From: "Boy 'Avatar' Avianto" <[EMAIL PROTECTED]>
---panjang nih---
Responding to Jo's mail:
>Gue waktu nulis kata Linux ini, sebenernya agak2 ragu juga, takut Linuxer CM
>pada nyerang gue, eh bener aja kan...
ah, kenapa harus takut di'serang'?
kalau memang yakin dengan alasan yang diberikan serta dapat diterima secara
logis oleh pandangan umum harusnya sih nggak usah takut dong.
kalimat 'berani karena benar, takut karena salah' masih berlaku kan?
>Gini untuk masalah produktifitas gue kurang setuju kalo dibilang tergantung
>dari kebiasaan make tools, dalam keadaan ekstrim gue juga bisa, katakanlah,
>ngegambar freehand, tanpa mengurangi kualitas informasi / content nya. Jadi
>komputer mah cuman sebagian tools gue, padahal OS dan apps cuman sebagian
>dari system komputer, dalam hal ini semesta pembicaraan sebaiknya lebih
>terfokus.
*mmm*... bukannya saya juga bilang begitu?
coba deh dibaca baik2...
----snip---
> keterbiasaan adalah kata kunci disini sebenarnya.
> kita biasa pakai tools tertentu sehingga pada saat tools yang sudah
biasa kita
> pakai tidak tersedia kita jadi non-produktif.
>
> padahal tools itu ya hanya sekedar tools, kitanya sebagai brainware harusnya
> mempunyai fleksibiltas tinggi dalam mengadaptasi kembali hal2 yang sudah
> terbiasa dalam diri kita.
---snip---
>Emang gue percaya kalo di environment Linux juga ada sebagian besar apps yg
>kita perlu, tapi menurut gue daripada gue ngabisin waktu tiga bulan,
>katakan, supaya rada biasa pake Linux en apps nya, mendingan gue stick di
>Windows sambil menghasilkan duit buat susu anak gue.
adaptabilitas kan bisa dilakukan sambil lalu?
yang perlu adalah 'niat baik' dan 'keinginan'...
mungkin visi kita beda, tapi untuk saya, dimana ada keinginan
apalagi dilandasi oleh niat baik, maka jalan selalu ada.
> > belum pernah ngerasain bikin software trus dibajak ya?
>
>Emang belon mas, orang kita mah bukan progamer. Tapi dari informasi yg ada
>minimal gue tau keuntungan Microsoft yg jauh lebih banyak dibanding sama
>kerugiannya kalo gue make Win bajakan.
kalau benar faktanya seperti yang anda katakan, kenapa Microsoft mengeluarkan
Windows XP yang katanya mempunyai proteksi anti-bajakan yang sangat2
powerful?
Jelas sekali tendensi mereka adalah pencegahan bajakan kan?
> > sebenarnya sih itung2 ngurangin dosa aja lah... =)
> > kalo pake prinsip tanggung sih nggak bakal puas deh... beneran.
>
>Ini statement lo juga bener mas, kata gue juga itung2 Microsoft amal lah,
>nyumbang orang miskin.
Microsoft sebagai perusahaan komersil juga ada kok program seperti itu yang
jelas2 diumumkan seperti Microsoft Campus Agreement yang memberi harga murah
untuk kampus2...
Makanya saya kan bilang, sebagai pengguna Windows kenapa nggak bikin statement
atau petisi meminta pemotongan harga kepada Microsoft, toh mereka punya
perwakilan
di Indonesia dan pimpinan mereka Bpk. Richard Kartawijaya menurut saya orangnya
cukup akomodatif kok...
> >tapi bukan enaknya windows sih sebenarnya, enaknya 'feeling' kita aja kok,
> >buktinya ada beberapa orang yang gue kenal buta komputer dan langsung
> >dikenalin sama Linux, pas make Windows mereka malah ngomel2:
> >susah bener sih! mana crash mulu!
> >... nah lo?
>
>Kalo gue mah malah suka heran kadang2 sama komputer (plus Windows) gue, koq
>udah beberapa hari belon crash2 juga. Apanya yah yg bener...
