From: ChanCT cut---> Yang membuat saya tergelitik adalah pernyataan: "dalam praktek Konghucu masih belum diaku di kolom agama." apakah bisa dibuktikan dengan contoh konkrit yang terjadi? Kalau benar terjadi, benar-benar menunjukkan negeri ini masih jauh dari yang dinamakan "Negeri HUKUM", lha apa yang sudah jadi ketentuan tidak berjalan, yang jalan malah tiada ketentuan. Masih saja hukum-rimba yang berlaku, siapa kuat, siapa kuasa itu yang menang dan benar. +++ Juklak dan Juknis dari peraturan pemerintah belum sampai ke daerah, sehingga pengisian kolom agama pada KTP menjadi tidak umum bagi kalangan birokrat, untuk ini tidak semua daerah tentunya.
Kemudian dalam msalah masuk sekolah, termasuk di universitas apakah penerimaan murid sekolah masih ditentukan oleh Agama anak murid bersangkutan? Artinya, bagi sekolah Negeri yang mestinya menerima setiap murid yang nilai baik, tanpa mempedulikan ras, suku, etnis maupun Agama yang dianutnya. Tidak mendahulukan yang Jawa atau yang Islam, ... tapi mengutamakan nilai sekolah dan kesungguhan belajar anak murid. Itulah kalau benar-benar negeri ini mentrapkan Bhineka Tunggal Ika dalam kehidupan bermasyarakat dengan sebaik-baiknya. +++ Untuk sekolah negeri seperti nya tergantung wilayah, semisal di Tanggerang tidak menjadi masalah, dan tidak demikian dengan Bogor ( sepupuku guru SMA di sebuah sekolah negeri tanggerang ), sedang Bogor......aku sendiri tinggal di Bogor. Untuk tingkat Universitas untuk negeri aku sudah kurang jelas, dan menjadi jelas untuk sekolah swasta semisal Trisakti, Atmajaya, Unpar, Ukrida ( adik ku mantan dosen di salah satu uni tersebut. ) Dan hal ini menurutku syah syah saja, itu sebabnya aku mengharapkan ada sekolah Tionghoa seperti di era sebelum 65, dimana selain memiliki bobot juga memberi fasilitas bagi etnis yang beragama Budha/Konghucu/Hindu. Dan di sekolah pelajaran utamanya bukan lagi agama semata ( pelajaran agama di sekolah itu menurut ku aneh, bagaimana mungkin nilai ulangan bisa menentukan masuk sorga neraka ?, semisal bagi yang ulangan agama mendapat nilai 3 apakah dia pasti tidak beragama dan pola hidupnya diluar batas agama ? ) Sssstt aku paling benci pelajaran agama, menyebalkan harus mengingat nama nabi nabi, padahal aku demennya nama nama jagoan semodel dibuku silat :o( ( sepertinya aku masuk neraka deh, soale nilai agama ku mentok di angka minimum lulus huehuehue... ) sur. Salam, ChanCT ----- Original Message ----- From: gsuryana Sebenarnya sederhana mengapa tidak mau kembali ke habitat asal. Untuk ku untuk apa ?, begitu juga untuk putri ku untung nya apa ?, minimal dengan 'beragama' Katholik putri ku diajar kan moral yang baik, dan sama dengan yang di ajar kan oleh Konghucu. Lagian balik asal itu ribet, di KTP harus dirubah, sedang didalam praktek Konghucu masih belum diaku di kolom agama. Juga aku yakin generasi penerus akan lebih dewasa dalam hal melihat dan mempelajari agama, jadi agama bukan semata mainan ( pastur/pendeta ) melainkan salah satu sandaran bila disatu saat menghadapi kesulitan hidup. Inipun bila peran psikolog masih tidak diakui/populer. Memang sejatinya seperti di era 70-an dimana anak anak Tionghoa masih bebas tidak terikat oleh salah satu agama, sehingga bisa nimbrung ke banyak acara keagamaan, dan setelah benar benar dewasa baru memilih pilihan yang dianggap cocok. Satu hal penting lainnya, selama penganut agama Konghucu/Budha belum memiliki universitas yang berbobot dan menyebar maka kembali ke habitat asal menjadi kendala juga. Sudah menjadi rahasia umum untuk masuk sekolah/universitas si calon harus mempunyai 'agama' yang sejenis, tanpa itu selain otak yang diatas rata membutuhkan uang yang cukup aduhai. Ada solusi lain ? sur. http://indolobby.blogspot.com ----- Original Message ----- From: "mulyawanlie" <[EMAIL PROTECTED]> > Mas Danardono dan Bang Sur yb, > > pertanyaannya tetep kenapa gak balik badan pulang ke habitat asal > kembali menjadi buddha-konghucu, menjadi tionghua seutuhnya.home sweet > home. jelek jelek milik sendiri kan, bang?.bangsa jepang mengatakan > kepada barat, shinto adalah budaya jadi semua orang jepang harus > menghayatinya, mangkanya budaya kristen-katulik rasanya ditolak, > mereka tetep jadi jepang bukan barat.lain nasibnya dgn korea selatan > yg sekarang lagi heboh diskriminasi oleh presidennya yg fundamentalis > kristen, ingin jadi bule tapi muka 'cunyuk'. > bro d sis apa mao jadi chinese banana ? apa iya god itu (perlu) ada? > lelaki ,bukan perempuan? bule? brewok d jenggotan lagi? kemon... > inikan tahyul terbesar ya bang.agama gak ada yg ada budaya. kita seh > gak anti barat dgn budaya kristen-katuliknya, masalah mereka dateng ke > kampung kita lalu mengatakan mana yg bener mana yg salah.merasa bener > sendiri. kalo boleh nih bang Sur, : "hiduplah berbudaya". > > sori kalo saklek, > salam budaya, > > Mulyawan Lie >
