http://www.acehkita.com/?dir=news&file=detail&id=2324

      Rabu, 12 Maret 2008, 02:54 WIB


      Korban Tsunami Kembali Demo BRR
      Reporter : AK News


      Banda Aceh, acehkita.com. Kantor Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi 
(BRR) Aceh-Nias di Banda Aceh kembali didemo korban tsunami. Setelah pada Senin 
(10/3) puluhan warga Desa Keude Panteraja, Pidie, mempertanyakan nasib dana 
rehab rumah yang rusak akibat gempa dan tsunami, kali ini sekitar 200-an korban 
tsunami dari berbagai daerah melancarkan unjukrasa di kantor tersebut, Selasa 
(11/3). Mereka menuntut supaya BRR tidak memangkas besaran dana rehab rumah. 


      Massa yang menamakan diri Aliansi Masyarakat Korban Tsunami Aceh tiba di 
kantor BRR Lueng Bata menjelang salat Dhuhur. Puluhan personel Poltabes Banda 
Aceh yang sejak pagi berjaga-jaga di kantor tersebut langsung menutup pintu 
masuk kantor BRR, sehingga warga tertahan di ruas Jalan Mohd Thaher. Mereka 
mengusung poster yang bertulisan nada kekecewaan terhadap BRR. 


      Koordinator Aksi Yusuf Qardhawi dalam orasinya mempertanyakan alasan BRR 
memangkas dana rehab rumah dari Rp15 juta per kepala keluarga menjadi Rp2,5 
juta. "Kenapa korban tsunami di Kota Banda Aceh mendapat Rp15 juta untuk dana 
rehab rumah, tapi kenapa kami di kabupaten lain hanya Rp2,5 juta," kata Yusuf 
melalui pengeras suara. "Kuntoro ingkar janji." 


      Massa juga berteriak mengecam BRR. Kuntoro dinilai tidak berlaku adil 
dalam membangun kembali Aceh pascagempa dan tsunami. Seorang korban tsunami 
asal Sigli, Pidie, menyebut, Kuntoro pilih kasih dan membeda-bedakan saat 
memberi bantuan. "Kuntoro tidak adil, Kuntoro ke laut," ujar warga tersebut. 


      Dalam aksi tersebut, massa juga menyampaikan petisi kepada BRR, yang 
menuntut pergantian Kepala BRR Kuntoro Mangkusubroto dan Deputi Perumahan 
Bambang Sudiatmo. Selain itu, mereka juga menolak pemberian dana rehab rumah di 
bawah nominal Rp10 juta, dan meminta supaya proses pendataan dan verifikasi 
kembali korban tsunami dilakukan KP4D. "Jika tidak diindahkan oleh BRR, maka 
jangan salahkan kami jika menempuh upaya lain," ujar Yusuf saat membacakan 
petisi di hadapan Deputi Perumahan Bambang Sudiatmo, Wisnubroto (perumahan), 
dan Direktur Komunikasi Juanda Djamal. 


      Usai dibacakan, petisi diserahkan kepada Bambang Sudiatmo. "Saya sudah 
menerima petisi ini dan nanti akan saya teruskan kepada Pak Kuntoro," kata 
Bambang Sudiatmo. 


      Massa kemudian membubarkan diri. 


      Sementara itu saat meresmikan pembangunan jembatan Laguna Ulee Lheue 
beberapa waktu lalu, Kepala BRR Kuntoro Mangkusubroto beralasan, penetapan 
angka Rp2,5 juta untuk rehab rumah karena pagu sudah kecil. "Kedua, korban 
gempa dan tsunami banyak yang telah merehab rumahnya secara mandiri," kata 
Kuntoto, Rabu (5/3). 


      Kuntoro mengakui jumlah Rp2,5 juta relatif rendah, tapi jika diterima 
masih memberikan arti bagi korban tsunami. "Tiga tahun lalu, BRR menyalurkan 
dana kepada korban tsunami yang rumahnya rusak berat di Banda Aceh dan Aceh 
Besar senilai Rp15 juta, karena saat itu kerusakannya masih bisa dihitung. 
Sementara untuk saat ini banyak rumah yang telah direhab secara mandiri, 
sehingga sulit untuk menghitung kerusakannya," kilah Kuntoro. 


      Namun, Yusuf tak lantas percaya pada omongan Kuntoro. Dalam orasinya 
Yusuf menyebutkan, mengecilnya anggaran yang dikelola BRR tidak terlepas dari 
kinerja yang mengecewakan. Apalagi, banyak pagu yang tidak berhasil diserap 
BRR, sehingga dana tersebut harus dikembalikan ke rekening negara. [dzie] 

     
        

Kirim email ke