http://www.eramuslim.com/i.php/ksl/view/0043.htm
Da'i yang Nyaris Putus Asa

Assalamu'alaikum ustadz,

Sebelum mengutarakan pertanyaan, mungkin saya akan menceritakan
tentang kondisi saya yang sangat rentan dan dekat dengan murka Allah.

Sampai detik ini, saya adalah seorang pengemban dakwah yang dikenal
semangat dan suka mencharger orang untuk senantiasa istiqamah di jalan
Allah. Sungguh ironis, ketika orang-orang mengenal saya sebagai orang
yang kuat dan semangat di medan dakwah, di dalam saya sangat rapuh,
rapuh dalam dakwah ke keluarga.

Hidupkanlah Islam pada dirimu, tentu hiduplah Islam di lingkunganmu.
Saya banyak belajar dari hal-hal tersebut, coba hamba terapkan sedikit
demi sedikit, karena memang porsi waktu saya untuk keluarga sedikit
dibandingkan intensitas saya di luar rumah (saya adalah seorang anak
ketiga dari tiga bersaudara).

Kekacauan di rumah adalah belum taatnya keluarga terhadap hukum-hukum
Allah, sebagaimana yang saya sangat harapkan. Ya..saya sangat sadar
terhadap proses yang dilalui keluarga saya, baik ayah, ibu maupun
kakak saya yang berusaha mengimbangi saya. Tapi saya tidak pernah
mempermasalahkan proses yang terjadi, saya sadar dan maklum
sepenuhnya. Saya berusaha menemani mereka dalam berproses, sekaligus
saya berproses untuk menjadi lebih baik dari hari kemaren.

Ketika proses menuju tegaknya  Islam di keluarga menjadi sesuatu yang
sudah menjadi agenda, dan keluarga saya memang sudah tahu misi saya,
dakwah itu mengalir sewajarnya sebuah proses, walaupun tidak secepat
proses seorang Khodijah ataupun Umar bin Khoththob dalam tunduk secara
mutlak kepada hukum Allah.

Dalam dakwah yang mengalir itulah saya menghadapi ujian dari Allah,
ujian yang benar-benar membuat saya merenung habis-habisan dan bahkan
menanyakan kembali pemahaman saya selama ini.

Sasalah yang ada hanyalah masalah kecil, yang kemudian menjadi sangat
besar dan sulit sekali untuk memaklumi masalah tersebut. yang membuat
saya tersentak penuh kekagetan, dan bahkan membuat saya benar-benar
memutuskan untuk hilang dari peredaran keluarga

Ustadz rakhimakumullah, sesungguhnya saya malu pada Allah, dan kepada
anda untuk menceritakan masalah yang sangat sepele ini, namun hal ini
sangat menggganggu keoptimalan dakwah saya, sehingga saya harus
secepatnya berkonsultasi dengan seseorang dan terutama dengan Allah.

Saya baru 2 bulanan tinggal dengan orang tua, karena sebelumnya saya
kost di Jogja untuk kuliah, dan memang sejak SD saya pisah dengan
orang tua. Dua bulan di kota yang baru, dengan sebuah keluarga yang
saya miliki, sungguh sesuatu yang agak asing bagi saya yang terbiasa
bebas.

Terikat, sudah saya pertimbangkan dan saya siap dengan resiko
itu.sebagai orang baru yang tinggal di kota besar, saya lumayan
terkenal karena dalam waktu dekat sudah ada adek-adek yang mau belajar
TPA ke rumah. Setiap hari mereka ke rumah. Awalnya tidak ada masalah.
TPA berjalan lancar, dengan metode yang saya pake belajar sambil bermain.

Ada  masalah ketika ada teguran dari tetangga yang hanya komentar 
sama ibu saya, "Wah rame sekali, bu." Ayah saya ga tahan dengan
teguran tersebut, beliau membahasnya sampai pembahasan yang
keterlaluan, kekhawatiran yang sangat dan diposisikan sebagai masalah
yang sangat serius. Padahal teguran seperti itukan biasa, komentar
seperti... wah cakep, wah jerawatan...wah rame... adalah teguran yang
bersifat sapaan semata. Akhirnya saya nggak boleh TPA di rumah.

