============================================
Mailinglist debritto : [EMAIL PROTECTED]
============================================

Tanya Mas Heru:
Kisah itu guyon apa beneran ? Kalau beneran, apakah 
permintaan sambungan-khusus itu murni berasal dari Gus Dur 
(tapi mengapa kemudian dibatalkan ?), ataukah sekedar ulah 
para Sengkuni di sekitarnya ?

Untuk Oom Ray (dan semoga bermanfaat bagi yang lain):

1. Longsornya Gus Dur tidak akan mematikan bakat para 
pembanyol di negeri kita. Sekitar satu tahun belakangan ini 
Gus Dur malah sudah tidak lucu lagi. Dia sudah berubah 
menjadi pemarah, diktator dan sangat egosentris. Angin 
segar bagi dunia banyolan di Indonesia yang sekarang 
dirasakan, bukanlah karena jasa Gus Dur seorang, melainkan 
karena jasa dari sangat-banyak orang. Ketika Gus Dur masih 
lucu pun, hanya dia sendiri yang boleh lucu selucu-lucunya, 
sedangkan kelucuan orang lain tetap dibatas-batasi. Ingat 
kasus Bagito (grup lawak) yang menuai teror dari para 
Sengkuni di sekitar Gus Dur dan kemudian terpaksa harus 
sowan, sungkem dan minta maaf kepada Gus Dur akibat 
banyolannya di Indosiar ? Dalam kasus itu, nampak bahwa Gus 
Dur bukanlah pendekar pembela kaum pelawak (meskipun dia 
sendiri pandai melawak), buktinya, dia menerima permintaan 
maaf dari Bagito (berarti dia menganggap bahwa Bagito 
memang bersalah) dan dia tidak menegur para Sengkuni yang 
meneror Bagito (berarti dia membenarkan perbuatan teror 
itu).

2. Rumor bahwa Megawati bodoh, bukan cuma ada di sebagian 
masyarakat Barat. Di dalam negeri kita pun rumor itu terus-
menerus ditiup-tiupkan oleh kalangan orang-orang yang anti 
kepada Mega (dengan berbagai alasan dan latar belakang), 
serta oleh orang-orang 'netral' yang tidak mengenal-baik 
karakter Mega dan karakter PDI-Perjuangan-Pejuang. {Saya 
sengaja menambahkan kata 'Pejuang', karena di dalam PDIP 
sekarang ini ada juga 'unsur' PDIP-Oportunis dan PDIP-
Koskosan). Sesungguhnya Megawati tidak bodoh. Dia cuma 
enggak suka ngobral omongan dan pamer kepandaian. Banyak 
konsep ilmiah dan intelek yang dilontarkan oleh kader-kader 
PDIP yang sesungguhnya konsep itu berasal dari Megawati 
sendiri. Tetapi Mega lebih suka memasyarakatkan konsep-
konsep itu melalui mulut kader-kadernya, bukan dengan 
mulutnya sendiri. Dia juga sangat hati-hati (hingga sering 
terkesan lamban) dalam mengambil keputusan dan tindakan. 
Tidak seperti Gus Dur, Mega tidak sembrono dalam 
memanfaatkan kharisma-personalnya, malah dia selalu 
berusaha dan belajar bergerak sebagai manajer yang 
rasional. Yang jelas, berbeda dengan Gus Dur, Mega adalah 
seorang pemain catur yang lumayan baik dan sportif. Kalau 
dalam kejuaraan catur 1999 dia kalah, itu karena lawannya 
pada saat itu memang sedang dalam kondisi yang lebih 
unggul, dan dengan besar hati (sportif) dia mengakui 
kekalahannya, lantas mengambil tindakan positif : meminta 
seluruh jajaran PDIP untuk mempelajari sebab-sebab 
kekalahan itu dan merintis jalan supaya kelak bisa menang 
(dan sekarang kemenangan itu sudah diraih, dan siap secara 
sportif untuk suatu saat kalah lagi). Ini jelas sangat 
berbeda dengan Gus Dur (dan mainstream PKB) yang nggak 
sportif, nggak mau ngaku kalah dan menerima kenyataan.

3. Rumor bahwa Megawati diktator, ini terus ditiupkan oleh 
kalangan orang-orang yang 'takut' (bedakan dengan 'kagum') 
kepada kharisma-personalnya. Mega memang berwibawa, tegas 
dan sangat disegani oleh banyak orang pendukungnya, tidak 
plin-plan, tidak suka 'menjilat ludah sendiri', tetapi itu 
bukan berarti bahwa dia diktator. Perhatikan saja, setiap 
menghadapi masalah dan setiap akan mengambil keputusan, dia 
selalu terlebih dahulu menempuh jalan demokratis, 
berdiskusi dengan orang-orang kepercayaannya dan pihak-
pihak yang bersangkutan. Dia tidak seperti Gus Dur yang 
suka tiba-tiba mengambil keputusan sendiri di hadapan para 
wartawan (mana yang lebih diktator ?).

4. Rumor bahwa Departemen Penerangan akan dihidupkan lagi, 
ini baru sebatas wacana, dan wacana itu berasal dari 
kalangan Golkar, bukan kehendak pribadi Megawati dan PDIP. 
Kita tunggu saja, apakah dalam permainan catur ini Mega 
yang kalah (nurut maunya Golkar) ataukah Golkar yang gigit-
jari (usulnya ditolak Mega). Yang jelas, sekarang kita 
jangan lagi menafsirkan konsep 'Presidensial' seperti Mbah 
Harto dan rejim Orde Baru menafsirkannya sebagai 'Presiden 
boleh semau-gue'. Realitas politik musti dihitung cermat. 
Saya sendiri nggak setuju kalau Deppen dihidupkan lagi.

5. Kelemahan Megawati yang paling riskan adalah kenyataan 
bahwa dia itu istrinya Taufik Kiemas. Padahal, Taufik 
Kiemas inilah yang justru menjadi dalangnya orang-orang 
PDIP-Oportunis (Santayana Kiemas, Mangara Siahaan, 
Suparlan, dsb.) yang sangat berpotensi untuk melakukan 
perbuatan-perbuatan yang mencoreng nama-baik Mega dan PDIP-
Perjuangan. Merekalah yang bersama orang-orang PDIP-
Koskosan (Arifin Panigoro, Jacob Tobing, Tjahyo Kumolo, 
dsb.)memelopori gerakan peminggiran / penyingkiran terhadap 
orang-orang PDIP-Pejuang (Eros Djarot, Dimyati Hartono, 
Haryanto Taslam, dsb.). Dalam suatu forum rapat lengkap DPP 
dan Deperpu PDIP, Taufik Kiemas pernah menampar (secara 
keras) pipi Megawati sambil ngancam-ngancam kalau 
kehendaknya nggak dituruti. Saat itu, seandainya Mega tidak 
dihibur (dirih-rih, disabar-sabarkan) oleh para sesepuh 
PDIP (Abdul Majid, Soetarjo, Kwik, dsb.), barangkali 
pasangan suami-istri itu sekarang sudah bercerai. Kelompok 
Taufik Kiemas jugalah yang dulu ngithik-ithik Gus Dur agar 
memecat Laksamana Sukardi dari kabinet dan menunda 
pengusutan terhadap tiga tersangka korupsi (Marimutu 
Sinivasan, Prayogo Pangestu, Syamsul Nursalim). Jadi, yang 
paling mengkhawatirkan pada diri Megawati adalah 
kemampuannya mengendalikan sepak terjang suaminya sendiri. 
Melalui 'lobang' inilah, Amien Rais dkk siap menembakkan 
pelurunya untuk menjatuhkan Megawati, yaitu peluru yang 
berbunyi : 'Lihatlah akibatnya kalau wanita boleh menjadi 
pemimpin negara, ngatur suaminya sendiri saja nggak bisa, 
apalagi ngatur negara. Makanya, sekarang marilah kita 
bertobat dan kembali kepada ajaran agama, bahwa pemimpin 
negara haruslah laki-laki'. Dan ..... (moga-moga nggak 
terjadi) ..... Megawati jatuh ..... lantas giliran Amien 
Rais cakar-cakaran sama Hamsah Haz ..... :)

Salam De Britto,
mBilung/83

----------------------------------------------------
This email was sent using http://webmail.cbn.net.id/


Kirim email ke