Refleksi: Merubah wajah bisa saja, merubah wajah berbeda dengan merubah isi dan fundasinya, tak ada yang berubah ibarat kuburan yang dilapur kapur atau dicet putih, kelihatan indah bersih, tetapi di dalamnya terisi tulang belulang dan tengkorak.
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0905/14/sh08.html Boediono Diharapkan Ubah Wajah Perekonomian Indonesia Jakarta - Boediono yang menganut paradigma ekonomi neoliberal diminta bisa melakukan penyesuaian agar dapat diaplikasikan positif dalam ekonomi Pancasila. Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi LIPI Wijaya Adi, yang dihubungi SH, Kamis (14/5), mengatakan pencalonan Boediono sebagai cawapres mendatang diharapkan banyak pihak dapat mengubah wajah perekonomian negeri menjadi lebih baik dan mandiri. "Jika hanya berpegang pada aliran neoliberal yang sangat kuat dianutnya, tentu akan menjadi pertanyaan besar apakah masalah ekonomi di negeri ini dapat teratasi. Harus ada penyesuaian, tidak selalu menganut kebebasan, tetapi juga harus mengacu pada nasionalisme yang tinggi, contohnya seperti India," ungkapnya. Ia meyakini, jika dilihat dari latar belakang pendidikan dan rekam jejak Boediono dalam kancah perekonomian yang cukup baik, bukan tidak mungkin perubahan ekonomi bangsa yang mandiri akan terwujud. Menurutnya, memang perlu ada pembatasan yang jelas di segala sektor dalam penerapan paradigma ekonomi selanjutnya. "Kita memang tidak bisa menutup diri dari perkembangan luar negeri yang semakin maju. Ini sangat konyol. Namun, tetap harus ada batasan dalam keterbukaannya, istilahnya jangan sampai bangsa ini 'telanjang' terhadap pengaruh asing," jelasnya. Kata Wijaya, sikap ketergantungan juga sangat tidak baik. "Perlahan namun pasti, kita harus mengurangi utang luar negeri. Pasti, akan ada jalan bagaimana memanfaatkan kemampuan bangsa ini menjadi lebih optimal," ungkapnya. Terkait paradigma ekonomi neoliberalisme yang tetap harus mengacu pada semangat nasionalisme, lanjutnya, perlu ada konsistensi sikap yang jelas dari pemerintah. "Kalau ada pengusaha besar yang siap berkompetisi dengan asing, ya silakan, tetapi tetap harus ada perlindungan bagi pengusaha kecil di Tanah Air," ujarnya. Pengamat INDEF Fadhil Hassan juga mengatakan bahwa posisi Boediono sebagai ekonom yang berpengalaman memungkinkan bisa mengubah wajah perekonomian bangsa ke arah lebih baik. Hanya saja, katanya, tidak semua pihak mempunyai kesepahaman yang luwes soal paradigma neoliberalisme yang dianutnya. Terkait hal tersebut, katanya, perlu ada penekanan bahwa kebijakannya nanti harus berorientasi dan berpihak pada ekonomi masyarakat menengah ke bawah. "Masalah ekonomi kita kan tidak terbatas pada pasar modal, masih banyak pasar yang lebih riil dalam lingkup masyarakat luas yang perlu didukung," ujarnya.
