http://www.lampungpost.com/aktual/berita.php?id=8362
Minggu, 24 Mei 2009
POLITIK
Jika Menang, Prabowo Tak Janji Akan Tutup Mal Asing
JAKARTA (LampostOnline): Jika menang dalam Pilpres 2009 nanti, pasangan
Mega-Prabowo tidak berjanji akan menutup mal-mal asing yang banyak bertebaran
di Indonesia. Rasa nasionalisme yang justru akan dikembangkan agar masyarakat
sadar.
"Kalau kami jadi presiden saya tidak akan berjanji menutup ini-itu,
hypermart ini-itu, tetapi akan membangkitkan rasa nasionalisme untuk rakyat
Indonesia," ujar cawapres Prabowo Subianto dalam dialog budaya yang berlangsung
di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Pasar Baru, Jakarta Pusat, Minggu (24-5).
Prabowo menceritakan pengalaman masyarakat Jepang yang lebih suka mal
lokal. Di Jepang, kata Prabowo, ada sebuah hypermarket terbesar dari AS,
bernama Wall Mart. Setelah beroperasi 5 tahun di Jepang, mal tersebut tutup
lantaran orang Jepang tidak ada yang belanja di sana.
"Hal itulah yang ingin saya tanamkan pada masyarakat Indonesia. Karena
kalau kita larang dengan UU seperti halnya dengan larangan ekspor, nantinya
kita juga kena kalau ekspor," kata Prabowo.
Prabowo menyinggung para elit yang selama ini bermental kalah. Tidak
hanya elit politik, para profesor Indonesia selalu degdegan jika berhadapan
dengan profesor berkulit putih.
Prabowo juga bercerita pengalamannya saat mengucapkan misi dan visi untuk
konvensi capres di Golkar 2004 lalu. "Saya ditanggap oleh profesor dari
Australia. Tapi saya menolak tapi ini bukan karena saya anti asing, tapi tidak
ada yang lebih mengerti bangsa Indonesia selain bangsa Indonesia sendiri.
Selain itu mana ada profesor kita yang diundang oleh partai luar negeri," imbuh
mantan menantu Soeharto ini.
"Bangsa kita terlalu naif dan lugu. Kita selalu menganggap bangsa lain
punya niat yang baik, padahal tidak semuanya demikian. Jika kami terpilih maka
pendidikan dan kepemimpinan akan kita benahi," kata Prabowo. DTC/L-1
++++
http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/05/23/headline/krn.20090523.166019.id.html
Edisi 23 Mei 2009
Megawati Kritik Dominasi Asing
Kontrak gas Tangguh di masa Mega justru dikritik Kalla.
JAKARTA -- Setelah Jusuf Kalla, kemarin giliran Megawati Soekarnoputri yang
mengkritik dominannya peran asing dalam perekonomian Indonesia.
"Mengapa potensi kita diberikan kepada orang lain?" ujarnya dalam "Dialog
Presiden 2009", yang digelar Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), di
Jakarta kemarin.
Megawati, yang merupakan calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan dan Partai Gerakan Indonesia Raya, menyatakan Indonesia memiliki
potensi sumber daya alam yang bisa diolah sendiri.
Bahan tambang dan pertanian, kata dia, merupakan bahan mentah yang mestinya
tidak diberikan kepada pihak lain. "Kenapa tidak buat kita sendiri?" dia
menambahkan.
Dalam dialog tersebut, Megawati didampingi calon wakil presiden Prabowo
Subianto, Sekretaris Jenderal PDIP Pramono Anung, Ketua PDIP Tjahjo Kumolo, dan
putrinya, Puan Maharani.
Dia menuturkan, ketergantungan terhadap pihak asing tidak hanya dalam
pengelolaan sumber daya alam, tapi juga dalam produk industri. "Kenapa sekrup
kecil saja buatan Cina?" ujarnya.
Ia juga menyebut, banyak kontrak kerja sama dengan pihak asing yang merugikan
Indonesia. "Setelah saya baca sendiri, kita banyak dirugikan, seharusnya
equal," tuturnya. "Akses pasar terbuka bukan berarti sembarangan (investor)
bisa masuk."
Keyakinan Mega itu sebelumnya justru dipertanyakan oleh Jusuf Kalla, calon
presiden dari gabungan Partai Golkar dan Hanura. Dalam dialog dengan para
pengusaha, Kalla mengkritik kebijakan penjualan gas alam cair Tangguh di Papua
pada 2002, yang dilakukan semasa pemerintahan Megawati.
Kalla menilai harga gas Tangguh merupakan yang termurah di dunia. Itu sebabnya,
ia telah meminta pemerintah melakukan negosiasi ulang kontrak dengan pemerintah
Cina. "Sekarang saya tidak tahu hasilnya sampai di mana," ujarnya.
Saat kontrak Tangguh diteken, Menteri Keuangan dijabat oleh Boediono, sedangkan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral diemban oleh Purnomo Yusgiantoro.
Kalla juga mengklaim dirinya merupakan satu-satunya menteri di era Megawati
yang anti terhadap lembaga Dana Moneter Internasional (IMF). "Tidak ada menteri
yang melawan IMF kecuali saya," katanya tiga hari lalu.
Pernyataan itu bisa bermakna bahwa di mata Kalla, Megawati dan Kwik Kian
Gie--saat itu menjabat Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional--yang kemarin
menuding Boediono sebagai pendukung neoliberalisme, termasuk yang tunduk kepada
IMF.
Dalam dialog dengan para pengusaha, Megawati tak menyebut target pertumbuhan
ekonomi jika dia menjadi presiden. Alasannya, masih menunggu perkembangan
ekonomi dalam empat bulan ke depan. Namun, dalam jumpa pers, Prabowo menyatakan
ekonomi bisa tumbuh 10 persen. "Dua digit bukan suatu hal yang mustahil,"
ujarnya.
Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Erwin Aksa mengatakan Megawati
belum memberikan gambaran yang jelas tentang program ekonominya kepada para
pengusaha. "Paparannya sangat makro, masih butuh ketajaman," katanya.
Wakil Ketua Kadin Benny Sutrisno pun ragu terhadap target pertumbuhan yang
dipatok Prabowo. "Sepuluh persen terlalu jauh, tidak realistis," ujarnya.
Dengan kondisi krisis ekonomi global, pertumbuhan ekonomi maksimal 6-7 persen.
ALI NY | DWI RIYANTO AGUSTIAR | VENNIE MELYANIE
<<bening.gif>>
