============================================
Mailinglist debritto : [EMAIL PROTECTED]
============================================


Lung...mBilung....kuwi kur guyon pol polan.......wis basi   kira kira
sehari setelah GD lengser,,, judulnya yang tersisa dari Istana
GD.....wis...basi.......


                                                                                       
       
                    [EMAIL PROTECTED]                                                    
       
                    .id                    To:     [EMAIL PROTECTED]                 
       
                    Sent by:               cc:                                         
       
                    debritto-owner@        Subject:     [debritto] Lucu, Gus Dur, Mega 
       
                    dejava.com             (tadinya: 2 Megabite Leased Line)           
       
                                                                                       
       
                                                                                       
       
                    07/31/01 05:09                                                     
       
                    PM                                                                 
       
                    Please respond                                                     
       
                    to debritto                                                        
       
                                                                                       
       
                                                                                       
       




============================================
Mailinglist debritto : [EMAIL PROTECTED]
============================================

Tanya Mas Heru:
Kisah itu guyon apa beneran ? Kalau beneran, apakah
permintaan sambungan-khusus itu murni berasal dari Gus Dur
(tapi mengapa kemudian dibatalkan ?), ataukah sekedar ulah
para Sengkuni di sekitarnya ?

Untuk Oom Ray (dan semoga bermanfaat bagi yang lain):

1. Longsornya Gus Dur tidak akan mematikan bakat para
pembanyol di negeri kita. Sekitar satu tahun belakangan ini
Gus Dur malah sudah tidak lucu lagi. Dia sudah berubah
menjadi pemarah, diktator dan sangat egosentris. Angin
segar bagi dunia banyolan di Indonesia yang sekarang
dirasakan, bukanlah karena jasa Gus Dur seorang, melainkan
karena jasa dari sangat-banyak orang. Ketika Gus Dur masih
lucu pun, hanya dia sendiri yang boleh lucu selucu-lucunya,
sedangkan kelucuan orang lain tetap dibatas-batasi. Ingat
kasus Bagito (grup lawak) yang menuai teror dari para
Sengkuni di sekitar Gus Dur dan kemudian terpaksa harus
sowan, sungkem dan minta maaf kepada Gus Dur akibat
banyolannya di Indosiar ? Dalam kasus itu, nampak bahwa Gus
Dur bukanlah pendekar pembela kaum pelawak (meskipun dia
sendiri pandai melawak), buktinya, dia menerima permintaan
maaf dari Bagito (berarti dia menganggap bahwa Bagito
memang bersalah) dan dia tidak menegur para Sengkuni yang
meneror Bagito (berarti dia membenarkan perbuatan teror
itu).

2. Rumor bahwa Megawati bodoh, bukan cuma ada di sebagian
masyarakat Barat. Di dalam negeri kita pun rumor itu terus-
menerus ditiup-tiupkan oleh kalangan orang-orang yang anti
kepada Mega (dengan berbagai alasan dan latar belakang),
serta oleh orang-orang 'netral' yang tidak mengenal-baik
karakter Mega dan karakter PDI-Perjuangan-Pejuang. {Saya
sengaja menambahkan kata 'Pejuang', karena di dalam PDIP
sekarang ini ada juga 'unsur' PDIP-Oportunis dan PDIP-
Koskosan). Sesungguhnya Megawati tidak bodoh. Dia cuma
enggak suka ngobral omongan dan pamer kepandaian. Banyak
konsep ilmiah dan intelek yang dilontarkan oleh kader-kader
PDIP yang sesungguhnya konsep itu berasal dari Megawati
sendiri. Tetapi Mega lebih suka memasyarakatkan konsep-
konsep itu melalui mulut kader-kadernya, bukan dengan
mulutnya sendiri. Dia juga sangat hati-hati (hingga sering
terkesan lamban) dalam mengambil keputusan dan tindakan.
Tidak seperti Gus Dur, Mega tidak sembrono dalam
memanfaatkan kharisma-personalnya, malah dia selalu
berusaha dan belajar bergerak sebagai manajer yang
rasional. Yang jelas, berbeda dengan Gus Dur, Mega adalah
seorang pemain catur yang lumayan baik dan sportif. Kalau
dalam kejuaraan catur 1999 dia kalah, itu karena lawannya
pada saat itu memang sedang dalam kondisi yang lebih
unggul, dan dengan besar hati (sportif) dia mengakui
kekalahannya, lantas mengambil tindakan positif : meminta
seluruh jajaran PDIP untuk mempelajari sebab-sebab
kekalahan itu dan merintis jalan supaya kelak bisa menang
(dan sekarang kemenangan itu sudah diraih, dan siap secara
sportif untuk suatu saat kalah lagi). Ini jelas sangat
berbeda dengan Gus Dur (dan mainstream PKB) yang nggak
sportif, nggak mau ngaku kalah dan menerima kenyataan.

