Judul: Metode Menjemput Kematian
Penulis: Imam Al-Ghazali

Sudah dua hari ini aku membaca buku “Metode Menjemput Kematian”-nya Imam 
al-Ghazali. Aku sangat kagum dengan karya beliau tersebut. Bagiku, buku itu 
begitu hidup. Sejak dari prolognya, buku itu membetotku masuk dalam 
lingkarannya; mengajakku merenungkan setiap kata-katanya. Simaklah kata-kata 
beliau ini baik-baik:

“Segala puji bagi Allah, yang dengan maut telah mematahkan leher para tiran, 
menghancurkan tulang punggung raja-raja Parsi, memupus ambisi para kaisar, yang 
hatinya telah lama jauh dari ingatan terhadap kematian, hingga tiba janji 
kebenaran itu kepada mereka dan menghempaskan mereka ke lubang kubur. Mereka 
tercampak dari istana-istana yang megah ke dalam liang-liang lahat yang paling 
dalam, dari cahaya buaian ke dalam gelapnya alam kubur, dari asyiknya bermain 
dengan dayang-dayang kepada serangga dan cacing pemangsa, dari kelezatan 
makanan dan minuman beralih menjadi tertelungkup di perut bumi; dari keramaian 
persahabatan kepada senyapnya penyendirian, dan dari singgasana yang empuk 
kepada nestapa yang menyengsarakan.”

Di sini Imam al-Ghazali berhasil membuka alinea pertama dengan sangat baik. 
Beliau telah menyedot perhatian pembaca sejak dari awal buku tersebut. Buku 
seperti inilah yang akan banyak dibaca orang. Simaklah lagi paragraf 
selanjutnya:

“Lihatlah, bisakah mereka mendapatkan kekuatan dan perlindungan dari maut, atau 
mampu membentengi diri darinya? Lihatlah apakah engkau bisa menyaksikan seorang 
dari mereka, atau mendengar dari mereka sedikit suara?

Oleh karena itu, segala puji adalah bagi-Nya, satu-satunya penggenggam 
kekuasaan dan kewenangan, yang telah mengklaim bagi diri-Nya kekekalan, 
merendahkan segala makhluk dengan kefanaan yang telah ditakdirkan-Nya atas 
mereka, lalu menetapkan maut sebagai ampunan bagi orang-orang yang bertakwa dan 
janji pertemuan bagi mereka. Kuburan dijadikan-Nya sebagai penjara yang akan 
membelenggu orang yang celaka sampai tibanya Hari Keputusan dan Pengadilan. 
Dialah pemilik kekuasaan untuk menganugerahkan rahmat atau melakukan pembalasan 
yang tak bisa ditolak. Dialah yang paling berhak dipuji di langit maupun di 
bumi; bagi-Nyalah segala puji di alam terdahulu dan di kemudian.

Adalah kewajiban orang yang memandang kematian sebagai kefanaannya, bumi 
sebagai tempat tidurnya, cacing sebagai karibnya, Munkar dan Nakir 
teman-temannya, kuburan tempat tinggalnya dan perut bumi tempat 
peristirahatannya, kebangkitan perjanjiannya, surga dan neraka sebagai 
peruntungannya, untuk tidak memikirkan apa pun selain kematian. Tak layak dia 
melakukan persiapan atau rencana selain untuk menyambutnya. Semua harapan, 
kepedulian, energi, penantian, dan antisipasi harus dikerahkan untuknya semata. 
Sangatlah benar jika dia menyadari dirinya termasuk di antara mereka yang telah 
mati dan sebagai salah seorang penghuni alam kubur, sebab semua yang akan 
datang adalah dekat; sedangkan yang jauh tidak akan pernah datang.

Nabi Saw. telah bersabda, ‘Orang yang cerdas adalah orang yang mengadili 
dirinya sendiri dan beramal baik untuk kehidupan akhirat.’ Mengadakan persiapan 
untuk menghadapi sesuatu tidak akan mudah kecuali jika ingatan tentang hal itu 
senantiasa diperbarui dalam hati, dan ini hanya bisa dilakukan melalui 
penyadaran diri sendiri dengan cara memperhatikan hal-hal ang membangkitkan 
ingatan terhadapnya dan dengan mencermati sumbu-sumbu yang bertutur tentangnya. 
Persoalan kematian, dengan sebab dan akibatnya, kondisi alam akhirat, 
kebangkitan, surga dan neraka, kami nyatakan harus terus diingat dan 
direnungkan oleh hamba Allah, agar menjadi motivasi untuk berbekal diri. Ini 
karena perjalanan menuju akhirat telah hampir tiba, dan usia hanya tinggal 
sedikit. Namun, manusia umumnya melalaikan hal ini.”

Apakah Anda tidak berkesan membacanya? Terus terang saya berkesan. Bagi seorang 
yang mengarahkan ruhaninya, maka tulisan itu membuat ruhaninya semakin 
bersinar. Jika seseorang membacanya hanya dari sudut pandang sastra, maka ia 
akan memberikan kepuasan sastrawi bagi orang tersebut. Bagiku, hal ini terjadi 
karena Imam al-Ghazali menulis bukunya dengan akal dan ruhaninya sekaligus. 
Tulisannya yang indah membius pembacanya yang bejat sekalipun.

Dari segi isi, aku sangat banyak belajar dari Imam al-Ghazali. Begitupun dari 
segi gaya bahasa yang beliau pergunakan, menunjukkan bahwa beliau adalah 
seorang intelek yang sudah tidak diragukan lagi keilmuannya. Ini bukan 
pekerjaan mudah, karena seorang penulis seperti beliau harus menyelaraskan 
antara logika dan perasaan, akal dan hati, dan antara ilmu dan amal. Apabila 
salah satu di antara keduanya tumpul atau tidak ada, maka hasil karyanya akan 
tumpul pula.

http://abu-farras.blogspot.com/2012/04/bedah-buku-metode-menjemput-kematian.html 


Kirim email ke