Irfan
Jamalludin, Geza, Adam Panji Purnama, Yanti Heriya, Hendro Wibowo, 
Deni Maung. Rekonstruksi naskah: Dasep Sumardjani,
Daniel Mahendra, Yunis kartika, Artistik:
Diyanto, Dasep Sumardjani, Musik:
Irwan Gode, Penata Kostum dan Make Up: Widodo, Multimedia: Yonas S, 
Pimpinan Produksi: Sri Wahyuni K.S.


 


 


·       
Pameran
Poster Cover Buku dan Buku-buku 


      Karya
Pramoedya Ananta Toer


21-22
Desember 2006, pukul 09.00-20.00 WIB


Lobby GK.
Sunan Ambu, STSI


 


·       
Diskusi
Publik 


 


21 Desember
2006, pukul 15.30-18.00 WIB


"Proses
Kreatif Adaptasi Novel ke Pementasan Teater"


Pembicara        : Arthur S. Nalan (Rektor STSI)


                          Faiza Mardzoeki (Penulis Naskah)


                          Yunis Kartika (Teater Bersama)


Moderator        : Daniel Mahendra


 


 22 Desmber 2006, Pukul 15.30-18.00 WIB


"PAT,
Laki-laki Feminis" dan "Si Nyai dan Perempuan Masa Kini"


Pembicara        : H. Tanzil ( Pramoedya Institute)


                          Desi (JARI)


                          Nenden Lilis ( Sastrawan)


Moderator        : Daniel Mahendra


Kegiatan
diskusi dilakukan di GK. Sunan Ambu, STSI, Bandung


 


·       
Pemutaran
Film "Panen Tebu Tahun 1968"


21-22
Desember 2006, Pukul 19.30-20.00 WIB


GK. Sunan
Ambu


 


·       
Donor Darah


21-22
Desmber 2006, Pukul 09.000-16.00 WIB


Lobby GK.
Sunan Ambu


 


Latar kisah Nyai Ontosoroh adalah pada jaman
kekuasaan Kolonial Belanda tahun 1898. Pada masa ini orang Belanda 
berkuasa
dengan perusahaannya, dengan Gubermennya dan dengan Hukum Putihnya. 
Orang Putih
dan orang Pribumi tidak bergaul dan berbaur. Hanya satu dua orang 
yang mungkin
masuk sekolah orang Belanda. Kecuali golongan yang sangat dekat 
dengan Belanda
dan Eropanya. 


 


Ironisnya, mereka adalah golongan yang sangat tertindas
dan dihina oleh masyarakatnya yaitu perempuan-perempuan yang disebut 
Gundik atau Nyai. Para Nyai inilah yang sempat kenal rumah tangga 
Eropa dari
dekat; berbincang-bincang intim dengan `lelakinya, bisnisnya, 
temannya, ilmu
pengetahuannya dan dunia modernnya.


 


Perlawanan
Sanikem alias Nyai Ontosoroh


Sanikem, gadis yang berumur 14 tahun yang dijual
oleh ayahnya sendiri menjadi gundik. Cerita ini merupakan kisah 
metamorfosa
seorang perempuan `korban' berproses menjadi seorang perempuan 
survivor bahkan
menjadi mentor bagi seorang terpelajar laki-laki muda Pribumi 
bernama Minke.


 


Pengalaman pahit ternyata bisa menjadi penggerak
orang berdiri tegak dan membangun karakternya dengan mempergunakan 
pengetahuan
yang didapat dari `musuhnya' untuk membangun dirinya.


 


Cerita tentang perpolitikan keluarga, perjuangan
dengan `lelakinya' Herman Mellema, dengan anak perempuannya 
Annelies, dengan
putranya Robert yang benci terhadap semua Pribumi.


 


Nyai pada akhirnya harus menghadapi sistem dan
hukum kekuasaan kolonial itu sendiri. Kaum Nyai sepenuhnya 
tergantung pada
perlindungan dari lelakinya. Bagaimana kalau lelaki itu pergi? Atau 
mati? Atau
dibunuh? Bagaimana nasib si Nyai dan keluarganya? 


 


Apa kedekatannya dengan peradaban Eropa membantu?
Apakah akan cukup untuk membela diri menyuarakan prinsip-prinsip 
yang dia
pelajari dari peradaban Eropa? 


 


Apakah ini semua relevan untuk kita di jaman
sekarang? Apakah masih ada isyu bagaimana menghadapi peradaban 
internasional
dengan kekayaan idenya? Apakah kekuatan kolonial masih berjalan? 
Apakah Nyai
Ontosoroh sebagai contoh perempuan yang berjuang dan melawan mampu 
memberikan
pembelajaran bagi perempuan Indonesia?


 


*Seluruh Kegiatan ini terbuka untuk umum.


Contact
Person : Evi (081809380093)


                            [EMAIL PROTECTED]






 
_____________________________________________________________________
_______________
Yahoo! Music Unlimited
Access over 1 million songs.
http://music.yahoo.com/unlimited

--- End forwarded message ---


Kirim email ke