Bro Sophian,
 
Sekuntum teratai buat Anda, seorang calon Buddha.
 
Sophian:
Jika kita sudah tidak mampu menghadapi masalah dalam
> hidup ini apa kah kita hrs mengadu ke Tuhan ?sedang
> sampai saat ini tdk tahu dimana tuhan itu berada?
Wijaya:
Anda dipersimpangan jalan pemahaman tentang Tuhan. Mencampuradukkan konsep Tuhan.
 
Coba simak penjelasan Pak Hud:
 

(Apakah kita tidak berdosa kalau kita tidak percaya pada Tuhan Pencipta?

Berikut Penjelasan Bapak Hudoyo dalam menjawab pertanyaan seseorang, yang meragukan keberadaan Tuhan Pencipta, tapi takut berdosa./Red BVB)

 

Anda dibesarkan di Indonesia, di lingkungan masyarakat yang terbentuk oleh paradigma (Alam pikiran, kerangka berpikir) MONOTEISME; artinya keba-nyakan orang Indonesia percaya bahwa ada Tuhan Yang Maha Esa yang menciptakan alam semesta dan manusia. Manusia yang melanggar perintah atau larangan Tuhan itu disebut "berdosa" (kepada Tuhan).

 

Tapi paradigma monoteisme itu hanya satu saja di antara beberapa paradigma yang dianut manusia tentang realitas, tentang alam semesta dan manusia. Di masyarakat Buddhis, seperti Thailand, Myanmar dan Srilanka misalnya, paradigma masyarakat-nya bukan monoteisme melainkan NONTEISME; begitu pula paradigma dari paham advaita (nondualisme) Hindu. Di situ tidak dikenal pengertian "Tuhan Pencipta" (Creator God). Di sana orang percaya bahwa alam semesta ini--dan juga manusia di dalamnya--berproses menurut hukum-hukumnya sendiri, terus-menerus; di situ orang tidak bertanya: siapa yang menciptakan alam semesta ini pada awal mulanya, dan orang tidak bertanya apa yang terjadi setelah kiamat? (Pertanyaan-pertanyaan imani atau spekulatif seperti itu terbentuk dan datang dari paradigma teisme.)

 

Implikasinya, dalam paradigma nonteisme itu juga tidak ada pengertian "dosa". Akibat tindakan manusia diatur oleh apa yang disebut 'hukum karma-phala' (hukum yang mengatur perbuatan dan buahnya); manusia berbuat jahat karena 'tidak sadar' dan akan berbuah keburukan, dan manusia berbuat baik karena 'sadar' dan akan berbuah kebaikan. Dan pada umumnya, di situ orang percaya bahwa hidup individual ini bukan hanya satu kali ini saja, melainkan berulang-ulang, terus-menerus, yang disebut 'tumimbal lahir', atau 'reinkarnasi'.

 

Nah, tampaknya Anda berada di persim-pangan jalan: di satu pihak meragukan keberadaan apa yang oleh kaum monoteis disebut "Tuhan", tapi di lain pihak masih takut "berdosa" (kepada Tuhan). Pada akhirnya, Anda harus memilih salah satu.

 

Tetapi, kalau mau direnungkan lebih dalam lagi, sebetulnya perlukah orang memilih salah satu? Apakah ada perbedaan dampak-nya terhadap bagaimana kita hidup sehari-hari, terhadap bagaimana kita berhubungan dengan sesama manusia dan bagaimana kita berhubungan dengan alam di sekeliling kita? Bagaimana kalau kita mencoba melihat/mengalami sendiri apa sebetulnya yang diperdebatkan itu, apa sebetulnya realitas itu, apa sebetulnya diri kita itu, seperti apa sebetulnya "Tuhan" itu?

 

Nah, kalau kita sudah sampai ke situ, kita akan mulai merenungkan apa pikiran (thought) itu, dan sampai di mana batas-batas kemampuan pikiran (karena sesungguhnya semua paradigma di atas--baik yang percaya Tuhan maupun yang tidak percaya Tuhan--terbentuk dan berada di dalam pikiran). Kalau kita sudah mulai mempertanyakan pikiran kita sendiri, kita mulai menyentuh wilayah yang dikenal sebagai kesadaran mistikal dan meditasi. Di situ orang mulai melepaskan diri dari semua paradigma-paradigma pemikiran tentang realitas, alam semesta dan manusia, karena menyadari bahwa semua itu berada dalam pikiran yang terkondisi (conditioned). Melalui meditasi orang mencoba memperoleh "jawaban" atas pertanyaan-pertanyaan yang terakhir (ultimate) itu (sekalipun "jawaban" itu bisa pula diperoleh melalui beberapa jalan lain).

a h ] g b

 
Wijaya:
Nah, Bro Sophia, Anda mesti memilih konsep Tuhan. Setelah melakukan pilihan, saya coba copy pastekan tulisan seorang yang ngakunya Non Buddhis.
 
FL:

Ketika kita mengagungkan sesuatu, seperti doktrin agama misalnya, mindset/outlook atau sudut-pandang kita menjadi kaku, karena kita mengira doktrin itulah yang paling benar. Banyak manusia terkena virus ini ^_^ , kita semua pernah dan masih punya virus ini, berpikir aku/ego yang paling benar. Dengan mindset ini kita menyalahkan doktrin yang lain.

 

Selama seseorang masih merasa dirinya, pendapatnya, ajaran agamanya, paling benar, dia masih punya berhala di dalam hatinya. Selama seseorang punya berhala(meninggikan sesuatu dan merendahkan yang lain/Red BVB) dalam hatinya, orang itu buta, sehingga untuk menyadarkannya, datanglah penderitaan, itu bila kata-kata tidak menyadarkannya. Penderitaan itu datang karena hukum menabur dan menuai itu, namun karena buta, kita manusia tidak menyadarinya, malah menyalahkan orang lain, keadaan, Tuhan dan sebagainya. Oleh karena itu penderitaan itu terus terjadi sampai hati kita menjadi lunak, tidak lagi menganggap diri kita yang paling benar, dan saat itulah terang dapat masuk ke hati, membuka mata kita terhadap keadaan kita. Dan ketika kita menyadari ini, kita tidak lagi menyalahkan. Kita menyadari kita sendiri lah penyebab derita kita. Dari situ, mulailah perjalanan kesadaran kita. Jadi kalau melihatnya seperti ini, maka DERITA ADALAH BERKAH.

 

Wijaya:
Yang saya italic-kan, bukan untuk ditujukan pada Anda atau siapapun. Hanya sekedar contoh Penyebab.
 
Pahit, tapi semoga bisa mengubah 'program' pikiran kita. Bahagia atau menderita, kadang --bahkan sering-- ditentukan oleh 'program' pikiran kita sendiri.
 
 
Sophian:
> atau kah dgn menangis? apakah pantas seorang Budhist
> menangis?
Wijaya:
Bukan masalah pantas atau tidak, tapi azas manfaat. Kalau bisa mengurangi tekanan, silahkan aja.
 
Cuma saya mau copy pastekan saran:

 

Pak Hudoyo:

Biasanya kita tidak mengenal kesedihan, kita hanya berteori tentang kesedihan. Biasanya kita tidak menghadapi kese-dihan, melainkan selalu mencoba lari dari kesedihan. Kita lari kepada penjelasan-penjelasan--'cobaan Tuhan', 'karma di masa lampau' dsb--kita lari kepada orang-orang "pintar", lari kepada hiburan-hiburan keagamaan--ritualisme, meditasi ketenangan dsb--kepada harapan-harapan di masa depan--sorga, nibbana dsb.

 

Amatlah sukar untuk tidak lari seperti itu, untuk tetap berada bersama kesedihan, berada pada saat kini. Tetapi hanya di situlah mungkin terdapat pengakhiran dari kesedihan. Itulah vipassana.

a h ] g b

 

Dan ini nasehat Ajahn Brahmavamso yang saya dapat di

http://www.mabindo.org/index.php?option=content&task=category&sectionid=3&id=70&Itemid=27

 

 

KETAKUTAN PADA RASA SAKIT

Fear of Pain

Rasa takut adalah faktor utama rasa sakit. Takutlah yang membuatnya menyakitkan. Tanpa rasa takut, maka hanya perasaan (syaraf) yang terasa. Pertengahan tahun 70an, di sebuah vihara hutan yang terpencil dan sederhana di bagian Utara Thailand, saya mengalami sakit gigi yang parah. Tidak ada dokter gigi, tidak ada telepon dan tidak ada listrik. Kami bahkan tidak memiliki aspirin ataupun paracetamol di kotak obat. Bhikkhu hutan biasa bertahan dalam keadaan demikian.

 

Pada suatu sore, seperti umumnya sebuah penyakit, sakit gigi menjadi kian parah dan terus semakin parah. Saya pikir bahwa saya adalah seorang bhikkhu yang cukup kuat, tapi sakit gigi itu benar-benar luar biasa. Satu sisi dari mulut saya terasa penuh dengan rasa sakit. Itu adalah sakit gigi terhebat yang pernah saya alami. Saya mencoba lari dari rasa sakit dengan meditasi pernafasan. Saya telah belajar berfokus pada nafas sewaktu digigit nyamuk; kadang-kadang dengan ber-hitung sampai 40 disaat yang sama, dan saya bisa mengatasinya. Namun rasa sakit ini benar-benar keterlaluan. Saya mengisi pikiran saya dengan sentuhan nafas selama 2 � 3 detik, lalu rasa sakitnya kembali menggigit-gigit dan merasuki pikiran yang tadinya difokuskan dan bahkan menjadi bertambah hebat.

 

Saya berdiri, keluar dan mencoba meditasi berjalan. Tak lama kemudian saya menyerah. Bukannya meditasi �berjalan�; saya meditasi �berlari�! Saya tidak dapat berjalan perlahan. Rasa sakit menguasai saya; membuat saya berlari. Tapi tidak ada tempat di mana saya bisa kabur. Tersiksa sekali.

 

Masuk kembali ke pondok, duduk dan mulai mengucarkan paritta yang dikata-kan mempunyai kekuatan gaib. Paritta bisa membawa keberuntungan, menjauh-kan binatang buas dan menyembuhkan penyakit dan rasa sakit � paling tidak, begitulah kata orang. Saya tidak percaya. Saya adalah bekas ilmuan. Paritta sakti adalah tahayul, hanya untuk orang-orang lugu. Tapi sekarang saya mencoba mem-baca paritta, berharap itu akan berhasil. Langkah keputusasaan. Tak lama kemudian, saya berhenti membaca. Saya meneriakkan parittanya saking sakitnya! Malam telah larut dan saya takut bhikkhu-bhikkhu yang lain terbangun. Suara saya mungkin terdengar sampai jauh. Kekuatan rasa sakit membuat saya tidak bisa mengucarkan paritta dengan normal.

 

Sendirian, ribuan kilometer dari negara asal saya, di hutan terpencil tanpa fasilitas apapun, dalam rasa sakit yang tak tertahankan dan tiada henti. Saya sudah mencoba semua yang saya ketahui. Semuanya. Tak ada yang berhasil.

 

Sebuah momen keputusasaan kadang bisa membuka pintu kebijaksanaan, pintu yang tak terlihat dalam keadaan biasa. Pintu itu terbuka dan saya masuki. Sejujurnya, memang saya tidak punya alternatif lain.

 

Saya teringat dua kata: �let go� (lepas-kan). Saya sudah mendengar dan mem-bicarakan kata-kata ini berkali-kali. Saya merasa tahu maknanya. Tidak benar-benar tahu, hanya �merasa�. Saya mau mencoba apa saja, jadi saya mencoba �melepas�, seratus persen lepas. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya benar-benar melepas.

 

Apa yang terjadi benar-benar mengejut-kan. Rasa sakit yang luar biasa tadi dengan cepat lenyap, digantikan oleh pera-saaan yang sangat menyenangkan (bliss). Gelombang demi gelombang kenikmatan menggetarkan seluruh tubuh. Pikiran saya berdiam pada satu kedamaian yang dalam, begitu tenang, begitu menyenangkan. Saya bermeditasi dengan mudah, tanpa usaha. Setelah bermeditasi, subuh-subuh, saya berbaring untuk beristirahat. Tidur dengan nyenyak dan damai. Sewaktu terbangun, saya menyadari ada sakit gigi, tapi tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang saya alami tadi malam.

a h ] g b

 
Wijaya:
�let go� (lepas-kan) yang dimaksud Ajahn Brahm, ya sama dengan nasehat Pak Hud di atas. Yang di 'let-go' adalah LOBHA(keinginan pada yang enak2) dan DOSA(Penolakan pada yang tidak enak) kita. Istilah lainnya, PASRAH, IKHLAS menerima apa adanya perasaan senang, nikmat, sedih, gelisah, sakit (bathin dan fisik) yang ada; tidak mengharapkan dan menolak apapun. Hanya diam dan mengamati secara pasif saja.
 
Memangnya cuman berdiam dan sekedar mengamati bisa menolong, menyembuhkan penderitaan kita?
 
Kelihatannya memang di luar rasio, tapi Ajahn Brahm sudah buktikan sendiri.
 
 
Saya tidak bermaksud menggurui, sekedar berbagi. saya sendiri terpeleset. Anicca, dukkha dan anatta sudah benar-benar benar (sebagai dogma!). Apanya lagi yang perlu dibuktikan? Apanya lagi yang perlu di-Ehipassiko? Buat apalagi bervipassana yang begitu tidak nyaman?
 
Apakah mesti ada musibah yang menimpa kita, agar bisa melunakkan kekerasan kita? Sepertinya jawabannya kebanyakan, YA!
Sepotong baja mesti dipanaskan dan dipalu berulang-ulang untuk menjadikannya sebuah pedang mustika. Selama baja itu disimpan, dieman-eman, ia tetap sekedar baja tumpul.
 
Jadi, kalau mau jadi pedang mustika, kita memang mesti siap menerima dan menghadapi panasnya api dan kerasnya palu. Kalau musibah belum datang, kita bisa menyongsongnya secara mencicil lewat vipassana. Kerennya, IMUNISASI, atau membiasakan diri.
 
Jadi, Bro Sophia, saya pikir, "api dan palu" kalau tidak datang sendiri, kita sendiri yang mendatangi. Ini kalau kita mau jadi pedang mustika, tentunya.
 
Semoga sharing saya bisa mengubah sudut pandang Anda tentang musibah.
Hadapi...
 
 
Salam metta
Wijaya

Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
Children International
Would you give Hope to a Child in need?
 
Click Here to meet a Girl
And Give Her Hope
Click Here to meet a Boy
And Change His Life
Learn More


Yahoo! Groups Links

Kirim email ke