http://www.suarapembaruan.com/News/2007/07/31/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY Geokultur dari Globalisasi Oleh Daoed Joesoef Dengan globalisasi, dimaksudkan capitalist world-economy terus berkembang begitu rupa hingga menjadi suatu de facto modern world-system. Istilah kultur mengacu sekaligus pada sistem nilai (budaya) dan usaha yang bermanfaat/memberi hasil (budi daya). Bila kedua unsur pokok itu ditanggapi secara ekologis, ungkapan geokultur menggambarkan keseluruhan yang terintegrasi dan tradisional dari cara merasakan, berpikir, dan bertindak yang memberikan ciri khas pada kelompok sosial di suatu wilayah hidup tertentu (ruang) dan selang kehidupan tertentu (waktu). Di era globalisasi ini Presiden mengemukakan ekonomi yang dianut Indonesia ekonomi terbuka. Pada saat ini kelihatan kita tidak bisa lain daripada bersikap demikian. Ekonomi bisa mendunia berkat pemberian prioritas pada akumulasi modal yang terus-menerus dan menjadi optimal dengan penciptaan suatu pembagian kerja yang meluas secara geografis. Pembagian kerja menuntut adanya arus yang signifikan dari barang-barang, modal, dan pekerja. Berarti, batas-batas negara harus bisa ditembus, justru pada saat negara-negara tersebut berusaha menciptakan budaya nasionalnya masing-masing yang berbeda satu sama lain. Namun, dalam membuka diri itu perlu disadari, Indonesia dengan semua aspeknya belum pernah disiapkan secara fungsional turut bermain aktif di kancah globalisasi. Selama ini kita bukan menyiapkan ideokrasi, tetapi sibuk membina teknokrasi menurut visi Bank Dunia, IMF, dan resep negara kaya pemberi kredit. Kesadaran itu seharusnya mendorong kita membina suatu keterbukaan yang aktif-antisipatif. Artinya, kultur harus difungsikan mengingat yang bertarung di arena globalisasi adalah nilai. Bila demikian kultur perlu mendampingi, mengawal ekonomi dengan langkah-langkah defensif-konstruktif agar kelak bisa menciptakan unsur-unsur pembentuk advanced ecological civilization yang melatarbelakangi perkembangan capitalist world-economies. Beberapa Ciri Ada beberapa ciri globalisasi yang harus kita waspadai. Jadi harus sudah diantisipasi, dengan menyiapkan nilai-nilai penangkalnya (defensif-konstruktif). Pertama, berupa perkembangan informasi dan komunikasi yang begitu rupa hingga mewujudkan globalisasi di semua aspek dan bidang kehidupan. Pada gilirannya, menimbulkan interdependensi yang tidak selalu simetris. Kedua, perubahan yang semakin banyak dan semakin cepat. Di awal abad XX diperlukan 20 - 30 tahun sebelum satu invensi baru diterapkan dalam satu sistem produksi. Sekarang jarak saat penemuan dan saat penerapan hanya memakan waktu 2 - 5 tahun. Maka perubahan menjadi gejala normal. Yang tidak berubah karena perubahan itu dianggap aneh. Ketiga, peningkatan spesialisasi serta pluralisasi yang pada gilirannya memarakkan perbedaan-perbedaan dan, sejalan dengan itu, meningkatkan intensitas friksi dan konflik. Keempat, semakin menonjolnya subkomunitas-subkomunitas dari komunitas nasional. Pada umumnya di setiap komunitas nasional ada subkomunitas politik, subkomunitas bisnis, subkomunitas artistik, subkomunitas ilmiah, subkomunitas religius. Kelima, bayangan krisis historis yang selalu menghantui ekonomi-dunia kapitalis sebagai suatu sistem historis. Potensi krisis yang perwujudannya bisa pula mendunia ini bersumber pada akumulasi dari kontradiksi internal yang tidak memungkinkan sistem ini mampu menampilkan kembali dirinya sebagai sistem yang sama. Kontradiksi tersebut berakar, di satu sisi, pada proses ekonomi yang menjurus ke perumusan solusi terhadap kesulitan-kesulitan jangka pendek yang malah menimbulkan kesulitan-kesulitan jangka panjang. Di sisi lain, pada proses politiko-kultural yang merupakan konsekuensi dari tekanan-tekanan yang semakin kasatmata akibat kontradiksi ekonomi, yang pada gilirannya, mencetuskan kontradiksi politik. Dengan kata lain, kita selalu berada dalam suatu periode transisi ke arah sesuatu yang tidak pasti. Di samping mewaspadai aneka akibat sampingan yang khas dari globalisasi, kita juga seharusnya sudah lama, lebih dahulu bahkan, mewaspadakan kelalaian sendiri tentang kelebihan-kelebihan alami yang dahulu menjadi rebutan bangsa-bangsa asing. Yang dahulu nyaris tidak mereka sentuh adalah eksploitasi hutan tropis. Justru hal ini sekarang kita manfaatkan dengan rakus, yang berarti harus kita stop demi anak cucu kalaupun bukan karena pertimbangan iklim global. Kalaupun dianggap "terpaksa" diteruskan, seharusnya berdasarkan kearifan lokal-tradisional. Yang kini perlu kita perhatikan serius karena keterkaitannya dengan proses globalisasi adalah aneka faktor geoendowments, yang sekarang semakin memungkinkan penambangan sekaligus pencegahan kerusakan ekologisnya berkat kemajuan teknologi, seperti pengeboran gas bumi dan minyak lepas pantai. Diabaikan Garis pantai keseluruhan pulau-pulau Indonesia, panjangnya sama dengan satu setengah kali garis khatulistiwa. Ia dihuni nelayan yang kini tergolong warga termiskin bangsa. Di zaman penjajahan dahulu, jauh sebelum ada globalisasi, di salah satu pantai Pulau Sumatera terdapat Bagan Siapi-api, pelabuhan dan kota pengolah ikan terbesar di Asia Tenggara, pemasok utama seafood ke semua kota besar di wilayah itu. Di sepanjang pantai itu pula tumbuh pohon kelapa hingga ke pedalaman, hingga Indonesia memiliki lahan perkebunan kelapa rakyat terluas di dunia. Namun, nilai ekspor produk kelapa masih jauh lebih rendah daripada Filipina yang berlahan kelapa kurang luas. Berarti industri perkelapaan masih diabaikan, padahal nilai lebih kelapa tidak hanya berupa kopra yang berasal dari buah, tetapi bisa pula dibentuk dari akar, batang, daunnya. Pembudidayaan (kultur) dari tanaman khas tropis lainnya bernasib sama. Tanaman tebu dan industri gula di zaman kolonial, yang memang dipaksakan Belanda, pernah merajai pasar dunia, menyelamatkan keuangan Kerajaan Belanda, membuat negara kecil ini pusat perbankan di Eropa. Kultur lain tempo doeloe yang masih diteruskan -kelapa sawit, karet, tembakau- tidak dikelola secara optimal ekonomis hingga berpotensi menjadi masalah/beban politis. Masih ada kultur cengkeh, pala, dan produk sejenis yang dibiarkan saja menjadi "urusan" rakyat tanpa bimbingan teknis-produktif modern. Padahal semua itu dahulu membuat Indonesia dijuluki sebagai satu-satunya negara rempah-rempah di daerah tropis. Yang masih sangat diabaikan pemerintah adalah aneka tanaman tropis kita yang berkhasiat penyembuhan terhadap penyakit, jadi berpotensi sebagai dasar industri farmasi. Kegiatan riset resmi lembaga-lembaga pemerintahan selama ini tak pernah menyentuh hakikat masalah industri obat-obatan yang saling terkait dari hilir hingga ke hulu. Sedangkan beberapa industri negara maju tidak segan-segan berusaha mematenkan khasiat tanaman kultur asli Indonesia. Mengingat keterbukaan ekonomi nasional dilakukan tanpa didahului persiapan relevan dan terpadu, pemerintah perlu bergegas menyusun konsep geokultural yang berkaitan dengan globalisasi, guna pegangan aksi bersama, yaitu pemerintah, swasta, dan rakyat. Tertawa kecut kita membaca berita Indonesia mengimpor garam dari India, padahal dua per tiga wilayah nasional kita lautan. Maka ada baiknya kita renungi makna kandungan kalimat awal dari Anna Karerina, novel Tolstoy: "Happy families are all alike; every unhappy family is unhappy in its own way". Yang dimaksudkan penulis, bahwa suatu perkawinan, agar bisa bahagia harus berhasil dalam banyak hal yang berbeda, seperti atraksi seksual, kesepakatan mengenai uang, disiplin anak, agama, keluarga yang ikut serumah, dan lain-lain isu vital. Kegagalan di salah satu aspek esensial tadi dapat menjerumuskan rumah tangga walaupun ia menguasai lain-lain unsur yang diperlukan kebahagiaan. Asas itu, sebutlah "Anna Karerina principle", kiranya dapat diperluas untuk memahami banyak hal lain di samping perkawinan; misalnya penjelasan tentang kultur tanaman tertentu dan gejala domestikasi ternak tertentu, yang punya konsekuensi berat dalam sejarah manusia, di daerah tertentu dalam jangka waktu tertentu. Kita cenderung, menurut ilmuwan Jared Diamond, mencari easy single-factor explanations of success. Untuk banyak hal sangat penting, sebenarnya sukses menuntut pengelakan banyak kemungkinan kegagalan yang terpisah-pisah. Dengan kata lain, manusia, tanaman, dan spesies binatang membangun "perkawinan" yang tidak berhasil karena satu atau banyak possible reasons: iklim, kesuburan tanah, animal's diet, mating habits, kekhasan organisasi sosial, dan lain-lain. Kultur meliputi dan menentukan sebagian besar jalannya eksistensi kita di dalam dan melalui globalisasi ekonomi-dunia kapitalis sebagai suatu sistem historis. Namun ia jarang merasuk ke dalam pikiran yang disadari. Maka perlu dilibatkan pendidikan yang, sebagai bagian konstitutif dari kebudayaan, berfungsi membantu conscient structuration of cultural behavior rakyat sedini mungkin. Di zaman globalisasi ini bagi setiap manusia individual, warga Indonesia tidak terkecuali, kultur sekaligus pengetahuan, praktik komunikasi dan pilihan hidup. Berhubung kultur ini geokultur, pendidikan yang fungsional historis ini merupakan suatu geoeducation. Penulis adalah pengamat geokultural strategis Last modified: 31/7/07 [Non-text portions of this message have been removed]
