http://www.poskota.co.id/news_baca.asp?id=51057&ik=6
Bandit Jalanan Makin Menakutkan Sabtu 31 Januari 2009, Jam: 6:09:00 JAKARTA (Pos Kota) - Masih banyaknya lokasi rawan aksi premanisme dan bandit jalanan membuat Presiden Susilo Yudhoyono kembali mengingatkan jajaran Polri. Presiden menilai daerah Kampung Rambutan, Tanah Abang dan Senen sebagai lokasi yang menakutkan masyarakat. "Masyarakat bila berjalan terutama di malam hari di Rambutan, Tanah Abang dan Senen misalnya, tidak aman," kata SBY saat meresmikan program Quick Win di Mabes Polri, Jumat (30/1). Di depan Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri, para kapolda, Jaksa Agung Hendarman Supanji, Gubernur DKI Fauzi Bowo dan para pejabat lainnya, presiden kembali menekankan pentingnya pemberantasan aksi premanisme yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi dan membuat masyarakat resah. "Selama 24 jam, baik siang maupun malam ciptakan rasa aman pada masyarakat. Perangi kejahatan, lawan itu aksi premanisme, saya dukung operasi premanisme. Jangan sampai pemerintah kalah bahkan bisa diatur oleh preman," tegas SBY. Presiden juga mendukung program Quick Win yang diluncurkan oleh Polri di bidang reserse dan lalu lintas. "Pelayanan kepada masyarakat harus cepat, murah, mudah dan akuntabel. Tingkatkan kualitas pelayanan," SBY juga mengkritik nama program Quick Win yang menggunakan bahasa asing. "Cobalah cari Bahasa Indonesia yang pas, yang ces pleng, lebih jos, lebih pas, dan lebih memasyarakat. Konsultasikan kepada ahli bahasa," jelasnya seraya meminta agar Polri transparan dalam menangani kasus sehingga tidak muncul rumor buruk di masyarakat. TANAH ABANG & SENEN Apa yang disebut SBY tentang kualitas kerawanan di titik-titik tertentu. Data yang diperoleh, aksi kejahatan di wilayah Jakarta Pusat banyak terjadi di daerah Tanah Abang, Sawah Besar, Kemayoran, dan Senen. Kawasan Tanah Abang dan Senen sejak dulu dikenal paling rawan dengan tindak kriminal. Di sekitar Terminal Senen atau Pasar Senen atau stasiun, preman berkedok tukang parkir, pemalak, copet dan jambret sering beraksi. Berpuluh kali dirazia, mereka tetap beraksi lagi. Begitu pula di kawasan Tanah Abang, memang dikenal rawan kejahatan. Terlebih pada malam hari terutama di daerah 'warung remang-remang' daerah Bongkaran. Aksi kejahatan beragam, dari penjambretan, pencurian kendaraan bermotor, pencopetan, pemerasan, prostitusi hingga penganiayaan kerap terjadi. Para penjual miras yang bisa menjadi pemicu terjadinya kejahatan, juga marak. Menyikapi kembali maraknya street crime (kejahatan jalanan) di wilayahnya, Polres Jakarta Pusat terus melakukan operasi preman dengan nama sandi 'Operasi Selektif'. Kapolres Jakarta Pusat, Kombes Pol. Ike Edwin, menyatakan tidak tinggal diam dalam menanggulangi kejahatan jalanan yang ada dibeberapa wilayah hukumnya tersebut. "Kami terus menggelar operasi premanisme dan memerengi kejahatan, para pelakunya kita tangkap dan diproses secara hukum," kata Ike didampingi Wakapolres, AKBP AR. Yoyol. Sepanjang Januari 2009 petugas telah melakukan penindakan 65 kali dengan jumlah tersangka 207 orang, di antaranya 36 orang ditahan dan selebihnya dilakukan pembinaan. Di beberapa titik rawan, menurut kapolres anggotanya akan terus ditempatkan di titik rawan kejahatan. Seperti pada Jumat (30/1) dinihari, dua penjambret ditangkap petugas patko (patroli kota) usai merampas tas milik Anggraini,20, di di Jalan Karawang, Menteng. Dua pelaku, Stanly,25, dan Warjo,29, disita golok, samurai serta Yamaha Yupiter B 6737 UHJ, yang dipakai saat beraksi. JAKARTA TIMUR Di daerah Kampung Rambutan, potensi kerawanan antara lain terlihat di Terminal Rambutan, baik terminal antarkota maupun terminal dalam kota. Sejumlah pria sering meminta uang jago dari angkutan umum Rp500 untuk sekali ngetem. Daerah Pulogadung juga termasuk lokasi yang rawan. Awak angkutan tak berani menolak. Pungutan serupa juga terpantau di putaran Jalan Baru, tempat bis berputar mengangkut penumpang. Selain itu, adanya warung miras di sekitar terminal juga berpotensi tindak kriminal. Perkelahian menggunakan senjata tajam pun bisa terjadi di antara orang-orang yang tengah mabuk itu. Di tengarai, sejumlah copet juga mabuk sebelum beraksi menggasak dompet atau HP calon penumpang. Manangapi pernyataan presiden, Kapolres Metro Jaktim Kombes Hasanudin mengatakan segera meningkatkan patroli. "Sekarang ini, dari tempat itu kami biasa mengirim 10 hingga 15 preman hasil razia ke Panti Sosial Cipayung," ujarnya. "Razia akan ditingkatkan setiap hari." Laporan terhadap preman, menurutnya, selama ini bersifat informal melalui nomor pengaduan langsung ke HP-nya. Bahkan setelah ditelusuri pelapor banyak yang mengaku tak tahu nama dan lupa wajah pemalaknya. Mengenai sikap main mata oknum petugas dengan preman, Kapolres mengatakan tak menutup kemungkinan ada anak buahnya yang terima upeti dari preman. Sejauh ini, sejumlah oknum polisi yang menerima uang dari preman telah kena sanksi di antaranya dimutasi. "Oknum bukan hanya satu tau dua. Mereka umumnya berpangkat bintara, tapi apapun pangkatnya tetap salah kalau ikut-ikutan menjadi preman," jelasnya seraya menyebut oknum tersebut antara lain beroperasi di sekitar pertokoan Tamini Square, tak jauh dari Rambutan dan kawasan Duren Sawit