3. Rumor bahwa Megawati diktator, ini terus ditiupkan oleh
kalangan orang-orang yang 'takut' (bedakan dengan 'kagum')
kepada kharisma-personalnya. Mega memang berwibawa, tegas
dan sangat disegani oleh banyak orang pendukungnya, tidak
plin-plan, tidak suka 'menjilat ludah sendiri', tetapi itu
bukan berarti bahwa dia diktator. Perhatikan saja, setiap
menghadapi masalah dan setiap akan mengambil keputusan, dia
selalu terlebih dahulu menempuh jalan demokratis,
berdiskusi dengan orang-orang kepercayaannya dan pihak-
pihak yang bersangkutan. Dia tidak seperti Gus Dur yang
suka tiba-tiba mengambil keputusan sendiri di hadapan para
wartawan (mana yang lebih diktator ?).

4. Rumor bahwa Departemen Penerangan akan dihidupkan lagi,
ini baru sebatas wacana, dan wacana itu berasal dari
kalangan Golkar, bukan kehendak pribadi Megawati dan PDIP.
Kita tunggu saja, apakah dalam permainan catur ini Mega
yang kalah (nurut maunya Golkar) ataukah Golkar yang gigit-
jari (usulnya ditolak Mega). Yang jelas, sekarang kita
jangan lagi menafsirkan konsep 'Presidensial' seperti Mbah
Harto dan rejim Orde Baru menafsirkannya sebagai 'Presiden
boleh semau-gue'. Realitas politik musti dihitung cermat.
Saya sendiri nggak setuju kalau Deppen dihidupkan lagi.

5. Kelemahan Megawati yang paling riskan adalah kenyataan
bahwa dia itu istrinya Taufik Kiemas. Padahal, Taufik
Kiemas inilah yang justru menjadi dalangnya orang-orang
PDIP-Oportunis (Santayana Kiemas, Mangara Siahaan,
Suparlan, dsb.) yang sangat berpotensi untuk melakukan
perbuatan-perbuatan yang mencoreng nama-baik Mega dan PDIP-
Perjuangan. Merekalah yang bersama orang-orang PDIP-
Koskosan (Arifin Panigoro, Jacob Tobing, Tjahyo Kumolo,
dsb.)memelopori gerakan peminggiran / penyingkiran terhadap
orang-orang PDIP-Pejuang (Eros Djarot, Dimyati Hartono,
Haryanto Taslam, dsb.). Dalam suatu forum rapat lengkap DPP
dan Deperpu PDIP, Taufik Kiemas pernah menampar (secara
keras) pipi Megawati sambil ngancam-ngancam kalau
kehendaknya nggak dituruti. Saat itu, seandainya Mega tidak
dihibur (dirih-rih, disabar-sabarkan) oleh para sesepuh
PDIP (Abdul Majid, Soetarjo, Kwik, dsb.), barangkali
pasangan suami-istri itu sekarang sudah bercerai. Kelompok
Taufik Kiemas jugalah yang dulu ngithik-ithik Gus Dur agar
memecat Laksamana Sukardi dari kabinet dan menunda
pengusutan terhadap tiga tersangka korupsi (Marimutu
Sinivasan, Prayogo Pangestu, Syamsul Nursalim). Jadi, yang
paling mengkhawatirkan pada diri Megawati adalah
kemampuannya mengendalikan sepak terjang suaminya sendiri.
Melalui 'lobang' inilah, Amien Rais dkk siap menembakkan
pelurunya untuk menjatuhkan Megawati, yaitu peluru yang
berbunyi : 'Lihatlah akibatnya kalau wanita boleh menjadi
pemimpin negara, ngatur suaminya sendiri saja nggak bisa,
apalagi ngatur negara. Makanya, sekarang marilah kita
bertobat dan kembali kepada ajaran agama, bahwa pemimpin
negara haruslah laki-laki'. Dan ..... (moga-moga nggak
terjadi) ..... Megawati jatuh ..... lantas giliran Amien
Rais cakar-cakaran sama Hamsah Haz ..... :)

Salam De Britto,
mBilung/83

----------------------------------------------------
This email was sent using http://webmail.cbn.net.id/






Kirim email ke