http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=297911&kat_id=23
Senin, 25 Juni 2007 22:28:00 Pembangunan Bali Kurang Menyentuhkan Rakyat Miskin Laporan: H. Ahmad Baraas Denpasar-RoL -- Pertumbuhnan ekonomi di Bali mengalami peningkatan cukup lumayan, yakni jika dibandingkan kuartal tahun sebelumnya, pada kuartal pertama 2007 terjadi peningkatan sebesar 0,8 persen. Namun disayangkan, hasil-hasil pembangunan Bali itu, lebih banyak dirasakan oleh orang-orang kaya, sedangkan rakyat miskin belum banyak disentuh. "Penduduk miskin juga menikmati hasil pembangunan itu, tetapi tidak sebanyak yang diperoleh oleh orang-orang kaya," kata Kasi Neraca Konsumsi BPS Propinsi Bali, Didik Nursetyohadi. Hal itu dikemukakan Didik di Denpasar, Senin (25/6), dalam acara Pelatihan Cara Membaca Hasil Kajian Bank Indonesia. Pelatihan diikuti para wartawan, diselenggarakan oleh BI Denpasar. Pemimpin BI Denpasar, Ketut Sanjaya, dalam sambutan tertulisnya mengharapkan agar wartawan melalui pelatihan itu memiliki kemampuan membaca hasil-hasil kajian BI, sehingga bila mendapatkan laporan-laporan tertulis, tidak mengalami banyak kesulitan. Dikatakan Didik, pertumbuhan ekonomi Bali sebesar 0,8 persen itu cukup menggembirakan, karena jika tahun sebelumnya pada kwartal pertama terjadi low session kegiatan kunjungan wisata, tahun ini tidak terjadi. Sebagai daerah tujuan wisata ternama di Indonesia lanjut Didik, Bali masih mengandalkan pariwisata sebagai penyumbang utama pendapatan daerahnya. Sementara itu, berdasar hasil survei yang dilakukan BPS Bali pada 2006 jelas Didik, didapat kesimpulan bahwa daya beli rata-rata masyarakat Bali mencapai 109,4 persen. Namun diantara penduduk Bali, orang kaya yang paling banyak menikmati hasil pembangunan, dengan prosentase 126,5 persen, sedangkan kelompok ekonomi menengah 103 perseb dan kelompok ekonomi lemah hanya 89,6 persen. Dalam kurun waktu 1993-2006 katanya, kelompok ekonomi lemah atau orang-orang miskin di Bali sempat menikmati hasil pembangunan dengan porsi yang lebih pada 1996, 1997, 1998 dan 1999, yakni dengan memiliki daya beli melewati 100 persen. Sementara akibat krisis moneter yang melanda Indonesia, penduduk kaya di Bali sempat terpuruk, dengan hanya memiliki daya beli 94,3 persen pada 1999. "Tapi orang-orang kaya sangat cepat bangkit dan kini kembali bisa menikmati hasil-hasil pembangunan dengan porsi lebih banyak," katanya. Sementara itu, Staf BI Denpasar, R Aga Nugraha, menjawab pertanyaan membenarkan bahwa angka pertumbuhan ekonomi di Bali cukup tinggi, namun belum berdampak pada peningkatan lapangan kerja dan pemerataan. Pertumbuhan ekonomi yang terjadi di Bali lanjutnya, kurang sesuai dengan harapan dan kurang berkualitas. "Kita harus mengarahkan, agar pertumbuhan ekonomi Bali bisa lebih positif, lebih merata dan dinikmati oleh semua lapisan masyarakat," katanya [Non-text portions of this message have been removed]
