Refleksi: Rupanya konperensi iklim di Bali, bukan saja memaksa, tetapi juga  
menginspirasikan para petinggi NKRI untuk melakukan beberapa hal yang 
samasekali tidak termasuk dalam rencana mereka sebelumnya, yaitu waktu mereka 
berlomba-lomba dalam Pemilu untuk duduk pada kursi kekuasaan.

Presiden SBY muncul dalam adpertensi di TV internasional bersama anak-anak 
kecil dengan semboyan "Together we can". Dalam negeri  beliau muncul  dengan 
kampanye penaman 75 juta pohon. Pohon apa yang di tanam dan dalam jangka waktu 
sampai kapan penanaman pohon harus selesai, tidak disebutkan. 

Sekadar untuk diingatkan sesuai catatan sejarah bahwa pada zaman pendudukan 
tentara Jepang di Hindia Belanda, eh, di Indonesia pada waktu Perang Dunia 
Kedua, disuruh penduduk untuk menanam pohon jarak. Pohon jarak yang ditanam ini 
samasekali tidak ada hubungan dengan kepentingan rakyat untuk mengisi perut 
yang lapar, tetapi untuk kebutuhan militer Jepang.

Pertanyaan yang barang timbul, ialah apakah heboh-hangatnya kampanye penaman 
pohon ini cuma selama konperensi iklim berlangsung, dan sehabis konperensi 
tamat pula riwayatnya. Jadi kampanyenya sekadar hangat-hangat taik ayam.  

Wakil presiden JM Kalla pun tidak mau ketinggalan. Beliau malah lebih radikal 
lagi dari pada para fundamentalis pelindung alam. Pernyataan JMK dibawah ini 
mengingatkan kepada anasir-anasir komunis yang selalu menentang ekspoatasi 
kapitalisme terhadap rakyat pekerja dan kaum tani. Siapa tahu JMK diam-diam 
membaca Das Kapital, karang Karl Marx,  karena dikatakan bahwa tidak ada ahli 
ekonomi mana pun yang menganalisa dan penindasan kaum kapitalis terhadap rakyat 
pekerja dan kaum tani seperti Karl Marx.  

Akhirulkalam, mudah-mudahan saja sering diadakan konperensi internasional yang 
menyangkut masalah perlindungan kehidupan manusia  di Bali. Akan sangat menarik 
sekali apabila StAR mengadakan konperensi  di Indonesia,  dan para petinggi 
NKRI akan seradikal dan seaktif seperti pada konperensi mengenai iklim di Bali 
ini? Kalau mereka seradikal kali ini tentunya akan mereka menlakukan penyitaan 
terhadap harta kekayaan rakyat yang dikorupsi oleh Pak Harto dan 
konco-konconya, demi tidak kehilangan muka dan wibawa terhadap rakyat yang 
mereka wakili.


http://www.sinarharapan.co.id/berita/0712/15/sh01.html

Wapres: Pengusaha Kayu Sengsarakan Rakyat 

Oleh
Yuyuk Sugarman



Yogyakarta-Zaman sudah berubah ketika era 1960-1980-an para pengusaha penebang 
hutan pemegang HPH banyak yang dapat penghargaan, misalnya PT Barito Timber 
Pacific Tbk, PT Djayanti Group, dan sebagainya. Sebetulnya, mereka banyak 
sekali melakukan penebangan-penebangan kayu di hutan-hutan alam. 


Hal ini dikatakan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, ketika mencanangkan hutan 
kemasyarakatan (HKm) di Dusun Ketek, Desa Banyusoca, Playen Gunung Kidul, Sabtu 
(15/12) pagi. "Mereka semakin banyak menebang semakin terhormat, dan merekalah 
yang selalu duduk paling depan," ujar Jusuf Kalla. Namun, menurut Jusuf Kalla, 
zaman sekarang sudah berubah. Orang-orang yang menghutankan kembali saat ini 
yang mendapat penghargaan. "Jadi yang dulu kita hargai justru saat ini 
menyengsarakan kita," katanya. Jusuf Kalla juga selalu berbicara dalam 
forum-forum internasional," Hutan-hutan di Indonesia yang merusak Anda-anda 
(pihak asing) juga. Karena Anda-anda yang membawa peralatan berat, membeli kayu 
dengan harga murah dan lain sebagainya. Tapi tiba-tiba Anda merasa tidak 
bersalah. Jadi sebetulnya Andalah yang paling menikmati hasilnya, tapi kami 
yang mendapatkan kesengsaraan."


Pada kesempatan itu, Jusuf Kalla juga sempat beranekdot yang menyerempet ke 
kampanye partai. Ketiak ia berbicara soal sungai-sungai yang mulai menguning, 
langsung saja ditimpali dengan kuning itu baik. Kemudian ia juga mengatakan 
hijau itu juga baik, tapi nanti hasilnya akan kuning, merah juga bagus seperti 
karpet ini, cuma orang suka menginjak-injak. 

Langit juga biru, kemudian ia sembari menoleh ke Gubernur DIY Sri Sultan 
Hamengku Buwono X, seraya mengatakan,"Ini tak melanggarkan Pak Gubernur," yang 
disambut tawa meriah para hadirin. Pada kesempatan itu, Gubernur DIY juga 
mengungkapkan bahwa saat ini dilakukan sebuah pilot project bekerja sama dengan 
enam universitas yang ada di Yogyakarta, seperti UGM, UII, UPN, Atmajaya, UNY, 
dan UMY. Menurut Sultan, pilot poject ini akan mengambil lahan seluas 100 
hektare, di mana setiap hektarenya terdapat 1.030 pohon jati, dan dari jumlah 
100 hektare itu masing-masing universitas, diberikan hak kelola bersama 
masyarakat sekitar sebanyak 10 hektare.


"Tapi ini ada syaratnya. Syaratnya adalah tahun depan pada tahun ajaran tahun 
2008, masing-masing perguruan tinggi itu harus menerima mahasiswa asal Yogya 
yang miskin secara gratis. Nah nanti setelah 15 tahun baru saya bayar dengan 
pohon-pohon jati itu," ujar Sultan, yang disambur tepuk tangan meriah dari para 
hadirin


Adanya pilot project ini disambut baik oleh Menteri Kehutanan MS Kaban, karena 
dengan bekerja sama dengan perguruan tinggi, akan bisa meningkatkan sumber daya 
manusia. Menurut MS Kaban, pencanangan hutan kemasyarakat ini mampu 
memberdayakan masyarakat sekaligus memelihara hutan dengan diberikan hak 
mengelola hutan secara tetap, maka masyarakat akan mendapat legalitas. 


"Pendekatan seperti HKm ini juga bisa sebagai sebuah solusi untuk menyelesaikan 
konflik yang selama ini sering terjadi," kata MS Kaban. Ditambahkan pula oleh 
Menhut, target HKm hingga tahun 2009 mencapai 400.000 hektare, sedangkan pada 
tahun 2015 target lahan yang dijadikan Hkm mencapai 2,1 juta hektare. Dengan 
begitu, angka kemiskinan dapat ditekan minimal 50 persen.  Dari data yang ada 
dalam pencanangan Hkm ini diberikan iklim usaha pemanfaatan hutan kepada 57 
kelompok tani dari 3 provinsi, yaitu Provinsi Lampung, Provinsi DIY, dan 
Provinsi NTB. Dengan perincian, luas area untuk Gunung Kidul sebanyak 1.087,45 
hektare, Kulon Progo sebanyak 196,80 hektare, Lampung Barat sebanyak 1.970,09 
hektare, Lampung Utara 1.200 hektare, Panggamus 2.547,22 hektare, dan Lombok 
Tengah sebesar 1.809,50 hektare. n

+++++

Kalla: Dana Hasil Hutan Jangan Disimpan di Bank
Sabtu, 15 Desember 2007 | 15:23 WIB 

TEMPO Interaktif, Yogyakarta:Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta dana-dana dari 
proses pengelolaan hutan, baik itu pajak maupun dana langsung dari hasil hutan, 
jangan disimpan di bank. Kalla meminta agar dana-dana tersebut digunakan untuk 
mereboisasi dan merehabilitasi hutan kembali.

"Dana-dana hasil hutan tidak sepantasnya disimpan di bank dan menghasilkan 
bunga, namun harus dikembalikan untuk membangun hutan," kata Kalla saat 
mencanangkan "Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan serta Hutan Kemasyarakatan" 
di Gunung Kidul Yogyakarta, Sabtu (15/12).

Hadir juga dalam kesempatan ini Menteri Kehutanan MS Kaban dan Gubernur Daerah 
Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengkubowono X.

Menurut Kalla, jika masih ada pemerintah daerah dan pengusaha HPH yang 
melakukan itu, mereka tergolong pihak yang terbelakang. "Dulu iklimnya memang 
yang banyak menebang adalah yang mendapat kehormatan. Makin banyak menebang 
makin terhormat dan selalu duduk di depan. Tetapi lihat akibatnya saat ini, 
banjir dan longsor. Dulu Barito dan Jayanti Group melakukan itu alasannya 
klasik, yaitu untuk meningkatkan ekspor," kata Kalla.

Kalla mengatakan fungsi hutan semain disorot dunia setelah KTT Konferensi Iklim 
di Bali, di mana Indonesia memegang peranan penting dalam kelestarian hutan. 
Namun, dalam konteks ini, kata Kalla, seharusnya ada kebersamaan. "Jangan hanya 
Indonesia yang merasakan dampaknya, negara maju yang paling menikmati 
manfaatnya," ujarnya.

Ke depan, kata Kalla, Departemen Kehutanan harus memprioritaskan program 
kehutanan oleh masyarakat, bukan lagi memprioritaskan izin HPH. Menuru Kalla, 
rakyatlah yang sebenarnya paling pantas menikmati hasil hutan, bukan lagi 
kalangan pengusaha. "Pemerintah akan dukung pendanaan program yang mengutamakan 
masyarakat, berapa pun akan digulirkan," ujarnya.

Kalla juga mengkritik gagalnya program rehabilitasi hutan pada 2006. Kalla 
meminta agar penanaman hutan pada 2008 dan 2009 lebih progresif. 
"Keberhasilannya nanti bukan diukur oleh laporan, tetapi bisa berkurang tidak 
banjir atau kekeringan nantinya."

Anton Aprianto 

++++

Kalla: Negara Maju Jangan Cuci Tangan
Sabtu, 15 Desember 2007 | 16:09 WIB 



TEMPO Interaktif, Yogyakarta:Wakil Presiden Jusuf Kalla mengimbau negara-negara 
maju agar ikut bertanggung jawab terhadap pelestarian sumber daya alam, 
khususnya hutan, untuk mengurangi risiko dampak perubahan iklim.

Alasannya, "Karena negara-negara maju juga ikut berkontribusi terhadap 
kerusakan hutan dan pencemaran iklim di Indonesia," kata Kalla saat membuka 
"Gerakan Reboisasi dan Rehabilitasi Hutan dan Lahan" di Gunung Kidul, Sabtu 
(15/12).

Pernyataan Kalla ini menanggapi alotnya kesepakatan Konferensi Perserikatan 
Bangsa-Bangsa untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) soal kesepakatan reduksi emisi. 
Dalam draf "Peta Jalan Bali" disebutkan bahwa negara maju wajib memangkas emisi 
karbon 25 sampai 45 persen dari tingkat emisi pada 1990 sampai 2012. Beberapa 
negara maju ada yang tidak sepakat perihal ini.

Kalla meminta kesadaran negara maju bahwa kelestarian lingkungan, khususnya 
hutan, adalah tanggung jawab bersama. Pasalnya, industri-industri di negara 
majulah yang banyak merusak hutan dan mencemari iklim Indonesia. "Kita harus 
memperbaiki hutan kita supaya kontribusi terhadap iklim dunia semakin 
signifikan," ujarnya.

Kalla menilai negara maju, juga negara tetangga, kadang hanya ingin menikmati 
kontribusi positifnya terhadap hutan Indonesia. Saat Indonesia mengalami 
masalah hutan, negara-negara tersebut hanya menyalahkan. "Kalau sumbangan 
oksigen selama 11 hari mereka tidak pernah berterima kasih, sedangkan saat 
hutan kebakaran mereka menyalahkan kita karena dampak asapnya," kata Kalla.

Anton Aprianto

Kirim email ke