============================================
Mailinglist debritto : [EMAIL PROTECTED]
============================================

Untuk Bung Ahyen-nJambi/83, berikut ini tanggapan saya 
terhadap tulisan Pramoedya Ananta Toer yang Anda kutip dari 
indopup. Semoga bermanfaat pula bagi teman-teman JB yang 
lain.

===Pram:
During Suharto's New Order regime, Megawati, Sukarno's 
daughter, served in parliament. After her father was 
overthrown, the New Order government gave her a house and 
salary as a member of parliament.

===mBilung:
Adalah wajar kalau Megawati menerima fasilitas-materiil 
sebagai anggota DPR, sebab memang demikianlah aturan yang 
berlaku dalam Hukum Tata Negara di seluruh negara di dunia. 
Tidak ada satupun negara di dunia ini yang tidak memberikan 
fasilitas-materiil kepada para anggota institusi perwakilan 
rakyatnya. Bahkan, ada yang perlu diacungi jempol pada diri 
Megawati ketika menjadi anggota DPR jaman Orde Baru, yaitu 
bahwa SELURUH gajinya sebagai anggota DPR disumbangkan 
kepada PDI (waktu itu belum PDI-P). Mengenai fasilitas 
rumah, itu adalah rumah-dinas anggota DPR (bukan 
rumah 'sogokan rejim OrBa' untuk pribadi Megawati), dan 
Megawati tidak pernah menempati rumah-dinas itu. Jadi Pram 
SALAH kalau mengatakan bahwa seluruh fasilitas itu 
dinikmati sendirian oleh Megawati. Atau, barangkali Pram 
sengaja membuat DISINFORMASI dengan menyebutkan 'rumah' 
saja (bukan 'rumah-dinas') dan 'gaji' saja (tanpa 
menceritakan 'penggunaan gaji') ?

===Pram:
But did she ever say anything about the way her father was 
treated? Never.

===mBilung:
SALAH ! Megawati saat itu sudah sering bicara tentang 
perlakuan rejim OrBa terhadap Bung Karno. Tetapi karena 
ganasnya pengendalian rejim OrBa terhadap kegiatan-kegiatan 
kumpul-kumpul (rapat, diskusi, seminar, pengajian, dsb) 
maka tidak pernah Megawati mendapat kesempatan untuk 
membicarakan tragedi tersebut di hadapan publik. Dia cuma 
sempat bicara di lingkungan-lingkungan sangat terbatas, 
terutama di kalangan PDI. Akibat ganasnya pengendalian OrBa 
terhadap media-massa juga telah menyebabkan para wartawan 
dan redaksi media-massa tidak berani menyiarkan aktivitas 
Megawati itu. Bahkan dalam forum resmi yang dilindungi 
undang-undang pun (misalnya forum kampanye pemilu), ijin 
terhadap kegiatan menampilkan keluarga Bung Karno sangat 
sulit diberikan. Saya masih ingat, tahun 1982, kampanye 
pemilu giliran PDI di Magelang, panitia dari DPC PDI sudah 
mengantungi ijin resmi untuk menampilkan Guntur (kakaknya 
Mega), dan Guntur sudah hadir di lapangan Tidar, tetapi 
(walaupun sudah ada surat ijin resmi) aparat keamanan tiba-
tiba melarang Guntur berbicara, bahkan untuk sekedar naik 
panggung pun tidak boleh. Seminggu setelah itu, tiga 
pejabat teras Magelang yang mengeluarkan ijin (Kakansospol, 
Kapolresta, Dandim) dimutasikan ('masuk kotak'), dan Guntur 
pun makin stress. Atau, dengan memanfaatkan ketidaktahuan 
publik mengenai perjuangan Megawati jaman OrBa serta dengan 
tidak menyebutkan pemberangusan rejim OrBa terhadap 
aktivitas keluarga Bung Karno, barangkali Pram sengaja 
membuat DISINFORMASI ?

===Pram:
Did she ever protest when her fellow countrymen were 
imprisoned? Never.

===mBilung:
SALAH ! Memang Megawati tidak pernah protes dengan cara 
berkaok-kaok di jalanan, di depan kantor polisi, di depan 
kantor tentara, di depan kantor kejaksaan, di depan 
wartawan, dsb. Tetapi Megawati selalu melancarkan protes 
dengan cara yang ELEGAN dan menurut jalur hukum. Kalau 
menyuarakan protes di hadapan publik dan diliput wartawan, 
pasti itu dilakukan dalam forum resmi organisasi 
kepartaian, misalnya setiap tanggal 10 Januari (ulang tahun 
PDI) atau setiap kegiatan Kongres. Di luar itu, ia lebih 
suka jika protes-protes dilakukan oleh para kadernya, 
sekaligus sebagai upaya kaderisasi, karena ia menyadari 
bahwa PDI (dan PDI-P sekarang) sangat miskin kader yang 
berkualitas. Megawati lebih suka menempuh jalur hukum, 
meskipun ia tahu (dan sangat sadar) bahwa hukum di negeri 
kita sering dibengkokkan oleh rejim OrBa (dulu) dan sisa-
sisa rejim OrBa (sekarang) yang masih bercokol di lembaga-
lembaga penegakan hukum. Kita juga harus ingat bahwa 
Megawati masuk dunia politik (sebagai anggota-resmi PDI) 
baru mulai 1983, setelah 10 tahun lebih ia terkungkung 
dalam kerangkeng 'kesepakatan keluarga-besar Bung Karno' 
bahwa anggota keluarga Bung Karno tidak akan (lagi) terjun 
ke dunia politik. Megawati menjadi anggota DPR baru mulai 
1987, itupun setelah aktif berprestasi di DPD PDI DKI 
Jakarta dan mendongkrak perolehan suara PDI dalam pemilu 
1987 (jadi dia bukan kader karbitan seperti Tommy Suharto 
yang nggak jelas prestasinya di Golkar tapi tiba-tiba bisa 
masuk Senayan :)). Nah, sebagai orang yang masih hijau di 
kancah politik waktu itu dan di bawah tekanan rejim OrBa 
yang sedemikian ganas, adalah wajar kalau Megawati memilih 
bermain halus ketimbang menjadi 'ketimun lawan durian'. 
Atau, barangkali Pram sengaja membuat DISINFORMASI dengan 
hanya menyebutkan 'during Soeharto's New Order regime' 
(yaitu sejak 1965) tanpa menyebutkan sejak kapan Megawati 
menjadi anggota DPR (yaitu baru mulai 1987) ?

===Pram:
Did she ever call Suharto to task? Never!

===mBilung:
SALAH ! Secara pribadi dia memang tidak pernah mengajukan 
tuntutan hukum tentang mbah Harto. Tetapi itu dia lakukan 
karena dia memang memilih berpikir sistemik, holistik dan 
dalam skala negara, jadi bukan sekedar berpikir individual, 
parsial dan dalam skala pribadi/keluarga Bung Karno semata. 
Sebagai negarawan, yang hendak dia bereskan adalah 
persoalan negara, bukan sekedar persoalan dendam 
pribadi/keluarga atau partai. Jadi dia mempersilahkan 
tuntutan hukum kepada mbah Harto itu dilakukan oleh dan 
melalui lembaga-lembaga hukum kenegaraan. Dalam 
kapasitasnya sebagai negarawan, alangkah TIDAK ETIS 
(meskipun sah-sah saja) kalau tuntutan itu diajukan oleh 
dia sendiri, sebab, orang justru akan mencibir : he-he-
.... balas dendam nih yeeee ..... Sekarang, setelah dia 
menjadi Presiden, cara berpikir dalam skala negara itu 
makin diyakini oleh Megawati. Sebagai contoh, mengenai 
kasus 27 Juli 1996 pun (yang jelas-jelas mengobrak-abrik 
partai dan pribadinya), dia merasa lebih etis kalau tidak 
terjun secara langsung dalam proses hukum penggugatannya. 
Meskipun sebagai Ketua Umum PDIP dia sah-sah saja untuk 
terjun langsung mengurusi kasus itu, tetapi sebagai 
Presiden dia tidak mau mengintervensi / mempengaruhi proses 
hukum di lembaga peradilan. Untuk konsumsi publik, sikap 
Megawati ini dapat dibaca di
http://www.time.com/time/asia/news/interview/0,9754,169338,0
0.html  atau versi ringkasnya di
http://www.detik.com/peristiwa/2001/07/31/2001731132909.shtm
l atau dapat saya kirimkan dengan copy-paste melalui email 
terpisah. Atau, dengan secara implisit berpikir bahwa 
tuntutan hukum harus diajukan oleh korban-langsung dan 
dengan menyembunyikan alternatif bahwa tuntutan bisa 
diajukan oleh pihak lain (semacam TPDI-nya R.O. Tambunan / 
Tumbu Saraswati atau oleh perangkat hukum kenegaraan), 
barangkali Pram sengaja membuat DISINFORMASI ?

===Pram:
But then she's not alone. Even after Suharto resigned, no 
one would take him to task, no one dared to bring him to 
trial.

===mBilung:
SALAH ! Contohnya, 'trio' Soedjono Chanafiah Atmonegoro 
(Jaksa Agung) - Anton Sujata eks-JB (Jampidsus) - Sjamsu 
Djalal (Jamintel) sudah berusaha melakukan pemberkasan 
penuntutan karena sudah sampai pada kesimpulan bahwa sudah 
tersedia cukup bukti untuk mengajukan mbah Harto ke 
pengadilan, tetapi sayangnya, ketiga-tiganya langsung 
dipecat oleh Habibie :(. Jiteng Marsudi ('cuma' Dirut PLN) 
yang mencoba bertobat dengan membongkar borok Tutut di 
hadapan DPR (Jiteng menggunakan istilah 'singa betina') pun 
dipecat oleh rejim Habibie yang 80%nya adalah penerus rejim 
mbah Harto. Jadi, Pram SALAH kalau mengatakan 'no one 
would' dan 'no one dared'. Tokoh-tokoh tersebut sungguh-
sungguh 'would' dan 'dared', tapi sayangnya 'failed' 
karena 'di-failed-kan' oleh rejim penguasa penerus OrBa :(. 
Kalau yang dimaksud 'would' dan 'dared' oleh Pram 
haruslah 'succeed', maka Pram sangat MUNAFIK karena 
buktinya dia sendiri cuma grundelan, tidak pernah 'would 
take mbah Harto to task', tidak pernah 'dared to bring mbah 
Harto to trial', dan mustahil 'succeed', padahal Pram 
sendiri adalah korban-langsung-nya OrBa. Atau, barangkali 
Pram sengaja membuat DISINFORMASI dengan menyembunyikan 
fakta sejarah mengenai sungguh pernah adanya orang-orang 
yang sudah berusaha mengarahkan peluru hukum kepada mbah 
Harto (meskipun gagal) ?

===Pram:
Silently, through his New Order protEgE, he still holds 
power in this country.

===mBilung:
BENAR ! Mbah Harto memang masih punya kaki tangan yang kuat 
untuk melindungi dirinya, keluarganya dan orang-orang 
kepercayaannya. Baik di tubuh birokrasi sipil, militer, 
kepolisian, kejaksaan, pengadilan, DPR/MPR, MA, BI, 
berbagai ormas dan orpol serta kelompok-kelompok 
yang 'tidak kelihatan' (tukang ngebom, tukang teror, tukang 
tembak, dsb), mbah Harto masih punya banyak pendukung yang 
juga berkepentingan untuk melindungi kepentingan diri 
mereka masing-masing. Justru karena kenyataan inilah 
makanya Megawati harus bertindak ekstra hati-hati, tidak 
grusah-grusuh, tidak hantam kromo, tidak bikin suasana di 
masyarakat semakin keruh. Jadi kalau Pram memang tulus 
menghendaki keadilan dan pengadilan terhadap mbah Harto dan 
cecunguk-cecunguknya dan kalau Pram tidak egosentris (tidak 
memaksa orang lain berpikir menurut cara berpikir Pram), 
semestinya Pram justru membantu kelompok Megawati tanpa 
memperkeruh situasi, dan bukannya malah menjelek-jelekan 
kelompok Megawati yang akan berakibat semakin pecahnya 
kelompok-kelompok anti OrBa.

===Pram:
Megawati came to power on the crest of a wave of youth 
rebellion. Those kids didn't really think about it; they 
didn't have any other figurehead, so they adopted her 
because she was Sukarno's daughter. That's all she is.

===mBilung:
Ada BENARnya tetapi banyak SALAHnya. Sebelum gerakan pemuda 
dan mahasiswa menjadi masif, gerakan PDI-Megawati sudah 
gencar dilakukan. Gerakan perlawanan terhadap mbah Harto 
dan rejim OrBa dilakukan tidak cuma oleh satu kelompok. Ada 
banyak kelompok, yang kebetulan, karena kehendak sejarah, 
menjadi bersatu secara masif dalam melongsorkan mbah Harto. 
Bukan cuma itu, longsornya mbah Harto juga disebabkan oleh 
kesalahan strategi di pihaknya sendiri, sehingga 
memunculkan gerakan sempalan di kalangan 'operator 
intelijen' (baca: provokator) yang menyebabkan terlalu 
dininya kerusuhan sosial 'terencana' (Mei 1998) padahal 
Prabowo belum sempat dijadikan Panglima ABRI, 
sehingga 'skenario supersemar jilid 2' gagal dipraktekkan 
dan bahkan memicu perpecahan antara Prabowo dengan 
mertuanya sendiri. Jadi, agaknya Pram sengaja membuat 
DISINFORMASI bahwa kekuasaan Megawati diperoleh semata-mata 
hanya sebagai akibat 'gelombang perjuangan kaum muda'. 
Sebab, kaum muda dalam gerakan reformasi itupun 
sesungguhnya terdiri dari berbagai macam kelompok, yang 
banyak di antaranya bukan pendukung PDIP (misalnya KAMMInya 
Eggy Sudjana) dan tokoh favorit mereka bukan Megawati 
(misalnya Habibie). Buktinya, ketika mbah Harto menyerah 
dan memberikan tongkat komando kepada Habibie, di Senayan 
terjadi bentrokan antara massa kaum muda pro-Habibie dengan 
massa kaum muda anti-Habibie. Berlanjut, massa kaum muda 
pro-Habibie dan massa-massa kaum muda anti-PDIP, anti-
sekularisme, anti-nasionalisme, anti-presiden-wanita, 
bersama-sama menggempur kubu nasionalis dan pribadi 
Megawati. Jadi, tidaklah benar anggapan Pram bahwa semua 
kaum muda itu sejak awal berniat mendudukkan Megawati 
sebagai pemimpin. Kenyataan yang benar, satu-satunya 
pengikat mereka adalah agenda melongsorkan mbah Harto, 
setelah itu, mereka masing-masing sesungguhnya sejak awal 
sudah punya agenda sendiri-sendiri. Dengan menggunakan 
kata 'the kids', agaknya Pram sengaja membuat DISINFORMASI 
untuk menimbulkan kesan betapa 'polos'nya anak-anak itu 
sehingga mereka 'didn't have any other figurhead'. Padahal, 
kenyataan sesungguhnya tidaklah demikian. Mereka adalah 
para pemuda dan mahasiswa yang pintar (malah banyak yang 
licik) dan berani (malah banyak yang nekat) dan masing-
masing punya ideologi sendiri-sendiri, punya agenda sendiri-
sendiri dan punya 'figurhead-figurhead' sendiri-sendiri
(ada Habibie, ada Nurcolish Madjid, ada Amien Rais, dsb). 
Dengan kalimat 'they adopted her because she was Soekarno's 
daughter', Pram justru MENGHINA kaum muda dan mahasiswa pro 
Megawati yang sejak awal berjuang di barisan pendukung 
Megawati, baik yang di dalam PDIP maupun yang di luar PDIP. 
Tidaklah setolol itu alasan mereka mendukung Megawati. 
Kalau cuma itu alasannya, mengapa mereka tidak mengusulkan 
Guntur, Rachma, Sukma atau Guruh untuk menjadi pemimpin ? 
Jadi, pasti ada SESUATU yang istimewa di dalam diri Mega, 
yang SESUATU itu tidak dimiliki oleh anak-anak Bung Karno 
yang lain ! Selama bergaul di kalangan banteng, saya 
melihat ada berbagai macam alasan mengapa orang mendukung 
Megawati, dan uraian untuk itu harus disajikan tersendiri 
melalui email terpisah (kalau diminta). Di dalam kalangan 
pengikut Megawati pun, ada yang setuju dia sekarang menjadi 
Presiden, tetapi banyak juga yang tidak setuju dia menjadi 
Presiden sekarang. Saya sendiri termasuk banteng yang tidak 
setuju :), bukan karena tidak suka kepada pribadi Megawati, 
tetapi karena khawatir (ketar-ketir) terhadap sepak terjang 
kelompok Taufik Kiemas (PDIP-Oportunis) dan kelompok Arifin 
Panigoro (PDIP-Koskosan) yang bukan mustahil bisa mencoreng 
nama-baik Megawati dan PDIP-Pejuang. Kekhawatiran itulah 
salah satu faktor yang menyebabkan kenaikan Megawati 
menjadi Presiden kurang disambut meriah oleh massa PDIP. 
Tetapi, sejarah berkata lain, Megawati harus menjadi 
Presiden oleh karena realitas politik menentukan 
demikian ..... Singkatnya, Megawati memperoleh kekuasaannya 
sekarang ini bukan cuma oleh karena gelombang pergerakan 
kaum muda sebagaimana yang dimaksud oleh Pram, tetapi juga 
oleh karena pergerakan PDI-Asli sendiri dengan keterlibatan 
perjuangan Megawati (secara formal) sejak 1983, ditambah 
berbagai 'kebetulan-kebetulan sejarah' yang saya yakin itu 
semua tidak terlepas dari campur tangan Tuhan.

===Pram:
Maybe Megawati hasn't read her father's books.

===mBilung:
SALAH (mungkin Pram bergurau) ! Yang jelas, Mega sendiri 
sudah mempelajari semua buku Bung Karno, dan paham isinya. 
Dia kagum terhadap pikiran-pikiran ayahnya yang sedemikian 
bagus. Tetapi, justru di sinilah letak salah satu 
keistimewaan (keunggulan) Mega dibanding saudara-
saudaranya. Dia serap ide-ide Bung Karno yang bagus-bagus, 
tetapi dia selektif dalam menerapkan ide-ide itu pada 
konteks masa kini. Itulah sebabnya, Mega banyak bicara soal 
Pancasila dan Nasionalisme, Persatuan dan Kesatuan, tetapi 
nggak pernah berusaha menghidupkan kembali ajaran 
Marhaenisme. Mega cukup realistis, dan sangat berbeda 
dengan adiknya, Rachmawati, yang menelan mentah-mentah 
semua tulisan ayahnya tanpa menyesuaikannya dengan realitas 
kekinian. Perhatikanlah pidato Rachmawati pada puncak acara 
Haul Bung Karno di Blitar bulan Juni lalu. Di samping 
materi pidatonya terasa 'lucu' (lebih mengekspresikan 
dendam dan trauma), Rachma masih sempat-sempatnya menutup 
pidato dengan pekik 'Marhaen !' (yang pada jaman sekarang 
terasa janggal bin aneh), dan celakanya pekik itu disambut 
hanya oleh segelintir orang, sementara sebagian-besar orang 
yang hadir di situ cuma senyum-senyum klecam- 
klecem ..........

===Pram:
I don't see that she has inherited any of his better 
characteristics.

===mBilung:
SALAH, kalau dibilang bahwa Mega sama sekali tidak mewarisi 
satupun karakteristik ayahnya. BENAR, kalau dibilang bahwa 
Mega tidak mewarisi semua karakteristik ayahnya (she has 
not inherited all of his better characteristics), bahkan 
Guntur dan Guruh pun (walau laki-laki) tidak mungkin 
mewarisi semua karakteristik Bung Karno. Sebab, yang bisa 
menjadi (persis seperti) Bung Karno hanyalah Bung Karno 
sendiri. Permadi, salah seorang tokoh PDIP-Pejuang dan 
pengagum Bung Karno mengatakan : Walaupun kepribadian semua 
anak Bung Karno digabung menjadi satu, kualitasnya masih 
belum ada seujung kukunya Bung Karno. Bung Karno bukan 
sekedar tokoh besar sejarah Indonesia, melainkan lebih dari 
itu, ia adalah tokoh sejarah dunia. Jadi, Megawati 
sangatlah kecil dibanding Bung Karno. Mega baru sebatas 
menjadi tokoh partai, tokoh wanita Indonesia, dan sekarang 
sedang mulai belajar menjadi tokoh sejarah Indonesia. Dia 
masih sangat jauh untuk mencapai prestasi sebagai tokoh 
sejarah dunia. Jadi, kita jangan mengharapkan terlalu 
banyak dari Megawati, dan kita jangan mengharapkan Megawati 
bisa menjadi seperti Bung Karno, sebab dia memang bukan 
Bung Karno. Namun, harus diakui bahwa Mega-lah yang paling 
komplit mewarisi sebagian dari karakteristik Bung Karno : 
kearifan, ketenangan, konsistensi, kesehatan-jiwa dan 
kharisma-pribadi. Guntur dan Sukma kurang sehat jiwanya 
(kurang kuat menghadapi tekanan rejim Orba). Rachma 
emosional dan kurang realistis. Guruh terlalu 'nyeni'. 
Inilah yang dilupakan oleh Pram.

===Pram:
She has no experience.

===mBilung:
SALAH dan AHISTORIS. Cukup jelas dengan uraian-uraian di 
atas.
 
===Pram:
There is no evidence that she can resolve the country's 
problems.

===mBilung:
BENAR, kalau yang dimaksud 'she' oleh Pram adalah Mega-
seorang-diri. Tetapi SALAH, kalau yang dimaksud 'she' 
adalah 'Mega as our team leader' dengan kondisi bahwa kita 
semua turut bekerja-keras. Dia bukan dewa-ekonomi yang bisa 
sekejap mata menyulap keterpurukan ekonomi Indonesia 
menjadi kemakmuran. Dia butuh bantuan-penuh dari ahli-ahli 
ekonomi dan pekerja-pekerja ekonomi. Dia bukan dewa-hukum 
yang bisa sekejap mata menyulap kebobrokan hukum Indonesia 
menjadi ideal. Dia butuh bantuan-penuh dari ahli-ahli hukum 
dan pekerja-pekerja hukum. Dan seterusnya. Kalau yang 
dimaksud 'evidence' adalah 'bukti faktual' dalam skala 
negara dan kalau yang dimaksud 'can' adalah 'sudah mampu', 
maka sudah sewajarnya Mega belum punya bukti, sebab menjadi 
Presiden saja baru beberapa hari. Ketika menjadi Wapres pun 
ia belum sempat berbuat banyak, karena terlalu sering 
direcoki oleh Gus Dur (dengan berbagai ke-plinplan-an dan 
ke-egosentris-annya) dan sering diganggu oleh Sengkuni-
Sengkuni di sekitar Gus Dur plus demit-demit OrBa. Salah 
satu dari sedikit prestasi konkrit yang sudah dihasilkan 
selama menjadi Wapres adalah menciptakan ketertiban tata-
kerja kantor Wapres (dengan Bambang Kesowo sebagai tokoh 
pembantunya) sehingga menjadi jauh lebih tertib dan rapih 
dibandingkan kantor Presiden Gus Dur (yang sampai membuat 
tidak tercatatnya penyelonongan Soewondo dsb ke dalam 
ruangan). Rapat-rapat kabinet selalu menghasilkan keputusan-
keputusan yang terfokus dan operasional (sampai tingkat 
administratif) kalau dipimpin oleh Mega tanpa ada Gus Dur 
di ruang rapat (terlepas dari kenyataan bahwa secara 
akademis keputusan-keputusan itu masih 'debatable' dan 
terlepas dari kenyataan bahwa sekeluar dari ruang rapat ada 
menteri yang anteknya Gus Dur kemudian mbalela). Ini jauh 
berbeda kalau rapat dipimpin langsung oleh Gus Dur, karena 
keputusan-keputusan rapat hampir selalu terlalu melebar dan 
terlalu konsepsual (dan jarang sempat mengurus keputusan-
keputusan administratif, sebab waktunya habis untuk 
mendengarkan guyonan Gus Dur). Kalau yang 
dimaksud 'evidence' adalah 'petunjuk / tanda-tanda' 
dan 'can' adalah 'mungkin mampu', maka tidak ada alasan 
untuk meragukan kemampuan Mega, dengan melihat 
pengalamannya selama memimpin PDIP. Mega sudah terbukti 
mampu mengelola konflik antar-faksi di tubuh PDIP dan 
menertibkan administrasi (personalia, keuangan, material, 
perkantoran) di DPP PDIP. Terhadap kader-kader yang mbalela 
pun Mega sudah melakukan pemecatan-pemecatan, setelah 
terlebih dahulu ditemukan bukti-bukti yang kuat. 
Singkatnya, kita boleh meragukan kemampuan Mega dalam 
memimpin team-besar bangsa kita keluar dari krisis 
multidimensional ini, tetapi kita tidak boleh 
memvonis 'Mega pasti tidak mampu' sebelum ketidakmampuan itu
sungguh-sungguh terjadi.

===Pram:
Yes, she might visit places where conflict has occurred, 
but for no other reason than to show her tears. Her heart 
goes out to the people, she says, but that's the most they 
get.

===mBilung:
Agaknya hati dan perasaan Pram sudah mati, dia mencibir 
sinis terhadap orang yang meneteskan air mata karena 
prihatin atas konflik-fisik horisontal antar sesama warga 
bangsa. Tetapi sesungguhnya Mega bukan cuma meneteskan air
mata. Ia sudah berbuat banyak, cuma belum berhasil. Di 
Maluku, Mega sudah pernah mempertemukan kelompok-kelompok 
yang bertikai dan sudah menghasilkan kesepakatan damai. 
Tetapi sepeninggal Mega, orang-orang 'Laskar Jihad' (yang 
mayoritas bukan asli-Maluku) datang lagi dan memprovokasi 
warga-setempat sehingga pertikaian berkobar lagi. Gus Dur 
pun (yang nota bene ulama 'besar') tidak mampu mencegah 
ulah laskar pimpinan Jaffar Umar Thalib itu (karena 
memang 'platform' ideologinya berbeda, walaupun sama-sama 
muslim). Di TimTim, kurang giat bagaimana Mega mencurahkan 
perhatiannya, tetapi selanjutnya keadaan dirusak oleh 
Habibie. Jangan lupa pula, kegiatan Mega untuk daerah 
konflik bukan cuma kegiatan sosial-politik, tetapi juga 
sosial-ekonomi, memberikan bantuan dan fasilitas, meskipun 
nilai-rupiahnya sangat tidak berarti dibandingkan parahnya 
kondisi, sebab keluarga Mega tidak sekaya keluarga Cendana, 
dan PDIP tidak sekaya Golkar. Pram agaknya membuat 
DISINFORMASI dengan menyembunyikan kenyataan bahwa penyebab
konflik-fisik horisontal di berbagai daerah itu sangat 
ruwet-bundet dan melibatkan berbagai pihak (bukan cuma 
antar dua kelompok yang menjadi 'wayang') dengan berbagai 
kepentingan masing-masing. Ada kelompok-kelompok yang 'link-
up' dengan kelompok-kelompok di luar negeri, ada yang 'link-
up' dengan Cendana, dsb. Jadi, tidak mungkin kita 
mengharapkan Megawati mampu membereskan konflik-konflik itu 
sendirian. Seluruh komponen bangsa harus membantu, dan 
bukannya malah mengganggu seperti Pram :).

===Pram:
The villagers praise  her, but that's because of ignorance. 
They don't know her.

===mBilung:
Dengan menggunakan kata 'the villagers', Pram agaknya 
sengaja membuat DISINFORMASI untuk menimbulkan kesan bahwa 
yang 'praise her' hanyalah orang-orang desa yang bodoh. 
Padahal, kenyataannya, begitu banyak orang kota yang melek-
pengetahuan juga 'praise her'. Orang-orang desa itu 
pun 'praise her' bukan karena bodoh sehingga 'don't know 
her'. Mereka justru tidak sekedar 'know her'. Lebih dari 
itu, mereka 'actually feel her heart' ! Orang-orang desa 
itu justru lebih peka untuk meraba-rasakan apakah ucapan 
dan tetesan air mata seorang tokoh bersifat tulus ataukah 
sekedar ucapan drakula dan tetesan air mata buaya :). Yang 
jelas, tidak mungkin ada sedemikian banyak orang (desa 
maupun kota) yang bersedia 'praise' terhadap orang sejenis 
Pram yang kering dan tandus hatinya :))

===Pram:
No one seems to realize that Indonesia is entering a period 
of social revolution. The signs are there. It can be seen 
in the farmers who, having had their land stolen from them 
during the New Order, are now  taking it back by force. It 
can be seen in the protests by farmers outside regional
parliament buildings. It can be seen in the attacks on 
hundreds of police and military posts. In the past, these 
very same people would have let themselves be robbed of 
their voices, but now they are fighting back. Whether they 
realize it or not, they are the vanguard of a social 
revolution.

==mBilung:
Ha-haaa- ..... 'social revolution'. Ternyata akhirnya Pram 
kembali 'ke situ-situ jugak' (pemilis DBnet tahu maksudnya 
kan ? :)) ). Dengan kalimat yang pertama, Pram 
berusaha 'menjelaskan' adanya gejala awal dari akan 
terjadinya revolusi sosial di Indonesia. Tetapi, dengan 
kalimat yang terakhir, terutama dengan pilihan kosa-
kata 'the vanguard', Pram justru menampakkan 'belang'nya 
sendiri, yaitu bahwa revolusi sosial merupakan kejadian 
yang memang sangat diharapkan terjadi oleh Pram. Bahkan, 
bukan sekedar 'diharapkan', melainkan lebih daripada 
itu: 'direncanakan' oleh Pram (dan orang-orang yang 
seideologi dengan Pram :))) ). Mangkanya nggak heran kalau 
Pram dkk aktif menyebarluaskan tulisan-tulisan, ide-ide dan 
kegiatan-kegiatan yang membuat orang (yang tidak waspada) 
terkondisi untuk bergerak mewujudkan impian Pram dkk-nya 
itu. Kondisi yang dikehendaki terjadi oleh Pram dkk (untuk 
mewujudkan terjadinya revolusi sosial) adalah : 1) 
Ketidakpercayaan kepada siapapun pemimpin nasional kalau 
dia bukan seideologi dengan Pram dkk; 2) Ketidakpercayaan 
kepada siapapun pemimpin lokal kalau dia bukan seideologi 
dengan Pram dkk; 3) Ketidakpercayaan (saling curiga) antar 
kelompok-kelompok di dalam masyarakat, baik menurut 
stratifikasi sosial (antar 'kelas') maupun menurut 
diferensiasi sosial (antar 'golongan'); 4) Ketidakpercayaan 
terhadap aparat dan institusi kenegaraan; dan 5) 
Ketidaktenteraman dan ketidakpastian di masyarakat secara 
umum. Saya yakin Pram sesungguhnya tahu bahwa pasca 
longsornya Gus Dur maka Megawati adalah orang yang paling 
akseptabel dan paling rendah tingkat resistensinya untuk 
dijadikan Presiden. Tetapi mengingat karakter Megawati, 
Pram dkk khawatir kalau Megawati sampai berhasil 
menciptakan kondisi-kondisi yang berkebalikan dengan kelima 
kondisi yang mereka harapkan terjadi itu. Dus, Pram dkk 
menilai bahwa Megawati yang 'sejuk' bukanlah sosok yang pas
untuk 'dimanfaatkan' (seperti Gus Dur yang 'membara') 
sebagai salah satu pendorong terwujudnya kondisi-
kondisi 'pra-revolusi-sosial'. Apakah Gus Dur (yang 
belakangan 'lengket' dengan Pram) sadar terhadap 'akal 
bulus' Pram dkk (PRD, FNBI, dsb) dan Gus Dur 
sengaja 'memanfaatkan' kelompok Pram, ataukah sebaliknya 
Gus Dur (karena sifat humanisnya) tidak sadar bahwa ia 
sedang 'dikadali' oleh kelompok Pram, saya tidak tahu ;). 
Saya juga tidak tahu apakah Rachmawati (yang belakangan 
juga 'lengket' dengan Pram bersama Gus Dur) yang semakin 
terbuka dalam menyuarakan 'marhaenisme'nya juga sedang 
menjadi target untuk 'dikadali' oleh kelompok Pram, ataukah 
sekedar menjalin 'aliansi sementara' ;). Kembali 
pada 'paragraf' tulisan Pram di atas, nampak bahwa Pram 
sangat piawai dalam menjalin kalimat-kalimat yang 
mencampuradukkan antara sebab-kejadian dan akibat-kejadian 
dengan penilaian-kejadian dan harapan-kejadian, sehingga 
seolah-olah merupakan suatu logika yang runtut, begini : 1) 
Dulu (jaman OrBa) petani ditindas, diambil paksa tanahnya, 
diberangus hak bersuaranya {sebab-kejadian}; 2) Sekarang, 
petani mengambil kembali hak-haknya dengan kekerasan, unjuk 
rasa di DPRD, penyerangan ratusan pos polisi dan tentara 
{akibat-kejadian}; 3) Merekalah (para petani itu) garda 
terdepan (the vanguard) yang memulai revolusi sosial 
{penilaian-kejadian oleh Pram}; 4) Revolusi sosial terjadi 
{harapan-kejadian oleh Pram}. Kalau kita cermati, 
sesungguhnya 'logika Pram' hanya 'berjalan' di antara nomor 
1) dan 2), sedangkan antara nomor 2) dan 3) bukanlah suatu 
urutan-logika. Nomor 3) hanyalah penilaian Pram bahwa itulah
'bibit' revolusi sosial. Padahal kita boleh saja menilai 
secara lain, yakni bahwa nomor 2) sekedar akibat dari nomor 
1) dan masih dalam ukuran yang dapat tertangani (misalnya 
mengembalikan hak-hak petani ybs) tanpa perlu terjadi 
kerusuhan sosial yang menurut alam-pikiran Pram dkk disebut 
sebagai 'revolusi sosial'. Dengan penilaian-kejadian secara 
lebih jernih, maka kita tidak perlu terjerumus pada teori 
yang mengharuskan terjadinya nomor 4), yaitu 'revolusi 
sosial' versi Pram. Pada butir nomor 3) itulah letaknya 
perbedaan mendasar antara kelompok Megawati dengan kelompok 
Pram, walaupun sama-sama anti OrBa. Kelompok Pram selalu 
mengharapkan dan merencanakan agar 'teori' 1-2-3-4 itu 
terjadi, sedangkan kelompok Megawati sebaliknya. Masuk akal 
kalau Pram kemudian berusaha menyebarluaskan ide- 
ide 'character assassination' terhadap Megawati dengan 
cara 'memasyarakatkan' berbagai DISINFORMASI mengenai 
pribadi Megawati. Terlepas dari ide-ide 'humanisme'nya, 
terlepas dari novel-novel 'indah'nya dan terlepas dari 
kenyataan bahwa ia pernah menerima penghargaan Magsasay, 
kita akan semakin mengerti 'siapakah sesungguhnya Pram' 
dengan merenungkan mengapa dalam 'paragraf' 
mengenai 'revolusi sosial' itu ia memilih 'petani' sebagai 
contoh kasus, 'menggunakan' petani sebagai 'vanguard', 
memilih frasa 'these very same people' (mengapa 
tidak 'these people' atau 'the farmers' saja), memilih kata-
kata 'hebat' seperti 'robbed', 'by 
force', 'attacks', 'fighting back', dan memilih 'pos-pos 
polisi dan tentara' sebagai contoh kasus yang 'di-attack' 
oleh petani (padahal sesungguhnya yang lebih banyak didemo 
oleh petani adalah kantor-kantor pertanahan dan unsur-unsur 
pemerintahan daerah), serta menggunakan hiperbola 'hundreds 
of' (padahal kenyataannya jumlah pos polisi dan tentara 
yang di-'attack' oleh petani hanya puluhan). Gaya berbahasa 
khas kelompok ideologi manakah yang digunakan Pram itu ? 
Saya yakin pemilis DBnet dapat menjawab sendiri ..... hi-hi-
hi- .....

===Pram:
Now the nation needs a leader. We've fallen behind; 
Indonesia is exhausted.

===mBilung:
SALAH ! Mengingat begitu majemuknya komponen-komponen 
pembentuk Indonesia ini, maka pernyataan yang lebih BENAR 
dan lebih REALISTIS adalah : Now the nation needs LEADERS. 
Bahwa kalaupun ada pemimpin yang disebut sebagai Presiden, 
dia hanyalah menjalankan fungsi manajerial-koordinatif 
terhadap pemimpin-pemimpin lain, yang satu sama lain 
bergerak bersama-sama dalam sistem kepemimpinan negara. 
Sudah bukan jamannya lagi kita mengharapkan adanya pemimpin 
yang berperan sebagai 'Orang Kuat' seperti Bung Karno dan
Mbah Harto. Saat berpidato dalam pelantikannya sebagai 
Presiden, Megawati sendiri menyatakan (dan hendak 
menyadarkan kita semua) bahwa dalam kondisi riil masa kini, 
pemimpin tidak bisa, tidak boleh dan tidak bakalan mampu
lagi kalau hanya mengandalkan satu kelompok semata-mata. 
Pernyataan Megawati ini sekaligus merupakan perintah kepada 
kader-kader PDIP yang lebih 'melek', untuk segera 
menyadarkan para anggota dan simpatisan PDIP yang 
masih 'merem' (yang jumlahnya sangat banyak) bahwa mereka 
jangan mengharapkan Megawati tampil sebagai 'Orang Kuat', 
karena Mega sebagai Presiden hanya akan bekerja sebagai 
manajer yang lebih mengutamakan fungsi koordinatif dan 
konsultatif. Barangkali Pram mengharapkan munculnya 'Orang 
Kuat' ? Wallahu'alam :)

===Pram:
People like to say that Indonesians are so friendly and 
polite, but that kind of view seems to be nothing more than 
a leftover tourism slogan. There is a struggle going on, 
and it is being controlled by people in Jakarta? by the 
very same people who have done such things in the past.

===mBilung:
SETUJU, dan ini sudah pernah kita diskusikan di milis 
DBnet :)

===Pram:
As I see it, there is no real leadership at present; there 
are just people with power.

===mBilung:
BENAR, kalau yang dimaksud Pram adalah 'leadership' yang 
terpusat pada satu 'tangan'. Tetapi sesungguhnya ada 
beberapa kepemimpinan (otomatis 'with power') yang hidup di 
beberapa kelompok manusia Indonesia sekarang ini. Mereka 
itu belum tentu buruk bila dikombinasikan dengan tulus, dan 
kombinasi itu sekarang sedang dicoba. Kasus longsornya Gus 
Dur sudah cukup menjadi pelajaran bagi kita bahwa sekarang 
sudah nggak model lagi pemusatan kepemimpinan negara hanya 
pada satu tangan.

===Pram:
That students are now part of the democratic process is a 
sign of progress; indeed, the change we have seen can be 
credited to the younger generation. This is not what 
Megawati fought for. She didn't do anything. The kids, the
students, did the fighting and she is here now to enjoy the 
results of their sacrifice.

===mBilung:
Sebagian BENAR sebagian SALAH. Cukup jelas melalui uraian-
uraian di atas.

===mBilung: KESIMPULAN UMUM terhadap tulisan Pram:
1. Hampir setiap kalimat (bahkan anak kalimat) dalam 
tulisan Pram mengandung DISINFORMASI mengenai Megawati.
2. Sangat besar kemungkinan disinformasi itu sengaja dibuat 
oleh Pram untuk melakukan 'CHARACTER ASSASSINATION' 
terhadap Megawati.
3. Tulisan itu dibuat dan dipublikasikan dengan menggunakan 
Bahasa Inggris, sehingga Pram nampak sangat TENDENSIUS 
untuk menyebarluaskan informasi-yang-tidak-benar mengenai 
Megawati kepada kalangan internasional.
4. Sangat besar kemungkinan, melalui butir 1,2,3 tersebut, 
Pram mengharapkan merosotnya kepercayaan internasional 
kepada Megawati, pemerintah dan negara Indonesia, sehingga 
hubungan kerjasama (terutama ekonomi dan hankam) antara
Indonesia dengan negara lain dan lembaga-lembaga 
internasional menjadi semakin buruk, dengan akibat semakin 
merosotnya kualitas kehidupan masyarakat di dalam negeri 
Indonesia, dan pada gilirannya diharapkan 'teori revolusi 
sosial' versi Pram menjadi kenyataan.

Salam De Britto,
mBilung/83

----------------------------------------------------
This email was sent using http://webmail.cbn.net.id/


Kirim email ke