http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2008030901125316

      Minggu, 9 Maret 2008 
     

      BURAS 
     
     
     

Teori Domino Busung Lapar! 


       
      H.Bambang Eka Wijaya:

      "SETELAH pekan lalu seorang ibu hamil dan balita putranya meninggal 
akibat kelaparan di Makassar, pekan ini disusul lima balita meninggal akibat 
busung lapar di Kabupaten Rote Ndao, NTT!" ujar Umar. "Lihat di running text, 
Pemkab-nya langsung menetapkan status peristiwa itu sebagai kejadian luar biasa 
busung lapar!" (Metro TV, 8-3).

      "Salah-salah langkah itu bisa berkembang jadi gejala teori domino busung 
lapar! Satu kartu jatuh, disusul kartu-kartu lain ikut jatuh!" sambut Amir. 
"Pekan lalu di Makassar dua korban jatuh, pekan ini di Rote lima korban jatuh, 
selanjutnya entah di mana lagi yang menyusul jatuh korban!"

      "Itu karena korban-korban yang mulai berjatuhan itu puncak gunung es, di 
bawahnya ada 5,1 juta balita bergizi buruk dengan 54 persen atau 2,6 juta jiwa 
terancam kematian seperti ditegaskan Dr. Yosep Hartadi (Buras, 3-3) dari FKUI!" 
timpal Umar.

      "Apalagi kalau politisi tetap berdarah dingin, seperti saat korban awal 
jatuh di Makassar dengan tenang berkata itu cuma gejala kelaparan pribadi, 
bukan bencana massal! Artinya tunggu korban tewas busung lapar ribuan orang 
dulu, barulah para politisi berpikir mengatasinya!"

      "Tapi, di luar politisi seperti itu kan masih banyak pihak lain yang 
peduli!" tegas Amir. "Ayo lihat lewat Google, cari 'Rote ndao busung lapar'. 
Itu dia dalam 0--21 detik keluar 306 situs terkait kasus busung lapar itu, 
termasuk situs resmi Menko Kesra! Artinya, tanpa politisi seperti itu pun 
banyak pihak yang peduli bencana kelaparan!"

      "Tapi kenapa ada politisi berdarah dingin dengan mengecilkan arti 
kejadian tragis itu?" tanya Umar.

      "Pinjam istilah eyang, mungkin politisi seperti itu belum nalar!" jawab 
Amir. "Nalar pada ungkapan eyang bukan cuma berarti rasional, tapi lebih jauh 
lagi, khazanah mental yang memahami! Dengan nalar, orang jadi peduli karena 
memahami penderitaan sesama!"

      "Kalau begitu, istilah nalar dalam kamus eyangmu sama dengan knowing 
minds yang dikemukakan Limas Sutanto!" sela Umar. "Meresapnya ketidak-pedulian 
terhadap nyawa manusia dalam kebiasaan hidup sehari-hari menandakan betapa 
bangsa ini miskin knowing minds! Begitu tulis Limas!" (Kompas, 6-3)

      "Kembali ke busung lapar, kenapa dana bertriliun-triliun yang dicurahkan 
dari pusat tiap tahun untuk mengatasi kemiskinan hasilnya malah busung lapar 
yang kian mencemaskan?" tukas Amir. "Dalam tahun berjalan ini saja, Rp80 
triliun disiapkan untuk kemiskinan!"

      "Mungkin masalahnya pada penyalurannya!" sambut Umar. "Apalagi jika 
penyalurannya lewat APBD, distribusinya diproses oleh para politisi kurang 
nalar seperti contoh tadi! Tak sulit ditebak, prioritas anggaran dari pusat itu 
berubah total di APBD, guna mendahulukan kebutuhan struktural aparat birokrasi! 
Akibatnya, kebutuhan warga

      miskin yang terangkum dalam anggaran publik tinggal kebagian 
sisa-sisanya!"

      "Kalau begitu, terhadap dana Rp80 triliun untuk mengatasi kemiskinan 
tahun ini, perlu dipikirkan mekanisme penyalurannya yang lebih baik agar 
terjamin sepenuhnya diterima dan dinikmati oleh warga yang hidup di bawah garis 
kemiskinan!" tegas Amir.

      "Hanya dengan begitu warga miskin bisa dientaskan dari bawah garis 
kemiskinan, sekaligus gejala teori domino busung lapar bisa dihentikan dari 
menelan korban berikutnya!"

      "Bersamaan itu, dalam mekanisme penyaluran bantuan buat kaum miskin itu 
diciptakan situasi dan kondisi yang menumbuhkan nalar politisi!" timpal Umar. 
"Dengan politisi bernalar, busung lapar tak lagi menjadi ancaman laten yang 
setiap kali kambuh akibat kealpaan para politisi!"
     

<<bening.gif>>

<<buras.jpg>>

Kirim email ke