sumber:
http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=105&kat_id1=232
Jumat, 16 Juni 2006  17:55:00

Menginternalisasikan Sikap Ihsan



Jika kamu sendirian, maka jagalah hatimu. Jika kamu di tengah
orang-orang, maka jagalah lisanmu. Jika kamu dihadapan meja makan,
maka jagalah perutmu. Jika kamu di jalanan, maka jagalah matamu. Sebab
Allah melihatmu.

Seorang saleh dari kalangan thabi'in, Sahal bin Abdullah Tasatturi
menceritakan salah satu pengalaman penting dalam hidupnya. Saat
berusia tiga tahun, ia melihat pamannya Muhammad bin Suwar
melaksanakan shalat. Setelah selesai, sang paman bertanya, "Tidakkah
engkau berzikir kepada Allah yang menciptakanmu?" Sahal balik
bertanya, "Bagaimana caranya?

Muhammad bin Suwar kemudian menjelaskan, "Katakanlah dengan hatimu:
'Allah bersamaku, Allah melihatku, Allah menyaksikanku.' Katakan hal
itu sebanyak tiga kali tanpa menggerakkan lisan, ketika engkau hendak
tidur."

Ia kemudian melaksanakan nasihat itu selama beberapa malam. Setelah
itu, Sahal memberitahukannya kepada Muhammad bin Suwar. "Lakukan hal
itu tujuh kali dalam satu malam," pinta pamannya kembali. Nasihat itu
pun dijalankan Sahal dengan sungguh-sungguh. Pamannya kemudian
memintanya menambah zikir tersebut menjadi sebelas kali. "Saat saya
melakukan hal itu selama satu tahun lamanya, pamanku berkata,
'Hapalkan apa yang telah aku ajarkan dan lakukanlah itu selalu sampai
engkau masuk ke liang kubur. Kata-kata itu akan bermanfaat bagimu di
dunia dan akhirat. Wahai Sahal barangsiapa merasakan Allah bersamanya,
Allah melihatnya dan Allah menyaksikannya, apakah ia akan melakukan
maksiat kepada-Nya?

Apa yang diajarkan Muhammad bin Suwar kepada Sahal Tasatturi,
keponakannya, terbilang sederhana. Yaitu menggunakan metode
pengulangan (repetitive). Menyebutkan suatu hal secara berulang-ulang,
melalui lisan, pikiran dan hati sekaligus, akan menjadikan
kalimat-kalimat tersebut tertanam kuat di alam bawah sadar. Bila terus
diulang dalam jangka waktu lama maknanya akan mendarah daging dan
akhirnya menjadi kekuatan dahsyat yang akan mengendalikan tingkah
laku. Para ahli menyebutnya sebagai repetitive magic power.

Dalam "teori otak", bila sebuah informasi diulang-ulang maka pertautan
antar sel-sel (neuron) di otak akan semakin kuat. Sel-sel syaraf yang
semakin banyak dan kuat, akan memperkuat pengetahuan yang dimiliki
seseorang. Kekuatan pengetahuan itu terletak pada keluasan wawasan dan
kebijaksaaan yang semakin kuat dan meningkat. Seseorang yang
bermujahadah (bersungguh-sungguh) sejak masa mudanya, untuk menguasai
sebuah ilmu atau perbuatan, biasanya akan memiliki kebijaksanaan dan
keyakinan diri yang kuat pada masa tuanya. Inilah yang terjadi pada
Sahal Tasatturi. Ia terkenal sebagai seorang sosok yang sangat zuhud
dan sangat takut kepada Allah.

Mengingat nama Allah (dzikrullah), adalah sarana efektif untuk
menjernihkan hati. Andai dilakukan secara istikamah akan menjadikan
seorang hamba selalu merasa ditatap oleh Al-Khaliq. Inilah yang
terpenting, sebagai esensi keimanan dan puncak kecintaan seorang hamba
kepada Allah. Bukankah hal yang paling berkesan adalah hal yang paling
diingat? Tidak ada yang paling diingat oleh seorang pecinta, selain
yang dicintainya. Dan tahukah bahwa mencintai dan dicintai Allah
adalah anugerah terbesar bagi seorang Muslim. Kisah-kisah legendaris
dari para sufi besar, seperti Al-Ghazali, Fudhail bin Iyadh, Ibrahim
bin Adham, Junaid Al-Baghdadi ataupun Rabi'ah Al-Adawiyah banyak
menginspirasikan hal tersebut.

Rasulullah SAW pun pernah bertanya kepada para sahabat, Maukah
kuberitahukan kepada kalian tentang amalan yang paling baik, paling
suci dalam pandangan Tuhan kalian, mengangkat tinggi derajat
orang-orang yang mengamalkannya, dan tak kalah bernilai daripada
menafkahkan emas dan perak, bahkan tidak kalah utama dibanding bertemu
dengan musuh di medan perang kemudian kalian saling berperang dan mati
syahid?" Mereka menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah! Kami sangat ingin
diberi tahu". Rasulullah menjawab, "Berzikirlah kepada Allah." (HR
Tirmidzi, Ahmad, dan Hakim).

Dalam konteks hubungan dengan Allah, zikir yang intens dilakukan akan
melahirkan sikap ihsan. Menurut Rasulullah SAW ihsan adalah menyembah
Allah seakan-akan kita melihat-Nya. Jika kita tidak melihat-Nya,
sesungguhnya Dia melihat kita (HR Muslim).

Saat seseorang sudah ihsan, dalam arti selalu merasa dilihat Allah,
maka dalam kondisi apapun ia akan malu bermaksiat kepada Allah. Lebih
jauh, ia pun akan berusaha melakukan yang terbaik untuk Tuhannya. Tak
masalah apakah itu dalam kesendirian atau di tengah banyak orang. Saat
berada dalam kesendirian, ia tetap merasa ramai. Betapa tidak, Allah
senantiasa hadir dan dekat dengan dirinya. Sebaliknya, saat berada
dalam hiruk pikuk keramaian, ia justru merasa "sepi". Sebab pandangan
Allah tidak pernah luput darinya.

Kisah anak gembala dengan Umar bin Khathab adalah gambaran indah
tentang kekuatan ihsan. Saat itu Umar membujuk si anak gembala untuk
menjual satu dari ratusan kambing milik majikannya yang ia gembalakan.
Apa yang dikatakan anak gembala tersebut, Fa'ainallah? Kalau begitu di
manakah Allah? Saya bisa membohongi majikan saya, namun saya tidak
mungkin membohongi Allah. Dia selalu melihat apa yang saya lakukan!"
Demikian luar biasa orang-orang yang sadar bahwa setiap gerak
langkahnya merasa ditatap dan diperhatikan Allah.

Ada sebuah pesan yang layak kita renungkan, "Jika kamu sendirian, maka
jagalah hatimu. Jika kamu di tengah orang-orang, maka jagalah lisanmu.
Jika kamu dihadapan meja makan, maka jagalah perutmu. Jika kamu di
jalanan, maka jagalah matamu. Sebab Allah melihatmu." Wallaahu a'lam
(tri )





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Great things are happening at Yahoo! Groups.  See the new email design.
http://us.click.yahoo.com/TISQkA/hOaOAA/yQLSAA/vbOolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

===================================================================
        Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
=================================================================== 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke