Manusia yang Lurus dan Bijaksana Dapatkah Hidup tanpa Islam? 
02/02/2003 
"Tahukah engkau orang yang menjadikan hawa-nafsunya sebagai Tuhannya? Apakah 
engkau dapat menjadi pemelihara (yang bertanggung jawab) atasnya? Ataukah 
engkau menyangka kebanyakan mereka itu dapat mendengar dan memahami. Mereka itu 
seperti ternak, bahkan lebih sesat jalan hidupnya." (Al-Furqaan: 43--44). 

Kalau memeluk agama sama dengan kebodohan tentu Anda lebih menyukai hidup tanpa 
agama. Kalau agama itu sama dengan beban yang memberatkan jiwa, atau cenderung 
kepada kehinaan dan kenistaan,
atau sama dengan gejolak rasialisme, tentu Anda lebih menyukai hidup tanpa 
agama! Tetapi, agama bukanlah seperti itu semua, bahkan menentang semuanya itu. 
Orang-orang ateis demikian buruknya mencampuradukkan antara kebenaran yang 
diturunkan Allah dan kebatilan yang dibuat oleh manusia atas dorongan nafsunya, 
kemudian menganggapnya sebagai agama. Orang yang mengetengahkan suatu kebatilan 
sebagai agama adalah pendusta, dan mengmgkari apa yang diketengahkannya itu 
berarti hukumnya wajib.

Manusia dalam zaman kita sekarang ini terbagi-bagi dalam beberapa golongan yang 
berlainan. Di antara mereka ada yang mengingkari ketuhanan dan membayangkan 
bahwa alam semesta ini tidak diciptakan oleh Tuhan. Ada pula yang mengakui 
ketuhanan secara tidak jelas dan menganggap semua agama besar adalah sama dalam 
hal metode ajarannya ataupun nilainya. Ada juga yang memeluk agama Yahudi atau 
Nasrani dan tidak bemiat meninggalkan dua agama itu selama-lamanya. Selain itu 
ada pula yang menganut paganisme yang tak mau tahu kepada agama lain, dan ada 
juga yang memeluk agama Islam,
rela dan puas bertuhan hanya kepada Allah, rela dan puas menerima Islam sebagai 
agama serta mengakui Muhammad saw sebagai nabi dan rasul.

Di kalangan kaum muslim terdapat orang-orang yang berpikir kacau, yaitu mereka 
yang hidup menurut apa saja yang mereka warisi dari nenek moyang. Berbagai 
macam sunah, berbagai macam bid'ah,
pengetahuan, kebodohan, petunjuk yang benar dan hawa nafsu--semuanya dicampur 
aduk. Di antara mereka itu terdapat pula para da'i yang menyerukan kebenaran 
sebagaimana yang pada zaman dahulu dilaksanakan oleh kaum salaf (generasi 
pertama umat Islam) terkernuka. Dalam perjalanan sejarah sedikit demi sedikit 
mereka makin terpencil, dan pada zaman kita sekarang ini mereka amat sedikit 
jumlahnya. Kesulitan yang dialami oleh para da'i sebenarnya datang dari 
gambaran tentang penampilan Islam di dunia Islam. Gambaran itu membuat orang 
yang lurus di negeri-negeri lain menjauhkan din dari Islam.

Seumpama di suatu negeri Islam yang merdeka orang dapat membantah 
pemerintahannya tanpa rasa takut, atau dapat menentang pendapat kepala 
negaranya tanpa perasaan cemas, sebagaimana pada zaman
dahulu dilakukan oleh kaum muslim terhadap dua orang khalifahnya, Abu Bakar 
Shiddiq dan 'Umar ibn Khaththab. Seandainya penguasa negeri itu berkata kepada 
seseorang, "Hai, engkau harus memeluk
agama Tauhid, karena itulah agama yang benar," kemudian jika orang itu 
menjawab, "Tidak," ia lalu diancam hendak dibuang atau dipancung kepalanya. 
Apakah Anda mengira bahwa orang itu benar-benar memeluk Islam? Tidak, sama 
sekali tidak! Apakah yang menarik hati orang itu sehingga ia memeluk suatu 
agama yang penguasanya dapat berbuat menghancurkan kota dan mengubur 30.000 
sosok mayat di bawah reruntuhan puing-puing? Setelah itu sang penguasa lalu 
menjadi orang yang "berwibawa", "terjaga keamanannya" dan "diagung-agungkan" 
melalui berbagai sarana penerangan dan media massa, baik yang dekat maupun yang 
jauh jangkauannya?

Orang itu sesungguhnya tetap kafir, ia tidak rela masuk ke dalam lingkungan 
mengerikan itu. Lantas, siapakah yang harus bertanggung jawab atas terjadinya 
peristiwa seperti itu? Tentu para politikus zalim yang tidak menghayati agama 
dan sibuk memfitnah Islam melalui kekuasaan yang ada pada mereka. Di sana 
terdapat pula orang-orang yang sibuk dengan pelbagai macam "ilmu agama'' yang 
menggambarkan
agama Islam sebagai penjara dan membuat kaum wanita menjadi bodoh. Mereka sibuk 
membuat peraturan-peraturan yang menonjolkan kelemahan kaum wanita, seolah-olah 
kaum wanita merupakan sejenis manusia yang boleh diperkosa hak-haknya; boleh 
direndahkan kedudukannya; boleh diremehkan akal pikirannya; dan kehadirannya di 
lapangan ilmu pengetahuan, peribadatan, dan perjuangan dipandang aneh, bahkan 
mengemudikan mobil pun dicela. Tidaklah mengherankan kalau agama Islam 
digambarkan demikian itu, sehingga menyebabkan kaum wanita di timur maupun barat
enggan memeluknya. Mereka tentu berpikir bahwa menghindari agama adalah lebih 
baik! Pikiran mereka yang demikian itu pasti didukung oleh beribu-ribu kaum 
pria. Fitnah yang dilakukan orang terhadap agama Islam dengan cara seperti itu 
benar-benar sangat memprihatinkan.

Saya teringat sebuah cerita di kalangan orang-orang Badui yang mengatakan, 
"Pada suatu hari ada orang yang menawarkan untanya di pasar dengan harga satu 
dirham, tetapi dengan syarat tali kekangnya pun harus dibeli juga dengan harga 
10.000 dirham." Orang-orang yang mendengar penawaran itu pun berkata, "Seumpama 
tidak ada tali yang terkutuk itu alangkah murah harga untanya." Memang benar, 
alangkah mudahnya memeluk agama Islam seumpama tidak ada orang-orang yang 
menyebar berbagai macam fitnah! 

Sekarang kami bertanya, "Apakah seorang ateis yang mengingkari Tuhan dan tidak 
percaya bahwa kelak ia akan dihadapkan kepada-Nya dapat menjadi orang yang 
lurus dan bijaksana?" Kami jawab, bahwa
makhluk yang demikian itu sungguh-sungguh tidak sehat penglihatan mata hatinya 
dan perilakunya. Sikapnya yang ingkar tethadap Tuhannya jauh lebih jahat 
daripada sikap seorang anak yang berani melawan ayah-bundanya yang penuh 
kasih-sayang. Orang itu mungkin saja berilmu pengetahuan, akan tetapi hal itu 
tidak menghilangkan kerendahan budinya. Di masa lalu Amerika Serikat pernah 
menjatuhkan hukuman mati terhadap seorang ilmuwan nuklir yang menyerahkan 
rahasia-rahasia tugas pekerjaannya kepada Rusia. Oleh pemerintah Amerika 
Serikat, ia dipandang sebagai pelaku kejahatan besar karena telah mengkhianati 
tanah air dan bangsanya. Apakah tanah air itu? la adalah sekeping bumi. Apakah 
bangsa itu? la adalah sekelompok manusia. Bagaimanakah orang yang mengkhianati 
Tuhan Penguasa bumi dan langit serta Penguasa seluruh umat manusia? Apakah ia 
tidak dianggap berbuat kejahatan?

Kebesaran yang dimiliki seseorang tidak dapat menangkal penyakit berbahaya yang 
menimpanya. Ada kalanya seorang yang mempunyai pandangan tajam diserang 
penyakit kanker yang menyebabkan kematiannya. Kekuatan dan ketajaman 
pandangannya temyata tidak berguna untuk menolak penyakitnya yang parah. 
Demikian pula orang yang mengingkari Tuhan dan menolak agama-Nya. Betapa pun 
tinggi ilmunya di bidang tertentu ia adalah orang yang tidak sehat jiwanya, 
tidak lurus jalan pikirannya, dan patut dikhawatirkan tingkah-lakunya. Bahkan, 
sesungguhnya ia lebih dekat kepada hewan daripada manusia. Pengabdiannya kepada 
hawa nafsu membuatnya selalu pesimis terhadap dirinya sendiri dan orang-orang 
yang di dekatnya. Allah menghukumnya dalam kehidupan dunia; dan menjadikan 
kecerdasannya sebagai musuhnya sendiri; dan menggali liang kuburnya dengan 
tangannya sendiri. Firman Allah dalam Alquran al-Karim melukiskan orang-orang 
yang hidup mengabdi hawa-nafsunya, menolak hidayah Ilahi dan tidak mengharapkan 
inayah dan rahmah-Nya, sebagai berikut:
"Tahukah engkau orang yang menjadikan hawa-nafsunya sebagai Tuhannya? Apakah 
engkau dapat menjadi pemelihara (yang bertanggung jawab) atasnya? Ataukah 
engkau menyangka kebanyakan mereka itu dapat mendengar dan memahami. Mereka itu 
seperti ternak, bahkan lebih sesat jalan hidupnya." (Al-Furqaan: 43--44).

Anda tentu melihat bahwa di berbagai negeri Arab terdapat banyak orang yang 
condong kepada sekularisme. Mereka berusaha keras menyingkirkan pengaruh Islam 
dari lapangan pendidikan, perundang-undangan, kebudayaan dan pengarahan.

Cobalah Anda perhatikan sungguh-sungguh bagaimana wajah mereka dan kegiatan 
mereka. Anda tidak akan dapat melihat adanya tanda-tanda yang menunjukkan bahwa 
mereka itu berjiwa sehat dan
berpikir cermat. Di antara mereka itu terdapat orang-orang yang mengaku 
"muslim", tetapi tidak menyukai ketentuan yang telah diturunkan oleh Allah. Di 
antara mereka itu ada pula para ahli kitab
yang menggabungkan diri dengan setiap kekuatan yang memusuhi Islam untuk 
memperoleh banyak pengikut di kalangan kaum awam, dan sekaligus untuk 
melampiaskan kedengkiannya. Sekalipun demikian, mereka pura-pura memperlihatkan 
sikap tak berpihak! Orang-orang seperti itu tidak mungkin dapat disebut manusia 
yang lurus dan bijaksana. Sebab, kalau benar-benar mereka mempunyai
kesadaran rasonal yang semumi-murninya tentu mereka tahu bahwa Isra'il 
mempersenjatai din dengan akidah yang agresif dan politik yang memperalat agama 
untuk merampas tanah air bangsa lain dan menginjak-injak kehormatannya. 
Bagaimanakah orang dapat menerima agama yang agresif juga membenarkan garis 
politiknya dan menghormati kekuasaannya? Mereka malah menolak agama yang 
membela tanah air, bahkan menganggap kehadirannya di lapangan pendidikan untuk 
memperkuat ketahanan nasional sebagai politik kolot yang harus dijauhkan. 
Persoalannya adalah karena di sini agama Islam, dan di sana agama Yahudi! 
Bukanlah soal politik dalam agama kalau Islam berjuang
membela tanah air. Negara-negara Arab pasti akan ambruk jika zionisme dibiarkan 
merajalela, apalagi kalau politik negara-negara itu memandang zionisme sebagai 
hikmah dan kemajuan! Bukanlah nalar sehat dan bukan pula suatu kebijakan jika 
orang menolak kenabian Muhammad saw, atau membenci manusia besar itu dan 
menyerangnya. 

Kita tentu tertawa geli bila mendengar ada orang yang berpendapat bahwa bumi 
ini berbentuk segitiga atau segiempat, atau bila mendengar ada orang yang 
mengatakan bahwa Nabi Musa as itu lahir di Amerika Serikat. Bagaimana kita 
tidak tertawa kalau kita mendengar orang mengatakan, Budha itu tuhan, sedangkan 
Muhammad saw adalah penyamun?! Bagaimana kita tidak tertawa geli jika ada orang 
yang berpendapat bahwa Islam itu agama penyembah berhala yang menginjak-injak 
kehormatan manusia, atau tidak mengerti bahwa Islam itu agama tauhid (agama 
yang mengesakan Tuhan) dan agama yang suci?! Kalau orang yang demikian itu 
bukan pura-pura tidak tahu, ia pasti orang pandir, dan orang pandir tidak 
mungkin dapat disebut lurus dan bijaksana. Ada kalanya kepandiran dapat 
dijadikan alasan untuk membebaskan orang dan tanggung jawab moral pada saat ia 
bertindak menyalahi ketentuan
hukum. Tetapi, kepandiran tidak akan dapat dijadikan dalih untuk 
membagus-baguskan orang yang bersangkutan. 

Ada sementara orang Yahudi yang percaya bahwa Tuhan bergulat dengan Israil 
hingga nyaris
jatuh tersungkur di hadapannya. Sementara itu orang-orang Nasrani percaya bahwa 
seorang bayi lahir dalam keadaan menanggung laknat dosa kesalahan yang 
dilakukan oleh Adam, dan jika orang tidak percaya bahwa Isa as mati di kayu 
salib untuk menebus dosa manusia maka orang yang tidak percaya itulah yang 
terkena kutukan abadi!

Orang boleh mempunyai kepercayaan apa saja, tetapi janganlah ia melampaui batas 
lingkungan dan kedudukannya sendiri dan jangan pula mendusta-dustakan seorang 
nabi dan rasul yang datang untuk
menjemihkan agama-agama Tuhan dan pencemaran, dan menegur manusia yang lari 
meninggalkan kebenaran Allah dengan menyampaikan firman-Nya, "Ataukah belum 
pernah diberitakan kepadanya apa yang terdapat di dalam kitab suci (yang 
diturunkan Allah) kepada Musa, dan (di dalam) kitab suci (yang diturunkan 
Allah) kepada lbrahim, orang yang selalu menepati janji? Yaitu, bahwasanya 
orang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang 
manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwa 
usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian ia akan diberi 
balasan yang sepadan." (An-Najm: 36--41).

Ayat-ayat suci tersebut di atas ibarat dentang suara lonceng yang membangkitkan 
perasaan takut dan menggugah kesadaran untuk berhati-hati dan selalu ingat. 
Atau, ibarat rambu-rambu yang harus diindahkan orang yang melintasi berbagai 
persimpangan jalan agar dapat sampai ke arah yang dituju dan tidak tersesat.

Tidak mengenal Islam adalah suatu kekurangan yang amat fatal, dan orang tidak 
akan dapat menyempumakan dirinya kecuali dengan Islam. Bagaimana orang dapat 
membersihkan din jika ia tidak merasa butuh kepada taufik dan hidayah llahi, 
kepada janji pahala dan hukuman siksa-Nya; dan bagaimana pula kalau hatinya 
tidak pemah sedetik pun merasa tunduk kepada-Nya, dan tidak juga pemah berucap, 
"Ya Allah, ampunilah kesalahanku pada hari Kebangkitan kelak?"

Sumber: Al-Ghazali Menjawab, Muhammad al-Ghazali

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Best Regards,

Iip Syaiful Rahman

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke