Original Sender : "Yudi Wijaya" <[EMAIL PROTECTED]> --------------------------------- Hi, sekedar info saja boleh percaya atau tidak > > ini saya dappat fwd-an jawaban dari Makro, mungkin ada yg interest baca.. > > > > > > >Jawaban PT. Makro Indonesia > > > > > >Pertama kali manajemen PT. Makro Indonesia mengucapkan terima kasih atas > > informasi melalui jaringan Internet dan Telepon mengenai kasus Bp. > > Djunaedi, Usaha Jaya Toko, Nomor Anggota 01.224459.90, Jakarta Timur, > > saat berbelanja di Toko Makro Pasar Rebo, 14 November 1999. > > > > > >Kejadiannya adalah bahwa Bp. Djunaedi menukar barcode sepatu Dunlop > > seharga Rp. 45.000,- dengan barcode sepatu Dunlop senilai Rp. 39.000,- > > sehingga melalui proses security yang berlaku di seluruh Toko Makro di > > Indonesia, tindakan seperti itu dikategorikan sebagai tindakan yang > > merugikan operasional bisnis Makro secara keseluruhan. Atas kejadian > > tersebut Bp. Djunaedi bersedia menerima tawaran melalui jalan damai, > karena > > Bp. Djunaedi tidak bersedia untuk diproses lebih lanjut di Kepolisian > > setempat. > > > > > >Dari fakta tersebut di atas manajemen PT. Makro Indonesia perlu > > menyampaikan sikapnya sebagai berikut: > > > > > >PERTAMA: Faktanya adalah customer menukar barcode barang yang dibeli > > dengan barcode lain yang lebih murah sesuai dengan Berita Acara dan > > Pengakuan dari Bp. Djunaedi sendiri di hadapan petugas Makro. > > > > > >KEDUA: Sesuai dengan prosedur kami, dalam industri ritel, kejadian > > penukaran barcode yang lebih mahal dengan barcode yang lebih murah akan > > dibawa ke pihak yang berwajib/Polisi. > > > > > >KETIGA: Sebelum dibawa ke Polisi, customer yang bersangkutan diminta > > pendapatnya apakah mau diselesaikan secara damai atau diteruskan ke > Polisi. > > Dan customer memilih untuk diselesaikan di tempat. Dan setelah masalahnya > > dianggap selesai, maka kartu belanja telah dikembalikan kepada Bp. > Djunaedi > > pada Senin 15 November 1999. > > > > > > > >KEEMPAT: Apabila sekarang ini Bp. Djunaedi masih kurang puas atas > > penyelesaian masalah di atas, maka manajemen PT. Makro Indonesia membuka > > kesempatan untuk naik banding dengan cara Bp. Djunaedi bertemu dengan > salah > > seorang Direktur PT. Makro Indonesia di Kantor Pusat Makro, Jl. Lingkar > > Luar Selatan kav. 5-6, Jakarta 13750. Penyelesaian seperti ini akan jauh > > lebih efektif dan lebih baik daripada lewat tilpun atau lewat Internet. > > > > > >KELIMA: Kepada Pelanggan-Pelanggan Toko Makro yang lain di seluruh > > Indonesia, perlu kami tegaskan sekali lagi bahwa Makro tetap akan > > memberikan komitmen terbaiknya bagi pelanggan-pelanggannya, yakni untuk > > memberikan harga yang termurah dengan kualitas baik serta Pelayanan kepada > > customer yang sebaik mungkin dan seramah-ramahnya. Silakan berbelanja di > > Makro dengan aturan dan prosedur berbelanja yang terpampang di pintu masuk > > Toko Makro. Dan kami mengharapkan juga bahwa kalau ada barang yang mau > > dibeli dan tidak ada barcodenya, silakan hubungi petugas/karyawan Makro. > > > > > > > > >KEENAM: Apabila ada yang kurang berkenan dalam membaca penyelesaian > > masalah di atas, dengan segala kerendahan hati, kami mohon maaf yang > > sebesar-besarnya. > > > > > >Basuki Ismael > > >Humas Resorces & Industrial Relations Manager/ > > >Public Relations Manager > > >PT. Makro Indonesia > > > > > > > > >-----Original Message----- (ditampilkan sebagai referensi-pen) > > >Subject: Hati-hati berbelanja di MAKRO > > > > > >> HATI-HATI BELANJA KE MAKRO....! > > >> > > >> Nama saya (Junaedi, PT.TAM, PAD, MCDP Engine Plant, Noreg. 893421, ext > > >> 1740)mengalami kejadian yang sangat tidak mengenakkan hati di Pusat > > >> Perbeelanjaan Makro Pasar Rebo, ceritanya begini: > > >> > > >> Minggu 14 November Saya belanja, Beras, susu, indomie dan > > >> kebutuhan-kebutuhan rumah tangga yang lain. Tidak lupa dia membeli > barang > > >> yang selama ini didambakan yakni sepatu cats. Disinilah masalah mulai > > >> timbul. > > >> Pilih sana sini cari sepatu yang murah, saya pilih sepatu cats merek > > >> Dunlop tidak bertali nomor 39 yang stok tinggal satu-satunya. Namun ada > > >> masalah dengan sepatu tersebut, yaitu barcode-nya tidak ada, dan > dilihat > > >> disebelah sepatu tersebut ada barcode tidak bertuan, tergeletak begitu > > >> saja pada sepatu yang sama tapi nomornya beda, yaitu nomor 38 (Bentuk > > >> barcode untuk sepatu Dunlop sama yakni diikat menggunakan tali / > insulock > > >> dan dicantelkan disepatunya). Saya berpikir itu pasti barcode sepatu > nomor > > >> 39 yang akan Saya ambil, mungkin terjatuh pikirku (harga barang tidak > > >> tercantum pada barcode). > > >> > > >> Selesai belanja Saya ke Kasir, pada saat di scan oleh kasir (Saya > Belanja > > >> sebanya Rp 428.000 termasuk sepatu, yang harganya menurut barcode Rp > > >> 39.000 discount sekian persen karena ada discount) tidak bermasalah > (tentu > > >> saja kasir sudah cek kesesuaian antara barang dan barcode) kemudian > Saya > > >> melewati kasir dan di cek oleh Cecker/Inspektor dan pengecekan juga > oke. > > >> > > >> Pada saat mau keluar Saya tiba-tiba dihampiri oleh seseorang (Satpam) > > >> berpakaian preman dan diperintahkan ke ruangan yang letaknya dilantai > > >> atas. > > >> "Ada apa pak...?" Saya kebingungan karena merasa tak bersalah > > >> "Tunggu saja disini" satpam keluar ruangan. > > > > >> > > >> Beberapa saat kemudian datang dua orang lagi, satu berpakaian preman > dan > > >> satunya berpakaian satpam namanya Sutrisno (terpampang di dadanya). Dan > > >> peristiwa selanjutnya yang terjadi adalah investigasi dengan tuduhan > > >> pencurian karena menukar barcode, seluruh tubuh saya digeledah dompet > > >> dibuka dll persis seperti maling. > > >> Belakangan diketahui bahwa sepatu yang Saya beli seharusnya Dunlop > > >> berharga Rp 45.000 sedang barcode tak bertuan yang Saya tempelin sepatu > > >> Dunlop berharga Rp 39.000 beda Rp 6.000) dan Saya juga bilang ke > satpam > > >> akan balik ke kasir bayar kekurangannya atau membatalkan saja > > >> transaksinya. > > >> Tapi dijawab tidak bisa oleh satpamnya. Saya minta ijin akan menghadap > > >> langsung ke bagian Customer Service Makro tapi dilarang juga. > > >> > > >> Tingkah Polah satpam Makro waktu itu melebihi marahnya seorang > Jenderal ; > > >> menggebrak meja, membentak,mengumpat ,memaksa Saya mengaku maling dan > > >> berpidato "setiap bulan Makro mendrita kerugian 50 jutaan karena > > >> kehilangan barang....!!" > > >> Tidak lama kemudian Saya disodori surat pernyataan yang harus > > >> ditandatangani yang isinya menyatakan saya bersalah melakukan tindak > > >> pencurian dan harus membayar kerugian ke Makro. Besarnya ganti kerugian > > >> ditentukan satpam Makro sebesaar 10 kali lipat harga barang atau > sebesar > > >> Rp 450.000 (ini aturan Makro karanya). Saya tentu saja Saya tolak > karena > > >> saya hanya khilaf karena ketidaktahuan Saya > > >> > > >> Satpam tidak mau tahu bahkan Saya diberi alternatif yang sangat sulit > > >> yaitu tandatangan saat itu juga dan menyerahkan ganti rugi 10x lipat > atau > > >> milih dibawa ke Polisi..? > > >> Karena terbayang pilihan kedua akan sangat-sangat menyulitkan karena > modal > > >> pas-pasan, dan mengingat beking tidak punya, dan seumur umur belum > pernah > > >> berurusan dengan polisi. > > >> Akhirnya dengan sangat terpaksa dan dengan hati yang pilu surat Saya > tanda > > >> tangani > > >> > > >> Karena uang di dompet tinggal 50 ribu maka Saya menyerahkan saja > belanjaan > > >> yang nilainya 428 ribu. Dan diterima oleh saatpam tanpa tanda terima > > >> (tidak diberi) Print/Kwitansi belanja dan kartu Makro ditahan dan Saya > > >> diperintahkan pergi begitu saja tanpa membawa apapun termasuk sepatu > yang > > >> membuat Saya sial itu. > > >> > > >> Kesedihan kurasakan bagaikan mimpi, karena separo lebih sisa gaji saya > > >> sebagai karyawan kelas 4 di PT.TAM musnah begitu saja tanpa ada yang > > >> dimintai pertolongan. Kepedihan hati makin terasakan menyayat saat tiba > > >> pondokanku > > >> "Pak berasnya mana..?" Istriku menyambut dengan keheranan karena di > > >> Motorku tidak terlihat beras yang sedang dia tunggu-tunggu sejak pagi > tadi > > >> . > > >> "Katanya mau dibelikan oleh-oleh, mana pak..?" kata anakku yang semata > > >> wayang. > > >> "Tadi bapak kebetulan kartu Makronya ilang jadi nggak jadi belanja" Aku > > >> tidak mengatakan terus terang karena takut kasihan istriku turut sedih. > > >> > > >> Keesokan harinya Senin 15 Nop 1999 aku ceritakan masalahku itu kepada > > >> rekan-rekannya, itupun setelah berulang kali aku didesak karena > biasanya > > >> periang terlihat murung . > > >> Hari itu juga Bp. Sutarto (atasanku langsung) dan seorang rekanku dari > > >> MCDP berinisiatif datang ke Makro untuk mengklarifikasi masalah > tersebut, > > > > >> yang dicari adalah bagian Customer Service,tapi ternyata customer > service > > >> tidak bisa menjelaskan apapun dan meraka malah dioper ke satpam, disana > > >> ditemui oleh Sutrisno yang menginterogasiku dan seorang lagi skan > > >> untuk membelinya. > > >> 2. Mengapa Pengawas / Satpam di Makro malah membiarkan (menjebak..?) > > >> orang yang tanpa sengaja melakukan kesalahan..? Mbok ya diingatkan. > > >> 3. Mengapa Kasir tidak mengkonfirmasikan bahwa antara barcode dan > > >> barang berbeda (barcode sepatu nomor 38 dan yang dibawa sepatu nomor > 39) > > >> 4. Mengapa Inspektor setali tiga uang dengan Kasir..? Apa inspektor > > >> kerjanya hanya nyoret belanjaan dan stempel saja..? > > >> 5. Mengapa Satpam Makro memvonis Saya bersalah tanpa mendengarkan > > >> penjelasan saya ..? dan melarang Saya mengadukan masalahnya ke bagian > > >> Customer relation atau pejabat perusahaan yang ada disitu..? > > >> 6. Akibat kelalaiannya (yang tidak disengaja) perbedaan harga hanya Rp > > >> 6.000 rupiah, mengapa Saya didenda (dikutip) sebesar 10 kali lipat dari > > >> harga Sepatu yang 45 ribu..? > > >> 7. Mengapa Makro tidak memberikan bukti kwitansi pembayaran (Kutipan) > > >> yang katanya merupakan ganti rugi tersebut..? mungkin Makro takut > karena > > >> ini perbuatan Ileegal..? > > >> 8. Mengapa aturan yang ilegal tersebut dibenarkan oleh salah satu > > >> pejabat disana..? (Bp. Basuki) apakah pada laporan neraca akhir tahun > > >> Makro juga mencantumkan..? misalnya sebagai pendapatan kutipan tahun > > >> 1999...? > > >> 9. Mengapa aturan denda 10 kali lipat itu hanya sepihak..? > > >> anggota-anggotanya tidak tahu ada aturan seperti itu. > > >> 10. Atau semua ini hanya jebakan Oknum di makro..? > > >> 11. Tapi mengapa di-Amin-i oleh Pejabat disana..? > > >> > > >> Wallahu A'lam......mudah-mudahan yang seperti ini tidak terjadi pada > anda, > > >> berpikirlah kembali masak-masak bila anda memutuskan untuk belanja ke > > >> Makro yang sewenang-wenang kepada orang kecil seperti itu, toh saat > ini > > >> pusat perkulakan yang lain menjamur di mana-mana tidak perlu kartu > lagi. > > >> > > >> Bila bapak /Ibu ada yang kenal dengan salah satu pejabat di makro > tolong > > >> sampaikan keluhan kami ini, kami adalah orang kecil yang tidak punya > > >> beking apapun yang pada setiap urusan dengan yang lebih besar pasti > akan > > >> tersingkirkan semudah membalik telapak tangan. " > > >> Yang gede berlagak yang kecil diinjak-injak....mudah-mudahan ada hikmah > > >> yang bisa didapat diri cerita ini......." > > >> Mohon do forward ke teman-teman anda yang punya email, agar mereka > > >> hati-hati, atau ada yang tahu email-nya makro..? (o_ //\ V_/_ Hallo Tux !!!, PEACE & THANX [EMAIL PROTECTED] ---------------------------------------------------------------- Compu-Mania MailingList is provided by PT Centrin Utama Maintained by : [EMAIL PROTECTED] To Post a msg : Send mail to [EMAIL PROTECTED] To Unsubscribe : Mail to [EMAIL PROTECTED] BODY : unsubscribe Compu-Mania For more information, send mail to [EMAIL PROTECTED] with "HELP" in the BODY of your mail (without quote). ----------------------------------------------------------------
