20 Mei Bukan Hari Kebangkitan Nasional (Tamat)
oleh : Rizki Ridyasmara , 

sumber : 
http://www.eramuslim.com/berita/tha/7524170742-20-mei-bukan-hari-kebangkitan-nasional-tamat.htm

Jumat, 25 Mei 07 17:47 WIB

Dalam tulisan bagian pertama, telah dipaparkan betapa organisasi Boedhi Oetomo 
(BO) sama sekali tidak pantas dijadikan tonggak kebangkitan nasional. Karena BO 
tidak pernah membahas kebangsaan dan nasionalisme, mendukung penjajahan Belanda 
atas Indonesia, anti agama, dan bahkan sejumlah tokohnya ternyata anggota 
Freemasonry. Ini semua mengecewakan dua pendiri BO sendiri yakni Dr. Soetomo 
dan Dr. Cipto Mangunkusumo, sehingga keduanya akhirnya hengkang dari BO.
Tiga tahun sebelum BO dibentuk, Haji Samanhudi dan kawan-kawan mendirikan 
Syarikat Islam (SI, awalnya Syarikat Dagang Islam, SDI) di Solo pada tanggal 16 
Oktober 1905. "Ini merupakan organisasi Islam yang terpanjang dan tertua 
umurnya dari semua organisasi massa di tanah air Indonesia, " tulis KH. Firdaus 
AN.

Berbeda dengan BO yang hanya memperjuangkan nasib orang Jawa dan Madura-juga 
hanya menerima keanggotaan orang Jawa dan Madura, sehingga para pengurusnya pun 
hanya terdiri dari orang-orang Jawa dan Madura-sifat SI lebih nasionalis. 
Keanggotaan SI terbuka bagi semua rakyat Indonesia yang mayoritas Islam. Sebab 
itu, susunan para pengurusnya pun terdiri dari berbagai macam suku seperti: 
Haji Samanhudi dan HOS. Tjokroaminoto berasal dari Jawa Tengah dan Timur, Agus 
Salim dan Abdoel Moeis dari Sumatera Barat, dan AM. Sangaji dari Maluku.

Guna mengetahui perbandingan antara kedua organisasi tersebut-SI dan BO-maka di 
bawah ini dipaparkan perbandingan antara keduanya:

Tujuan: 
- SI bertujuan Islam Raya dan Indonesia Raya, 
- BO bertujuan menggalang kerjasama guna memajukan Jawa-Madura (Anggaran Dasar 
BO Pasal 2).

Sifat: 
- SI bersifat nasional untuk seluruh bangsa Indonesia, 
- BO besifat kesukuan yang sempit, terbatas hanya Jawa-Madura, 

Bahasa: 
- SI berbahasa Indonesia, anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa Indonesia, 
- BO berbahasa Belanda, anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa Belanda

Sikap Terhadap Belanda: 
- SI bersikap non-koperatif dan anti terhadap penjajahan kolonial Belanda, 
- BO bersikap menggalang kerjasama dengan penjajah Belanda karena sebagian 
besar tokoh-tokohnya terdiri dari kaum priyayi pegawai pemerintah kolonial 
Belanda, 

Sikap Terhadap Agama: 
- SI membela Islam dan memperjuangkan kebenarannya, 
- BO bersikap anti Islam dan anti Arab (dibenarkna oleh sejarawan Hamid 
Algadrie dan Dr. Radjiman)

Perjuangan Kemerdekaan: 
- SI memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan mengantar bangsa ini melewati 
pintu gerbang kemerdekaan, 
- BO tidak pernah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan telah membubarkan 
diri tahun 1935, sebab itu tidak mengantarkan bangsa ini melewati pintu gerbang 
kemerdekaan, 

Korban Perjuangan: 
- Anggota SI berdesak-desakan masuk penjara, ditembak mati oleh Belanda, dan 
banyak anggotanya yang dibuang ke Digul, Irian Barat, 
- Anggota BO tidak ada satu pun yang masuk penjara, apalagi ditembak dan 
dibuang ke Digul, 

Kerakyatan: 
- SI bersifat kerakyatan dan kebangsaan, 
- BO bersifat feodal dan keningratan, 

Melawan Arus: 
- SI berjuang melawan arus penjajahan, 
- BO menurutkan kemauan arus penjajahan, 

Kelahiran: 
- SI (SDI) lahir 3 tahun sebelum BO yakni 16 Oktober 1905, 
- BO baru lahir pada 20 Mei 1908, 

Seharusnya 16 Oktober 
Hari Kebangkitan Nasional yang sejak tahun 1948 kadung diperingati setiap 
tanggal 20 Mei sepanjang tahun, seharusnya dihapus dan digantikan dengan 
tanggal 16 Oktober, hari berdirinya Syarikat Islam. Hari Kebangkitan Nasional 
Indonesia seharusnya diperingati tiap tanggal 16 Oktober, bukan 20 Mei. Tidak 
ada alasan apa pun yang masuk akal dan logis untuk menolak hal ini.

Jika kesalahan tersebut masih saja dilakukan, bahkan dilestarikan, maka saya 
khawatir bahwa jangan-jangan kesalahan tersebut disengaja. Saya juga khawatir, 
jangan-jangan kesengajaan tersebut dilakukan oleh para pejabat bangsa ini yang 
sesungguhnya anti Islam dan a-historis.

Jika keledai saja tidak terperosok ke lubang yang sama hingga dua kali, maka 
sebagai bangsa yang besar, bangsa Indonesia seharusnya mulai hari ini juga 
menghapus tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional, dan melingkari 
besar-besar tanggal 16 Oktober dengan spidol merah dengan catatan "Hari 
Kebangkitan Nasional". (Tamat/Rizki Ridyasmara)



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke