http://www.indomedia.com/bpost/042007/5/opini/opini1.htm
Benarkah Negara Kita Latah Keputusan tidak populer yang diambil pemerintah Indonesia, terkadang menimbulkan tanda tanya besar bagi warganya. Oleh: Handri Irawan Mahasiswa Fakultas Teknik Unlam Kita tentu masih ingat polemik PP No 37/2006 tentang tunjangan bagi anggota dewan, pembentukan tim UKP3R (Unit Kerja Presiden Untuk Pengelolaan Program dan Reformasi). Tak kalah hebohnya sikap pemerintah yang latah merevisi UU tentang poligami di saat seorang publik figure (ulama) berpoligami. Begitu pula sikap pemerintah terhadap nuklir Iran. Terdapat ketidakpaduan kesepakatan antara parlemen dengan pemerintah. Sedikit realita ini, menggambarkan karakteristik pengambil kebijakan serta pembuat keputusan di negeri ini. Jika kita cermati secara seksama, terdapat tarik ulur keputusan. Seolah-olah, aturan dengan segala bentuknya itu sangat mudah dibuat dan sangat mudah pula diubah (revisi). Tanpa memikirkan aturan yang dikeluarkan itu sangat berpengaruh terhadap hajat, asasi, perasaan, peribadatan dan pikiran orang banyak. Pada dasarnya, semua pernyataan sikap, keputusan atau kebijakan yang diambil pasti berpengaruh terhadap kepentingan pengambil keputusan itu sendiri. Tetapi hal itu pula yang menjadi indikasi ketidakmerdekaan kita untuk menentukan sikap dan nasib kita sendiri. Tekanan, tribulasi, intimidasi dan harapan merupakan manifestasi ketakutan atau keberanian bangsa kita dalam setiap pernyataan sikap yang dideklarasikan. Berbicara tentang kemerdekaan, secara gamblang dapat kita lihat bangsa mana yang saat ini paling merdeka. Jika diperbolehkan memberikan pernyataan, bangsa paling merdeka saat ini iadalah Iran dan negara yang berjuang mempertahankan Tanah Air dan idealismenya dengan alasan yang merujuk kepada hakikat merdeka, bebas, berani dan tak dipengaruhi ancaman, tekanan dan berbagai macam jenis tribulasi lainnya. Iran dengan lantangnya menantang berbagai macam tuduhan dan pengekangan yang selama ini ditujukan kepadanya. Presiden Mahmoud Ahmadinejad yang berperawakkan kecil, berasal dari golongan yang tidak 'wah', berpenampilan sederhana dan bersahaja tetapi berjiwa besar, berpikiran megah, kaya keberanian serta tenang tetapi bagai singa garang di depan musuhnya. Keputusan tidak populer yang diambil pemerintah Indonesia, terkadang menimbulkan tanda tanya besar bagi warganya. Hal ini tentu saja bisa menyebabkan resistensi warga terhadap pemerintah. Begitu pula dengan keputusan terhadap nuklir Iran. Inkonsistensi sikap Indonesia terlihat jelas. Ada beberapa hal mendasar yang sangat membingungkan atas sikap pemerintah terhadap Iran. Pertama, mengapa dulu Indonesia yang ikut gigih menentang sanksi tambahan atau perluasan sanksi bagi program nuklir Iran kini justru kebalikannya. Indonesia mendukung Resolusi DK PBB Nomor 1747 sebagai lanjutan dari resolusi sebelumnya, yaitu Resolusi DK PBB Nomor 1737 yang ditetapkan di Markas Besar PBB New York dan Resolusi DK PBB Nomor 1606. Apakah kelatahan mengikuti keputusan Rusia dan Cina yang juga berubah sikap terhadap Iran? Kedua, lupakah Indonesia bahwa Indonesia merupakan negara nonblok yang seharusnya berfungsi sebagai penengah. Ketiga, mengapa Indonesia tidak memilih untuk konsisten (menolak penambahan sanksi) atau minimal abstain terhadap Resolusi DK PBBB Nomor 1474? Saat ini memang bukan momen yang tepat untuk membicarakan kemerdekaan, karena secara ritual simbolik kemerdekaan diperingati pada 17 Agustus tetapi implementasinya jauh dari kenyataan. Kita, keluarga kita, masyarakat kita dan bangsa kita terjajah saat ini. Baik terjajah oleh hawa nafsu, keinginan bernilai rendah dan pemikiran kotor, maupun oleh kekuatan yang ingin terus-menerus menunjukkan eksistensi hegemoninya di mata dunia. Sudah saatnya kita memulai berkomitmen dengan jelas dan tegas agar dunia tidak memandang Indonesia sebagai negara yang plin-plan (inkonsistensi). Karena, sebagai Warga Negara Indonesia tidak ingin negara kita terus-menerus 'dijajah'. Baik dari segi militer, ekonomi, ideologi atau pemikiran dan politik. Jatidiri Indonesia di mata dunia sebagai negara yang berwibawa, harus benar-benar tercipta. Hidup Indonesia. Wallahu'lam bissh owab [Non-text portions of this message have been removed]
