Yang ingin saya tanyakan adalah pernyataan Bro Ad2000 bahwa:
"Didalam sejarah Chinese Mahayana, Sejak Sung Selatan sudah tidak ada lagi Biksu (ditasbihkan 5 biksu dari silsilah tidak terputus), karena silsilah chinese kebiksuan sudah terputus pada zaman OUW I Tashe hidup, OUW I Tashe (kalau tidak salah) kaget setelah membaca catatan silsilah Chinese monk yang terputus, lalu mengembalikan/melepaskan status Kebiksuan, setelah itu hanya mengambil Samanera sila dan Bodhisattva sila." Pernyataan itu yang hendak saya tanyakan kepada bro n sis di sini. Betul tidak demikian adanya? -------------------------------------------------------------------- Mengenai tulisan Ad2000 tentang pernyataan bhiksu Ow I, saya juga pernah membacanya dari ceramah bhiksu CingKhong. Namun menurut saya terlalu naif jika menginterpretasikan pernyataan itu sebagai lenyapnya silsilah bhiksu di Cina. Maksud Bhiksu Ow I adalah menjadi "BBHIKSU sejati bukanlah hanya sekedar ditahbis dan membaca 250 bhiksu sila. Bhiksu CingKhong menjelaskan jika kita tidak sanggup mempraktekkan 250 bhiksu Sila secara sempurna, kemudian orang datang bertanya status kita, jika kita mengaku sebagai Bhiksu, maka sama saja telah berbohong. Beliau mengaku Bhiksu Sila di jaman sekarang sangatlah sulit dipraktekkan secara sempurna. Beliau menyatakan kita sekarang ini adalah ibarat bhiksu secara simbolis saja. Kemudian beliau memberikan contoh tentang sikap bhiksu OUW I. (lalu bhiksu Cingkhong menasihati kita untuk mentaati Sila, yang menurut saya inti ceramahnya adalah agar kita jangan hanya menjadi bhiksu KTP, atau upasaka KTP saja). Kekaguman para umat pada para Sesepuh Mahayana justru banyak terletak pada sikap rendah diri mereka. Sebenarnya sikap Maha bhiksu Ouw I adalah sikap merendahkan diri. Silsilah kebhiksuan di China tidaklah benar benar terputus sama sekali. Beliau hanya ingin menggambarkan bahwa agama Buddha di China sudah sangat merosot di mana banyak bhiksu yang tidak lagi mentaati 250 bhiksu Sila secara sempurna. Beliau sendiri sangat menjunjung tinggi Vinaya, hingga status "bhiksu?dipandang menjadi begitu "tinggi"nya hingga merasa "berkecil hati?dan menyatakan tidak pantas disebut bhiksu. Perlu diketahui bahwa Maha bhiksu Ouw I adalah seorang praktisi yang sangat besar perhatian nya pada praktek Vinaya. Salah seorang muridnya yakni bhiksu ChengShe bahkan menjuluki diri sendiri sebagai "Upasaka yang hidup selibat? ChengShe melihat sang guru menyebut diri sebagai Samanera, karena itu beliau tidak berani "melangkahi?sang guru maka menyebut dirinya Upasaka, padahal kenyataannya mereka adalah bhiksu yang telah mengambil sila penuh. Maha bhiksu HongYi, seorang praktisi yang juga terkenal dengan praktek Vinayanya di awal abad 20, karena sikap rendah dirinya, juga menyebut dirinya adalah Upasaka yang hidup selibat. Padahal beliau sangat terkenal sebagai praktisi Vinaya sehingga disebut sebagai penerus silsilah Mazhab Vinaya yang sempat terputus. Saya merasa heran bahwa sikap rendah diri malah dipandang rendah? Saat orang mengenakan jubah dan mengaku diri sebagai seorang bhiksu yang telah mempraktekkan sila secara sempurna padahal tidak demikian, kita lalu bersujud dan mengaguminya, kemudian satu bhiksu lagi menyatakan tidak pantas disebut bhiksu padahal mempraktekkan sila secara sempurna, maka kita merendahkan dia. Inilah bukti bahwa orang sekarang lebih suka melihat kulit daripada isi. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Would you Help a Child in need? It is easier than you think. Click Here to meet a Child you can help. http://us.click.yahoo.com/0Z9NuA/I_qJAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya. Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh. Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian. Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
