Namo Buddhaya,
 
Aliran-aliran kepercayaan dan agama-agama sudah berkembang sejak manusia ada. 
Ada banyak sekali jumlahnya. Kemudian para ahli fisalfat/agama mencoba 
mempelajari, menarik garis umum, dan mengkategorikan agama-agama tersebut, 
sehingga muncul istilah-istilah ateisme, theisme, monotheisme, polytheisme, 
animisme, pantheisme, dan embuh apa lagi.

Jadi istilah-istilah itu digunakan sebagai alat bantu untuk mempelajari 
berbagai agama di dunia. Kalau ternyata agama buddha, susah di kategorikan ke 
dalam salah satu kelompok, ya sudahlah, no big deal, mungkin agama buddha emang 
agak lain. Mungkin para ahli perlu memunculkan istilah baru super-theisme kek 
atau buddhatheisme kek atau apalah, yang syukur-syukur bercitra lebih bagus 
dari theisme. Anyway itu tak penting lah. Buddhisme ya buddhisme, perkara tidak 
cocok dg salah satu istilah modern tersebut, ya sudah biarin aja, gak masalah. 
 
Saya pikir hendaknya buddhisme dipahami sebagai buddhisme, seperti guru zen 
selalu meminta kita mengosongkan cangkir, sebelum mempelajari agama buddha. 
Apabila ada teman kita yang mengomentari bahwa buddhisme itu atheis, penyembah 
berhala, mungkin itu adalah kesempatan kita untuk lebih mendalami ajaran buddha 
untuk kemudian menjelaskan keindahan dharma kepada sang pengkritik. Tak perlu 
malu lah. Kalo setelah anda menpelajari agama buddha lebih dalam, dan masih 
merasa malu, ya mungkin anda nggak cocok dengan ajaran buddhisme, dan mungkin 
sebaiknya anda mulai menilai/mencoba "kebenaran/agama" lain. Sang Buddha sangat 
yakin koq, kalo setelah mempelajari lebih dalam, kita akan merasakan kebenaran 
dharma dan nggak akan malu lagi.
 
Satu hal yang ingin juga saya sampaikan, hendaknya kita hati-hati dalam memberi 
statement, seperti "Agama Buddha itu tidak mengakui adanya Tuhan". Saya sering 
membacanya beberapa postingan rekan rekan milis dhamajala maupun smaggipala. 
Saya kira apakah agama buddha itu atheis atau tidak, perlu pengkajian lebih 
dalam dan hati-hati. Masih banyak silang pendapat mengenai hal ini. Satu hal 
yang pasti, di Indonesia Agama Buddha dikategorikan sebagai Monotheisme dengan 
"Sanghyang Adi Buddha" nya. Tapi sekali lagi, menurut saya, atheis atau tidak,  
gak pentinglah, buddhisme ya buddhisme, tak kurang, tak lebih.
 

Wijaya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 
Rekan milis seDhamma,
 
Sekuntum Teratai buat Anda, seorang calon Buddha
 
Umat Buddha jelas menyembah patungnya Sang Buddha dalam puja bhaktinya.
Karena itu ada yang menyatakan Umat Buddha menyembah berhala. 
Apakah tuduhan, anggapan itu benar?
 
Tergantung batasan dari 'berhala' itu apa.
=Kalau 'menyembah patung' aja, YA.
=Kalau 'menyembah patung dan memohon, meminta sesuatu pada patung tersebut' 
TIDAK.
=Kalau 'meninggikan sesuatu', ini masih teka-teki.
=kalau (Ada yang punya kamus?)
 
Yang jadi point saya adalah, menurut saya nich, kita tak perlu buru-buru 
menyanggah tuduhan sebagai penyembah berhala. Karena, penyembah berhala mungkin 
dinilai negatif bagi umat teis, tapi bagi Umat Buddha yang tidak mengenal 
istilah berhala, dan menghormati, menyembah patung Sang Buddha atau bhikkhu 
bukanlah sesuatu yang kita nilai negatif, rendah, maka tuduhan itu mestinya 
tidak perlu membuat kita tersinggung atau sakit hati.
 
Masalah di atas analog dengan tuduhan ateis, apa kita mesti merasa malu, 
terendahkan lalu bereaksi, menyanggah dengan menciptakan tuhan pencipta? Tidak 
perlu, kan? Nah, hal yang sama untuk tuduhan Penyembah berhala.
 
Bagi sebagian mungkin bisa tidak bereaksi, tidak terusik dengan tuduhan atau 
penilaian umat lain. Cuman masalahnya, Umat Buddha yang masih belum bisa 
memahami --seperti pendapat pribadi saya itu-- bisa merasa malu.... dan beralih 
agama.
 
Bagaimana menurut rekan2 milis? 
 
Salam metta
Wijaya
 
NB:
Sebagai masukan, saya forward sekuntum teratai, berikut:
(Kalau pakai batasan di bawah ini, rasanya kebanyakan kita mesti jujur, bahwa 
kita memang penyembah berhala. )
 
 



 

=PENYEMBAH BERHALA=

 

[Seperti kita tahu, agama sering menjadi pemicu keributan dan ketegangan. Apa 
sebabnya? 

Dan karena istilah berhala tidak ada di Buddhisme, kita coba pinjam makna yang 
disodorkan Sdr. FreedomLover. Seorang Non Buddhis, yang kata-katanya patut kita 
petik hikmahnya. Jadi cobalah disimak dan KRITISI! /Red BVB.]

 

Ketika kita mengagungkan sesuatu, seperti doktrin agama misalnya, 
mindset/outlook atau sudut-pandang kita menjadi kaku, karena kita mengira 
doktrin itulah yang paling benar. Banyak manusia terkena virus ini ^_^ , kita 
semua pernah dan masih punya virus ini, berpikir  aku/ego yang paling benar. 
Dengan mindset ini kita menyalahkan doktrin yang lain.

 

Selama seseorang masih merasa dirinya, pendapatnya, ajaran agamanya, paling 
benar, dia masih punya berhala di dalam hatinya. Selama seseorang punya berhala 
dalam hatinya, orang itu buta, sehingga untuk menyadarkannya, datanglah 
pen-deritaan, itu bila kata-kata tidak menyadar-kannya. Penderitaan itu datang 
karena hukum menabur dan menuai itu, namun karena buta, kita manusia tidak 
menyadarinya, malah menyalahkan orang lain, keadaan, Tuhan dan sebagainya. Oleh 
karena itu penderitaan itu terus terjadi sampai hati kita menjadi lunak, tidak 
lagi menganggap diri kita yang paling benar, dan saat itulah terang dapat masuk 
ke hati, membuka mata kita terhadap keadaan kita. Dan ketika kita menyadari 
ini, kita tidak lagi menyalahkan. Kita menyadari kita sendiri lah penyebab 
derita kita. Dari situ, mulailah perjalanan kesadaran kita. Jadi kalau 
melihatnya seperti ini, maka DERITA ADALAH BERKAH.

 

Kebanyakan kita membangun suatu konsep tentang Tuhan, sang AKU, bahwa Tuhan 
membutuhkan pujian, atau bisa menghukum berat kalau kita bersikap seperti anak 
kecil yang nakal, God who rewards and punishes. Kepada konsep itulah kita 
memuji dan kalau kita kecewa, maka kepada konsep itu pulalah kita mencaci. Dan 
kita menyangka konsep kita mengenai Tuhan itu adalah Tuhan. Lantas bagaimana 
Tuhan yang demikian bisa menjawab? Ya, tidak bisa, karena itu hanyalah konsepsi 
kita saja. Realita nya kebanyakan kita sama sekali tidak tahu apa itu Tuhan. 
Adalah lebih baik kita menyadari kita tidak tahu Tuhan itu apa, daripada kita 
menyangka kita sudah paham sekali Tuhan itu apa. Hanya yang kosong yang dapat 
diisi, tetapi yang sudah berisi tak dapat diisi lagi. Yang sudah berisi, 
maksudnya yang sudah kaya akan konsep-konsep, sehingga kebenaran yang mungkin 
kedengaran asing baginya tak dapat lagi mengubah pendapatnya atau pendiriannya. 

 

Mulia dan hina, tinggi dan rendah adalah hasil persepsi manusia. Dalam tingkat 
absolut semuanya sama, semuanya netral, produk dari berbagai macam tingkat 
kesadaran. Persepsi manusia yang membuatnya menjadi tidak netral dengan 
melekatkan suatu nilai kepada objek pengamatannya, meninggikan yang satu, 
merendahkan yang lain. Persepsi manusia tergantung tingkat kesadarannya, 
tingkat keterbukaan matanya. 

 

Manusia terbiasa mengkotak-kotakkan, menilai suatu keadaan sebagai mulia dan 
keadaan lain sebagai hina, melihat dari kacamata kebenaran berdasarkan 
sudut-pandang pribadi. Sudut pandang pribadi ini dibentuk atau dikondisikan 
oleh warisan genetis, jenis/sifat orang tua, didikan sekolah, lingkungan hidup, 
ajaran agama, dan segala macam pengaruh eksternal yang membentuk watak dan cara 
berpikir seseorang. Inilah yang sering disebut pikiran terkondisi (conditioned 
mind).

 

Semua orang memiliki pikiran terkondisi seperti ini, hanya sebagian kecil orang 
yang menyadari dan mengendalikannya, kebanyakan manusia tidak menyadarinya dan 
dikendalikan olehnya. Yang tidak menyadarinya atau yang sering disebut dalam 
kitab-kitab suci sebagai orang yang TERTIDUR, selalu memandang dunia dari 
kacamata pikiran terkondisinya dan umumnya kaku berpegang pada pendapat atau 
cara pandangnya itu. Cara pandang demikianlah yang menempatkan sesuatu sebagai 
mulia jika sesuatu itu sesuai dengan bingkai kepercayaannya, sementara yang 
tidak sesuai, dianggap hina. Muncul pemujaan diri atau kelompok, kelompokku 
benar kelompokmu salah. Cara berpikir demikian senantiasa membutuhkan kontras, 
artinya membutuhkan sisi berseberangan: gelap - terang, mulia - hina, baik - 
jahat. Dengan menilai suatu keadaan sebagai mulia, maka secara otomatis akan 
muncul keadaan yang dinilai hina. Tanpa keadaan yang dianggap hina, keadaan 
yang diang-gap mulia tak punya referensi pengukuran. Demikianlah
 kontras atau dualisme yang mewarnai cara pandang manusia yang pikirannya 
terkondisi. Keadaan hina dan mulia itu pada dasarnya adalah hasil persepsi 
penilaian manusia, dan kita tau bahwa orang yang berbeda punya pandangan hina 
dan mulia yang berbeda pula, tergantung bagaimana pikirannya dikondisikan. 

 

Melihat melalui kacamata benar-salah atau kontras, merupakan cara sebagian 
besar manusia untuk mewujudkan apa yang didambakannya, yaitu perasaan mulia, 
perasaan benar. Ketika sebagian manusia memandang dirinya selamat dan 
meng-anggap orang yang berbeda terhilang/ sesat, maka terjadi peninggian dan 
perendahan. Dengan menempatkan diri para posisi selamat, maka seseorang dapat 
menghibur dirinya bahwa dirinya berada pada posisi yang benar, layak atau 
diberkati Tuhannya. Ini semua tak lain tak bukan merupakan permainan atau 
trik-trik pikiran terkondisi manusia yang didorong oleh motif untuk memuaskan 
kebutuhannya akan perasaan suci dan mulia. Kesucian dan kemulian tak dapat 
dicapai dengan permainan ilusi pikiran, karena kesucian dan kemuliaan itu 
adalah semacam state of being, tingkat kesadaran. 

 

Banyak orang telah memberhalakan ajaran agamanya masing-masing. Pemberhalaan 
terhadap ajaran agama, orang suci, tempat suci, itu yang menyebabkan seseorang 
tersinggung kalau apa yang ditinggikannya dipertanyakan atau dikritik. Sebab 
mereka menyamakan tindakan-tindakan seperti itu sebagai tindakan yang menghujat 
Tuhan-nya. Padahal patung, kertas (kitab suci), symbol-simbol lain  hanyalah 
konsep bukan Tuhan. 

 

Perasaan tersinggung adalah ciri-ciri seseorang yang memiliki berhala dalam 
bathinnya. itu menunjukkan kemelekatan (attachment) ego terhadap apa yang 
disanjungnya pada suatu konsep (simbol, kitab dan benda/jimat hanyalah 
pengeja-wantahan dari konsep) yang dianggap miliknya, yang dinilai lebih mulia 
dari hal-hal lain yang dianggapnya lebih  rendah. Bagi yang memahaminya atau 
menyadarinya, ini hanyalah semacam keterkondisian pikiran, bagi yang tidak 
menyadarinya, yang tertidur, mereka melihat mimpi-mimpi atau ilusi ini 
seakan-akan nyata dan membelanya mati-matian.



 

Kalau tidak ada kemelekatan ego, dan kalau seseorang sudah secara pasti tau apa 
yang dipercayainya, maka dia tidak akan tersinggung lagi, sebab dia tau orang 
yang mengkritik atau mencela itu tidak tau apa-apa, paling dia hanya sedih 
melihat ketidak-tahuan orang tersebut.

 

Agar lebih mudah dipahami, saya akan coba jelaskan lewat tanya jawab berikut.

 

Yaaa... tapi tetap saja simbol melambangkan sesuatu yang diwakili simbol 
tersebut.

Simbol melambangkan sesuatu, itu karena konsensus bersama. Yang 
mengasosiasi-kan simbol dengan wakilnya/substansinya itu siapa? Bukankah itu 
hasil konstruk pikiran? Kalau pikiran dapat meng-asosiasikan, maka pikiran 
dapat pula melakukan de-asosiasi. Ini permainan pikiran.

 

Penghinaan terhadap sebuah simbol juga mencerminkan (baca: mematerialkan) 
penghinaan ter-hadap sesuatu yang diwakili oleh simbol tersebut. .

Penghinaan terhadap simbol HANYA akan tercermin sebagai penghinaan bagi yang 
orang yang pikirannya kaku meng-asosiasikan simbol dengan substansi. Apa yang 
diinterpretasikan sebagai penghina-an, dapat pula diinterpretasikan sebagai 
kesurupan ^_^ oleh persepsi yang berbeda.

 

Simbol mewakili substansi, namun BUKAN substansi. Anda hina simbol dan anda 
kencingi, itu TAK BEREFEK pada substansinya, tapi berefek pada perasaan manusia 
yang bego ^_^ yang mengaitkan identitas dirinya dengan simbol itu, seakan-akan 
simbol itu kepanjangan tangan dari organ tubuhnya. Simbol dilukai, hatinya pun 
ikut terluka, karena pikirannya yang kaku (terkondisi) sudah menjadikan simbol 
itu bagian dari identitas jiwanya. Ada istilahnya untuk keterkondisian ini, 
namanya kemelekatan. Setiap keme-lekatan adalah penyembahan berhala, itu kalau 
anda dapat pahami. 

 

Mengapa membenci dikatakan merupakan ciri penyembah berhala, bukankah ini 
memang sesuatu hal yang manusiawi?

Tersinggung, membenci, mendendam, dll itu semua manusiawi... produk dari 
manusia yang masih 'mati'/'tertidur'. Tersinggung itu artinya ada kemelekatan 
pada suatu konsep. Kemelekatan pada suatu konsep adalah pengagungan konsep itu. 
Mengagungkan suatu konsep itu adalah penyembahan berhala. 

 

Apakah mengagungkan konsep pribadi daripada konsep lainnya termasuk kategori 
penyembah berhala?! 

Orang yang tak menyembah berhala itu tak mengagungkan konsep pribadinya karena 
tau konsep pribadinya dinamis, dapat berubah dengan bertambahnya hikmat. 
Mengagungkan konsep membuat manusia sulit berubah karena tidak lagi berani 
mempertanyakan atau mengubah konsep tersebut, biasanya karena takut kuwalat, 
masuk neraka, atau terlalu dibutakan oleh rasa bangga. Itulah sebabnya *lk*t*b 
berkata, jangan ada ilah lain dihadapanKu. Cuman kebanyakan dari orang Kr*st*n 
menafsirkan ilah sebagai patung jasmaniah semata. Konsep itulah sesungguhnya 
'patung' yang kaku bila konsep itu tak boleh dipertanyakan lagi. 

 

Justru karena simbol mewakili substansi, maka penghinaan ter-hadap sebuah 
simbol berdampak pada terlukanya perasaan seseo-rang sebagai konsekwensi logis 
dari terkoyaknya prinsip kebenar-an tertinggi yang notabene dijiwai oleh orang 
tersebut. 

Sekali lagi, simbol BUKAN substansi. Yang mengaitkan simbol dengan substansi 
adalah pikiran manusia. Penghinaan ter-hadap simbol itu dan perasaan terluka 
yang menyertainya adalah masalah pengkondisi-an pikiran dimana manusia sudah 
terdidik/ terbiasakan seperti itu. Karena mindset anda sudah terkondisi, anda 
tak kan memahami bahwa ada persepsi lain dalam melihat suatu kejadian yang anda 
nilai sebagai penghinaan. Bila anda bisa melihat dari persepsi lain ini, maka 
tentu anda tak perlu mengalami perasaan terluka. 

 

Terkoyaknya prinsip kebenaran? Terkoyak dalam mimpimu, hehe. Prinsip kebenaran 
itu TAK DAPAT terkoyak. Kalau memang itu prinsip kebenaran, maka itu adalah 
TEGUH ABADI, terlepas dari apapun yang dilakukan manusia terhadapnya. Seseorang 
menginjak-injak dan merobek Kitabmu. Apakah prinsip kebenaran dalam Kitabmu itu 
terkoyak? Yang terkoyak itu kertas. Prinsip kebenaran (substansi) itu tetap 
berlaku selamanya karena prinsip kebenaran BUKAN kertas. Namun karena pikiranmu 
sudah terkondisi menyamakan kertas itu dengan prinsip kebenaran MILIKMU, maka 
ikut pula terkoyak pikiranmu/ emosimu. Prinsip kebenaran itu sendiri masih 
utuh. Tapi perasaan kepemilikanmu terhadap prinsip kebenar-an itulah yang 
terkoyak. 

 

Jadi ENGKAULAH yang bikin dirimu terkoyak dengan konstruksi/program kaku yang 
tercetak di otakmu. Bila suatu hari Anda sadari bahwa dirimu adalah manusia 
yang PUNYA pilihan bebas, tidak perlu ditentukan oleh satu program saja, maka 
anda bebas memilih emosi apa yang mau Anda alami, artinya, anda bisa pilih 
untuk menolak tersinggung dan melihatnya dari persepsi lain, bahwa orang yang 
merobek dan merusak kitab suci atau simbol lainnya lagi kesurupan dan bahwa 
buku Kitab sucimu itu adalah kertas bertinta, BUKAN prinsip kebenaran. Kalau 
anda memilih untuk berpersepsi seperti ini, maka anda dapat tertawa, bukan 
tersinggung.

 

Inilah program (pengkondisian) yang DISEMBAH (diberhalakan secara tidak sadar) 
oleh mayoritas manusia: 

IF/BILA simbol-simbolku/egoku dihina

THEN/MAKA aku marah, tersinggung bin terluka.

 

Program seperti itu adalah salah satu penyebab banyaknya orang stress, sakit 
jiwa di zaman ini. Bagi ORANG BEBAS, bukan ORANG TERTAWAN oleh "penjara" 
bikinan sendiri, program alternatifnya banyak dan dirinya dapat bebas memilih 
mau menjalankan program yang mana. Contoh salah satu program alternatif yang 
menyehatkan jiwa: 

 

IF simbol-simbolku/egoku dihina THEN aku tertawa lucu, karena yang menghina 
mirip kuda lumping kesurupan.

 

Atau, IF simbol-simbolku/egoku dihina THEN aku memaklumi yang menghina 
melakukan karena keluguannya, ketertidurannya. 

 

Manusia yang tidak sadar dirinya men-jalankan (diperbudak) suatu program secara 
mekanistis/ robotis (kayak robot), itulah manusia yang menyebabkan banyak 
konflik di muka bumi ini, baik konflik dalam diri sendiri, keluarga, sampai 
peperangan antar negara. 

 

Reaksi pedih yang timbul, justru BUKAN terjadi karena akibat dari pemberhalaan 
akan simbol, melain-kan TERJADI KARENA terlukanya prinsip kebenaran yang 
dijiwai seseorang akan sesuatu yang diwakili oleh simbol tersebut. 

Reaksi pedih yang timbul JUSTRU akibat kemelekatan atau pemberhalaan simbol. 
Sekali lagi, prinsip kebenaran itu tak pernah dapat terluka. Yang merasa pedih 
itu manusianya yang urat emosinya me-lekat pada simbolnya. Dan melekat atau 
tidak-melekat itu adalah soal pilihan. Adalah pilihan bebas dari sang manusia 
untuk melekat pada simbolnya atau memilih tidak melekat. Kebebasan sejati 
adalah melepaskan diri dari kemelekatan terhadap simbol. Dengan demikian, 
terbebas pulalah dirinya dari perasaan terluka. Tidak ada seorangpun yang dapat 
menyebabkan dirimu terluka kecuali dirimu sendiri. Dirimu sendirilah yang dapat 
memilih mau tetap terluka atau tidak. 

 

Mengapa Anda sebut sebagai  suatu kemelekatan? 

Pernah dengar cerita kodok yang dimasukkan ke dalam air yang dipanas-kan 
perlahan-lahan? Panasnya air itu tidak dirasakan sebagai suatu bahaya karena 
suhunya dinaikkan secara perlahan-lahan sehingga si kodok terbiasa. Kata 
kuncinya di sini adalah "terbiasa." Demikian juga kebanyakan manusia tidak 
melihat kemelekatan itu sebagai kemelekatan karna sudah terbiasa melekat. Nanti 
kalau sudah puas bermimpi dan udah siap bangun baru bisa melihatnya. 

 

Menurut Anda bahwa seseorang HARUS terluka kalau simbolnya dihina. Saya cuman 
mengemukakan pandangan bahwa seseorang TIDAK PERLU terluka kalau simbolnya 
dihina, dan benefitnya (manfaat-nya) untuk kesehatan jiwa cukup besar, kalau 
dapat mencapai taraf persepsi seperti ini. 

 

Hak masing-masing orang, mau tetap menyembah berhala atau tidak. Saya cuman 
kemukakan ciri-cirinya serta alasannya serta konsekuensinya/ resiko-nya. 
Selanjutnya terserah anda. Mau terima, mau tolak, mau berbeda pendapat dll. 

a h ] g b

 

 

 

Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT


---------------------------------
Yahoo! Groups Links

   To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
  
   To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
  
   Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 


                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Yahoo! Small Business - Try our new resources site! 

[Non-text portions of this message have been removed]






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Would you Help a Child in need?
It is easier than you think.
Click Here to meet a Child you can help.
http://us.click.yahoo.com/0Z9NuA/I_qJAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya. 

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh, 
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, 
menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa 
akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan 
tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta 
sahabat-sahabat kami.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke