Bencana Memersatukan Warga

Keyakinan senantiasa berbuah keberhasilan, kalimat ini coba ditanamkan kepada 
para relawan ACT di Pangalengan, Bandung, terkait rencana pelaksanaan buka 
puasa bersama para pengungsi korban gempa Jawa Barat. Keraguan sempat 
menghinggapi sekitar sepuluh relawan yang tersisa di posko Pangalengan, sebab 
harus menyelenggarakan buka puasa bersama untuk sekitar 1500 orang pada hari 
Rabu 16 September 2009, sedangkan waktu tersedia hanya dua hari.

Ya, posko Pangalengan yang dikomandani Anwar baru mendapat kabar dari pusat 
soal rencana buka puasa bersama ini dua hari sebelumnya, dan itu sempat membuat 
beberapa relawan bertanya kompak, “Apa mungkin dengan waktu hanya dua hari? 
Seribu lima ratus?” kira-kira demikian nada keraguan yang muncul.

Namun sekali lagi, bahwa kekuatan utama setiap orang ada di dalam dadanya, apa 
yang tersimpan jauh di lubuk hatinya berupa keyakinan. Salah satu ciri 
kesuksesan seorang relawan atau tim adalah kemampuannya menggerakkan 
masyarakat, seberat dan sesulit apapun sebuah pekerjaan jika dilakukan secara 
bersama dan terorganisir akan terlihat lebih ringan dan mudah. Betul saja, 
ketika ide ini disampaikan ke warga pengungsi, mereka sangat antusias. Terlebih 
ketika diberi tahu menu utamanya adalah daging sapi yakni dengan menyembelih 
seekor sapi berukuran besar, ditambah menu bergizi lainnya.

Tim ACT langsung berkumpul bersama warga untuk berembug dan membuat rencana, 
mulai dari membeli sapi dan bahan-bahan lainnya, termasuk mengorganisir puluhan 
tenaga untuk memasak serta menyiapkan hal lain terkait acara buka puasa bersama 
besar-besaran itu. Mulai dari bapak-bapak, ibu-ibu, remaja, hingga anak-anak 
serta relawan bahu membahu memersiapkan sajian buka puasa yang terdiri dari 
makanan utama dengan menu bistik sapi, gulai sapi, bihun goren, dan kerupuk, 
makanan pembuka bakwan dan pisang goreng dilengkapi dengan sop buah dan air 
minum dalam kemasan. Tidak tanggung-tanggung, jumlah makanan berbuka yang harus 
disiapkan sebanyak 1500 paket agar bisa melayani pengungsi sejumlah itu.

Pagi hari di tanggal 16 September 2009, warga dan berkumpul guna menyaksikan 
pemotongan sapi sedangkan para ibu dan remaja putri sibuk menyiapkan alat-alat 
memasak. Setelah itu kesibukan pun dimulai, dari mencincang daging dan tulang 
kemudian mengolahnya, juga membuat makanan lainnya. Sekelompok ibu dan remaja 
putri membuat sop buah, sekelompok lainnya mengolah sayuran, sedangkan kaum 
bapak memasak daging. Sebagian relawan menyiapkan dus pembungkus, dan sebagian 
ibu-ibu menanak nasi. Semua proses itu dimulai pukul 08.00 hingga menjelang 
waktu berbuka. Alhamdulillah, waktu maghrib tiba, sekitar 1300 dus makanan 
sudah siap dibagikan. Sedangkan sisanya diselesaikan usai maghrib.

Sebuah kerja keras luar biasa yang diperlihatkan oleh sinergi hebat antara 
relawan dan warga pengungsi. Menyiapkan 1500 paket buka puasa bersama bukan hal 
mudah dan ringan, hanya bermodal keyakinan dan kekompakan lah semua itu bisa 
diwujudkan. Rasa lelah dan peluh yang banjir sejak awal proses seolah terbasuh 
sudah ketika melihat para pengungsi berbondong-bondong mendatangi lokasi buka 
puasa bersama yang disponsori oleh Jamaah Ishlah Malaysia (JIM), sebuah lembaga 
sosial asal negeri jiran.

Banyak hal menarik yang bisa dipetik dari acara buka puasa bersama tersebut, 
bukan sekadar meningkatkan gizi pengungsi yang sudah berhari-hari mengonsumsi 
mie instant, namun lebih dari itu, ini adalah silaturahim antara para pengungsi 
yang tersebar di beberapa titik, juga dengan para relawan. Nilai strategis dari 
program ini guna memberikan satu bentuk edukasi kepada publik bahwa para 
pengungsi pun patut diperlakukan secara terhormat dengan memberikan makanan 
yang bergizi.
Coba kita simak komentar para pengungsi yang hadir. Ustadz Wahyu Bobi misalnya, 
“Alhamdulillah, isteri saya bilang bahwa makanan ini luar biasa, ada 
peningkatan gizi setelah berhari-hari makan yang itu-itu saja. Sampaikan salam 
terima kasih kami dan segenap warga kepada siapapun yang memberi makanan 
bergizi ini. Semoga berkah dan Allah membalasnya dengan balasan yang jauh lebih 
baik…”

Masyarakat senang, warga gembira menerima paket makanan yang disiapkan ACT 
bekerja sama dengan JIM. Dan yang lebih menggembirakan adalah pernyataan Pak 
Iyep Syaifullah, yang merasa bersukur dengan diadakannya buka puasa bersama 
ini. “Semua proses mulai dari pemotongan sapi sampai acara buka puasanya, 
memberi hikmah tersendiri bagi warga kami. Warga kami menyatu kembali, setelah 
sempat tercerai berai oleh bencana,” ujar Pak Iyep.

Menurut Pak Iyep, sebelum bencana ada warga yang kurang bergaul dan kurang 
menyatu. Setelah bencana kami semakin peduli satu sama lain. Kami semakin dekat 
dan mau saling membantu. Mungkin ini hikmah dari bencana, membuat kita sama 
rasa dan nasib, rasa inilah yang menyatukan kami. Ditambah lagi dengan adanya 
program buka puasa ini, yang semula individual menjadi semakin dekat dan mau 
saling membantu. Terima kasih kepada ACT dan JIM dari Malaysia,” tambahnya. 
(Gaw)

klik http://actforhumanity.or.id


Bayu Gawtama
Life-Sharer
http://solifecenter.com
0852 190 68581



      "Coba Yahoo! Mail baru yang LEBIH CEPAT. Rasakan bedanya sekarang!
http://id.mail.yahoo.com"

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke