============================================
Mailinglist debritto : [EMAIL PROTECTED]
============================================
Kejadian spt ini bahasa jawanya 'pangeram-eram'.
Jangan keliru dengan 'pangewan-ewan': contohnya adalah perlakuan dokter
Panti Rapih kepada salah satu anggota DBNet.
Belum lama juga ada cerita pangeram-eram dari Sidoarjo (kota petis) akan
adanya patung bunda Maria berair-mata madu. Komentar saya spt juga yang
saya sampaikan kepada teman2 di Lingkungan adalah standar sikap Gereja
Katholik. Yaitu kalau itu membantu menguatkan iman Anda ya silahkan
percaya, tapi kalau menjadi batu sandungan iman Anda ya jangan di'gape'.
Dalam tataran iman tertentu memang orang sudah tidak memerlukan segala
macam pangeram-eram. Tapi masih banyak juga orang2 yang ternyata masih
membutuhkan semacam itu.
Saya pribadi memang agak merasa aneh Gereja masih secara institusional
memamerkan pangeram-eram. Tapi mungkin para pembesar Gereja melihat betapa
masih banyak umatnya yang memerlukan peneguhan visual. Terbukti cerita air
mata madu, lukisan Yesus di tembok, penampakan-penampakan, masih laku.
Orang spt Anda, Pak Ray, dan saya berani memasukkan diri saya sendiri,
sudah sedikit memerlukan peneguhan semacam itu. Kecuali pengalaman iman
pribadi.
Salam,
Antonius Bardhono
"Hardjono, Rayner" <[EMAIL PROTECTED]>@dejava.com on
06/05/2001 11:41:45
Please respond to [EMAIL PROTECTED]
Sent by: [EMAIL PROTECTED]
To: [EMAIL PROTECTED]
cc:
Subject: RE: [debritto] Mohon konfirmasi
============================================
Mailinglist debritto : [EMAIL PROTECTED]
============================================
JB dan pembaca yth,
Bahwa jenazah Johannes XXIII beberapa hari yl dipertontonkan lagi di muka
umum sudah tersiar ke semua bagian dunia.
Bahkan menurut suatu mail-list yang saya ikuti, ada sorang pastor Indonesia
di Vatikan yang mengagung-agungkan tontonan itu sebagai hal yang ajaib.
Tetapi dalam mail-list tsb terjadi juga tukar pikiran (saya yang
memulainya!!) mengenai apakah tontonan semacam itu baik atau tidak untuk
hidup ke-iman-an.
Saya menyatakan perasaan saya pribadi, bahwa pertunjukan semacam itu
(pameran "mummy") tidak mempunyai suasana keanggunan religius, bahkan
menurunkan derajat seorang santo/suci. Jaman kita sudah moderen, relikwi
dan
peninggalan jazat manusia lainnya (seperti yang dilakukan di Red Square
dengan jenazah Lenin dan kini telah dihentikan) sebaiknya tidak lagi
dijalankan, nanti bisa bernuansa menjadi seperti kebiasaan orang di tanah
Toraja saja.
Maka, saya senang, bahwa media Indonesia tidak latah turut menyebarkan
berita sensasional yang tidak membantu terbinanya iman yang sehat.
Itu hanya perasaan saya, entah pembaca DB berpendapat bagaimana?
R Hardjono