MENGIKUTI DAN MENELADANI
RASULULLAH SAW
Bulan Rabiul awal merupakan bulan ekspresi kecintaan kepada Nabi Muhammad
saw. Hari-hari pada bulan ini banyak digunakan untuk mengenang kebesaran dan
jasa-jasanya. Beliau adalah manusia pilihan; bukan pilihan rakyat lewat Pemilu,
tetapi manusia pilihan Allah SWT, Zat Yang Mahamulia. Dialah manusia mulia yang
telah menunaikan amanah, menyampaikan risalah, membina umat, dan membebaskan
manusia dari penyembahan kepada manusia menuju pada penyembahan kepada Pencipta
manusia. Keluhuran Beliau diakui oleh dunia. Pengakuan tentang hal ini muncul
dari bukan Muslim sekalipun. "Jika kita mengukur kebesaran dengan pengaruh, ia
adalah seorang raksasa sejarah. Ia berjuang meningkatkan tahap ruhaniah dan
moral suatu bangsa yang tenggelam dalam kebiadaban karena panas kegersangan
gurun. Dia berhasil lebih sempurna dari pembaharu manapun. Belum pernah ada
orang yang begitu berhasil mewujudkan mimpi-mimpinya seperti dia," tulis Will
Durant dalam The Story of Civilization.
Mengikuti Rasulullah saw.
Hal terpenting saat mengingat Nabi Muhammad saw. adalah menjadikannya sebagai
suri teladan, mencintainya, dan mengikutinya (ittib$B!&(B). Keharusan
mencontoh Rasulullah saw. bukan semata-mata didasarkan pada ketentuan dari
nash-nash al-Quran, melainkan juga fakta sejarah. Bukankah tidak ada manusia
yang lebih mulia daripada Rasulullah saw.? Bukankah hanya Beliau yang akan
mengantarkan manusia hidup selamat dunia-akhirat melalui Islam yang dibawanya?
Berkaitan dengan mengikuti Rasul ini ada tiga prinsip yang penting dicamkan.
Pertama: makna ittib$B!&(B (mengikuti Rasul) adalah mengikuti syariat yang
dibawa oleh Rasulullah saw. Allah SWT berfirman:
]$Blufu%L(B $B%AI%OI!,e!&%LbSu%bhbw(B $B%sPRhjw(B $Blufu%L(B
$Bhuju%L!,e!&%lfzK!&%sIh|%Ogh%L(B $Blu%L%Ou!+h%L(B $B%Lbcju(B
$B%Jfu(B $B%Lbcju(B $B%dQo%^!&%Lb|%l`I%M>(B
Apa saja yang dibawa Rasul kepada kalian, terimalah; apa saja yang
dilarangnya atas kalian, tinggalkanlah; dan bertakwalah kalian kepada Allah.
Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (QS al-Hasyr [59]:7).
]$Blufu%L(B $B!,Ihu(B $Bbxfw%HzIf!&lubI!&fw%HzIfK!&%JRI(B
$B!+Xn(B $B%Lbcjw(B $Blu%`Uhbwjw(B $B%Fez7I(B
$B%Ff!&zu!,hhu(B $Bbujwfw(B $B%Lb|%[oSK!&fxh|(B
$B%Fez7ge!&lufuh|(B $Bzu%lz;!&%Lbcju(B $Blu%`Uhbujw(B
$B%s`Q!&%hcu(B $B%hcIbI!&fw%Mohr%L(B[
Tidaklah patut bagi laki-laki Mukmin maupun bagi perempuan Mukmin, jika Allah
dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan
(yang lain) tentang urusan mereka. Siapa saja yang mendurhakai Allah dan
Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat secara nyata. (QS al-Ahzab [33]:
36).
Bahkan, kesediaan mengikuti ketetapan dan keputusan hukum Rasulullah saw.
merupakan cerminan dari keimanan. Tidak ada keimanan tanpa ketaatan pada
syariat Islam (Lihat: QS an-Nisa [4]: 65).
Kedua, syariat Islam diturunkan oleh Zat Yang Mahatahu tentang seluruh
manusia dengan segala aspek kemanusiaannya. Perbedaan suku, bangsa, bahasa,
tempat dan waktu hidup bukanlah pembatas ataupun penghalang bagi penerapan
syariat Islam. Kewajiban penerapan syariat tetap dapat dilaksanakan sepanjang
masa. Karenanya, mengikuti (ittib$B!&(B) Rasulullah merupakan perkara yang
tetap relevan sekalipun pada zaman modern sekarang ini. Kemajuan sains dan
teknologi bukanlah masalah dalam penerapan syariat. Sebab, sains dan teknologi
hanya mengubah sarana hidup, tetapi tidak mengubah metode hidup dan kehidupan.
Ketiga, mengikuti Rasulullah saw. adalah sesuai dengan fitrah manusia. Betapa
tidak, Islam yang dibawanya sesuai dengan fitrah manusia. Setiap ajaran Islam
berupa akidah, ibadah, muamalah dalam bidang sosial, politik, ekonomi, dan
budaya pasti sesuai dengan fitrah manusia. Sebab, Islam berasal dari Allah,
lalu diperuntukkan bagi manusia yang juga diciptakan oleh Allah SWT. Bukan
hanya itu, mengikuti Rasulullah adalah ladang kebaikan, perolehan kasih sayang,
dan limpahan ampunan. Alllh SWT berfirman:
]$B!+c!&%Jf!&!,fz0e!&%OOJwlf!&%Lbcju(B
$B%sI%Ou%M\hhx!&zw%Xz.JzEe!&%Lbcjw(B
$Bluzu%mzCS!&bu!,e!&%_fh%Mae!&lu%Lbcjw(B $B%m_h%`!&%`Oofs(B[
Katakanlah, "Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya
Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian." Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang. (QS Ali Imran [3]: 31).
Beberapa Karakter Rasulullah saw.
Di antara karakter Rasulullah saw. adalah:
1. Senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Rasulullah saw. adalah orang yang paling takwa. Beliau ma'sh$B{2(B
(terpelihara dari dosa). Jaminan kebahagiaan bagi Beliau justru menjadikannya
semakin dekat dengan Allah SWT. Beliau terpelihara dari dosa, tetapi permohonan
ampunan dan tobatnya kepada Allah SWT luar biasa.
Abu Hurairah berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda (yang artinya),
"Demi Allah, sesungguhnya saya memohon ampunan dan bertobat kepada-Nya lebih
dari tujuh puluh kali setiap harinya." (HR al-Bukhari).
Subh$BcO(Ball$BcI(B, Rasulullah beristigfar dan bertobat lebih dari 70
kali dalam 24 jam. Artinya, Beliau melakukannya 3 kali dalam satu jam. Beliau
beristigfar 20 menit sekali! Hal ini Beliau lakukan baik sebagai pribadi maupun
kepala negara. Kita perlu bertanya pada diri kita masing-masing, berapa kali
kita memohon ampunan dan bertobat kepada Allah sehari semalam? Sementara itu,
Beliau terpelihara dari dosa (ma'sh$B{2(B), sementara kita bergelimang dosa
dan kesalahan. Setiap menghadapi permasalahan, segera beliau mengadu kepada
Allah, dan memohon petunjuk dari-Nya hingga diturunkan wahyu. Bagaimana dengan
kita? Apakah ketika kita mempunyai masalah, segera kita mengadu kepada Allah
seraya kita menggali jawaban dan pemecahan masalah dari al-Quran dan as-Sunnah
sebagai wahyu Allah? Ataukah sebaliknya, mencari solusi dari hukum yang lahir
dari hawa nafsu dan logika manusia yang memang terbatas; atau bahkan mencari
jawaban dari hukum kufur yang bertentangan dengan Islam?
2. Teguh dalam kebenaran.
Rasulullah sangat teguh dalam berpegang pada kebenaran. Tak ingin Beliau
menyimpang dari wahyu Allah SWT. Di antara sikap ini tampak saat Beliau
didatangi oleh utusan kaum Quraisy. S$B{S(Bah Ibnu Hisy$BcN(B menggambarkan
bahwa mereka menawarkan harta, kekuasaan, dan wanita dengan konsekuensi
Rasulullah berhenti berpegang pada Islam dan dakwahnya. Dengan tegas Beliau
menyatakan melaui pamannya, Abu Thalib (yang artinya), "Demi Allah, andai saja
mereka dapat meletakkan mentari di genggaman tangan kananku dan rembulan di
genggaman tangan kiriku, dengan konsekuensi aku harus meninggalkan urusan
(Islam) ini, niscaya aku tak akan pernah meninggalkannya hingga Allah
memenangkannya atau aku binasa dalam memperjuangkannya."
Kita perlu merenung. Sekarang, misalnya, sudah menjadi rahasia umum ketika
para pemimpin negara asing berkunjung, banyak tawaran dari mereka kepada para
penguasa Muslim untuk tetap berkuasa. Mereka siap mendukung dengan dana dan
kekuatan. Syaratnya, penguasa tidak menerapkan syariat Islam. Jika tidak,
penguasa dan negaranya tersebut dicap negatif dengan sebutan fundamentalis atau
radikal, atau negara pendukung terorisme.
Para penguasa dan pemimpin kaum Muslim yang mengikuti Rasulullah saw. tidak
akan memperhatikan tawaran itu. Prinsip "KKIK" (yakni berikanlah kepada kami
Kekuatan, Kekuasaan, dan Investasi, niscaya kami berikan Konsesi) terhadap
asing merupakan penentangan terhadap sikap Rasulullah saw. Sebaliknya, sikap
siapapun Muslim, termasuk penguasanya, adalah bahwa Islam itulah persoalan
hidup dan matinya.
3. Pengayom rakyat.
Sebagai kepala negara, Rasulullah berjalan bersama janda, orang miskin, dan
budak untuk mencukupi hajat dan keperluan mereka (HR an-Nasai dan al-Hakim).
Beliau mengumpulkan sebagian Sahabatnya yang miskin di sudut masjidnya menjadi
ahlu shufah. Beliau lebih mementingkan rakyatnya. Makanan yang dimilikinya
sering dibagikan kepada mereka. Bahkan sejak tiba di Madinah hingga akhir
hayatnya Beliau selalu dalam keadaan lapar selama tiga hari berturut-turut (HR
al-Bukhari dan Muslim).
Siapapun yang hendak mengikuti Rasulullah mestinya menjadi pengayom rakyat.
Dulu, Rasulullah berupaya menyediakan tempat tinggal bagi rakyatnya yang
miskin, bukan justru menggusur rumah-rumah penduduk dan membiarkannya mencari
solusi sendiri. Beliau memberikan harta milik negara dan rakyat untuk
rakyatnya, bukan malah mengkorupsinya untuk memperkaya diri. Beliau memberikan
modal tanah, bibit, dan peralatan pertanian bagi rakyatnya yang tidak punya,
bukan justru membiarkan peluang kerja dalam negeri diserbu oleh pihak asing
dengan alasan pasar bebas. Sungguh, mengikuti Rasulullah dalam penerapan
syariat akan memiliki keberpihakan kepada kepentingan rakyat, bukan kepentingan
asing.
4. Keras terhadap kekufuran dan lembut terhadap sesama Muslim.
Al-Quran secara tegas mengabadikan hal ini dalam firman-Nya:
]$Bfw%Xeu%^!&%`Uhbw(B $B%Lbcjx(B $Blu%LbzRohu(B
$Bfu%lg!&%FVQu%L%A!&%lcn(B
$B%Lb|!,_u%L%`!&%`OeI%A!&%MozJge"h(B
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya
adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih-sayang sesama mereka.
(QS al-Fath [48]: 29).
Bahkan Beliau menegaskan bahwa umat Islam ini bersaudara, laksana satu tubuh;
ibarat satu bangunan. Kaum Muslim saat ini dituntut untuk mengikuti sikap
Rasulullah tersebut. Jangan sampai terjadi sebaliknya, kepada umat Islam selalu
menaruh curiga bahkan cenderung memusuhi, sementara dengan negara kafir
penjajah justru saling berpegang tangan. Tanpa sikap seperti ini, kaum Muslim
akan tetap dapat diadu domba oleh kaum kafir imperialis.
5. Berkata benar dan tegas dalam berdialog dengan kaum kafir.
"Islam adalah tinggi dan tidak ada yang dapat melebihi ketinggiannya," begitu
Rasul pernah menyatakan. Nabi Muhammad saw. meyakini hal ini. Tugas Beliau pun
adalah mengeluarkan manusia dari kegelapan jahiliah menuju cahaya Islam. Ketika
kaum Quraisy mengajak Beliau untuk saling menyembah Tuhan masing-masing,
turunlah wahyu surat al-Kafirun. Sungguh, nama suratnya saja menjelaskan
ketegasan sikap terhadap ajakan tersebut, yakni tidak ada sinkretisme alias
pencampuradukan kebenaran dengan kebatilan. Bahkan sirah dan berbagai hadis
mencatat, ketika Rasulullah saw. berhubungan dengan kaum musyrik Quraisy,
dialog yang Beliau lakukan adalah dialog untuk menegaskan kebenaran. Dengan
kata lain, Beliau berdialog untuk menunjukkan mana yang haq dan mana yang
batil. Itulah perwujudan bal$BcH(Bh al-mub$B{O(B (penyampaian secara nyata)
sebagai tugas Beliau dan umatnya. Beliau tidak berdialog dengan orang-orang
kafir demi mencari persamaan dengan melupakan perbedaan sekalipun merupakan akar
persoalan. Tidak pernah Nabi saw. melakukan hal demikian.
Pada saat ini terdapat dua peradaban besar, yakni peradaban besar Islam dan
Barat. Merujuk pada contoh Rasulullah saw. maka yang harus dilakukan bukanlah
dialog mencari persamaan. Hal itu hanya akan merupakan pemanis bibir saja,
tetapi sekam tetap membara. Belum lagi ketika ada agenda Barat yang
disembunyikan, berlindung di balik slogan 'dialog antarperadaban'. Yang harus
dilakukan adalah dialog yang dapat mendudukkan mana yang haq dan mana yang
batil. Dialog seperti ini lebih merupakan pertarungan pemikiran
(ash-shir$B!&(B al-fikri).
Wahai kaum Muslim:
Rasulullah adalah suri teladan kita. Marilah kita secara utuh dan total
mengikuti Rasulullah dalam menegakkan Islam. Hanya dengan cara inilah,
kelahiran Nabi saw. benar-benar akan menjadi momentum sebagai kelahiran kembali
umat Islam yang menjadi umat terbaik untuk seluruh ummat manusia.
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
===================================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
===================================================================
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/