Anak adalah nikmat dan pemberian Allah Swt yang tak ternilai 
harganya. Anak ini merupakan amanah bagi kedua orang tuanya untuk 
kemudian dipertanggung-jawabkan.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah mengingatkan kepada kita tentang 
besarnya tanggung jawab mendidik anak, "Barangsiapa yang melalaikan 
pendidikan anak dengan tidak mengajarkannya hal-hal yang bermanfaat, 
membiarkan mereka terlantar, maka sungguh dia telah berbuat sangat 
buruk. Sebagian besar anak yang jatuh ke dalam kerusakan tidak lain 
karena kesalahan orang tua yang tidak memperhatikan anak-anaknya dan 
tidak mengajarkan mereka kewajiban agama dan sunnah-sunnahnya. Sejak 
kecil mereka ditelantarkan sehingga kelak mereka tidak dapat 
memberikan manfaat kepada diri sendiri dan orang tuanya."

Telah lama disadari bahwa keluarga merupakan pihak yang memiliki 
pengaruh paling besar terhadap perkembangan anak pada tahun-tahun 
pertama kehidupannya. Keluarga juga kerap diidentikkan sebagai 
tempat atau lembaga pengasuhan yang dapat memberi kasih sayang. 
Keluarga merupakan sumber utama dari sekian sumber-sumber pendidikan 
nalar seorang anak, di mana ia akan menemukan tata nilai dan norma 
yang berlaku di masyarakat. Keluarga merupakan unsur terpenting 
dalam pembentukan kepribadian anak melalui proses perkenalan dan 
interaksi antara dirinya dengan anggota keluarga di sekitarnya. 


Keteladanan Orang Tua

Pengelola Yayasan Buah Hati, Neno Warisman, mengungkapkan bahwa 
agama merupakan elemen dasar perkembangan anak. Harus dipahami pula 
bahwa untuk mengajarkan agama pada tingkat dini dibutuhkan banyak 
metode. "Orang tua harus sedapat mungkin aktif menggali informasi 
serta menerapkan metode pengajaran agama yang sudah teruji. Dalam 
mengajarkan sesuatu kepada anak, kita harus menyertakan hati, 
telinga dan mata. Orang tua harus memberikan contoh yang nyata, 
bukan sekadar nasihat atau perintah. anak-anak memerlukan 
keteladanan agar nilai yang hendak disampaikan menjadi lebih 
bermakna," ungkap Neno.

Membiasakan anak sejak usia dini untuk mengetahui dan melaksanakan 
berbagai aktivitas keagamaan tidak dapat dilakukan tanpa 
memperhatikan kenyamanan emosi, fisik dan spiritual anak. Menurut 
Neno, jika orang tua dapat memfasilitasi ketiganya, maka proses 
pembelajaran agama akan berjalan dengan baik.

Praktisi pendidikan anak, Seto Mulyadi, menganggap bahwa peran 
keluarga sangat penting dalam membina akhlak dan mental anak. Kak 
Seto, demikian ia akrab dipanggil, menekankan agar orang tua 
memperhatikan metode dan cara yang tepat dalam memberikan 
pembelajaran agama kepada anak. Hal ini akan menentukan berhasil 
tidaknya upaya pendidikan.

"Dari semua hal yang perlu diajarkan, keteladanan orang tua adalah 
yang paling utama. Anak-anak akan mudah meniru apa pun yang 
dilihatnya. Jadi, ketika orang tua menerapkan perilaku terpuji dan 
bertutur kata yang halus, itu sudah merupakan permulaan pendidikan 
agama kepada anak-anak," tegas Seto.

Penyampaian nilai-nilai agama sebaiknya dilakukan dalam suasana 
yang 'berpihak' pada anak. "Jangan ada tekanan, paksaan atau emosi 
dari orang tua kepada anak-anaknya. Sebaliknya, jika suasana hangat 
tercipta, maka anak pun akan mengikuti apa-apa yang disampaikan 
kepada mereka," tambahnya.

Dalam proses pendidikan, kontinuitas dan kualitas komunikasi antara 
orang tua dan anak harus dijaga. Seto mengingatkan agar orang tua 
memiliki kepekaan untuk dapat memahami kegelisahan, keinginan maupun 
kegembiraan anak dengan menjadi pendengar yang baik. Di sinilah 
kemudian orang tua membimbing dan sekaligus menyisipkan ajaran agama 
dalam tingkatan yang mudah dipahami anak. "Melalui cara yang halus 
dan lembut penuh kasih sayang, saya kira nilai-nilai ajaran agama 
bisa lebih mengena pada anak."


Visi dan Misi Keluarga

Sebagaimana layaknya sebuah organisasi, keluarga harus memiliki visi 
dan misi. Penentuan visi dan misi hendaknya dilandasi oleh pemahaman 
mendalam pada ajaran Al-Quran dan hadits. Dengan bercermin pada 
keluarga Rasulullah Saw, kita dapat memetik pelajaran berharga 
tentang fungsi sebuah organisasi keluarga.

Keluarga merupakan wadah penguatan ruhiyah melalui keteladanan dalam 
ibadah. Keluarga juga sangat besar pengaruhnya terhadap pengembangan 
potensi intelektual, spiritual maupun emosional. Melalui proses 
berkeluarga, ketiga potensi ini akan mengalami pematangan, 
percepatan, teruji efektivitas dan efisiensi dalam sinergisitasnya.

Pendek kata, orang tua adalah pelopor dalam memberikan pemahaman 
tentang ilmu agama kepada anak-anak mereka. Keteladanan yang muncul 
adalah bentuk dakwah paling efektif untuk membuat anak terpesona 
dengan akhlak yang dicontohkan oleh orang tuanya. Dengan demikian, 
proses pembelajaran, penerapan dan dakwah memang semestinya berawal 
secara alamiah di dalam lingkup keluarga. []

Dikirim oleh Ir. Ridho Budiman Utama 
http://tunas-cendekia.blogspot.com/


Kirim email ke