Refleksi: Ratusan ribu entah mungkin juga jutaan hektar dijadikan perkebunan 
kelapa sawit.  Tetapi, untuk kedelai dan kebutuhan lainnya yang berfaedah bagi 
kebutuhan gizi dan kesehatan penduduk diabaikan. Pikir punya pikir, agaknya 
kalau  misalnya ditanam kedelai  sekalipun dalam skala besar tidak akan dapat 
memberi laba sebesar komisi  impor,  maka oleh karena itu sesuai perhitungan 
akal bulus  penguasa lebih baik diimpor saja supaya rejeki terus mengalir masuk 
kantong.  Karakter komparador pemerintah NKRI tercermin.

http://www.gatra.com/artikel.php?id=111528


Ironi Impor Negeri Tahu-Tempe

Sebagai negara agraris, Indonesia banyak mengimpor kebutuhan pangan, seperti 
beras, jagung, gula pasir, kedelai, dan kini menanggung ketergantungan tinggi 
pada gandum. Gandum, produk serealia dari daerah subtropis itu, kini menjadi 
bagian dari kebutuhan pokok.

Indonesia sempat bangga karena dua dasawarsa lalu bisa berswasembada beras. 
Namun itu hanya kebanggaan sesaat. Selama merdeka, swasembada hanya terjadi 
pada 1986, 1987, dan 1988. Ketika itu, Indonesia bisa mengekspor beras. Setelah 
itu, negara agraris ini sepertinya lebih senang mengandalkan beras impor untuk 
mencukupi perut penduduknya. Tahun lalu, misalnya, Indonesia mengimpor beras 
sebanyak 1,3 juta ton. Lebih dari separonya dari Vietnam.

Negara sosialis itu adalah eksportir beras terbesar kedua di dunia setelah 
Thailand. Setiap tahun, Vietnam mengekspor sekitar 4 juta ton beras. Sedangkan 
Thailand melempar berasnya ke pasar internasional sebesar 6,5 juta ton. Di luar 
Vietnam, beras yang mengalir ke Indonesia berasal dari Thailand, India, bahkan 
Taiwan.

Produksi beras petani di Indonesia sebenarnya cukup besar. Hingga kuartal 
ketiga tahun lalu, hasil panen dari sawah seluas 12,1 juta hektare sebanyak 57 
juta ton gabah. Setelah digiling, menghasilkan sekitar 32 juta ton beras. Toh, 
ini belum cukup untuk menjamin ketersediaan beras penduduk. Hasil tanam padi di 
2007 itu sebenarnya meningkat dibandingkan dengan tiga tahun sebelumnya. Dari 
tahun 2004 hingga 2006, sawah petani menghasilkan gabah di kisaran 54 juta ton.

Beras yang beredar di pasaran internasional rata-rata 30 juta ton setiap tahun. 
Pada 2005, Indonesia tercatat sebagai pengimpor beras terbesar di dunia. Ketika 
itu, sebanyak 3,1 juta ton atau 10% beras di pasar internasional mengalir ke 
Indonesia. Upaya untuk berswasembada terus digenjot, tapi hasilnya tetap 
memble. Indonesia tetap menjadi juara dalam urusan impor beras itu.

Toh, Anton Apriyantono, Menteri Pertanian, punya pendapat beda. "Sejak 2004 
kita sudah swasembada beras," katanya. Anton punya pengertian lain tentang 
swasembada. Kata dia, swasembada tercapai ketika sebuah negara sudah mencukupi 
kebutuhan 95% konsumsinya. "Nah, kita sudah memenuhinya," ia menambahkan.

Indonesia, kata Anton, terpaksa mengimpor beras untuk menjamin ketersediaan 
stok. Bila sewaktu-waktu ada bencana atau panen gagal di sebuah wilayah, 
pasokan beras dengan cepat bisa mengalir. Sebab, untuk mendapatkan beras, 
diperlukan proses yang makan waktu.

Untuk urusan kedelai, kondisinya lebih parah. Sebagian besar kebutuhan kedelai 
nasional, yang rakyat banyak mengonsumsinya dalam bentuk tahu-tempe, harus pula 
diimpor. Tahun lalu, misalnya, petani kedelai lokal hanya mampu memproduksi 
745.000 ton kedelai. Sedangkan kebutuhan nasional mencapai 2 juta ton. Sisanya 
mau tak mau mesti mengimpor. Kedelai impor ini sekitar 80%-nya berasal dari 
Amerika Serikat. Tahun lalu, negara adidaya itu mengekspor 980.000 ton kedelai 
ke Indonesia.

Indonesia menjadi sangat bergantung pada kedelai impor karena produksi kedelai 
dalam negeri terus merosot dari tahun ke tahun. Berdasarkan data Badan Pusat 
Statistik (BPS), pada 2005 produksi kedelai masih mencapai 808.000 ton. Ini 
dihasilkan dari lahan seluas 620.000 hektare. Tahun 2006, luas lahan menurun 
sebesar 6,4%, sehingga produksi kedelai ikut merosot menjadi 749.000 ton.

Karena sangat bergantung pada kedelai impor, ketika pasokan dari luar negeri 
menciut, Indonesia kelimpungan. Harga kedelai melambung hebat.

Mencetak lahan pertanian baru dan meningkatkan produktivitas mutlak dilakukan.

Irwan Andri Atmanto, Anthony, Rach Alida Bahaweres, dan Mukhlison S. Widodo
[Laporan Utama, Gatra Nomor 11 Beredar Kamis, 24 Januari 2008] 

<<55.jpg>>

Kirim email ke