Temans semua, satu lagi cerita saya dimuat di Rakyat Merdeka Online. Selamat
membaca.
RUMAH KACA
ranah sastra merdeka
Jumat, 07 Desember 2007, 09:10:07 WIB
Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Celana
Oleh: Hujan
-Nama dan tempat peristiwa adalah fiktif semua. Jikalau ada kesamaan, itu bukan
kesengajaan. Semoga kisah ini tidak pernah benar-benar terjadi-
RAJAB dan Muis bertemu di balik pohon besar di halaman belakang sekolah.
âSiapa saja yang mau ikut malam ini?â tanya Rajab. Muis menggeleng.
âSyafei dan Ilham, Misrun juga mau ikut barangkali.â
Tak lama, seorang siswa lain mendekati mereka. Seragamnya kucel. Padahal ini
baru hari Senin. âJab, Is, sedang apa kalian? tak ikut upacara?â sapa
Shaleh, sambil mendekati dua siswa kelas tiga SMA.
âSebentar lagi Leh, kau pergi sajalah dahulu.â jawab Muis mengusir.
Shaleh tertegun sejenak. Kemudian tanpa banyak tanya langsung balik kanan.
âJangan sampai dia tahu. Mulutnya rame seperti sarang lebah.â ujar Rajab.
Muis mengamini.
Tujuhlimabelas. Bel berbunyi. Suara gaduh terdengar dari halaman sekolah.
Seluruh siswa kini mulai mengatur barisan agaknya.
âJab, ayo.â ajak Muis.
âSebentar, aku sedang merapikan bajuku,â jawab Rajab sambil setengah
berlari menghampiri Muis.
Beberapa menit berlalu, dua anak itu sudah berada di dalam barisan. Misrun,
ketua kelas tiga IPA satu, tengah mempersiapkan barisan yang dipimpinnya.
âKau ikut kami kan âIâ tanya Muis. Syafei berbadan bongsor dan
berkacamata mengangguk dan menjawab pelan.
âPulangnya jangan terlalu malam, aku harus mengerjakan tugas.â jawab Syafei.
âTenang aja âI, nanti, sepulang dari rumah Wak Leman, kita kerjakan
tugasnya bersama-sama,â sahut Ilham yang berdiri di barisan ke empat dari
belakang. Misrun melirik teman-temannya yang masih gaduh.
âSttt, jangan sampai Shaleh tahu.â bisik Rajab kepada Muis yang berdiri di
depannya.
Usai pengibaran bendera, kepala sekolah naik ke podium dan mulai memberikan
ceramahnya.
Ini adalah saat-saat yang sama sekali tidak disukai Rajab. Dengan sengaja,
siswa yang badung di kelas tiga IPA itu membuat gangguan kecil di tengah
barisan.
âPidatonya kepanjangan. Seperti menteri saja dia bicara,â
âBukan saja menteri, kau tak lihat bagaimana tangan Pak Kepala sekolah
bergerak-gerak? Seperti tangan Presiden Republik Mimpi!â
âHah, pidatonya masih sama! dari Senin ke senin itu-itu aja. Tidak kreatif.
Tidak maju.â sambut Muis.
âBete,â
âPanas,â ()Untuk kelanjutan ceritanya silakan klik RUMAH KACA</
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.