Dari sini saya mulai berpikir, keterlaluan sekali. Saya maklum dan
dapat mengendalikan diri

Masalah selanjutnya adalah masalah makanan, anak-anak TPA datang lagi
saat nggak ada orang tua di rumah.  Kebetulan ada makanan atau kue di
meja tamu, mereka minta dan saya bilang ambil, sampia akhirnya satu
toples dihabiskan anak-anak, toples yang lain masih utuh. Ketika ibu
pulang, saya disindir-sindir tentang habisnya makanan itu.

Memang keterklaluan, hanya soal makanan. Saya habis disindir-sindir
dan didiamin selama satu malam, padahal saya sudah ngajak ngomong,
tapi beliau dingin aja. Ya sudah saya pikir, kita sama-sama perlu
mendinginkan pikiran, mungkin saat itu pikiran kita masing-masing baru
gak jernih, jadi marahan. Saya agak ga suka karena keakraban yang saya
ciptakan disambut dingin sama ibu saya. Yup ilmu keikhlasan, saya
mungkin belum cukup menguasainya.

Akhirnya saya mempunyai keputusan untuk nginap di rumah teman, untuk
merenungkan semuanya. karena saya pikir, saya akan banyak dosa ketika
saya merepotkan ibu saya dengan ada di sampingnya, mungkin ibu saya
baru sebel lihat muka saya.

Malah saya berpikir untuk kost, masih dikota yang sama , hanya untuk
menghindari banyaknya kesalahan yang bisa saja saya lakukan.

Saya pindah dan tinggal bersama keluarga adalah untuk menghindari
maksiat kepada Allah, tapi saya mendapatkan kenyataan ujian yang
memancing saya untuk bermaksiat lagi kepada Allah. Maksiat di sini
adalah kelambatan/kejumudan dalam dakwah keluarga (gagal).

Bagaimana pendapat ustadz? Kalau saya memutuskan untuk kost, untuk
mengindari dosa, dan apakah saya berdosa ketia memang mau merenungi
perjalanan saya selama dua bulan di sini dengan tidak tinggal di rumah?

JazakumuLLAH khoiron,

DR

Jawaban

Semoga Allah SWT menguatkan kaki kita dalam berpijak di jalan menuju
tegaknya agama-Nya, Amien.

Saudaraku,

Apa yang Anda alami dengan masalah keliuarga Anda ini, adalah bagian
utuh dari episode dakwah semua penyeru kebajikan. Sesuai dengan
karakteristiknya, dakwah itu tidak selalu berada di jalan mulus.
Terkadang ada aral, onak dan duri melintang di hadapan. Dan tidak
jarang banyak di antara aktifisnya yang tergelincir saat melewati
cobaan itu.

Bukankah Allah SWT telah berfirman:

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan, "Kami
telah beriman," sedang mereka tidak diuji lagi? (QS Al-Ankabut: 2)

Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka,
maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan
sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS Al-Ankabut: 3)

Salah satu di antara hambatan dakwah itu adalah keluarga. Seorang da'i
mungkin saja sukses dalam dakwahnya kepada orang lain, namun tidak ada
yang bisa memastikan bahwa dia pasti sukses juga ketika berdakwah
kepada keluarganya sendiri. Dan kegagalan mendakwahi keluarga itu
bukan cerita Anda seorang, melainkan bagian utuh dari kisah-kisah
dakwah para nabi dan rasul.

Bukankah ayah nabi Ibrahim as mengingkari dakwah yang beliau
sampaikan? Bukankah anak dan istri nabi Nuh as membangkang dan
meninggalkan ajaran beliau? Padahal keduanya termasuk Ulul Azmi, bukan?

Bukankah Nabi Muhammad SAW gagal total dari meng-Islamkan pamandanya
sendiri yang paling banyak jasanya dalam perjuangan dakwah, yaitu Abu
Thalib?

