http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=172600

            Reshuffle Tak Sentuh Tim Ekonomi
            Oleh Kusfiardi 


            Rabu, 9 Mei 2007
            Dapat diduga sebelumnya: reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) 
yang diumumkan Senin (7/5) lalu sungguh mengabaikan penilaian masyarakat. Kita 
tahu selama ini masyarakat dikecewakan oleh kinerja KIB yang buruk. Masyarakat 
menginginkan agar ada reshuffle kabinet secara radikal agar kinerja kabinet ke 
depan menjadi baik. 

            Tapi dalam kenyataan tidak demikian. Ternyata reshuffle kabinet 
hanya dilakukan secara terbatas. Kenyataan ini sungguh mengabaikan penilaian 
masyarakat terhadap kinerja kabinet yang tidak memuaskan. 

            Padahal hasil survei berbagai lembaga independen dengan jelas 
menunjukkan bahwa kemerosotan popularitas dan kepuasan masyarakat terhadap 
kinerja Presiden SBY terutama akibat buruknya kinerja di bidang ekonomi. 
Ketidakpuasan itu lahir karena selama dua setengah tahun, tim ekonomi tidak 
mampu memenuhi harapan rakyat. Tim ekonomi hanya menciptakan stabilitas 
makroekonomi yang semu. 

            Indikator yang menjadi kebanggaan bagi tim ekonomi dalam kabinet 
saat ini adalah indeks harga saham gabungan (IHSG). Kemudian stabilitas nilai 
tukar rupiah terhadap dolar AS. Indikator lainnya adalah inflasi dan defisit 
anggaran yang rendah. 

            Indikator tersebut, sebenarnya tidak bisa serta-merta dijadikan 
ukuran keberhasilan ekonomi. Bila ditelusuri lagi, maka keberhasilan tersebut 
hanyalah bersifat artifisial dan tidak menunjukkan kondisi fundamental ekonomi 
nasional yang membaik. 

            Pencapaian IHSG hingga menembus level 2000 yang dibanggakan, justru 
berpotensi menciptakan risiko krisis. Risiko itu muncul karena kelemahan tim 
ekonomi yang membuat kesenjangan investasi di sektor finansial dan sektor riil 
semakin lebar. 

            Stabilitas nilai tukar rupiah yang berkisar Rp 9.100-Rp 9.300 per 
dolar AS lebih diakibatkan oleh intervensi pelaku pasar yang tidak menginginkan 
rupiah berada pada level fundamentalnya. Tambahan lagi nilai tukar yang terlalu 
tinggi juga telah menekan laju pertumbuhan ekspor. 

            Inflasi rendah ternyata justru menimbulkan stagnasi sektor riil dan 
munculnya masalah lain yang menimbulkan ongkos ekonomi yang mahal. Kondisi ini 
terjadi karena penanganan inflasi hanya memfokuskan pada sektor moneter tanpa 
upaya untuk menjaga ketersediaan barang dan harga. 

            Defisit anggaran yang rendah selama tahun anggaran 2005 dan 2006 
ternyata tidak berasal dari kemampuan meningkatkan efisensi anggaran atau 
meningkatkan sumber penerimaan. Tetapi rendahnya defisit justru karena 
rendahnya realisasi berbagai program APBN. Kegagalan itu juga membuktikan bahwa 
Menteri Keuangan dan Menko Perekonomian gagal menjadikan APBN sebagai motor 
penggerak ekonomi. 

            Oleh karena itu, mestinya dalam reshuffle sekarang ini Presiden SBY 
tidak begitu saja mengabaikan pergantian menteri bidang ekonomi. Kegagalan para 
menteri di bidang ekonomi, khususnya Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan, 
adalah juga merupakan kegagalan konsep kebijakan neoliberal yang selama ini 
mereka anut. 

            Fanatisme kedua menteri itu telah menjebak perekonomian nasional 
dalam perangkap keberhasilan semu. Kondisi ini sebenarnya berpotensi 
menimbulkan persoalan yang lebih besar dan lebih rumit dari sekadar problem 
ekonomi semata. 

            Presiden seharusnya melakukan pergantian menteri di bidang ekonomi. 
Itu merupakan langkah strategis bagi pemulihan kepercayaan masyarakat pada 
Presiden sebagai kepala pemerintahan. Langkah itu sekaligus bisa memperkuat 
perekonomian nasional yang dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. 

            Kalau mau jujur, komposisi tim ekonomi kabinet saat ini masih 
membuat Indonesia berada dalam cengkeraman neoliberalisme. Watak neoliberalisme 
dalam kebijakan pemerintah bukan saja bertentangan dengan konstitusi (UUD 1945) 
dan tidak bisa mengatasi permasalahan ekonomi, tetapi juga berdampak pada 
memburuknya kualitas kesejahteraan rakyat. Namun, Presiden SBY tampaknya tidak 
memahami masalah itu atau memang tidak mau peduli dengan masalah kesejahteraan 
rakyat. Buktinya, tak ada satu pun tim ekonominya yang diganti dalam reshuffle 
sekarang ini. 

            Dengan kondisi kabinet yang ada sekarang ini (pasca-reshuffle) kita 
hanya bisa berharap agar pemerintah sungguh-sungguh mau memperhatikan 
kepentingan masyarakat. Ke depan ini pemerintah seharusnya berupaya keras dalam 
melaksanakan pemenuhan hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi 
kemanusiaan seperti dinyatakan dalam Pasal 27 ayat (2) UUD 45. Masyarakat pun 
perlu pengembangan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasar sesuai penegasan 
Pasal 28C ayat (1). 

            Pemerintah harus bisa mengamankan kebijakan fiskal dari pengaruh 
agenda neoliberalisme demi terlaksananya pemenuhan hak konstitusi rakyat. Agar 
bisa mewujudkan hal tersebut, maka para menteri bidang ekonomi, khususnya 
Menteri Keuangan, harus mau mengusahakan penghapusan utang. Selain untuk 
memperkecil angka defisit anggaran, penghapusan utang sekaligus dapat 
mengurangi penghisapan ekonomi nasional oleh pihak asing.*** 

            Penulis adalah anggota presidium pada Koalisi 
            Anti Utang (Anti Debt Coalition Indonesia)  
     
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke