Assalamu'alaikum wr wb, Ucapan "Assalamu'alaikum" adalah doa yang artinya semoga Allah memberi keselamatan bagimu. Salam ini hanya boleh diucapkan kepada Muslim karena doa kepada Non Muslim hanya boleh berupa doa agar mereka diberi petunjuk/hidayat oleh Allah SWT ketika masih hidup.
Ada pun salam yang diucapkan Nabi kepada orang kafir adalah: salamun 'alaa man ittaba'al-huda (salam kepada orang yang mengikuti petunjuk). Di situ ada persyaratan bahwa hanya yang mengikuti petunjuk Allah yang dapat keselamatan. Jadi kalau orang kafir itu tidak mengikuti petunjuk, dia tidak dapat. Bagaimana jika orang kafir yang mengucapkan lebih dulu? Ketika orang Yahudi memelesetkan Salam, kepada 'Aisyah Nabi mengatakan agar mengucapkan 'Alaika (begitu pula bagimu). Berikut artikel tentang mengucapkan Salam kepada orang kafir. Wassalam http://www.eramuslim.com/ustadz/shl/6815131508-memberi-salam-lebih-dahulu-non-muslim.htm?rel Ustadz Menjawab bersama Ust. H. Ahmad Sarwat, Lc. Kirim Pertanyaan Memberi Salam Lebih Dahulu kepada Non Muslim Rabu, 16 Agu 06 12:10 WIB Kirim teman Assalamu'alaikum ustadz. Saya mau bertanya mengenai salam. Bagaimana hukumnya orang Islam yang mengucapkan assalamu'alaikum kepada teman/orang yang bukan Islam? Saya pernah berselisih pendapat dengan teman saya karana saya menyatakan kita tidak boleh mengucapkan salam (assalamu'alaikum warramatullahi wa barakatuh) kepada teman/orang non muslim. Teman saya membantah dengan argumen bahwa kita diperbolehkan mengucapkan assalamu'alaikum kepada teman/orang non muslim jika tidak diiringi dengan kalimat warramatullahi wa barakatuh. Bagaimana yang benar menurut syari'at, pak ustadz? Pramono bilapram Jawaban Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ada beberapa sudut pandang yang sedikit berbeda dari para ulama tentang masalah ini. Sebagian ada yang mengharamkan dan sebagian membolehannya dengan syarat. Sebagian ulama ada yang punya harga diri tinggi di depan kaum kafir. Sehingga beberapa dari mereka bersemangat untuk mengharamkan memberikan salam kepada orang kafir. Terutama kalau memulai memberi salam. Syeikh Ibnu Utsaimin ketika ditanyakan masalah ini, secara tegas menjawab haram dan tidak boleh. Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW: Janganlah kalian memberi salam terlebih dahulu kepada yahudi dan nasrani. Kalau kalian bertemu mereka di jalanan, maka pepetlah mereka ke tempat yang sempit'. (Al-Hadits) Namun Syeikh Utsaimin mewajibkan umat Islam menjawab salam orang kafir dengan jawaban yang setimpal. Lantaran Allah SWT sudah berfirman: وَإِذَا حُيِّيْتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّواْ بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu. Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu. (QS. An-Nisa': 86) Yang dimaksud dengan jawaban yang setimpal seperti ucapan: 'wa'alaikum', yang artinya kira-kira: dan demikian juga dengan anda. Hal itu karena diriwayatkan bahwa dahulu ada seorang yahudi yang memberi salam kepada nabi dengan ucapan: 'assaamu 'alaika ya Muhammad'. Dan kata assaamu artinya kematian. Kata ini pelesetan dari 'assalaamu 'alaikum'. Maka nabi berkata, "Kalau orang kafir mengatakan padamu assaamu 'alaikum, maka jawablah dengan wa 'alaikum." Dan syeikh mengatakan bahwa seandainya mereka memberi salam dengan lafadz yang benar seperti 'assalamu 'alaikum', maka kita wajib membalasnya dengan lafadz yang sama. Pendapat yang Tidak Mengharamkan Secara Mutlak Namun sebagian ulama memandang bahwa penyampaian salam dikembalikan kepada niatnya. Kalau niatnya berupa rasa rendah diri di depan orang kafir, haram hukumnya. Tetapi kalau penghormatan yang tidak menunjukkan kerendahan umat Islam, tidak menjadi soal. Dalilnya adalah salam yang dituliskan nabi Muhammad SAW ketika berkirim surat kepada raja-raja dunia yang bukan muslim. Surat-surat nabi itu dimulai dengan basmalah dan salam. Lengkapnya berbunyi: salamun 'alaa man ittaba'al-huda (salam kepada orang yang mengikuti petunjuk). Meski bukan lafadz assalamu 'alaikum, namun kalimat pembuka surat nabi itu juga tetap mengandung kata-kata 'salam. Meski pun juga sifatnya masih mu'allaq (tergantung), tidak langsung mendoakan orang kafir penerima surat itu secara pasti, tetapi mendoakannya bila dia mengikuti petunjuk (masuk Islam). Juga tidak mengapa bila berbasa-basi dengan orang kafir yang tidak memusuhi kita dan mulai dengan menyapa mereka, asalkan dengan lafaz yang tidak mengandung rasa rendah diri sebagai muslim. Terutama bila memang dirasa perlu. Seperti ucapan ahlan wa sahlan dan kaifa haluka. Ucapan ahlan wa sahlan kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi 'selamat datang'. Selamat yang dimaksud dalam idiom ini sama sekali berbeda makna dan esensinya dengan lafadz assalamu 'alaikum. (lihat kitab Al-Mausu;ah Al-Fiqqhiyah Al-Kuwaitiyah jiid 25 halaman 168) Demikian juga kita boleh menyapa mereka dengan lafaz shabahul khair, atau shabahus surur, yang terjemahan bebasnya adalah selamat pagi atau selamat sore. Tapi makna selamat di sini berbeda dengan makna assalamu 'alaikum. Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Zaadul Ma'aad jilid 2 halaman 424 menuliskan bahwa sebagian ulama membolehkan untuk mendahului orang kafir dalam memberi salam demi kemashlahatan yang kuat dan nyata dibutuhkan. Atau karena alasan takut dari ulah orang kafir itu. Atau karena adanya hubungan kekerabatan denganmereka. Atau karena sebab-sebab lain yang seperti itu. Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ahmad Sarwat, Lc. http://www.almanhaj.or.id/content/2006/slash/0 Mengucapkan Salam Kepada Orang Kafir, Dan Mengucapkan Salam Kepada Muslim Dan Kafir Sabtu, 23 Desember 2006 00:58:40 WIB MENGUCAPKAN SALAM KEPADA MUSLIM DAN KAFIR Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Pertanyaan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Tentang hukum mengucapkan salam kepada seorang muslim dengan ungkapan, “Assalamu ‘ala man ittaba ‘a Al-Huda” (semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada yang mengikuti petunjuk)? Dan bagaiamana mengucapkan salam kepada penghuni suatu tempat yang terdiri dari muslim dan kafir? Jawaban Tidak boleh mengucapkan salam kepada seorang muslim dengan ungkapan, “Assalamu ‘ala man ittaba ‘a Al-Huda”, karena ungkapan ini dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berkirim surat kepada orang-orang non muslim. Karena saudara anda seorang muslim, maka ucapkan “Assalamu’alaikum”. Jika anda mengucapkan, “Assalamu ‘ala man ittaba ‘a Al-Huda”, berarti mengkatagorikan saudara anda tidak termasuk orang-orang yang mengikuti petunjuk. Jika orang-orang itu terdiri dari kaum muslimin dan nashrani, maka hendaknya mengucapkan kepada mereka dengan ucapan yang biasa, “Assalamu ‘alaikum” dengan tujuan kepada kaum muslimin. [Majmu Fatawa wa Rasa’il, Syaikh Ibnu Utsaimin 3/35] MENGUCAPKAN SALAM KEPADA ORANG KAFIR Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Pertanyaan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Bolehkah kita memulai salam kepada orang-orang kfir ? Dan bagaimana kita membalas salam jika mereka lebih dulu mengucapkan salam kepada kita ? Jawaban Orang-orang yang datang kepada kita, baik dari timur maupun dari barat yang non muslim, tidak halal bagi kita untuk memulai mengucapkan salam kepada mereka, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Artinya : Janganlah kalian memulai kaum yahudi dan jangan pula kaum nashrani dengan ucapan salam “[Hadits Riwyat Muslim dalam As-Salam 2167] Tapi jika mereka lebih dahulu mengucapkan salam kepada kita, maka hendaklah kita megucapkan seperti salam mereka kepada kita, hal berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Artinya : Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa)” [An-Nisa : 86] Ucapan salam mereka dengan ungkapan salam Islam “Assalamu ‘alaikum” tidak terlepas dari dua hal. Pertama : Mereka jelas-jelas mengucapkan dengan adanya lam yaitu, “Assalamu ‘alaikum (semoga kesejahteraan bagimu), maka kita boleh mengucapkan ‘Alaikumus salam atau wa alaikum (semoga juga bagimu). Kedua : Jika mereka tidak jelas mengucapkan lam, misalnya mereka mengucapkan, “Assamu ‘alaikum” (semoga kematian menimpamu), maka kita mengucapkan, “wa ‘alaikum” [1] (juga menimpamu). Demikian ini, karena dulu kaum Yahudi pernah datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengucapkan salam kepada beliau dengan ucapan, “Assamu ‘alaikum”, mereka tidak jelas mengucapkan lam. As-Sam artinya al-maut (kematian), maksudnya mereka mendo’akan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mati. Karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengucapkan pada mereka, “wa ‘alaikum”. Jadi, jika mereka mengucapkan, “Assamu ‘alaikum” maka kita membalas dengan ucapan, “wa ‘alaikum”, maksudnya, semoga kematian itu menimpa kalian pula. Demikianlah yang ditunjukkan oleh As-Sunnah. Adapun memulai salam kepada mereka dengan ucapan salam, maka ini telah dilarang oleh Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam [Al-Majmu Ats-Tsamin, Syaikh Ibnu Utsaimin, Juz 2, hal. 97-98] [Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, Penerbit Darul Haq] _________ Foote Note [1]. Hadits Riwayat Bukhari dalam Al-Isti’dzan (2656), Muslim dalam As-Salam (2165) === Paket Umrah Mulai Rp 15,4 juta Informasi selengkapnya ada di: http://www.media-islam.or.id Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252 Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari Telkomsel Informasi selengkapnya ada di http://syiarislam.wordpress.com ___________________________________________________________________________ Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist. Download sekarang juga. http://id.toolbar.yahoo.com/