>Mungkin di bagian ini gue lebih tabah dari mas Boy.
ha ha ha =)))
bagus dong Windowsnya berkelakuan baik dan bijaksana...
ini juga sering jadi pertanyaan saya, kenapa di beberapa komputer windows bisa
hidup baik2 saja sedangkan di komputer lain dia kayaknya rewel...
ya, akhirnya untuk misi2 kritikal saya lebih memilih sistem yang tidak
rewel di *semua*
komputer.... nggak tabah buat gambling sih... =(
>Harapan gue mah semoga aja Bill Gates juga member CM. Begitu dia baca keluh
>kesah kita ttg mahalnya harga Windows di Indonesia, dia terharu terus nyuruh
>anak buahnya bikin WinMe dlm versi bhs Indonesia, terus dibagiian gratis di
>25,5 propinsi di tanah air ini.
iya ya... kok dia malah melaunch Win XP yang jelas2 mempersulit pembajakan...
mungkin sudah sangat business-oriented kali ya?
>Statement ini ada benernya ada nggak nya juga, emang alasan kudu kuat supaya
>orang mau bergeser dari sofa jok kulit (Windows) ke kursi plastik (Linux).
whoa... kenapa Linux dibilang kursi plastik? memberi kesan bahwa menggunakan
Linux kalah nyaman dengan Windows... =(((
coba jangan memberi tendensi negatif kalau memang takut 'diserang'...
>Dalam konteksnya sama gue, nggak ada satu alesan kuat pun yg gue liat, yg
>bisa memotivasi gue bergeser tadi.
>Kalo masalah moral mah, ya yg tulis diatas itu : "realitas".
sebenarnya saya nggak berani komentar... cuma tergelitik aja soal
'realitas moral'nya versi anda...
anda berbicara dengan mereferensi pribadi atau semua orang?
terus terang saya agak 'tersinggung' kalau dikategorikan dalam
lingkungan 'realitas moral' tersebut.
>Yah nggak tau lah apa namanya, tapi IMO WinMe tuh kayak selang plastik yg
>bisa diseret2 kemana aja buat nyiramin area yg luas. Kalo Linux kayak maenan
>Lego yg baru beli. Kita 'diharapkan' bisa nyusun itu Lego menjadi istana yg
>bagus, dg manual yg seukuran kartu nama doang.
Linux yang mana mas?
sekarang tahun 2001... Linux udah nggak seperti yang dibayangkan anda lagi loh.
>Gue pernah baca satu artikel, dimana ada seorang pakar IT curhat, katanya di
>jaman internet begini koq orang Indonesia masih demen make apps bajakan,
>padahal apps open source (Linux en de grups) yg Freeware bertebaran di
>Internet, ibaratnya tinggal dipetik gratis. Lah dia nggak inget apa,
>mahalnya pulsa Telkom, yg bulan juni ini bakal naek 30% lagi. Sigh...
>The point is, IMO, buat gue orang Indonesia, realitas nomor satu, dg begitu
>kita bisa survive.
survival nggak cuma hanya dengan satu cara aja kan?
benar kok kata si pakar IT itu... banyak cara menuju Roma...
kenapa d/l harus pakai Telkom? bisa punya temen yang koneksi di kantornya
24 jam terus menerus kan? minta tolong dia d/l-in lah
kembali ke pernyataan saya 'keinginan yang dilandasi oleh niat baik'
>Kalo kata gue yg paling tepat jangan menyalahkan siapa2 selain sikon. Buat
>sebagian besar pengguna komputer di Indonesia, belon saatnya beralih ke Open
>source / Linux based, dg alesan yg gue bilang diatas tadi.
kenapa sih kita harus menyalahkan sikon?
apakah manusia sekarang sudah demikian lemahnya sehingga unsur 'survival' hanya
tergantung pada sikon?
justru sekarang saatnya melirik ke OpenSource sebagai jalur lain untuk
survival.
sikon tercipta karena manusia, dan kalau manusianya menyerah pada sikon
jadinya kan
lingkaran setan yang nggak putus-putus?
---
Boy 'Avatar' Avianto - http://www.avianto.com
--
Compu-Mania MailingList, provided by PT Centrin Online Tbk
Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED], body: unsubscribe Compu-Mania
Archive: http://www.mail-archive.com/[email protected]/
Info: [EMAIL PROTECTED], body: help