Bahkan kegagalan para nabi itu dalam mendakwahi keluarganya, belum ada
apa-apanya dibandingkan dengan 'kegagalan' dakwah anda di keluarga.
Sebab keluarga para nabi itu bukan hanya menentang dakwah, tetapi
sudah sampai kepada tindakah kufur, mengingkari kebenaran risalah
nabi, mengingkari syariat dan mengingkari adanya hari kiamat.
Sedangkan 'kegagalan' dakwah anda di keluarga baru sampai taraf
disindir gara-gara menghabis kue satu stoples. Sungguh sebuah
perbandingan yang teramat jauh.

Bagaimana mungkin anda lantas bersikap over sensitif seperti ini? Anda
kan belum dibantai, belum digebuki, belum cincang-cincang seperti
perkedel, lalu mengapa tiba-tiba merasa putus asa? Anda belum
merasakan dilempari batu sebagaimana dahulu Rasulullah SAW mengalami
saat tiba di Thaif. Anda belum dibakar hidup-hidup sebagaimana dahulu
nabiyullah Ibrahim as. mengalaminya.

Seorang tokoh da'i besar pernah mengatakan bahwa orang yang lahir di
tengah badai, tidak akan ciut nyali hanya dengan hujan gerimis.

Maka saran kami, keluarga anda itu adalah objek dakwah anda. Jangan
tinggalkan objek daklwah anda. Sebagaimana seorang nakhoda kapal tidak
akan meninggalkan kapalnya yang dilamun ombak. Dia bertanggung-jawab
atas apapun yang terjadi di kapalnya, bahkan meski harus menghadapi
kenyataan yang paling buruk sekalipun.

Ingatlah ketika Nabi Yunus as merasa gagal dalam berdakwah, lalu
meninggalkan kaumnya. Tindakan seperti ini dianggap sebagai hal yang
tidak dibenarkan. Sehingga Allah SWT menghukum beliau hingga ditelan
ikan besar (huut) selama beberapa waktu. Dan tobat beliau selama di
dalam perut ikan adalah :

لا إله إلا 
أنت سبحانك 
إني كنت من 
الظالمين
Tidak ada tuhan selain Engkau, sungguh Aku termasuk orang-orang yang
dzalim. 

Nabi Yunus as. adalah seorang utusan Allah SWT, namun ketika
meninggalkan lahan dakwahnya, beliau ditegur oleh Allah SWT. Dan
beliau mengakui bila telah melakukan kezhaliman.

Bagaimana dengan Anda, bukankah keluarga anda itu lahan dakwah anda.
Mengapa anda berpikir untuk pindah kost? Apakah ini bukan sebuah
pelarian diri dari kegagalan? Apakah jalan dakwah itu harus selalu
licin dan mengkilat? Apakah jalan dakwah itu harus selalu bertabur
bunga dan digelar dengan karpet merah?

Urungkan saja niat anda untuk meninggalkan dakwah. Lalu kembalilah
kepada keluarga anda. Hiduplah yang nyaman bersama mereka. Toh mereka
bukan orang kafir yang harus dimusuhi. Mereka muslim dan orang
baik-baik. Mengapa anda harus marah ketika mereka merasa terusik bila
merasa terusik privasi mereka? Rumah itu adalah tempat mereka, hak
mereka sepenuhnya untuk tinggal dan mendapatkan privasinya.

Kalau anda menyulap rumah keluarga menjadi TPA, sementara penghuninya
 merasa terusik, siapakah yang zhalim dalam hal ini? Anda perlu
sedikit merenungkannya, sebelum segala sesuatunya menjadi semakin
tidak terarah.

Mungkin tidak salah kalau anda mengadakan TPA di masjid atau di
mushalla di lingkungan wilayah anda. Tapi perlu sekali diingatkan,
minta izin dulu baik-baik kepada pengurusnya. Kalau diizinkan lakukan
tapi kalau tidak sebaiknya anda tidak perlu memaksakan diri.

Semoga Allah SWT melapangkan dada kita dan memberikan jalan keluar
terbaik. Amien

Wallahu a'lam bishshawab Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ahmad Sarwat, Lc.









===================================================================
        Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
=================================================================== 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke