Adakah Duka Lebih Duka yang Kita Punya, Anantaguna?
Today at 06:52 oleh Asep Sambodja Pramoedya Ananta Toer (2003) dalam buku Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia mengatakan bahwa sajak “Potret Seorang Komunis” karya Sabar Anantaguna dan “Demokrasi” karya Agam Wispi merupakan prestasi sastra realisme sosialis yang telah mendapatkan bentuk dan pengucapan yang tepat. Pernyataan Pramoedya ini menggelitik saya untuk mengetahui lebih jauh tentang kepenyairan Sabar Anantaguna, sekaligus ingin mengetahui puisi seperti apa yang menjadi “selera” Pramoedya Ananta Toer itu. Dalam buku Gugur Merah yang dihimpun Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan (2008), kita bisa menemukan kedua puisi tersebut. Namun, saya ingin memfokuskan pembicaraan pada puisi-puisi S. Anantaguna. Berikut puisi “Potret Seorang Komunis” yang dipuji Pramoedya sebagai “prestasi sastra realisme sosialis” itu. Potret Seorang Komunis Adakah duka lebih duka yang kita punya kawan meninggal dan darahnya kental di pipi tapi kenangan kesayangan punya tempat dalam hati Adakah tangis lebih tangis yang kita punya badan lesu dan napas sendat di dada tapi hasrat dan kerja berkejaran dalam waktu Bila terpikir bila terasa bila kesadaran mencari dirinya bila pernah ditakuti tapi juga disayangi bila kalah pun berlampauan dan menang akan datang adalah dada begitu sarat keinginan akan nyanyi dan apakah yang aku bisa selain hidup adalah bangga lebih bangga yang kita punya di pagi manis daun berbisikan tentang komunis begitu lembut begitu mesra didesirkan hari biru Adakah cinta lebih cinta yang kita punya sebagai kesetiaan yang berkibar di waktu kerja Secara tersurat kita bisa melihat bagaimana permainan repetisi yang dilakukan S. Anantaguna menghasilkan keindahan bunyi dan irama, yang membuat puisi ini tampak cantik. Sementara secara tersirat bisa kita rasakan bagaimana penggambaran Anantaguna tentang seorang komunis. Kematian seorang komunis begitu menyisakan luka yang mendalam, sehingga timbul tanya: adakah duka yang lebih duka yang kita punya? Rasa duka itu timbul karena sesama orang komunis terjalin tali silaturahmi yang demikian kuat; sesama komunis adalah bersaudara. Puisi tersebut juga memperlihatkan ciri khas puisi sastrawan-sastrawan Lekra pada umumnya. Meskipun mereka berduka atas kematian sahabatnya, hingga tak terkatakan lagi, “adakah tangis lebih tangis yang kita punya”, mereka tidak boleh atau diharamkan untuk larut dalam kesedihan dan kepiluan itu. Tidak boleh sentimental. Tidak boleh cengeng. Karena itu, dalam puisi duka semacam itu harus tetap ada “hasrat” dan “kerja”. Sehingga terbaca di akhir puisi: adakah cinta lebih cinta yang kita punya, sebagai kesetiaan yang berkibar di waktu kerja? Demikianlah potret seorang komunis yang saya tangkap dari puisi S. Anantaguna. Kalaupun harus menulis puisi tentang kematian, maka tidak melulu takluk pada kematian itu an sich, melainkan harus ada setitik harapan. Dalam puisi “Demokrasi” karya Anantaguna, saya melihat sistem pemerintahan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat itu demikian melekat pada dirinya. Puisi ini mengingatkan saya pada novel A. Kohar Ibrahim (2008), Sitoyen Saint-Jean, yang merasa mendapatkan kehidupan yang benar-benar demokratis justru di negara Kerajaan Belgia; dan tidak ia dapatkan di negara yang menganut paham Suhartokrasi. Berikut saya kutip puisi “Demokrasi” S. Anantaguna: Demokrasi Lantangkan suaramu dan katakan kau bisa membantai bulan Rakyat begitu merdu dan matahari begini tinggi Lantangkan suaramu dan katakan kau bisa bikin demokrasi mati Rakyat begitu cinta dan aku tak ada batasnya Sorak, sorakkan keparauan—kesumbangan tanahku tanah air dan nyanyiku adalah bumi sorak, sorakkan kepahitan—kekalahan bila gagang api kau todongkan aku ini api Di sini, di sini aku berdiri di sinilah ada aku, aku, aku, sebanyak bintang-bintang di pohon para di batang padi di debu kota di mana saja Jangan coba sentuh aku jangan coba bunuh aku karena matahari telah telanjur begini tinggi Dalam puisi tersebut, Anantaguna menyatukan dirinya dengan demokrasi itu sendiri. Dan ia menantang kepada orang-orang, penguasa, tiran, diktator, atau siapa pun yang mencoba membunuh demokrasi untuk menaklukkannya. Niscaya tak akan bisa, karena vox populi vox Dei, suara rakyat adalah suara Tuhan. Dalam hal ini, saya teringat dengan ucapan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfoed M.D. pada hari bersejarah 3 November 2009, “Siapa pun yang berusaha menghalangi arus rakyat, maka dia akan tergulung dan tergilas.” Demikian sejarah mengajarkan pada para penguasa untuk bersikap bijaksana dengan suara rakyat. “Rakyat begitu cinta dan aku tak ada batasnya.” S. Anantaguna adalah salah satu penyair Lekra yang kuat dalam menyampaikan pesan namun tidak kehilangan greget kepenyairannya. Tidak salah kalau seorang Pramoedya Ananta Toer terpikat dengan puisi-puisi Anantaguna. Sebab, kalau kita perhatikan, puisi-puisi Anantaguna merupakan ekspresi dari hasil penyelaman dan penghayatan penyairnya yang masuk ke lubuk sanubari masyarakat. Dan selalu saja yang menjadi perhatian untuk dibelanya adalah rakyat kecil. Berikut ini saya kutip secara utuh puisi “Terlalu” yang memperlihatkan perhatiannya yang begitu besar pada rasa keadilan rakyat. Terlalu Terlalu banyak kisah dan terlalu pendek waktu menulis sejarah di pelabuhan aku lihat kaki-kaki proletariat bolak-balik di dermaga bila dijumlah berpuluh kilo dilaluinya juga lewat pundaknya berjuta-juta kekayaan negara dan swasta belum pernah dirasakan Terlalu banyak kulihat dan terlalu sedikit kertas untuk mencatat di sawah ladang petani mengabdi revolusi bila dihitung betapa truk produksi padi lewat tangannya juga nasi pemimpin, jenderal, intelektual, semua berhutang kepada keringatnya Terlalu banyak kisah dan terlalu sedikit kebenaran dalam buku sejarah kepahlawanan proletariat prajurit yang cacat yang gugur di malam pekat dan berapa rim sudah kertas terbuang juga bermiliar-miliar kas negara keluar uang koruptor bilang “pejuang” Terlalu banyak kudengar ratusan gadis jual diri karena lapar mereka anak proletariat anak petani keluar keringat mereka pun membayar pajak sama berat membayar merdeka dan revolusi dengan taat si genit anak komprador kapasitas birokrat gelandangan terlalu banyak waktu kantongnya padat Ah dik, jangan keliru mengutuki tanah air meski beribu drum tinta sudah mengalir pengarang-pengarang gadungan risau hati humanisme begitu takut kehilangan imperialisme sarjana-soska bohong di universitas aku pilih rakyat berjuang Indonesia bebas! Bait pertama hingga keempat, penyair Anantaguna menggambarkan penderitaan buruh, tani, prajurit, dan kaum perempuan. Dalam bait-bait itu juga ada ironi. Buruh dan petani yang bekerja keras tidak mendapatkan penghargaan sesuai dengan yang mereka lakukan. Begitu pula dengan prajurit yang telah berjuang di garis depan, dan mengalami cacat akibat perang, hidupnya tidak pernah dicatat dalam buku sejarah. Selama ini buku-buku sejarah hanya mencatat para penggede; padahal yang memberi mereka makan, kemudahan, dan kemewahan adalah orang-orang yang berada di bawah. Sistem kapitalisme seperti ini memang menyedot keringat kaum buruh, tani, prajurit, dan kaum proletar, kaum miskin kota dan kaum miskin desa, orang-orang yang senantiasa terpinggirkan. Dan, penyair-penyair salon atau “pengarang-pengarang gadungan risauhati humanisme begitu takut kehilangan imperialisme,” pun “sarjana-soska bohong di universitas,” tegas penyair Anantaguna. Apakah “sarjana-soska” itu? Menurut Ahmad Sujai, pengajar Sastra Rusia UI, soska yang dimaksud di situ sama seperti sosis. Jadi, ungkapan itu kurang lebih bermakna “sarjana yang bermental sosis”. Jika kita buka kamus bahasa Prancis, kita akan menemukan kata sans souci yang berarti “tidak peduli”. Jadi, kemungkinan penyair Anantaguna ingin mengkritik para sarjana dengan ungkapan “sarjana-soska” atau “sarjana yang tidak peduli” yang tidak memberikan ilmu kehidupan bagi mahasiswa. Citayam, 8 November 2009 Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/ http://sastrapembebasan.wordpress.com/
