Kaizen oh Kaizen
oleh Ken Zi*

Senin pagi.
"Kasih lapor saya kaizennya. Mau sudah selesai sebelum jam 12." 
Sudah berapa kali atasan kami yg orang Jepun itu mengingatkan betapa pentingnya 
kaizen. Setiap kali terjadi masalah setiap kali pula kata asing bahasa Jepang 
itu muncul. Dan kejadian yang sama hampir selalu terulang.

"Apa mereka tidak mengerti prinsip 'kaizen'?". Suatu saat staff Jepang cabang 
Osaka bertanya kepada saya via telpon ketika masalah yang sama muncul lagi. 
Dan tentunya saya jawab, "Mengerti dong, cuma masalahnya bukan cuma mengerti 
atau tidak, tapi banyak hal yang bisa menjadi pemicu masalah...". Terkesan 
membela diri memang, mana mau saya menjelekkan wong bumi putra didepan mereka. 
Dan ini memang sering saya lakukan apalagi sebagai penterjemah, situasi 
'simalakam' sering kali memaksa diri untuk mencari posisi aman. 

Ya, apapun alasannya kesalahan tetap kesalahan. Walaupun sudah dilakukan 
analisa dan tindakan perbaikan terhadap sumber suatu masalah dan pegawai yang 
melakukan kekeliruan kerja berjanji untuk melakukan kaizen yang telah 
disepakati agar masalah yang sama tidak muncul lagi atau paling tidak bisa 
diminimalisir dimasa yang akan datang. Tapi apa daya, janji tinggallah janji. 
Masalah yang sama sering kali terulang kembali dan celakanya penyebabnya pun 
hampir selalu sama. 

"Masalah akan selalu ada ya. Tapi bukan untuk sembunyi cari-cari alasan. 
Masalah bisa jadi untuk perbaikan nantinya. Hasil memang penting tapi proses 
lebih penting." Dengan bahasa Indonesia yang lancar namun sedikit aneh, atasan 
kami yang orang Jepang itu menekankan betapa pentingnya prinsip kaizen dalam 
budaya manajemen perusahaan.

Kami faham kebenaran yang dikatakan atasan Jepang itu. Tapi bagi sebagian 
pegawai lokal, pemahaman mengenai kaizen sepertinya masih jauh panggang dari 
api. 

Ada-ada saja alasannya, 
"Gak praktis amat sih, kan tinggal kirim lagi aja, beres"
"Gitu aja kok repot"
"Buat apa dicari-cari, ujung-ujungnya pasti harus kirim juga kan?"
"Ih cari-cari kesalahan amat sih, yang penting kan kerjaan kelar."
Dan banyak alasan lainnya yang kalau dipikir sepintas sepertinya benar tapi 
jika ditelaah lebih jauh dengan menerapkan prinsip kaizen akan dapat dipahami 
letak kekeliruan yang sesungguhnya.

Lalu apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan 'kaizen'?.
Kaizen berarti penyempurnaan berkesinambungan (dalam kehidupan pribadi, dalam 
keluarga, lingkungan sosial dan di tempat kerja).

Bila ditempat kerja kaizen berarti penyempurnaan berkesinambungan yang 
melibatkan setiap orang, baik manajer maupun bawahan. Dimana strategi kaizen 
memelihara dan menyempurnakan standar kerja melalui penyempurnaan bertahap. 
Penyempurnaan kecil yang diperoleh sebagai hasil usaha yang berkesinambungan.

Berbeda dengan manajemen gaya barat yang lebih mengutamakan hasil, manajemen 
gaya Jepang menitik beratkan perbaikan yang berkesinambungan pada proses. 
Perbaikan terus menerus pada proses pada akhirnya akan mendapatkan hasil yang 
semakin lebih baik pula. 

Contoh yang sangat baik bagi penerapan kaizen dapat dilihat dalam olah raga 
tradisional Jepang, Sumo. Dalam setiap turnamen Sumo disediakan 3 hadiah 
disamping juara turnamen, yakni: hadiah prestasi unggul, hadiah keterampilan 
dan hadiah semangat perjuangan.

Uniknya tidak satupun dari 3 hadiah itu didasarkan hanya atas hasil saja tapi 
juga mengacu kepada proses perjuangan setiap pegulat untuk meraih kemenangan. 
Misalnya untuk hadiah semangat perjuangan diberikan kepada pegulat yang telah 
berjuang sangat keras selama 15 hari turnamen, meskipun rekor menang/kalahnya 
tidak memuaskan. 

Walaupun bukan berarti bahwa kemenangan tidak diperhitungkan dalam Sumo. Dimana 
sebenarnya penghasilan setiap pegulat perbulan sebagian besar didasarkan atas 
rekornya tapi kemenangan bukanlah segala-galanya. Proses untuk mencapai 
kemenangan itu yang menjadi fokus utama dari penerapan prinsip Kaizen. Hal ini 
merupakan contoh baik dari cara berpikir orang Jepang yang berorientasi pada 
proses.

Kita dapat melihat dan mengakui keunggulan produk-produk Jepang yang sudah 
menguasai dunia dewasa ini. Sebut saja merek mobil yang berseliweran di 
Indonesia, pasti sebagian besar berasal dari negaeri Sakura itu. Dan keunggulan 
dari produk mereka salah satunya dikarenakan prinsif kaizen yang mereka 
terapkan untuk mengawal kualitas produk yang mereka hasilkan.

Bisa difahami bahwa kaizen sangatlah erat dengan perbaikan yang 
berkesinambungan. Sehingga akhirnya akan didapatkan hasil yang terus menjadi 
semakin baik, semakin berkualitas. Bukan hanya dalam industri, dalam kehidupan 
pribadi pun pemahaman akan prinsif kaizen harus menjadi pegangan bagi manusia 
yang ingin selalu berusaha meningkatkan kualitas dirinya.

Bukankah kita juga sudah sangat familiar dengan sabda Rasululloh Saw, "Barang 
siapa yg hari ini lebih buruk dari kemarin dia celaka, yang hari ini sama 
dengan kemarin dia merugi, dan hari esok lebih baik dari hari ini dia lah yang 
beruntung".

Cikarang, 5 Desember 2007






[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke